…un pied à terre…
September 30, 2010 by pipitta

apalah negeri ini..

Saya bosan marah melihat berita bentrokan di mana-mana. Terakhir di Tarakan, lalu menyusul di jalan Ampera, Jakarta.

Saya bosan marah membaca berita ulah DPR yang ampun-ampunan bikin pengen garuk-garuk aspal. Terbaru, mereka pengen dikasih fasilitas medis setara menteri.

Saya bosan facebook dan twitter. Sepertinya isi kepala overloaded dengan informasi ini dan itu. Terutama, saya muak dengan isi kepala seorang menteri yang sepertinya tidak punya kapasitas sebagai pemimpin yang baik.

Saya bosan dengan pertunjukan kebodohan di sekitar saya. Mulai dari demo gerombolan bersorban yang meneriakkan takbir sambil merusak, sampai demo mahasiswa menatasnamakan rakyat dengan alasan menjaga moral bangsa.

Puh-lees

  •   •   •   •   •
September 27, 2010 by pipitta

Today!

  •   •   •   •   •
September 3, 2010 by pipitta

childhood memories

Katanya masa kecil itu masa yang paling indah. Mungkin juga. Soalnya saya hanya ingat beberapa saja. Sisanya sudah banyak yang lupa. Hehe, maklum deh, namanya juga hese inget gancang poho . Terkadang saya memang sangat payah kalau disuruh mengingat-ingat sesuatu.

Tapi ada lho, kenangan masa kecil yang saya ingat betul. Mungkin karena saking berkesannya, ya. Jadi sampai sekarang pun kisah itu masih sering saya ceritakan ke siapa saja yang mau dengar.

Kali ini saya cerita di sini, deh.

  • Fashion Show

Ceritanya TK saya lagi bikin peringatan Hari Kartini di sekolah. Murid-murid perempuan didandani dengan kebaya dan rambut dicepol, karena ada lomba segala. Lombanya apa aja saya sudah lupa, yang jelas saat itu saya pakai kebaya merah, kain dan selendang batik, dan rambut dicepol yang dihias bunga anggrek. Cantik banget, deh! Iya, ibu saya dandanin saya habis-habisan karena saya dipaksa ikut lomba fashion show alias peragaan busana.

Beberapa hari sebelumnya peserta sudah dilatih gimana caranya berlenggak-lenggok di panggung. Jadi pas latihan lantai panggungnya ditandai dengan kapur putih dengan garis-garis pendek, arahnya lurus, melingkar, lalu lurus lagi ke seberang panggung. Sewaktu latihan sih, mantapppp banget. Saya jalan sesuai petunjuk kapur di lantai dengan aman sentosa sampai ke seberang panggung.

Nahhhhh… sewaktu Hari H, Jam J pada saat nomor saya dipanggil untuk maju dan bergaya, tiba-tiba saya mogok jalan! Kenapa, ya? Gak taulah, mungkin demam panggung, hihihihi. Pokoknya saya ingat tiba-tiba aja saya merasa gak pengen ikutan lomba. Dipanggil berulang kali saya diem aja. Gak mau maju. Didorong-dorong ibu, saya masih tetap mogok di pinggir panggung. *Memang pada dasarnya saya ini pemalu dan gak suka show off*

Mungkin karena kesal sudah capek-capek dandanin saya pakai bunga anggrek segala, akhirnya ibu mencubit  saya. Istilah sundanya sih, nyiwit!

Wahai para ibu muda di luar sana.. ini jangan dicontoh, ya… ini akan menjadi kenangan yang membekas seumur hidup! Buktinya, saya masih ingat sampai sekarang. Walau sekarang kalau cerita, pasti sambil ketawa ngakak :p

Yahhh.. ternyata cubitan ibu saya berhasil, saudara-saudara!

Dengan gagah berani saya melangkahkan kaki satu demi satu, berputar, lalu berjalan lagi sampai ke seberang panggung. Dan mogok lagi di situ, males deketin ibu saya karena takut dicubit lagi :p

Betul-betul peragaan busana yang mengesankan. Ini pertama dan terakhir kali saya ikut lomba fashion show. Mungkin karena sudah gak ada tukang cubit lagi, hihihih…

Ngomong-ngomong saya dapat juara 3 lho…

  • Belajar Sepeda

Saya lupa tepatnya kapan, mungkin sekitar kelas 1-2 SD. Saya belum bisa naik sepeda roda dua. Jadi kalau naik sepeda masih ada dua roda kecil yang dipasang di sisi roda belakang. Dulu kan cara mengajari anak kecil supaya bisa cepat bisa pakai sepeda roda dua, si roda kecil ini dinaikkan sedikit demi sedikit. Kalau sudah bisa mengayuh dengan stabil, barulah si roda kecil dibuka.

Suatu hari saya dan ibu main ke rumah teman ibu. Kebetulan temannya itu punya dua anak perempuan yang umurnya gak jauh dari saya. Si Kakak sudah bisa naik sepeda roda dua, dan dengan baik hati membolehkan saya pinjam sepedanya yang kecil banget, sampai-sampai kaki saya bisa menjejak tanah.

Nah, karena belum bisa seimbang, jadilah saya naik sepeda dengan mengayuh ke tanah pakai kaki. Pedal sepeda saya cuekin aja. Termasuk ibu yang melotot-melotot karena saya gak naik sepeda dengan cara yang “baik dan benar”. Yang penting hati senaaaaaang…

Namun kesenangan itu gak berlangsung lama. Ibu saya menyuruh semua masuk, KECUALI saya! Katanya saya harus mengayuh sepeda dengan kaki menjejak di pedal, bukan di tanah. Dan kalau saya belum bisa juga, saya TIDAK BOLEH masuk ke rumah SELAMANYA.

… …

… …

… …

So, kalau di antara kamu di tahun 80-an pernah lihat anak perempuan kecil sedang belajar naik sepeda kontet dengan wajah nelangsa, jangan-jangan kamu lihat saya.

Susah payah saya berusaha menjaga agar si sepeda bisa seimbang. Tapi setiap kali setelah kaki kanan mengayuh pedal, kaki kiri gemetaran dan gak bisa bergerak, demikian sebaliknya. Jadi sepedanya yang doyong ke kiri, ke kanan, ke kiri, ke kanan, gak pernah bisa lurus.

Walau saya udah coba pasang ekspresi memelas, tapi pintu rumah itu tetap tertutup. Jadilah saya sibuk sendiri penuh konsentrasi mikir dan mencoba gimana caranya bisa menaklukan si sepeda. Saya gak takut jatuh, karena toh kaki saya bisa menjejak ke tanah. Palingan sepedanya doyong-doyong aja.

Sampai akhirnya setelah berjam-jam berkeringat, akhirnya saya bisa juga mengayuh pedal sepeda tanpa perlu berhenti! Sepedanya jalan lurus! Sepedanya seimbang! Horeeeee… saya bisa naik sepeda!!!

Tiba-tiba ibu saya membuka pintu rumah dan berteriak: “Tuuuuuh, kan… bisa!”

Saya berteriak senang dan memandang ibu yang kini tersenyum. Dan sepedanya doyong-doyong lagi. Hmmmppppfffttt… ternyata saya harus diancam-ancam dulu yah, supaya mau belajar :P

(bersambung ya.. banyak banget kerjaan niiihhh…)

  •   •   •   •   •
September 1, 2010 by pipitta

my deepest condolences

Tadi malam saya dapat pesan singkat di HP. Ibunda tercinta salah satu teman dekat saya meninggal dunia. Tidak menjelaskan kenapa dan di mana. Sepertinya semua serba mendadak.

Saya mencoba menghubunginya, tapi tidak diangkat. Tentunya teman dekat saya itu sedang tak siap menerima telepon. Tak apalah. Dalam keadaan berduka pasti terasa sangat menganggu jika kita berondong dengan sejumlah pertanyaan.

Jadi untuk temanku sayang, saya hanya bisa mengucapkan turut berduka cita dari hati yang terdalam. Serta doa agar ibu tercinta dilapangkan jalannya, diampuni segala kesalahannya, dan diberi tempat yang baik oleh Allah SWT.

  •   •   •   •   •