Amsterdam, New York, Las Vegas, wait for me!
And no matter what, I’ll visit Kashmir, Cairo, and Darien Gap as well!
![]() |
|||
Your travel type: Culture Buff
|
![]() |
||
top destinations: |
stay away from: |
||
Amsterdam, New York, Las Vegas, wait for me!
And no matter what, I’ll visit Kashmir, Cairo, and Darien Gap as well!
![]() |
|||
Your travel type: Culture Buff
|
![]() |
||
top destinations: |
stay away from: |
||
Ada suatu masa, entah berapa tahun lalu, saya selalu terisak-isak mendengar ini
that I would be good even if I did nothing
that I would be good even if I got the thumbs down
that I would be good if I got and stayed sick
that I would be good even if I gained ten poundsthat I would be fine even if I went bankrupt
that I would be good if I lost my hair and my youth
that I would be great if I was no longer queen
that I would be grand if I was not all knowingthat I would be loved even when I numb myself
that I would be good even when I am overwhelmed
that I would be loved even when I was fuming
that I would be good even if I was clingythat I would be good even if I lost sanity
that I would be good
whether with or without you
Dan kali ini , detik ini, saya dihantam gelombang perasaan yang sama. Untuk menghibur diri sepertinya saya ingin menepuk dada dan bicara pada diri sendiri: “Aaall iz well… Aaall iz well… Aaall iz well…”
Lagu oleh Alanis
Eyjafjallajökull. Eyjafjallajökull. Eyjafjallajökull.
Coba deh bilang Eyjafjallajökull dengan cepat, lima kali aja. Ditanggung keriting deh, lidah.
Cara baca yang betul seperti ini: eyjafjallajokull dan percayalah, ngomongnya gak segampang bunyinya.
Gunung-berapi-yang-namanya-susah-disebut ini meletus 14 April lalu. Letusannya memuntahkan debu vulkanik yang menjalar ke daratan Eropa. Sampai-sampai belasan ribu jadwal penerbangan terpaksa ditunda. Akibatnya jutaan orang terpaksa gagal terbang. Bandara pun ditutup. Daripada terus-menerus menginap di bandara sampai waktu yang gak bisa ditentukan, makanya banyak yang memutuskan naik kereta atau ferry supaya bisa sampai di tujuan. Kebayaaaaang.. ngantrinya kayak apaan tuh, kan pasti diserbu..
Selama ini saya hanya tahu Islandia sebagai tempat kelahiran Bjork. Sudah. Itu saja. Blablabla yang lain sih gak mudeng. Gak taunya… ada potensi gunung berapi juga yah, di sana.
Saya jadi ingat pengalaman sekitar tahun 1982. Kalau gak salah saya masih TK Nol kecil. Saat itu pagi hari dan saya bersiap untuk sekolah. Tapi cuaca mendung. Sama sekali gak ada matahari. Bandung pagi hari di masa itu masih sering berkabut, dan yang saya lihat kabut pagi itu lain dari biasanya. Seperti abu semen. Hanya lebih halus. Jarak pandang juga sangat terbatas. Saya seperti melihat layar tv hitam putih.
Anehnya, ibu tetap memaksa saya untuk pergi sekolah. Dia sendiri yang mengantar saya. Lupa, naik becak atau bemo gitu, deh. Cuaca segelap subuh. Memang ada beberapa kendaraan melintas di jalan. Semuanya menyalakan lampu. Tapi gak ada satupun yang ngajak numpang bareng.
Sampai di sekolah, ternyata sepi. Hanya ada seorang ibu guru yang sudah bersiap pulang. Katanya hari itu sekolah diliburkan. Ada gunung meletus di Tasikmalaya. Yang saya pikir kabut, ternyata adalah debu vulkanik yang terbang dari Tasikmalaya hingga ke Bandung. Mendengar ini tentu saja ibu langsung menggeret saya pulang. Lagian ngapain juga coba, dari awal dipaksa harus sekolah??
Di perjalanan pulang gak ada satu pun angkutan umum yang lewat. Kalaupun ada, semua menolak berhenti. Akibatnya saya dan ibu terpaksa jalan kaki sampai ke rumah. Entah memang sudah disiapkan dari rumah, Ibu dan saya membekap hidung dengan saputangan yang dibasahi.
Bayangkan, kami harus berjalan dari jalan Purnawarman, melintasi jalan Wastukencana, masuk ke jalan dokter Otten, menuju arah Garunggang di jalan Pasirkaliki. Sorry, saya paling gagap jarak.. jadi kira-kira itu berapa kilometer, ya? Karena masih kecil tentunya saya hanya bisa berjalan pelan-pelan. Dengan abu yang makin lama makin menumpuk di kepala, di pundak, di atas sepatu. Bahkan sepertinya di bulu mata! Eh, iya gak ya?
Makanya saya gak kebayang seberapa dahsyat letusan Eyjafjallajökull ini, sampai bisa bikin gempar warga Eropa sana. Kalau dilihat posisinya kan lewatin samudera, tuh. Kirain debu vulkaniknya gak bleber kemana-mana. Ternyata… malah bikin jadwal kejuaraan MotoGP ikut terpengaruh… Yaiyalah… mau datang pakai apa kalau pesawat gak ada yang jalan? Naik getek??
Nerusin cerita kemarin, intinya saya hanya mau pamer bilang banyaaaaaak banget kenangan berkereta dengan si Kereta Api Parahyangan. Antara lain:
Well.. berhubung si kereta api parahyangan gak akan beroperasi lagi, mungkin karena banyak penumpang gelap yang gak beli karcis, sepertinya gak mungkin deh kenangan itu diulang lagi. Masa iya mau gelar koran di gerbong eksekutif?? Gak tau ya, kalau masalah ngaretnya, itu sih mungkin bisa banget diulangi.
Siapa yang gak hapal lagu kanak-kanak ini,
naik kereta api, tut tut tuut
siapa hendak turut
ke bandung surabaya
bolehlah naik dengan percuma
ayo kawanku lekas naik
k’retaku tak berhenti lama
Seingat saya, sejak masih taman kanak-kanak dulu setiap kali akan ke Jakarta dari Bandung, ibu saya pasti lebih memilih naik kereta api parahyangan daripada bis antar kota. Setiap kali diajak ibu ke Jakarta, pasti saya naik kereta api. Gak ingat lagi, sih, apa rasanya pertama kali naik kereta. Masih kecil banget, buuuu….Tapi yang paling berkesan adalah perasaan ngeri-campur-senang-sekaligus-takut-dan-merinding setiap kali kereta yang saya tumpang melewati jembatan panjaaaaaaaang melewati lembah yang sangat sangat sangat dalam. Yang pernah naik kereta Jakarta – Bandung pasti tahu.
Melewati hutan, gunung, sawah, yang semuanya dilihat dari balik jendela kereta juga menyenangkan. Saya gak tahu apakah sejak dulu sudah ada gerbong eksekutif, karena yang ibu dan saya naiki pasti selalu gerbong kelas bisnis aka ekonomi. Di sini pun saya menemukan banyak hal menakjubkan. Misalnya jendela yang berfungsi juga sebagai ventilasi, yang bisa dinaikturunkan dengan memutar engkolnya, dan kursi yang bisa berputar arah ‘hanya’ dengan menarik sandarannya.
Ada lagi model jendela yang hanya bisa dinaikturunkan dengan cara mengangkat tepi bawah jendela untuk dikaitkan di bagian dalam. Pengait ini gak kelihatan. Makanya sewaktu saya melihat seorang bapak kerepotan membuka jendela model begini, saya langsung turun tangan. Sambil menyombong dalam hati, cih, buka jendela beginian aja gak bisa.. pasti dulunya jarang naik kereta!
Kebiasaan naik kereta ini berlanjut terus sampai akhirnya saya bekerja di Jakarta. Kalau awalnya saya hanya berkereta dalam rangka liburan, kali ini saya jadi penumpang PJKA, pulang jum’at kembali ahad. Maksudnya, setiap hari jum’at selepas jam kantor saya pasti pontang-panting naik ojeg atau metromini ke Gambir untuk naik kereta jam tujuhan. Hari minggunya diantar ibu saya berangkat ke jalan kebon kawung untuk naik kereta yang nantinya tiba di Gambir sekitar jam enam sore.
Ibu saya yang lebih lama lagi jam terbang eh, jam berkeretanya, malah lebih lihai. Dari beliau saya tahu kursi nomor berapa yang biasanya kosong. Jadi kalau kehabisan karcis resmi, duduk saja di kursi nomor cantik ini. Kalau ‘beruntung’ gak ada pemiliknya, bisa “bayar di atas”. Kalau ga beruntung? Tenaaaaang.. bisa tanya orang-orang tertentu, ada kursi kosong gak. Kalau ada, tinggal ngesuwel gocengan, dapat deh tempat duduknya.
Bandel, ya??
Tapi most of the time sih, saya jadi konsumen yang baik. Dalam arti beli karcis resmi. Malah pernah suatu kali saking ngototnya mau antri dan gak mau beli karcis di calo, saya berantem dengan mantan pacar. Calo berikut karcis yang sudah dicari susah payah sambil kasak-kusuk malah saya tolak mentah-mentah, padahal antrian di loket udah kayak ular naga. Termasuk bego gak, sih?
Nah, lama kelamaan akhirnya bisa juga saya nyicip gerbong eksekutif, yang tentunya harga karcisnya lebih mahal daripada karcis kelas bisnis. Kursinya lebih empuk. Jendelanya lebih lebar, dan gak bisa dibuka karena ada AC. Pernah suatu kali saya malah kedinginan gara-gara duduk di eksekutif. Biasanya kan di bisnis hanya pakai kipas angin, dan sliwir-sliwir angin dari jendela yang terbuka, plus sliwir bau toilet kalau lagi apes. Setiap kali lewat terowongan panjang, penumpang gerbong bisnis pasti langsung heboh nutup jendela, atau nutup hidung. Soalnya seisi gerbong langsung dipenuhi asap bau yang terperangkap di terowongan. Penumpang di gerbong eksekutif sih, tenang-tenang aja, kan jendelanya udah default gak bisa dibuka.
Mungkin sudah ratusan atau ribuan kali saya naik kereta api. Lebay mode on. Gak hanya sekali dua kali berantem dengan penumpang yang ngotot saya duduk di kursi punyanya. Huh, situ jarang naik kereta, ya? Pasti pusing baca karcisnya! Iya.. saking seringnya naik kereta saya jadi lihai baca karcis. Hoho, kalau jarang naik kereta pasti pusing. Dikiranya gerbong 1 selalu ada di belakang lokomotif, padahal belum cencuuuu.. Kalau gak salah kode gerbongnya ditandai dengan K1 atau K2 gitu. Jadi sering penumpang dengan karcis K1 nomor 15 C (misalnya) duduk manis di kursi gerbong K2 – 15 C, dan malah ogah-ogahan disuruh pindah ke gerbongnya sendiri.
Belum lagi penumpang yang gak bisa bedain mana kursi A, B, C, atau D. Kenyang deh, saya berdebat dengan penumpang yang semestinya duduk di bagian B malah ngedeprok di jendela. See.. seperti di pesawat, A dan D duduk di dekat jendela, sementara B dan C di dekat gang. CMIIW.
Masalahnya, saya selalu memilih kursi favorit saya, dekat jendela. Jadi dulu saat darah muda masih menggejolak, kalau sampai ada yang ngotot duduk dekat jendela, padahal karcisnya jelas-jelas duduk dekat gang, biasanya saya langsung sorongin tiket saya ke depan hidungnya, dan nyuruh dia pindah. Salah sendiri gak pesan minta duduk di dekat jendela!
Bertahun-tahun kemudian saat suhu di bumi makin lama makin panas, ternyata lebih enak duduk di dekat gang, pas di bawah semburan kipas angin. Walaupun beresiko masuk angin, dan kadang-kadang kena sikut penumpang yang lalu lalang.
(bersambung yaaa.. udah ditelponin nih, disuruh pulang… )
Saya gak nganggur kayak kemarin. Tapi lumayan deh, punya waktu istirahat sejam yang bisa dipake blogwalking. Secara cuaca gak bersahabat, saya juga malas keluar kantor. Jadilah main-main ke blog yang ini dan yang ini. Selain baca artikelnya, saya juga tertarik ama button yang ada di pojok artikelnya.
Apakah ituuuuuu???
Owwww… mereka punya button tweet di setiap pojok artikelnya… Co cuiiiiiitttt…
Saking pengen tau dan pengen punya juga saya berusaha ngutak-ngatik. Sempat bingung-bingung tentunya, karena bener-bener trial and error.
Akhirnya bisa jugaaaaa
Kalau ada yang mau pasang, silakan dicoba. Yang saya kerjain sih kayak gini:
Senang… senang… senang…
By the way, ini gunanya untuk apaan yah??? jreng.. jreng.. *muka bego*
Dan lagi, saya gak mau warna buttonnya ijo sour sally gitu.. gimana ya, ganti warnanya??
krik. krik.
Seharian ini saya makan gaji buta gak ada kerjaan. Yahhh.. adalah satu dua berkas, tapi bisa selesai kurang dari sejam. Makanya hampir seharian ini saya bisa khatam baca postingan di blog Mas Stein.
Walaupun si empunya sering banget bilang kalau blognya jelek, buat saya banyaaaaaak banget ilmu yang bisa didapat. Beneran, deh. Misalnya aja tentang gimana caranya pasang widget alexa, yang sebetulnya saya ga ngerti fungsinya untuk apa.
Biasalah kalau lagi ga ada kerjaan saya suka iseng pengen nyoba. Akhirnya saya praktekin. Caranya agak sedikit beda, karena saya gak perlu nyaring javascript. Langsung aja dicopy di widget, et voila! nongol deh tuh, button Alexanya. By the way, emang penting banget ya, rangking di alexa? Saya masih ga ngerti apa fungsinya. Yang keren tuh, digitnya makin sedikit, ya? Posisi pipitta.com masih di kisaran 7 juta. Kayaknya sih, masih jauh banget dari keren. Haha.
Naon deui, nya?. Yaaa.. saya juga belajar gimana caranya bikin acronym title. Tuh, udah dipraktekin. Berhasil, kaaaan?
Makin senang, saya coba lagi pelajaran berikutnya. Gimana caranya bikin feed dari google reader. Dua kali ngutak-ngatik, dan dua-duanya… gagal!!!
Uuuhhh, sebal…
Hasilnya error melulu. Apa yang salah, ya? Gugel ridernya sih ketemu. Tapi pas coba dipasang di widget pasti deh, error… *dasar gaptek*
Yah.. sudahlah. Don’ t push your luck, eh?? Dengan tingkat kegaptekan cukup akut, berhasil dua dari tiga pelajaran baru cukuplah bikin saya senang.
Silakan lho, kalau mau coba juga..
Gara-gara main ke blognya Omiyan, saya jadi tergelitik untuk punya banner juga. Bertanyalah saya pada Mbah Google yang kesohor di seluruh jagat raya. Jangan harap saya bakal sanggup bikin banner yang cihay-cihuy dengan bentuk-bentuk keren. Saya betul-betul keriting hanya karena berusaha bikin banner for dummies yang gaptek akut.
Ketemulah saya dengan Bung Fery Fadly untuk belajar silat dan naik rajawali raksasa. Halaaaaaah, bukaaaaaaan.. dia bukan fery fadly yang itu.
Menurut dia, saya harus melakukan step-step sebagai berikut:
Ternyata nggak. Pas ngikutin cara itu, saya kebingungan karena kok pas bannernya diklik malah masuk ke photobucket saya. Hwaduh, kumaha ieu? Akhirnya saya trial and error aja ganti kode html-nya dengan nama domain saya. Jadi pas logo itu diklik, langsung diarahkan ke domain saya. Gitu.
Berhasil?
Iya! Berhasil. Tapi ternyata saya salah milih ukuran banner. Jadi hasilnya gede banget menuh-menuhin right bar saya. Hayah! Akhirnya saya harus ulang lagi prosesnya, dan milih ukuran banner yang lebih kecil dan gak norak banget ukurannya.
Berhasil?
Yaaaaaa… akhirnya berhasil juga…
Sekarang bannernya sudah terpasang manis. Pleh.
Silakan dinikmati. Prett.
Kalau tertarik bikin, atau ehm, pengen majang banner saya, boleh kok..
Tapi saya bingung gimana dan di mana naro kode htmlnya supaya bisa langsung diakses… *dasar gaptek akut!!!*
Sebentar lagi weekend! Hoooraaaayyy!
Akhir-akhir ini hal yang paling menyenangkan selain bisa bangun lebih siang pas wiken adalah… minum teh pociiiii!
…
…
Krik. Krik.
Haha. Memang tampak sama sekali gak menarik. But for me, it is.
Kenapa? Karena biasanya saya akan terbangun karena wangi teh poci. Sudah pernah kan, menghirup segarnya wangi daun teh yang diseduh air panas dalam poci tanah liat? Wanginya maknyusss, pemirsa. Buktinya, saya yang lagi asyik ngorok tidur biasanya langsung bangun.
Suwami baik hati memang tahu betul bagaimana membangunkan istri tanpa membuat moodnya rusak. Hehe. Jadi daripada saya menggerutu karena terpaksa bangun pagi padahal gak mesti ngantor, dia akan menyeduh teh ini tepat di bawah hidung saya dan tentunya gak lupa siapin gula batu.
Ya, ya, ya, saya tahu kalau gula gak bagus untuk kesehatan, apalagi kalau sudah dalam kondisi gembrot kayak saya, tapi teh seduh tanpa gula rasanya pahit banget tauuuuuuk.
Rasanya langsung fresh lho, minum teh poci sesaat begitu bangun. Tanpa gosok gigi? Hiiiyyyy… jorok!!
Gak percaya?
Coba deh sekali-kali.
Kepengen punya juga? Sayangnya saya gak tahu di mana bisa beli teh poci model beginian di Jakarta. Punya saya ini sih beli di Cirebon sewaktu acara kantor, harganya sekitar 40rebu. Oleh-oleh untuk suwami tertjintahhh, yang kemudian memakainya untuk menyenangkan hati istri tukang tidur. Tsaaaaaahhhhh…
Aiiihhhhh, gak sabar nih, nungguin wiken
PS : please forgive this oh-so-lebay post.. i’m bored and decided to write down ocehan gak penting ini..
PPS : then again ,why should I apologize? this is my blog and I can write whatever I want.. penting or gak penting, rite? Hohoho..
PPS : menurut Anggie, teman saya, ternyata poci model beginian bisa didapat di Kopitiam Oey. Sudah beberapa kali saya mampir ke sana (that’ll be another post about that) dan memang disanalah suwami fell in love dengan teh poci..