…un pied à terre…
April 14, 2009 by pipitta

naik unta, dan lainnya…

Yang pernah umrah pasti tahu, saat ziarah ke Jabal Rahmah begitu turun dari bis kita akan diserbu mamang-mamang Arab dan untanya. Persis seperti kalau kita main ke bonbin di Bandung. Belum apa-apa udah dibombardir dengan tawaran naik kuda keliling Masjid Salman. Hayooo, siapa yang pernah naik kuda di sekitaran Salman – ITB?

Seperti begitu juga di Jabal Rahmah. Bedanya mamang-mamangnya ngomong arab, hehe. Untanya? Gak tahu, soalnya mulutnya diberangus. Apa untanya suka gigit, ya? Atau suka ngomong jorok? Oh ya, untanya juga heboh banget. Dihias bunga-bunga plastik segal macem di sana-sini. Pantesan unta-unta di sana pasang ekspresi bete semua. Saya juga pastinya bakal bete banget kalau di siang hari bolong pas matahari terik, digantungin bunga-bunga plastik norak, eh.. disuruh gendong orang pulak!

coba tebak... posisi begini bayarnya berapa hayoooo...

coba tebak... posisi begini bayarnya berapa hayoooo...

Eniweeeeeeei… difoto bareng unta, bayar 10 riyal. Foto pake kamera sendiri sih cukup 5 riyal. Duduk di unta yang duduk, bayar 10 riyal. Untanya berdiri sama aja, bayar 10 riyal. Tapi kalau ingin duduk, dan untanya jalan, harus bayar 15 riyal. Untanya lari? Sama kok, 15 riyal juga. Pinter-pinter nawar ajalah. Pakai bahasa isyarat juga ngerti, kok. Mamangnya, bukan untanya.

Saya mencoba segala gaya di setiap kunjungan. Umrah pertama masih takut-takut, jadi hanya berani berfoto di sebelah unta yang sedang duduk. Lalu kunjungan berikut saya coba duduk di atas unta yang juga duduk. Di kunjungan lain,  untanya berdiri. Kali berikutnya saya coba untanya jalan, lalu lari-lari kecil.

Dari situ saya tahu hal paling menyenangkan dari naik unta adalah saat si unta berubah posisi dari duduk sampai berdiri.

Jadi ya, kalau unta mau berdiri, yang pertama dilakukan adalah (maaf) nungging. Kedua kaki belakang diluruskan sedangkan kaki depan tetep terlipat manis. Kebayang dong, kalau saat itu kita duduk di atasnya! Otomatis posisi kita juga ikut doyong ke depan 45 derajat. Wah, kalau gak pegangan kenceng-kenceng pasti deh langsung ngegelundung ke depan dan bisa-bisa mendarat di kepala si unta.

Setelah nungging dan meluruskan kaki belakang, baru deh giliran kaki depan yang berdiri. Pada saat ini gantian kita doyong ke belakang. Duh, prosesi ini seru banget pokoknya. Pasti bikin histeris jerit-jerit kecanduan. Sayang saya lupa tanya mamang-mamangnya, harus bayar berapa supaya untanya bolak-balik duduk dan berdiri, hehe.

Unta jalan juga bisa bikin jerit-jerit. Entah karena pinggulnya besar atau kita pas duduk di sendinya, setiap langkah unta bikin kita doyong kiri dan kanan. Berasa hampir jatuh, deh. Cukup bikin jantung empot-empotan. Tapi yakin, deh. Seru banget!

Yang gak begitu seru malah unta lari. Posisi kita malah lebih mantap daripada naik kuda. Maksudnya, kita gak bakal terlalu keguncang-guncang. Saya malah takut untanya ngibrit terlalu cepat sampai mamang-mamangnya ketinggalan, gimana coba caranya nyuruh si unta berhenti lari? Saya gak bisa bahasa arab. Jangan-jangan saya dibawa lari sampai Madinah. Kan jauh banget, tuh.

Tapi yah, setelah saya pikir-pikir gak ada yang lebih mengerikan daripada pengalaman naik gajah, trus pas lagi asik jalan-jalan gajahnya marah-marah, ngambek ama gajah lain yang lagi papasan sambil bawa ‘penumpang’ juga! Hiyyy… serem gak tuh, nyaris disambit langsung pake belalai! Itu sebabnya saya gak sampai 5x aja naik gajah di Bonbin Bandung. Takut kebagian gajah yang pundungan lagi.

Sedangkan naik unta, waaaaahh… selama saya masih dikasih kesempatan untuk umrah dan dan ziarah ke Jabal Rahmah, saya pasti naik unta lagi! Gayanya yang gimana lagi, ya?

  •   •   •   •   •
April 9, 2009 by pipitta

ocehan panjang lebar di hari nyontreng se-Indonesia

Saya ikut serta dalam euphoria Pemilu 2009. Ingin nyontreng! Makanya saya bela-belain mudik untuk nyontreng hari ini. Niat mudik pakai travel batal karena gak dapat tempat duduk, saya pun berniat pakai kereta api jam enam pagi. Bangun jam empat, berangkat sekitar jam lima subuh, sampai di Stasiun Gambir sekitar jam enam kurang, eh.. eh.. eh.. loket sudah tutup karena tempat duduk habis! Gimana sih? Beuh, niat banget yah, pengen nyontreng…

Pleh. Terpaksa antri untuk keberangkatan berikut, jam 8.30. Hiyaaaa, memangnya saya patung Pancoran, tahan ngantri dua jam? Bodohnya, kok saya gak kepikiran untuk pesan tiket kereta api online. Padahal caranya gak susah, dan pastinya saya gak perlu ngantri kayak orang gila begini. Duhhhh, gaptek kok masih dipiara!


Kalau mau coba, begini caranya:

  • Telpon ke 13897 dari GSM (CDMA belum bisa)
  • Ngobrol Pesan ke operator info kepulangan kamu, nanti dia akan konfirmasi nama kereta yang digunakan, tanggal dan jam keberangkatan, jumlah penumpang yang akan berangkat, kelas dan nomor tempat duduk, harga tiket, biaya administrasi pemesanan, total biaya, dan kode booking
  • Kode booking digunakan saat proses pembayaran via ATM Mandiri, internet, atau SMS banking
  • Pembayaran harus dilakukan maksimal 3 jam setelah pesan, atau dianggap batal
  • Bukti bayar berupa struk (via ATM), print out komputer (via internet), atau SMS (via SMS banking) harus dibawa ke loket stasiun kereta untuk ditukar dengan voucher menginap di Bali tiket kereta sesuai pesanan
  • Jangan lupa bawa fotokopi identitas, dilampirkan bersama bukti bayar
  • Voilà, kamu siap berangkat dengan tiket di tangan tanpa harus capek-capek antri kayak saya

Sumber: dari sini


Setelah ngantri panjang kayak ular naga, tiket eksekutif sudah habis. Hanya ada tiket bisnis. Terbayanglah gerbong bisnis yang jelek, jorok, dan bau. Yahhh, what do you expect dong, dengan harga 30rebu? To my surprise, ternyata  PT. KAI sudah bebenah. Gerbong bisnisnya gak sejelek dulu. Saya sampai takjub. Kursinya sudah direnovasi. Lebih empuk dan kulit joknya masih utuh, gak bocel-bocel. Kipas nyala semua, senangnya, secara saya pakai “kostum bepergian jam enam pagi”, dan semriwing bau dari toilet gak nempel di hidung. Wuiiihhh.. hebat!

Kostum pramugara keretanya juga ganti. Kemeja warna biru atau hijau, ya? yang sejuk di mata. Hilir mudik bawa baki isi nasi goreng, mie, dan minuman dingin.

However, ada ciri khas yang masih tetap dipertahankan sih, yaitu: lelet alias ngaret. Dengan pengalaman bertahun-tahun naik kereta, saya sudah hapal betul pasti bakal hujan badai kalau on time kereta api gak pernah sampai sesuai jadwal. Jadi gak terlalu kaget sewaktu turun di Stasiun Bandung jam 12 siang. Padahal di tiket tertera jadwal kedatangan adalah jam 11.20 huuuuu…. tipuuuuuuu….

Sialnya saat ibu saya konfirmasi rencana nyontreng saya ke salah satu panitia tempat saya terdaftar, TPS 038, katanya saya gak bisa nyontreng karena sudah tutup. Sudah jam setengah satu. Gak bisa, pokoknya gak bisa. Loh kok??? Suara saya kan berharga, masak disia-siakan. Kan saya udah bangun pagi banget, tauk!

Sia-sia pengorbanan saya bangun subuh, berangkat pagi-pagi sekali, ngantri tiket kereta berjam-jam, huhuhuhu sedihnya… Lalu saya nangis gerung-gerung di lantai.

Tiba-tiba sepupu saya bilang, yang tutup tuh pendaftarannya!

Ibu saya          : Anak saya yang cantik ini kamu udah didaftarin  jam sebelas!

Sepupu saya  : Kalau udah daftar, ya mestinya bisa nyontreng doooong…

Nah, saya kan sudah terdaftar, kenapa saya ditolak dooooong??? Ah, panitianya payah nih! Langsung deh, ibu saya konfirmasi lagi lewat telepon, komplen-komplen, daaaaaaan ternyata diputuskan saya masih bisa nyontreng!!! Cihuy! Ogah rugi karena sudah bangun subuh.

Saya harus sampai dalam lima menit di TPS 038 itu. Idiiiihhhh, padahal saya dalam perjalanan ke salah satu toserba untuk makan siang. Buru-buru deh, naik angkot menuju TPS. Ocehan gak penting: Ternyata naik angkot dari depan Griya Pahlawan ke Toko Laris, bayarnya seribu yah? Kok jadi mahal? Dulu kan cuma limaratus!


Sampai di TPS 038, sebagian kertas suara sudah dihitung. Saya diberi empat kertas suara dengan empat warna berbeda, lalu dipasangkan penghalang dari kaleng yang mirip kaleng kerupuk bertuliskan KPU.

Duh, kertasnya kok gede banget, kayak mau baca koran aja. Lah, kok saya sama sekali gak kenal gambar orang-orang di kertas suara itu? Daerah pemilihan Jabar, Jabar 1, Bandung 1 dan Bandung 2, saya betul-betul blank mau pilih siapa. Mukanya gak familiar, namanya apalagi. Siapa sih mereka?

Sempat terpikir untuk golput dan mencontreng tiga atau lima partai sekaligus, tapi sayang, ah. Mending saya pilih partainya Dita Indah Sari. Dia kan pemberani. Udah saatnya kita punya wakil rakyat yang pemberani, ya toh? Kabarnya dia berkoalisi dengan partai… partai…. partai… eh, partai apa, ya? Kok saya lupa nama partainya? Hihihi.. dasar bebal!

Gak jadi deh saya contreng partainya Dita Indah Sari. Ada yang tau, dia koalisi dengan partai apa sih?

Lalu saya sempat membaca nama caleg yang posternya tersebar luas seantero Bandung. Contreng gak, ya? Tapi kan suaminya juga caleg nomor satu. Kalau gara-gara contrengan saya pasangan suami istri ini menang, kasihan dong anak-anaknya di rumah gak ada yang urus. *Sigh* Apa jadinya ya, kalau dalam satu keluarga ayah, ibu, anak, paman, bibi, nenek, sepupu, keponakan, semuanya jadi caleg? Trus, menang semua! Ya nimbun kekayaan, dong. Bisa hemat bensin kali, ya.. kan ngantornya barengan..

contreng4Halaaaaah, daripada pusing mending pilih yang mukanya kelihatan jujur tapi kok gak ada, ya? Atau yang namanya unik. Sesukanya ajalah, namanya juga penggembira.

Contrengnya gak pakai pikir lagi. Contreng, treng, treng, treng! Caleg dari empat partai berbeda di empat kertas suara berbeda, dan ngelipatnya bikin bingung, saya contreng namamu… awas yah, kalo ternyata kalian musang berbulu domba! Dikutuk jadi dungu, lho!

Saya masukkan ke kotak suara, sesuai warna, lalu mencelupkan kelingking ke dalam tinta. Selesai! Duh, senangnya nyontreng. Sama senangnya dengan ngisi kuis di FB. Hohoho…

Gambar dari sini

  •   •   •   •   •
April 7, 2009 by pipitta

wedding presents

Saya dihadiahi macam-macam saat menikah kemarin. Yang utama, doa.  Namanya juga doa, sudah pasti mendoakan yang bagus-bagus. Jadi pasti langsung saya amini. Amiiin, semoga lekas terkabul, ya Allah!

Angpau sudah pasti. Hehehe. Semua Sebagian sudah saya belanjakan di Mekkah, Madinah, dan Jeddah, sisanya saya tabung. Duh, kalau Tante Suze tahu dia pasti cemberut, kan mestinya sebagian besar saya tabung duluan, dan kalau ada sisanya baru dibelanjakan. Tapi dasar sering susah pegang uang banyak, maunya cuci mataaaaaa terus. Hasil dari cuci mata biasanya lihat yang lucu-lucu, trus ngiler, trus pegang, trus tanya harga, trus beli dehhhh…

Ada juga sajadah. Bagus deh, modelnya quilt gitu. Warna biru. Ini sudah saya pakai untuk shalat berjamaah dengan suami *tsaaahhh*. Tentunya saya pakai yang baru, suami mah pakai sajadah yang lama aja, hihihi.

Ada juga magic com yang langsung saya kirim ke Bandung. Soalnya yang dirumah sudah rusak digigiti tikus! Memang parah tikus-tikus yang suka mampir di sana. Sejak gak ada lagi tupperw*re yang disimpan di luar lemari dan bisa digigiti, mereka malah makan magic com ibu saya! Dasar! Saya jadi penasaran, pastinya rasa tupperw*re itu enak sekali, sampai gak ada yang selamat kalau gak disimpan di dalam lemari.

Lalu ada semacam oven microwave yang masih belum saya pakai. Takut dimarahi tante kos saya. Watt-nya gede banget, euy. Kalau saya nekat pakai dan listriknya ngajepret, jangan-jangan saya diusir dari kos. Duh, duh, nanti ajalah tesnya kalau sudah pindah ke tempat baru.

Seperangkat alat makan yang cool banget warnanya dan dibuat sepasang, juga masih saya simpan. Sebetulnya saya sudah gatal ingin pakai, soalnya warnanya gue banget. Tapi suami bilang, mending pakai alat makan yang lama dan jelek itu aja dulu. Kalau sudah gak di tempat kos, baru dipakai. Eman-eman, gitu katanya. Jadilah saya bungkus lagi dan disimpan hati-hati di pojok lemari, dan kembali pakai mug bertuliskan merk susu. Huh.

Terakhir, saya dapat DUA blender cantik. Iya, dua! Kayaknya yang beli gak janjian dulu, nih, hehehe. Whatever, keduanya saya terima dengan senang hati. Masih saya simpan di kamar. Dipandangi sebelum tidur dan setelah bangun, haha, norak banget. Disimpan di Bandung gak mungkin, karena sudah ada (juga) dua blender di sana. Jangan-jangan kalau saya paksa bawa ke rumah, ibu saya langsung niat buka warung juice, saking banyaknya blender.

Tapi hadiah yang bikin saya melonjak-lonjak adalah…

My Very First Folding Bike

My Very First Folding Bike

Waaaahhh…saya dapat sepeda! Bisa dikayuh ke warung beli gula, beli roti, ke tempat fitnes  (errr… kayaknya membership fitnes saya udah habis..), atau main ke Sudirman-Thamrin tiap hari minggu! Dududududu, senangnya!

Saya sempatkan kursus melipat sepeda ke Pras, biang sepeda lipat di kantor saya. Juga tes ngayuh keliling lantai 6. Norak, norak, deh! I don’t care! I’m too happy with my bike, sih, hehe.

Dumdidamdidumdidaaaaam…

Lewat sejam dari  jam pulang kantor, saya lupa cara melipat sepedanya, jadi terpaksa saya tuntun saja sampai ke kos. Soalnya jalan menuju kos saya gelap dan waktu itu sudah lewat magrib. Payah!

PS: postingan ini bukan bertujuan pamer atau membanding-bandingkan hadiah yang saya terima. Hanya bentuk kebahagian dan kegembiraan saya atas curahan kasih sayang dari teman-teman, keluarga, dan rekan kerja. Termasuk bos-bos saya yang telah berbaik hati membelikan sepeda.

PPS: Sampai sekarang, sepedanya baru saya pakai keliling meja dapur tiga kali. Gak lupa sambil bunyiin belnya yang nyaring, krrrring!!

Awwww, I’m so coooool on that bike!

PPPS: Update nih, sepulang syukuran keluarga dan teman dekat tgl 11 April kemarin, bingkisannya nambah. Ada sprei, bed cover, magic jar, 2 set alat makan, dispenser, kain songket, kain lukis, kerudung, euhh and so on.. dan semuanya disimpan di Bandung karena kamar kos saya gak mungkin menampung, kecuali saya memutuskan buka warung nasi plus jualan juice. Ehm, kecuali kado angpao yang tentunya saya bawa pulang!

PPPPS: Sampai hari ini ternyata saya masih dapat kado. Kali ini Sajadah sulam cantik handmade dari Bu Boss, dan seperangkat alat shalat peralatan masak teflon. Beneran deh, bisa buka warung…

  •   •   •   •   •
April 2, 2009 by pipitta

menikah tamasya

No offense, I hate wedding reception :)

Dari ribuan ratusan undangan perkawinan yang saya hadiri sejak masih pitik *biasalah, ditenteng-tenteng nemenin nyokap* sampai umur puluhan tahun ini, polanya gak pernah berubah, deh. Begituuuuu terus.

In other word, M-E-M-B-O-S-A-N-K-A-N.

Sekali lagi, no offense. lho.. itu kan buat saya. Satu-satunya penghiburan saat menghadiri undangan perkawinan ya cuma kesempatan makannya. Hihihi.

Kalau makanannya enak, tentunya saya akan berlama-lama di situ. Mencicipi satu demi satu makanan di gubug-gubug yang tersedia. Kalau bisa malah nambah, hehe. Tapi kalau makanannya gak enak, saya hanya tes makanan favorit aja. Sambil ngedumel dan nyela-nyela kok bisa sih makanannya gak enak. Duh, jahat banget, ya?

Biasanya sih saya gak pernah perhatiin gimana pengantinnya. Warna baju, make up, model kebaya, panggung, bunga, whatever, terserahlah. Gak ngaruh buat saya, hehe. Terkadang kalau antrian untuk salaman terlalu panjang, saya pundung gak mau ikutan antri dan memilih untuk keliling stand-stand makanan.

Dasar barbar!

Well, mungkin itu salah satu sebab saya memutuskan untuk menikah tamasya daripada menggelar pesta resepsi. Ibu saya setuju, calon suami dan keluarganya setuju, so be it.

Saya tidak peduli dengan pendapat orang lain yang menganggap ide ini aneh. Menganggap sebagai anak tunggal sudah seharusnya saya menggelar pesta besar. Kalau bisa mengundang ribuan orang, dengan panggung dan bunga-bunga. Berkonde dan pakai kebaya berkilau-kilau. Lalu berdiri berjam-jam memamerkan gigi menyalami orang-orang yang belum tentu saya kenal semua.

Errrr…. sorry, that’s not me.

So, menikah tamasya jadi pilihan. Tepatnya, umrah sekaligus menikah di Masjidil Haram.

Trip yang saya ambil delapan hari. Rutenya Jakarta-Mekkah-Madinah-Jakarta. Karena Mekkah lebih dulu, berarti miqat di Jeddah, dan begitu tiba di Mekkah langsung melakukan ibadah umrah.

Sekitar dua setengah jam setelah umrah selesai, akad nikah langsung dilaksanakan di lantai dua Masjidil Haram. Disusul berfoto berlatar Ka’bah, tentunya sambil celingak-celinguk takut ketahuan asykar.

Sensasinya? A-W-E-S-O-M-E.

Jadi ocehan rekan-rekan kerja yang terheran-heran *atau mungkin menistakan, duuhhh bahasanya…* karena sama sekali tidak ada wedding reception *yang diartikan sebagai pernikahan tanpa kesan* masuk kuping kiri keluar kuping kanan, deh.

Terserah mereka mau bilang apa. Saya senang dengan gaya menikah seperti ini. Haha.

PS: buat teman-teman yang akan menikah, jangan phobia ngundang saya, ya.. hihihihihi

  •   •   •   •   •
March 18, 2009 by pipitta

google reader

Iseng banget nyobain Google Reader

So far, saya baru subscribe ke-15 blog yang saya paling suka bacanya:

  • petitepoppies.wordpress.com
  • orgasmingorganism.blogspot.com
  • blog.ichanx.net
  • smritacharita.blogspot.com
  • mbot.multiply.com
  • bodat.net
  • miund.com/mumbles2
  • punyadee.wordpress.com
  • chaosatwork.blogspot.com
  • ngupingjakarta.blogspot.com
  • ochantiques.com
  • sayabilang.com
  • tehsusu.com
  • blog.sepatumerah.net
  • prashebat.blogspot.com –> errr, yang ini hanya karena dia temen kantor aja hihii

Sooooo… are you on my list? Kalau belum silakan kasih rekomendasi lho.. :P

PS: Trus gimana, apa google reader ini bisa masuk widget? kayaknya nggak, lagian ntar apa bedanya dengan blogroll?  huh.. dasar gaptek akut

  •   •   •   •   •
March 16, 2009 by pipitta

buntu

Otak masih buntu, nih.

Tawaran kemarin masih belum saya penuhi. Blah. Payah.

Mestinya menulis gak usah menunggu mood. Mestinya menulis gak usah menunggu momen. Menulis, ya menulis.

Tapi otak saya buntu, gak tahu harus mulai dari mana. Mulai dengan kata-kata apa.

Arrrrggghhhh…

  •   •   •   •   •
March 11, 2009 by pipitta

ganti themes (lagi)

Iseng-iseng main ke http://themes.wordpress.net/ dan saya lihat ada themes lucu dan “gw banget”.

Sebenarnya gak ada masalah sih dengan themes balon sebelumnya. Saya suka kok warna lembutnya dan gambar balon udara lucu di sana-sini.

Tapi saya suka banget dengan pohon tunggal dan beberapa burung yang terbang melintas, represent the sparrow in me.

Lebih merefleksikan the real me gak siiiiiiihhhhh???

  •   •   •   •   •
March 6, 2009 by pipitta

emotional eating

Emotional eating is when you eat in response to feelings rather than hunger, usually as a way to suppress or relieve negative emotions. -by Joy Bauer-

Well… saat stres di kantor, saya ngemil. Saat bosan di kantor, saya ngemil. Saat senang di kantor, biasanya karena ditraktir makan. Tampaknya saya mengidap emotional eating karena sering kali secara otomatis pop something into my mouth untuk menenangkan diri. Hayah.

Kenapa saya berani memvonis diri sendiri sebagai emotional eater? Karena berat badan saya naik turun gak jelas dalam satu bulan ini. Susah turun gampang naik, tepatnya. Bulan Februari lalu, berat badan saya yang biasanya stabil di angka XY tiba-tiba melejit naik 5 kg saja.

Err… setelah dipikir-pikir ga mungkin tiba-tiba yah, pastinya saya BANYAK makan, sampai bisa naik drastis seperti itu.

Lalu saya diet. Ceritanya sih mengatur pola makan. Menyesuaikan kalori yang masuk dengan yang keluar. Hasilnya? Turun 5 kg. Balik modal, nih. Kembali ke berat XY semula.

Itu cerita sukses minggu lalu. Seminggu ini saya makan sesuka hati saya. Kripik, krupuk, coklat, mie instan, nasi, gorengan, hajar ‘bleh! Semua saya makan. Gara-gara suasana hati sedang gak menentu. Ihik. Susah-senang-sedih-happy-stress-bingung pokoknya saya makan, makan, makan, dan makan.

Tadi saya melongo sewaktu tahu berat badan naik 2 kg hanya dalam seminggu.

Siyal!

Padahal baju-baju baru saya baru selesai dijahit, dan semuanya diukur saat size saya masih ‘normal’! Arrrrgggghhhh.

Ugh, apa boleh buat. Dalam seminggu ke depan saya menargetkan harus turun 10 kg. Eh, kayaknya itu target yang gak mungkin tercapai terlalu bombastis. Yahhh, minimal saya turun 2 kg lagi deh. Biar balik lagi ke bobot semula. Syukur-syukur bisa turun 5 kg. Tapi saya ragu, tuh.

1. Saya harus diet lagi

2. Saya harus sembuh dari emotional eating

Caranya?

Untuk poin nomor satu, kayaknya harus mulai lagi puasa organik

Poin yang kedua, saya dapat tips dari sini sebagai berikut:

  • Learn to recognize true hunger
  • Know your triggers.
  • Look elsewhere for comfort.
  • Don’t keep unhealthy foods around.
  • Snack healthy.
  • Eat a balanced diet.
  • Exercise regularly and get adequate rest.

*Sigh*


  •   •   •   •   •
March 5, 2009 by pipitta

arrrrggghhhh!!!!

Saya baru aja bikin postingan cukup panjang, mau saya tambahkan pic, dan saya klik ini itu dan error, dan postingan saya hilang!!!

Arrrrrggghhhhh!!!!

  •   •   •   •   •
March 4, 2009 by pipitta

teh manis

Saya penggemar teh manis. Baik dalam botol–harus dingin–atau di mug. Nikmat sekali meniup-niup lalu menyeruput teh manis panas dalam mug.  Teh dalam kardus kotak boleh juga. Tapi harus masuk ke freezer dulu. Setelah 3/4 beku gunting ujung kotaknya, lalu esnya saya serok pakai sendok kecil.

Aneh, ya? Memang. Tapi saya suka.

Sekarang kesukaan saya ini harus makin saya kurangi. Lupa baca di mana, kadar gula yang kita  konsumsi per hari gak boleh lebih dari 2 sendok teh saja. Padahal gula kan bisa kita dapat dari mana-mana: nasi putih, minuman bersoda, bahkan buah. Sudah pasti jatah 2 sendok teh itu sudah dipenuhi hanya dengan makan siang saja. Maklum, saya makannya banyak.

Kabarnya kadar gula di teh dalam botol bisa mencapai 8 sendok makan. Whaaaattt??? Saya belum cek juga sih, hehe. Silakan googling kalau penasaran. Jadi berapa ons gula yang kita konsumsi kalau kita makan lengkap seharian? Sekali lagi, silakan googling kalau penasaran, hehe. Belum lagi kalau minumnya teh manis. Apapun bentuk kemasannya. Bisa-bisa dalam tiga tahun ke depan kita sudah kena diabetes. Itu baru karena minum minuman manis, ditambah doyan makan makanan enak seperti saya, mungkin kena penyakitnya bisa lebih cepat.

Jadi ketika sore ini saat menunggu jam pulang kantor saya ingin sekali minum teh manis panas, saya memilih minum air putih segelas besar. Terutama karena siang tadi saya sudah minum teh dalam botol, berikut 8 sendok makan gulanya. Hiks.

  •   •   •   •   •