…un pied à terre…
June 30, 2010 by pipitta

the postcrossing project – part 2

Masih inget dong dengan proyek saya yang ini ?

Nah, dalam masa cuti saya dapat tiga email yang bilang kalau kartu pos saya sudah sampai dan diregister di sini. Jadi saya tinggal tunggu aja kapan giliran saya terima kartu pos.

Daaaaaan…

Ternyata hari ini saya terima LIMA kartu pos dari berbagai penjuru negara!

Wah… it’s beyond my expectation, lho. Kan saya hanya kirim tiga, jadi saya pikir dapatnya juga hanya tiga. Ternyata…

Berikut salah dua dari lima kartu yang saya terima:

Yang ini dikirim Mongjulee dari Taiwan tanggal 20 Juni. Tiba 10 hari kemudian di Jakarta. Sementara kartu pos yang saya kirim ke Taiwan perlu 20 hari perjalanan sampai diregister sang penerima.

Yang ini dikirim Yumi dari Nagano, Jepang. Perlu 9 hari sampai di meja saya. Selain kedua kartu itu, saya juga terima kartu dari Jerman, New York, dan Canada. Ketiganya dikirim 12-16 hari lalu. Sementara kartu saya ke Jerman dan Canada perlu 20-24 hari untuk diterima dan diregister.

Saya jadi kepikiran, masa iya sih, ngirim kartu pos kok ya lelet banget sampainya? Ini yang lelet sebelah mananya, ya? Hmm… Tampaknya harus test case lagi! Mumpung sekarang saya punya jatah lima kartu untuk dikirim :)

Lhoooo… emang masih mau ngirim lagi?

Well.. kenapa kacang? Why nut, eh, not?

Sewaktu saya menerima kartu-kartu itu.. I felt somekind of warm feeling inside. Huihiiyyyyy…. as lebay as I can be! Pokoknya seneng-seneng gimanaaaaaaa gitu, rasanya :D

Jadi tampaknya… YA! Saya akan kirim kartu lagi. :)

Walaupun masalah berikut yang muncul adalah: SUSSSSSSSSAAAAAAAAAH BANGET CARI KARTU POS!

Beneran! Dari sekian banyak toko buku yang saya kunjungi di Bandung dan Jakarta, SEMUA tidak menjual kartu pos lagi. Sedangkan kantor pos sebagai tempat penjualan alat pos, hanya menyediakan kartu pos jelek tipis yang gak tega saya beli walau harganya murah banget. Bisa-bisa saya dianggap mempermalukan nama bangsa kalau nekat kirim kartu-kartu itu :P

Sepertinya saya harus ngubek-ngubek di art shop. Jadi menyesal kenapa sewaktu ke Yogya saya gak borong aja kartu pos banyak-banyak di sana. Di sana sepertinya beli kartu pos jauh jauh jauh lebih gampang daripada di sini.

Ada yang punya usul, di mana bisa beli kartu pos yang bagus murah meriah hore?

  •   •   •   •   •
June 13, 2010 by pipitta

Cuti dan lainnya

Hullooo..

Saya akan cuti sampai akhir bulan ini. Huhuyyy.. Senangnyaaaa :)

Ada banyak hal yang akan saya kerjakan selama cuti. Eh, boong ding.. Palingan juga saya tidur-tiduran sepanjang hari sambil nonton dvd seri. Hihihihi..

Apapun yang saya kerjakan, nantilah saya ceritakan. Biasanya kalau cuti saya juga jarang internetan :D jadi cerita-ceritanya entar aja ya, kalau saya udah bosen sun bathing di pantai.. Wuiihiii..

Okeh epribadih.. Have a fun holidaaaaay *pamer*

  •   •   •   •   •
June 7, 2010 by pipitta

err… diet? what diet?

Mata saya hampir lompat sewaktu lihat kalender di atas meja kerja. Whaaaaat?? Udah bulan Juni?? Gak kerasa sudah setengah tahun 2010 ini lewat. Manaaa… manaaa… resolusi yang dicanangkan *halah* menjelang bulan Januari itu??? NOL BESAR. GAGAL TOTAL. GAK JALAN. Pheww…

Ya.. ya.. ya.. memang saya termasuk manusia tipe penunda akut :P

Tundalah kerjaan yang bisa dikerjakan besok

Aduuuhh… gak tau deh, darimana sih saya bisa dapat kata mutiara itu. Kayaknya sih dari Fido Dido. Whatever, tampaknya itu bukan terjemahan kata mutiara yang bagus untuk terus diingat.

Eniweeeeeey, bulan September nanti saya harus datang di resepsi nikah adik ipar. TKP-nya di sebuah kecamata di Jawa Tengah sana. Daaaaan, hal yang paling mengganggu adalah…

…berat badan saya sudah naik 8 kilo saja semenjak menikah.

Huaaaaaa… coba bayangin itu… D.E.L.A.P.A.N kilo, gitu lho… yang rupanya sedikit demi sedikit saya kumpulkan dalam waktu setahun saja. Hiks.

Itu sama aja dengan jumlah total berat dua orang bayi baru lahir, kan?? kaaaaaaan?? *jambak-jambak rambut*

Sementara saya masih punya sejumlah kebaya cantik yang dijahit SEBELUM bobot saya naik sedrastis ini. Kebanyakan kebaya itu baru saya pakai 1-2 kali saja. Saya kan mau pamer pakai baju itu di resepsi nanti. Huhuhuhu… *nangis di pojokan*

Saya bisa aja bikin kebaya lagi. Tapi bukan itu masalahnya. Apa jadinya kalau saya terlalu nyaman dengan kegemukan dan kebuncitan ini? Salah-salah saya harus selalu bikin atau beli baju baru. Tidaaaaak. I don’t want that!
Jalan satu-satunya saya harus diet.
Pertanyaan selanjutnya tentunya adalah:
“Mau diet kapan??”
Er… tanggal 1  Juni kemarin saya batal diet karena terlanjur makan seporsi nasi dan ayam bakar yang maknyussssss banget. Dilanjut dengan cemilan donat. Padahal tadinya saya mau mencanangkan tanggal 1 Juni itu sebagai tonggak awal dari niat diet saya. Hayah.
Ternyata jawabannya itu kok ya susah sekali, ya, sodara-sodara..
Kemarin-kemarin juga saya lagi-lagi gagal diet, karena malamnya malah sengaja makan nasi goreng. Huaaaaaaaa… Apalagi kalau suwami udah masak menu andalannya: mie goreng instan yang dibikin berkuah, dicampur telur dan baso, tambah lagi saos sambal dan kecap. Wuiiiiih… maknyusssss pemirsa. Beneran! Maksudnya beneran bikin diet gagal total, gitu…
Jadi kapan, nih.. mau mulai dietnya? *Duuuhhh..baju-baju saya apa kabar, dong??*
Euuh… besok? Atau minggu depan?
  •   •   •   •   •
June 3, 2010 by pipitta

Protected: Selamat Untuk Gd dan Pp

This post is password protected. To view it please enter your password below:


  •   •   •   •   •
June 3, 2010 by pipitta

winking merlion??

Katanya merlion sekarang bisa ngedip. Iya gituh?? Coba liat ini:

Source dari sini

  •   •   •   •   •
June 1, 2010 by pipitta

the postcrossing project

Sewaktu saya masih SD, ibu sering mendorong saya untuk menulis surat. Kenapa? Mungkin supaya saya punya hobi. Dikirim ke mana? Yah, saat itu ada majalah Bobo yang punya kolom sahabat pena. Nama yang ada saya pilih secara random. Sekali menulis saya bisa bercerita sampai berlembar-lembar. Mengarang bebas, deh. Segala macam ditulis dan ditanyakan. Mayoritas sahabat pena pilihan itu tidak membalas surat saya. Cih, lalu apa maksudnya mengirim data ke majalah Bobo, coba? Beberapa orang membalas surat saya satu kali, dan kemudian menghilang–mungkin capek membaca surat saya yang berlembar-lembar. Hanya satu saja sahabat pena yang bertahan. Sejak kami SD sampai akhirnya dia akan menikah dengan tetangganya, kami saling berkirim surat, kartu lebaran, dan mengirim foto. Saya lupa namanya, Melly atau Mella, something like that. Yang saya ingat, alamatnya di Pekayon Bekasi. Setelah kabar menikah itu dia pun menghilang.

Saat sepupu saya tinggal di luar negeri, sepertinya dialah satu-satunya sahabat pena saya. Namun kebiasaan menulis surat akhirnya menghilang seiring makin canggihnya cara berkomunikasi. Email menjadi pilihan utama selain chatting.

Bisa dikatakan makin lama saya makin jarang mampir ke kantor pos. Baik untuk membeli perangko, mengirim surat, atau kartu ucapan.

Maka ketika saya membaca tweet sepatumerah beberapa waktu lalu tentang postcrossing, saya iseng mencari info. Ternyata cukup menarik untuk saya. Nah, ide postcrossing adalah mengirim kartu pos untuk entah-siapa-di-luar-sana. Caranya? Gak susah, kok, ikuti saja langkah-langkahnya.

  • Pertama-tama tentunya harus mendaftar dulu di sini
  • Pilihan profil, avatar, dan alamat pengiriman bisa diedit kemudian. Khusus untuk alamat, pilihan negara domisili hanya bisa diganti per enam bulan
  • Nah, jatah kartu pos yang bisa dikirim hanya lima saja. Caranya? Klik request address dan akan muncul alamat yang harus dikirimi kartu pos. Alamat tujuan ini gak bisa ditentukan sendiri, jadi pihak postcrossing yang menentukannya
  • Selain alamat, kita juga mendapat nomor ID yang harus ditulis di bagian kiri kartu pos. Satu ID untuk satu alamat tujuan
  • Saat kartu diterima, penerima akan melakukan register a postcard, yaitu memasukkan ID yang tercantum di kartu pos. Nah, when you sent a card, you’ll get a card, begitu aturannya.

Sampai sekarang saya baru mengirim tiga kartu pos. Jatah mengirim dua kartu lagi belum saya pakai. Ceritanya sih mau test case dulu, hehehe.

Postcards Exchange

Sepertinya ini akan menjadi hobi yang cukup mahal. Setidaknya untuk saya. Harga kartu pos biasa saya perkirakan ada di kisaran Rp 3500 ke atas. Tapi saya cari yang biasa di beberapa toko buku kok susah, ya? Apa sekarang toko buku gak jualan kartu pos lagi? Akibatnya saya beli kartu pos untuk koleksi. Harganya cukup mahal, Rp 37.500 untuk lima lembar kartu pos. Beuh.

Belum lagi masalah perangko. Untuk layanan express kantor pos memasang tarif Rp 25.000 per kartu pos. Pukul rata untuk semua negara. Kartu akan sampai dalam 10 hari. Pilihan lain adalah layanan biasa yang tarifnya Rp 10.000 per kartu pos. Sampai di tujuan sekitar dua minggu.

Sudah jelas dong, mana yang saya pilih, hehehe.

Kartu yang harus saya kirim bertujuan Canada, Jerman, dan Taiwan. Saya lihat dari koleksi kartu mereka sih, belum ada satu pun kartu pos dari Indonesia. Semoga saja kartu yang saya kirim membuat mereka senang dan mengenal Indonesia. Yah, minimal cari tahu deh, seperti apa Indonesa berdasar gambar yang ada di kartu pos.

Karena saya masih newbie di project ini, dengan bodohnya saya lupa scan gambar kartu yang sudah saya kirim :( padahal gambarnya keren-keren: bangunan bersejarah di Bandung tempo doeloe. Ahhh.. payah, deh. Lain kali ini mesti saya ingat!

Well.. tertarik dengan project ini? Silakan dicoba, lho.. :) Sekarang sih saya masih nunggu giliran kapan kartu pos untuk saya sampai…

  •   •   •   •   •