Archive for category blabliblu

check up akhir tahun

Posted by on Friday, 31 December, 2010

Ya… saya memang sudah terlalu lama ‘hilang’ dari sini. Padahal hosting dan domainnya baru aja diperpanjang, eh.. malah dicuekin :P

Maklumlah, kalo akhir tahun saya kerjaan saya numpuk..puk..puk.. Beneran! Baru pulang kantor jam 8 malem aja dong.. hampir tiap hari, tuh.. kebayang kan, capeknya?

Tapi saya punya hutang satu postingan buat si soulmate tertjintah.. huhuhu…. maap ya, neng, baru sempet bikin sekarang nih..

Postingan apakah ituuuuuuu???

Yaaaakkk.. tak lain dan tak bukan: postingan yang nyerempet-nyerempet masalah duit sodara-sodara! Hihihihii… sebagai sesama ibu bekerja dengan penghasilan pas-pasan, eh, itu mah saya yah… :p, penting banget buat nge-review keuangan di tahun 2010. Buat apa?? Ya supaya bisa lebih baik di tahun 2011, dooooong… Supaya impian mewujudkan daftar belanja yang panjang itu bisa segera terwujud.. :D

So, what to do?

FINANCIAL CHECK UP

Jadi sebelum memutuskan mau beli ini itu, investasi ini itu, atau ngutang sana sini, yang mesti dilakukan adalah cek kondisi keuangan.  Coba ambil kertas  buat corat-coret, yah.. dan mari lakukan secara bertahap:

Financial Check Up #1 – Hutang

Prinsipnya, kurangi hutang konsumtif dan hutang non produktif. Contoh hutang konsumtif misalnya hutang kartu kredit yang bayarnya ga langsung lunas pas tagihannya datang. Hayo ngaku.. siapa tuh yang masih suka begitu? Hutang non produktif itu hutang untuk sesuatu yang nilainya ga bertambah. Misalnya aja hutang untuk beli smartphone. Kalau smartphone-nya cuma dipakai untuk sms-an, FB-an, atau main game doang, tentunya ini termasuk hutang non produktif. Lain cerita kalo smartphone-nya dipakai untuk bikin sesuatu yang menunjang atau malah menghasilkan pendapatan tambahan :p

Oh ya, hutang gak sama ya ama cicilan. Hutang gak boleh lebih dari 50% kekayaan, sedangkan cicilan gak boleh lebih dari 30% dari penghasilan pokok bulanan. See the difference?

Financial Check Up #2 – Nilai Kekayaan Bersih

Kalau pengen tau berapa kekayaan kita, tulis aja tuh di kertas apa aja harta benda di rumah yang bisa ditukar dengan uang, alias dijual. Coba bikin listnya.. Nah kira-kira segitulah jumlah kekayaan kita..

Trus.. kurangin deh nilai aset itu dengan hutang yang dimiliki, hasilnya harus positif lho.. Kalau negatif kan berarti kebanyakan hutang tuuuh..

Financial Check Up #3 – Cash Flow

Bikinnya gimana? Kata teorinya sih, yang harus dibuat pertama kali adalah bikin daftar pengeluaran rutin dalam sebulan. Pos pertama yang paling penting adalah pengeluaran utama, biasanya untuk sandang, pangan, papan, transport, dan komunikasi. Pos kedua adalah kewajiban berupa hutang, zakat, pajak, dan cicilan. Pos ketiga untuk tabungan dan investasi. Pos terakhir baru deh untuk life style.

Setelah itu coba kurangi penghasilan per bulan dengan total jumlah pengeluaran rutin ini. Harus positif lho, hasilnya. Kalau negatif mah pasti aja ujung-ujungnya bakal jebol tabungan di bank :p

Financial Check Up #4 – Dana Darurat

Apaan sih Dana Darurat atau DD ini? Teorinya sih DD tuh dana yang dialokasikan terpisah untuk kebutuhan darurat. So, kata kuncinya adalah DARURAT yah.. jadi midnight sale tentunya gak termasuk kebutuhan darurat :P

Umumnya yang masuk kategori darurat tuh sakit, kecelakaan, kematian, PHK, dan… ada juga lho yang masukin nikah! :p

DD ini harus liquid alias mudah diakses. Jangan nyimpen DD dalam bentuk tanah. Jualnya lama, bo! Taruh aja dalam bentuk emas batangan, atau deposito.

Berapa sih jumlah DD yang harus dimiliki? Tergantung masing-masing, tuh. Untuk para lajang, siapin aja 3x pengeluaran bulanan. Buat yang udah married dengan 1-2 tanggungan harus sedia minimal 6x pengeluaran bulanan. Nah, kalau tanggungannya lebih dari dua, siapin lebih banyak lagi, ya, 12x pengeluaran bulanan.

Truuuuusssss… kalau belum punya DD 1-3x pengeluaran bulanan, JANGAN DULU INVEST tuuuhhh… Kerjain dulu pe-er bikin DD-nya. Setelah punya paling nggak 1-3x pengeluaran bulanan sebagai DD, baru dehhh boleh investasi. Saya sendiri ternyata masih punya pe-er bikin DD 3 bulan lagi, tapi udah boleh invest kok.

Financial Check Up #5 – Asuransi

Yang penting mah Asuransi Kesehatan dulu, trus boleh ditambah Asuransi Jiwa kalau kita merupakan tulang punggung keluarga, alias punya penghasilan terbesar dalam keluarga.

Financial Check Up #6 – Investasi

Ini mah tergantung selera masing-masing kali, ya? Ada yang invest dalam bentuk tanah, logam mulia, saham, reksadana, whatever.. tapi ingat, mesti udah punya DD dulu yaaaa…

Well.. dari hasil check up keuangan saya sendiri untuk 2010:

- Gak punya hutang

- Gak punya cicilan, kecuali cicilan kartu kredit tiap bulan gara-gara mata ijo pengen belanja, tapi ini pun selalu saya bayar lunas nas nas nas nas setiap kali tagihan datang

- DD baru kebentuk 3 bulan aja, mesti punya 3 bulan lagi

- Sudah invest, malah sempat divonis kebanyakan invest :p mestinya saya lebih konsen dengan ngebentuk DD

Gitu deh, analisa ngawur ala saya :P

Gimana dengan hasil check up kamu?

tanpa agunan?? kata siapa..

Posted by on Thursday, 11 November, 2010

Ini hutang saya untuk si partner in crime :)

Memang sih, saya ga datang di kelasnya. Tapi saya udah janji untuk tetep kasih info soal materi apa aja yang dibahas di kelas financial fund-nya akademi berbagi.

Karena dua kelas terakhir materinya tentang hutang kartu kredit (ini lanjutan minggu sebelumnya, deh) dan profil resiko, saya gak ikut daftar :P hehe, bukannya congkak bukannya sombong, tapi yang paling saya tunggu tuh materi tentang investasi, hihihi.. murid gak tau diri nih, milih-milih materi :P

Nah, tentang hutang kartu kredit ini sebetulnya udah dibuat tulisannya di sini. Silakan dibaca dan dihayati. Cukup jelas, kok. Tapi ada satu statement yang bikin saya penasaran:

Apabila kalian punya hutang tanpa agunan,watch out secara undang2 kalian mengagunkan seluruh harta yg kalian miliki.

Saya sempet nyureng karena gak ngerti maksudnya apa. Memang saat ini saya gak punya hutang tanpa agunan, tapi pernah lho suatu kali saya dibombardir sms dari nomor gak dikenal yang sibuk nawarin kredit tanpa agunan. Tawarannya lumayan bikin mupeng, tapi saya agak anti dengan yang namanya kridit-kriditan, jadi masih bisa cuek.

Balik lagi soal undang-undang tadi, bang aidil secara khusus nyebutin sejumlah pasal: pasal 1131, 1320, dan 1338 KUHPerdata. Lah, emang apa katanya?

Berkat Om Google, sampailah saya di sini dan…. tetep ga ngerti! LOL… astaga… kenapa sih bahasa hukum itu kalau dibaca rasanya kayak pengen jedotin kepala di tembok?

Setelah baca 273 kali, saya nangkepnya gini nih: walaupun judulnya keren, Kredit Tanpa Agunan, tapi secara hukum buat bisa dapetin kredit dari bank biasanya mesti bikin perjanjian kredit, yang nantinya bakal dilanjut dengan perjanjian jaminan/agunan. Di pasal 1131 itu bunyinya kayak gini:

”Segala barang-barang bergerak dan tak bergerak milik debitur, baik yang sudah ada maupun yang akan ada, menjadi jaminan untuk perikatan-perikatan perorangan debitur itu”.

Cmiiw dong buat yang ngerti hukum, berarti judul bombastis Kredit Tanpa Agunan itu maksudnya gimana dong?? Permainan kata-kata belaka, ya??

Pasal 1320 KUHPerdata sih ‘cuma’ menyoal syarat sahnya perjanjian. Saya kutip dari sini:

…perjanjian harus memenuhi 4 syarat agar dapat memiliki kekuatan hukum dan mengikat para pihak yang membuatnya. Hal tersebut adalah:

1) Kesepakatan para pihak;
2) Kecakapan untuk membuat perikatan (misal: cukup umur, tidak dibawah pengampuan dll;
3) menyangkut hal tertentu;
4) adanya causa yang halal
Kalimat-kalimat ini juga masih bikin saya pengen jedotin kepala.. kali ini ke aspal!
Menurut ilmu kanuragan saya yang masih terbatas: ngerti atau nggak, ngeh atau gak, nyadar atau butuh kepaksa, begitu setuju ngambil kredit tanpa agunan ya berarti perjanjiannya udah sah. Gitu, kan? Lahh.. malah gak yakin, hihihii.
Masih menurut  sumber yang sama, pasal 1338 KUHPerdata makin memperkuat pasal 1320 tadi. Bunyinya:

Akibat timbulnya perjanjian tersebut, maka para pihak terikat didalamnya dituntut untuk melaksanakannya dengan baik layaknya undang-undang bagi mereka. Hal ini dinyatakan Pasal 1338 KUHPerdata, yaitu:

(1) perjanjian yang dibuat oleh para pihak secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi
mereka yang membuatnya.
(2) perjanjian yang telah dibuat tidak dapat ditarik kembali kecuali adanya kesepakatan dari
para pihak atau karena adanya alasan yang dibenarkan oleh undang-undang.
(3) Perjanjian harus dilaksanakan dengan iktikat baik.
Hadoooohhh… ini sih gak bisa ngeles, yah? Seandainya yang ngambil kredit tanpa agunan itu ga sanggup bayar cicilan, tetap aja diikat ama pasal-pasal itu, dong. Ditutup dengan sadis ama si pasal 1131 itu tadi. Barang yang sudah ada atau akan ada dijadikan agunan buat ngelunasin cicilan! Hiiiiyyyyy ngeriiiii…
Gak bakalan deh, saya ngambil Kredit Tanpa Agunan kalau begini ceritanya… beneran!
Selanjutnya tentang profil resiko. Saya rangkum aja livetweetnya dari sini, ya!
  • Ada 3 profil resiko: konservatif,moderate dan agresif
  • Setiap produk keuangan pasti tidak ada yang bebas dari resiko
  • Menabung saja ada resiko inflasi
  • Resiko tidak dapat dihindari akan tetapi dpt dikelola. Key : diversifikasi
  • Risiko ada 2 yaitu : spesific risk (internal) dan general/systematic market risk (global)
  • Resiko investasi : Resiko gagal (default), resiko kredit, dan resiko pajak
  • Resiko investasi : resiko inflasi konsumtif (diri kita), resiko bunga, dan resiko mata uang (currency)
  • Resiko investasi : Resiko politic, resiko pasar dan resiko karna suatu hal (bencana,dll)
  • Resiko investasi : Resiko politic, resiko pasar dan resiko karna suatu hal (bencana,dll)
  • Faktor profil resiko: urutan dlm keluarga (anak pertama biasanya safety player dgn toleransi tinggi terhdp kenyamanan)
  • Faktor profil resiko: urutan dlm keluarga (anak bungsu, lebih agresif biasanya ..anak tengah biasanya suka2,agresif ok konservatif jg ok)
  • Profil resiko berdasarkan urutan dlm keluarga hanya pada Umumnya saja. Tetap ada faktor2 lain yg mempengaruhi
  • Faktor profil resiko : Hobby (semakin berbahaya hobby nya dpt kita lihat org tersebut agresif)
  • Apabila hobbynya hanya melibatkan diri sendiri tanpa orang lain,biasanya profil resikonya konservatif
  • Faktor profil resiko:salesmen n businessmen (agresif), planners,architect (agresif wth calculated risk),karyawan dg gaji fixed (konservatif)
  • Faktor profil resiko : durasi investasi (short period – konservatif, long period – agresif)
  • Faktor profil resiko : dana darurat (terlalu byk aset liquid = konservatif)

Sebelum memutuskan untuk investasi, baiknya sih kenali dulu profil resiko diri sendiri. Jangan sampai merasa profilnya agresif, terus beli saham segepok.. ehhhh tiap malam malah gak bisa tidur karena jantung empot-empotan mikirin harga saham yang turun :P *eh, ini bukan curcol yahh.. cateeeeettt… Postingan tentang profil resiko yang ini bisa dibaca supaya makin makin makin makin jelas :)

Kalau lagi iseng dan ada waktu sebentar, coba-coba aja isi kuesioner ini. Saya gak tau sih, apa dengan ngisi delapan pertanyaan doang udah cukup untuk menilai kayak gimana profil resiko kita. Tapi kan judulnya juga iseng dan coba-coba :P

Saya baru aja coba. Hasilnya? Balanced.

Halah… maksud loooooo?

bolos kelas financial, hiks…

Posted by on Thursday, 21 October, 2010

Boooooohooooooo… dua kali sudah saya bolos gak bisa datang di kelas financial yang diadain Akademi Berbagi, kerja sama dengan bung Aidil Akbar *ciyeeeehhh, bung..* rugiiiii ay merasa rugiiiiiii.. tapi apa daya nasi udah jadi bubur, tinggal ditambah suwiran ayam, kacang kedelai, kecap ama kerupuk deh.. :P

Materi yang gak saya ikutin adalah tentang cash flow dan hutang. Untuk materi hutang jujur aja rasanya saya ga terlalu rugi gak ikutan, toh saya cukup mahir di bidang hutang-berhutang :P Maksudnya, sampai sekarang sih alhamdulillah saya gak punya hutang. Hutang koperasi kantor gak ada, hutang ke bank gak ada, hutang ke mertua juga gak ada. Paling yang ada hutang kartu kredit, yang selalu saya bayar lunas tagihannya setiap bulan. Sayangnya, bulan ini lunas, bulan depan kalau saya iseng gesek kartu kredit lagi ya berarti hutang lagi, ya.. Hihihi.. ini emang penyakit saya, dan obatnya gampang aja, kok: titip aja kartu kreditnya ke suami, dijamin saya bakal susah banget gesek kartu itu, dan bulan depannya tagihan kartu saya bisa nol. Ha!

Tapi kalau materi cash flow, saya burik butek sih. Gak ngerti. Itu maksudnya apaan ya? Wahh.. padahal saya udah janji sama partner in crime untuk selalu update kabar berita tentang kelas financial ini. Kan kami berdua sukanya yang gratisan :P

Makanya, biar kami sama-sama belajar tentang materi yang ketinggalan itu, saya coba rangkumin deh.. minimal buat bacaan saya sendiri biar tambah ngerti.

Jadi kalau boleh disimpulkan, cash flow tuh berkaitan dengan gimana caranya membelanjakan pendapatan per bulan. Saya nemu blog keren yang salah satu postingannya ngebahas personal cash flow. Daripada saya jelasin muter-muter dan malah bikin pusing, mending baca itu aja :)

So far sih selama ini tiap terima gaji saya langsung masuk-masukin ke amplop hadiah buku manajemen by amplop dan persentasenya disesuaikan dengan mood kebutuhan saya. Ngukurnya gimana? Ya dikira-kira aja dari kebiasaan atau kebutuhan bulan-bulan lalu. Hihi, tauk deh cara ngukur model begini betul atau salah :P

Memang sih, kadang bocor juga.. hiks.. dan biasanya bocornya karena pengeluaran tak terduga yang  gak penting, atau diada-adain.. Duh.. kebiasaan buruk banget, deh.. Kayak begini mah kuncinya cuma satu, mesti bisa tega ama diri sendiri :( *waaaa… mana bisaaaaa*

Pleeeeh… kalau begitu mari kita hayati tweet penting ini tentang cash flow:

  • Apabila kita tidak dapat memaintan isi dompet,bagaimana mungkin kita dapat menabung
  • Sisi buruk atm = anda selalu tau kalau anda memiliki duit yg dpt diambil kpn saja sehingga anda srg overbudget
  • Susun daftar pengeluaran rutin,dimulai dr pengeluaran utama (sandang,pgn,papan,komunikasi & transportasi) kmdian byar hutang
  • Tidak hny hutang,tetapi juga kewajiban lainnya spt cicilan, menafkahi orgtua (apabila mnjd tulang punggung) dll
  • Pengeluaran rutin berikutnya adalah tabungan dan investasi plus pendukung
  • Kunci dari pengaturan cashflow adalah lifestyle masing2 orang
  • Bocor halus yg tdk disadari – kasih tips ke tukang potong rambut,ksh pengamen,beli cemilan,bayar parkiran dll
  • Jgn jadi pegawai mental manager – punya penghasilan pegawai tp pengeluaran sama spt manager dgn gaji byk

Kalau masih kurang, nih saya rangkum juga laporan pandangan mata kelas financial dari tweet yang ini:

  • Dlm memakai CC, aturan utamanya setiap kali dipakai, dilunasi. Kalau terpaksa, maka cicilan per bulan maks. 30% gaji, tdk boleh lebih
  • Inget yaaa.. Kondisi idealnya adalah: Penerimaan-Pemasukan=positif!
  • Gimana cara antisipasi pengeluaran yg berlebih? CATAT! :D
  • Susun daftar pengeluaran rutin yuk! 1. Pengeluaran utama – yg terpenting. Msg2 profesi bisa punya pengeluaran utama yg beda
  • Dftr pengeluaran rutin : 2. Kewajiban – tmasuk pajak, bayar utang, bayar zakat. Anggota kelg yg kita biayai bs tmsk kewajiban
  • Daftar pengeluaran rutin: 3. Tabungan & investasi – bs jangka pendek, jangka panjang. Stlh itu baru 4. Pendukung – have fun!
  • Kunci dari pengaturan cashflow adalah: lifestyle. Hati2, kadang lifestyle tidak sesuai dengan pemasukan lhoo…

Nah.. gimana? Bisa ngambil moral story-nya, kan? Semboyan saya sih:

  1. Hutang gak boleh lebih dari 30% penghasilan (baik penghasilan pribadi atau gabungan)
  2. Jangan beli apa pun kalau ga ada duitnya!!

Sekian.

PS: kelas yang paling saya tunggu sih yang materinya INVESTASI. Semogaaaaa bisa dapet tempat paling depan!

a verrrrrry hot pasar seni 2010

Posted by on Tuesday, 19 October, 2010

Kesalahan TERBESAR saya saat datang ke pasar seni ini adalah: tidak datang sepagi mungkin.

Rencana untuk stand by di TKP sejak jam 8 pagi bubar jalan, secara jam segitu saya masih dasteran di rumah. Dan karena saya pergi berempat, waktu untuk mandi ditambah sarapan dan habla-habla lainnya ternyata berakibat baru berangkat dari rumah sekitar jam sepuluhan. Hwaaaaaa…

Memang sih, sudah coba lewat jalan alternatif yang moga-moga gak macet, tapi namanya di Bandung mah macet di ujung mana bisa berakibat macet juga di ujung sini. Mengingat kondisi saya, ibu memaksakan untuk bisa parkir di rumah sakit borromeus, supaya gak perlu jalan terlalu jauh.

Hampir sejam perjalanan dari rumah ke TKP, dan begitu masuk jalan ganesa sudah dihadapkan dengan kenyataan seperti ini:

Errrggghhh… Omaygaattttt…

Untunglah nemu yang lucu-lucu, sehingga mood yang sempat rusak gara-gara ketemu macet bisa terhibur. Setidaknya saya sih terhibur, gak tau ya kalau yang lain :P

Iya.. ternyata saya nemu segerombolan manusia pohon kayak begini sedang ngaso.. :D saya sih senang.. tapi keponakan saya mesti dipaksa supaya mau berfoto dengan pohon bertopeng manusia.. mana mesti pake ditemenin segala..

Karena lorong-lorong tempat stand jualan dijejalin manusia, jadi sementerus sementara stand itu diabaikan aja. Mari ngeliat berbagai instalasi seni yang ada..

Lagi asik lihat-lihat patung, rombongan saya dipriwitin dan digebah-gebah satpam disuruh jangan ngalangin jalan. Lah, emangnya saya gede banget apa, sampe dituduh ngalangin jalan?? Ohh… ternyata ada rombongan orang penting yang lewat..

Di tengah cuaca terik itu ketemu dengan manusia sampah plastik yang gak bisa diem.. padahal tadinya mau foto bareng :P hayoo… coba tebak yang mana…

Di sini sempat hilang orientasi karena lautan manusia yang menggila, ditambah hawa yang panasnya kayak disupplai ama sepuluh  pawang hujan sekaligus, bikin keteteran rombongan saya. Saya sih masih pengen jalan-jalan :P Tapi daripada menghadapi wajah-wajah manyun, akhirnya duduk manis deh, deket panggung dan nonton sebentar di situ.

Sebelumnya, saya sempat lihat maskot pasar seni tahun ini, Salma dan Pasa:

Dan ketemu orang ini juga.. entah apa dia termasuk bagian dari kegilaan barudak ITB, atau just wanna steal the show?

Setelah duduk sejenak, masih aja rombongan saya dihajar dengan serbuan orang yang lalu-lalang.. Boro-boro mau liat stand jualan, mau jalan aja susah beneeeerrrrr… Akhirnya diputuskan untuk… pulang! eh?? Iya, pulang aja! Kepala dan kaki senut-senut. Salah milih jam kunjungan, sih..

Dalam perjalanan pulang, hanya sempat lihat-lihat instalasi yang kebetulan dilewatin aja.. too bad.. :(


Termasuk juga ngelewatin booth-nya Tisna Sanjaya. Kalau di pasar seni 2006 dia bawa-bawa puluhan toples kecil berisi lumpur lapindo, kali ini yang dibawa adalah pembunuh massal rakyat Indonesia saat ini: tabung gas 3 kg..

Kunjungan full keringat ini diakhiri dengan beli es pisang ijo di gerobak mamang-mamang, yang mana segelasnya lima rebu saja. Lalu perjalanan hampir dua jam ke rumah yang mengakibatkan ibu saya bete berat. Arrrrggghhhh gak sepadan banget nih, ama hasil kunjungan ke pasar seninya :(

Overall sih ya, saya lebih suka pasar seni 2006. Selain karena waktu itu saya bisa puas banget keliling-keliling hampir seharian dengan hati riang ke berbagai stand, wahananya banyak yang  gratis, saya juga melihat lebih banyak ‘kegilaan’ yang ditampilkan. Favorit saya saat itu adalah pameran rumput:

Daaaan, rasanya waktu 2006 panasnya gak gigit kayak sekarang :(

childhood memories – part 2

Posted by on Monday, 11 October, 2010

Lagian ngapain juga sih bikin postingan berseri, kayak sinetron  aja :P Kalau gak iseng baca ini saya gak bakal inget kalau punya utang postingan :P

Okeh.. mari kita lanjutkan kenangan masa kecil yang paling saya ingat..

  • Dikejar Induk Ayam

Ini betul-betul pengalaman  yang paling tak terlupakan. Di suatu pagi yang cerah, saya sudah tampil cantik dengan seragam TK. Rambut dikucir dua dan diberi pita. Mau ke mana? Sekolah, tante… Tapi harus nunggu motor vespa panas dulu. Jadilah saya cengo di halaman depan.

Saat itu datang serombongan anak ayam yang ribut ciap-ciap masuk ke halaman. Ribuuuut banget cap-cip-cap-cip. Tiba-tiba aja saya iseng. Beberapa ekor anak ayam kan ngeluyur terpisah dari induknya, mereka mau maju ke kanan langsung saya halang-halangin. Mereka minggir-minggir ke kiri, saya halang-halangin juga. Pokoknya mereka gak boleh kemana-mana, deh.

Kanan-kiri-kanan-kiri, saya sibuk ngehalangin jalan anak ayam, tiba-tiba dari pojokan sana si induk ayam itu lari kenceng banget ke arah saya sambil petok-petok, dan dari tampangnya saya langsung tau kali dia lagi ngambek berat. Saya sempet bengong sejenak sebelum nyadar kalo si induk ayam ngincer betis saya untuk dipatuk!

Langsung aja saya juga lari kenceng sambil jejeritan, menghindari patukan si induk ayam nan galak. Lagian tuh emak ayam galak bener, sih? Kan saya cuma godain anak-anaknya doang??

Semenjak itu sampai sekarang, lho! kalo saya lewat di depan induk ayam yang lagi nangkring di jalan, mendingan saya muter deh, cari jalan lain.. Ketemuan sama ayam is a big no no! Kecuali yang udah digoreng dan dihidangkan di atas meja :P

  • Main korek api

Yang ini kejadiannya mungkin kelas 1 atau 2 SD. Umur segitu saya udah biasa ditinggal di rumah, karena orang tua saya bekerja. Seingat saya sih, ada pembantu kok. Tapi entah kenapa hari itu pembantu saya gak ada. Mungkin pulang kampung, atau apalah. Yang pasti di rumah saya hanya berdua dengan sepupu saya yang umurnya lebih muda.

Waktu itu saya lagi senang-senangnya main korek api. Rasanya senang aja kalau bisa menyalakan korek api, membiarkan apinya menyala sampai dekat ke tangan, lalu cepat-cepat dibuang.

Memang sih, ibu saya sudah sering wanti-wanti untuk gak main-main korek api di dalam rumah. Nah, hari itu saya main korek apinya di luar, di halaman samping. Hehe. Mestinya boleh, kan?

Sepupu saya itu sih, sudah pasti gak mau nyoba nyalain korek api. Jadi saya sendiri aja yang show off memamerkan kehebatan dan keberanian nyalain korek api. Yaaaaayyyy…

Saat membuang batang korek api entah kesekian, dan saya baru aja mau mulai membakar satu batang lagi, rasanya paha saya kayak dikilik-kilik. Pertama, saya tepis tanpa lihat ke bawah. Tapi masih kayak dikilik-kilik. Pas saya nengok ke bawah, ternyata ujung rok saya ada apinya!

Kaget dong, pastinya.. Langsung saya tepuk-tepuk bajunya tapi kok apinya gak mati-mati. Sepupu saya juga cuma bisa nunjuk-nunjuk sambil bengong, dan di umur segitu saya gak tau gimana caranya memadamkan api dengan cara guling-guling. Seingat saya, bajunya saya buka dan saya injak-injak sampai apinya padam. Wuiiihhh, jangan tanya seperti apa takutnya! Saya bukan takut kebakar, tapi takut diomelin ibu! Belum kalau dipelototin, trus dicubit! Haduuuuhhhhh…

Tindakan bodoh berikutnya adalah membungkus baju itu dengan kertas koran, dibuang di tempat sampah depan rumah, lalu saya sembunyi di kolong ranjang saya sampai ibu saya pulang ngantor. Itu semua dengan harapan semoga perbuatan saya gak ketahuan. Huehehehehe… ngimpi kaleeeeeee :D secara begitu ibu saya pulang, kalimat pertama sepupu saya adalah:

Tadi bajunya teteh kebakar

Dan bukannya menunjukkan kekuatiran, ibu saya dengan nada galaknya yang paling top nyuruh saya keluar dari kolong ranjang, dan ngambil bungkusan baju yang udah saya buang ke tempat sampah.

What a day…

Ketololan lainnya adalah, sebetulnya baju yang saya pakai hari itu bukan punya saya, tapi punya sepupu saya yang lain. Saya suka sekali modelnya, dan tadinya baju itu mau dicontoh polanya, dan dijahitkan ibu untuk saya. Tapi berkat kecelakaan hari itu, saya batal deh, punya baju baru :P

  • Penyebab hidung saya pesek

Kejadian yang ini sih sebelum saya masuk SD, alias masih TK. Saya sekeluarga juga masih tinggal di rumah kakek yang cukup besar. Keluarga bibi saya juga tinggal di sana. Jadi saya punya beberapa sepupu sebagai teman main. Suatu hari saya dan dua sepupu laki-laki saya main petak umpet. Rumah kakek cukup besar dengan banyak kamar, jadi ada banyak tempat sembunyi kalau main petak umpet. Kali itu yang jaga sepupu saya si A. Giliran saya dan sepupu saya si B sembunyi. Kami berdua memilih sebuah kamar untuk sembunyi.

Saya merasa sembunyi terlalu lama. Kayaknya sepupu  A gak nyariin, deh. Saya ingin mengintip dari pintu, tapi sepupu B ngelarang. Katanya nanti ketahuan. Saya bilang kan ngintip doang gak bakal ketahuan, tapi sepupu B juga gak kalah ngotot ngelarang saya buka pintu.

Aksi saling ngotot itu akhirnya berakhir saat sepupu B gigit hidung saya. Iya, gigit! Pakai gigi!

Saya langsung dong, nangis kejer.. sementara sepupu B langsung ngabur gak bertanggung jawab atas nasib idung saya. Momen selanjutnya yang saya ingat adalah: ibu sepupu B, bibi saya, mendudukkan saya di meja makan. Saya masih nangis terisak-isak sementara bibi saya itu mencocol-cocolkan bawang merah yang sudah dihaluskan ke hidung saya…

Okeh.. cukup sekian ah, kenangan masa kecilnya… Kalau gak saya stop dari sekarang lama-lama ntar aib diri ini tersebar deh.. :P

Pasar Seni 10.10.2010

Posted by on Wednesday, 6 October, 2010

Pasar Seni ITB is coming to town… !!!

Mengingat keriaan 4 tahun lalu saat saya ‘bertualang’ ke sini.. rasanya tahun ini pun saya wajib datang! Mengajak serta keluarga juga, hahahaha :D

Penasaran banget, akan seperti apa pasar seni tahun ini? Apa akan lebih komersil :P ???

Sekedar memento, saya posting ulang di sini deh, kenangan empat tahun lalu itu..

“Pasar Seni ITB tlah tiba! Beneran deh gw bela-belain mudik hari sabtu pagi, supaya bisa rehat dulu gitu lho pan gw udah niat hari minggunya mau nongkrong di sono seharian. Sebelumnya udah janjian ama Roi en Aip bakal ketemuan dengan meeting point di Salman. Kalo Tosi sih auk ah. Abis dia ga bisa dihubungi karena henponnya mati-mati melulu. So, jam sepuluh kurang gw dah cari parkiran di belakang RS Borromeus karena udah kebayang ga mungkin dapet parkiran yang enak di sekitar Ganesha. Lagian dari belakang situ gw bisa lewat lobby rumah sakit, nembus ke Dago dan tinggal nyebrang aja. Nunggu di gerbang sebentar buat koling-koling, ternyata Roi en family udah di dalem. Jadi setelah menjalani pemeriksaan tas dan nonton gerombolan anak-anak baru FSRD, baru deh gw menuju panggung utama, kali aja sempet nonton acara pembukaan.

Eh.. ada makhluk ajaib lewat! Looks so stupid gitu deh, abis jalannya lompat-lompat kayak kodok padahal kan tampilannya gajah berbelalai panjang—lho, itu mah Bona atuh, tapi ini sih warnanya putih. Apapun itu, wajib didokumentasiin. Jadilah berfoto bentar ama si Gajah. Pasar Seni ITB kan identik dengan kegokilan, jadi emang niat banget mau liat dan ngalamin yang gokil itu.. kalo jejeran stand yang jualan segala rupa, itu mah diliat ntar-ntar aja. Lagian di ITC juga banyak yang jualan gitu sih. Abis foto ama si Gajah dekil gokil, baru deh ketemuan ama Roi en family di depan panggung utama. Nyempetin nonton Retrofit bentar, baru kita bergerak ke dalam.

Awalnya mau mampir ke wahana LeuwihGadjah tapi gak jadi karena Roi kuatir ada kaitannya dengan TPS Leuwigajah sedangkan dia bawa anak kecil. So… maju terus aja deh… Hwaaa… ada Pameran Rumput ITB! Lucu banget dan agak lama juga kita hahahihi di situ. Gak lupa dong potret-potret. Trus pas ketemu ama patung gajah raksasa, foto lagi bentar, baru deh lihat-lihat stand jualan segala rupa. Dari situ rencananya mau ke wahana TeknoFuturaMengada-ada, tapi belum buka. Ya udah, liat-liat stand lagi aja. Mau masuk wahana Balada Koak Malam juga gak jadi, karena kayanya Roi family gak terlalu minat. Yah.. udah ntar aja deh gw kesitu.

Udah jam 12 lewat, jajan dulu buat ganjel perut, dan Aip family masih juga belum datang, sedangkan Roi family mau cabut karena masih ada acara. Okelah gak apa-apa, gw keluyuran aja sendiri, lagian kan udah biasa juga kalo ada cara Sahabat Museum nongol sendiri hehehe… toh ketemu banyak orang walo gak kenal heuheuheu…. Si Tosi masih juga gak keliatan. Mau dicari di stand pematung juga malah bingung jadinya. abis banyak banget sih stand-nya. Yak, apa dulu nih yang mau diliat? Hmmm, ada kesenian Ujung Berung: Benjang. Gak pernah lihat. Kayak apa ya? Aih, ternyata syerem, abis pake acara ‘kesurupan’ segala. Ada yang makan beling, ada juga yang makan ayam hidup—gak tau tuh apakah minumnya teh botol sosro . Hiyyy… mengerikan. Untung aja gw gak bawa nasi putih, bisa-bisa gw samperin dan minta paha atas heheheh… Oh ya, Tisna Sanjaya juga melukis di sini—konon rada-rada ‘kesambet’ gitu. Gw gak liat yang makan ikan hidupnya segala, gak ku-ku ah. Mending berkunjung ke Kampung Tradisi aja. Kebetulan Tarawangsa, kesenian Sumedang, baru aja mulai. Lho… ternyata ini juga narinya sambil trance gitu. Hwaduh.. trance di terik matahari apa rasanya ya? Tapi seru, sih. Gw nonton sampai selesai, trus udahnya baru deh lihat Keroncong Merah Putih di Oktagon. Di sini gak lama, karena malah ngantuk. Hihihi… abis siang-siang gini denger musik keroncong, maaf lho.. mata ini rasanya pengen merem melek sambil golek-golek. Sempat papasan ama tukang jualan kerak telor dan langsung ngiler kepengen, tapi karena yang beli ngantri banget, gak jadi ah.

Tiba-tiba gw lihat Darth Vadder lagi jalan-jalan. Foto dooooong! Hwahahaha… gokil banget.. di mana lagi siang-siang ketemuan ama Darth Vadder kalo bukan di ITB. Jadi mengingatkan gw untuk mampir ke wahana TeknoFuturaMengada-ada. Untung aja gak ngantri, tapi kok mau masuk aja tas atau korek api mesti dititip segala? Emang ada apa sih? Di dalem malah kayak di diskotik ya? Gelap dengan musik ajeb-ajeb. Paling menarik adalah si Robot Pintar’ yang bisa nyediain minuman. Es jeruk 3500 saja, es teh manis tentunya lebih murah. Dari badan robot gw bisa ngintip; oh.. ternyata di belakang situ ada dapur yak.. pantesan robotnya pinter banget… keluar dari wahana ini diperiksa juga. Malah digeledah segala. Apa seeeh… mengada-ada banget…

Taman Manekin jadi TKP berikutnya. Ga terlalu lama di sana, tapi akhirnya gw beli kalung dari keramik buatan mahasiswa di situ. Mahal juga sih, 20rebu. Tapi gak apa-apa, kan handmade mahasiswa, siapa tau nantinya dia ngetop, dan gw udah punya hasil karyanya saat ini hehehe… Okeyy, lanjut! Kaki masih lengkap, kok. Lihat KomPret alias Komik Jepret, ah. Eitss.. malah ketemu babarongsayan… kegokilan berikut… anak-anak baru lagi pada di-OS kali ya? Abis kesian banget lihatnya, mana dirubung keamanan sebanyak itu. Tinggal tambah dipecut-pecut aja tuh, biar makin seru. Ehh… ternyata kalo masuk wahana KomPret gak boleh foto-foto, dan htm-nya mahal juga, 10rebu. Gak jadi ah.. ngikut si barongsay malang itu aja..

Makin sore makin banyak aja orang numplek di sini. Makin susah bergerak. Akhirnya sempet juga mampir di LeuwihGadjah. Sayang, baru juga nge-klik sekali, batre kamera abis, jadi ga bisa futufutu lagi deh. Huhuhuhu…. Tapi tak apalah. Udah biasa juga ga bawa kamera kalo maen bareng BatMus. Yang penting kan hepi xixixixi… Setelah muterin stand blok B, ketemuan bentar ama VQ dan nyonya. Waktu duduk, baru kerasa tuh kaki gw merintih-rintih. Nyaris patah-patah. Akhirnya sambil kaki rehat, nonton musik di panggung utama biar asik kali ya. Kebeneran yang lagi manggung tuh band gokil dari UNJ, Jiung. Gile abisss… aksi dan tampang vokalisnya bener-bener deh kayak alm. Benyamin Sueb. Pake acara mandi segala di tengah massa penonton. Gak lupa lempar-lempar sabun batangan, sebelumnya malah lempar kaus kaki. Gitarisnya oke-oke, dan salah satunya, Bang Pilun, jago banget bikin pantun. Ketawa-ketiwi abisss deh, nonton band yang satu ini.

The Changcuters juga lumayan lucu. Musiknya sih menurut gw mirip-mirip Rolling Stones dan mirip U2 juga dikit. Gw suka gebugan drummernya yang powerfull. Waktu menunjukkan jam 5 sore, dan sebenernya gw masih pengen nonton The S.I.G.I.T. tapi kaki udah ga bisa diajak kompromi. Pulang ahhh… cuapek buangeeeet… dan dalam perjalanan pulang gw beli beberapa barang gak penting: kalung dengan tulisan cina yang berarti: Naga—shio gw neeeh…., mug yang ada tempat untuk naro sendok kecil di kupingnya, dan tempat tisu. Semuanya dari keramik.

Makin banyak aja orang yang datang.. dan kalo gw bertahan setengah jam lagi beneran bisa pingsan berdiri deh… jadi… sampai ketemu di Pasar Seni ITB empat tahun lagi yaaaa… *dengan catatan, banyakin gokilnya dooong… yang ini masih kurang gokil tuh…*

PS: Setelah tewas di rumah, baru inget kalo tadi lupa mampir ke Balada Koak Malam dan Galeria Portabelia Transparantina huhuhuhuh…. menyesal akuw menyesaaaal…”

kelas financial planning di akademi berbagi

Posted by on Tuesday, 5 October, 2010

Saya gak bakal ngeh kalau akademi berbagi buka kelas financial kalau my partner in crime gak halo-halo di twitter.  Semula saya agak males-malesan nanggepinnya, karena saya pikir kelasnya dibuka hari Jum’at. Dan macet di hari jum’at sore adalah hal yang paling saya hindari, sebisa mungkin gak ada di jalan sampai sekitar jam 9 malam :P

Eiihhh, ternyata nasib baik.. kelasnya dibuka hari Senin. Langsung aja deh, saya daftar ke kepala sekolah akademi berbagi dengan harap-harap cemas, agak kuatir kalau kuota 30 orang udah keburu penuh dan saya gak bisa ikutan.

Emang kenapa sih,  pengen banget ikutan kelas ini?

Yah.. terutama karena saya pengen banget punya perencanaan keuangan yang parfait… apalagi kalau gratis! Hihihihi… dimana-mana yang gratisan emang mengundang banget, yah!

Terus, kenapa juga mesti punya perencanaan keuangan yang sempurna?

Duuuhhhhh, gini lho.. saya nih kerja dari senin sampai jum’at. Mulai jam delapan sampai jam lima. Penghasilan yang dibawa pulang jujur aja gak terlalu banyak. Padahal seperti kita semua juga tau, kebutuhan hidup tuh makin lama makin meningkat. Belum lagi kalau sudah punya anak. Coba aja baca di koran berapa biaya melahirkan, berapa biaya sekolah anak, berapa biaya kesehatan. Jangan dulu mikirin uang kuliah, bisa pingsan! Mikir uang pangkal masuk SD aja saya udah sakit gigi. Dan tau gak, uang kalau udah di tangan tuh, kayak air! Iya, ngalir kemana-mana gak jelas. Tiba-tiba aja tengah bulan kebingungan karena mesti ngebobol tabungan. Huuu.. mau mati gak, sih?

Makanya saya tau diri. Udah nyadar uang pas-pasan, ngelolanya juga mesti betul-betul. Supaya masa depan saya dan keluarga bisa berjalan dengan baik. Maunya sih gak  pernah punya utang. Terus yah, kalau bisa punya semua benda yang dibutuhkan, dan sewaktu mesti bayar ini itu uangnya ada. Itulah kenapa belakangan ini saya keranjingan cari tau ilmu merencanakan keuangan ini. Segala twitter financial planner saya follow, trus tweet mereka yang kira-kira wajib saya inget, langsung saya klik favorite. Saya juga gak lupa rajin baca blog mereka. Salah satu referensi bacaan saya ya blog pemateri kelas financial ini.

Waktu antene tv saya masih belum goyang, dan saya bisa nonton saluran tv O Channel, saya juga rajin ngikutin pembahasan tentang investasi emas, masih dari bapak ini. Gak cuma itu aja lho, saya bahkan beli bukunya! Wkwkwkw.. ini bukan stalking lho… tapi saya emang ngerasa perlu beli buku yang ini:

Kenapa?

Karena… yang nulisnya Indra Herlambang lhoooo ada bonus amplopnya!!!

Hihihihihi… jadi tujuan saya beli bukunya supaya dapet amplopnya itu :P alasan yang bodoh yah.. tapi sampai sekarang amplop-amplop itu masih saya pakai, lho.. Walaupun errr… nganu.. kalau lagi kepepet kadang-kadang saya suka ngambilin uang dari pos yang bukan untuk peruntukannya :P *huhuhuu, masih bandel niiihhhhh*

Tapi menurut saya belajar serabutan dan otodidak ini masih belum cukup. Saya butuh ‘pembenaran’ bahwa apa yang udah saya lakukan itu right on track. Jangan-jangan selama ini saya sok tahu, sok udah bisa,  sok punya ilmunya. Makanya, hadir di kelas ini jadi agenda wajib saya.

Well, karena si partner in crime itu minta saya share ilmu yang udah didapat, saya coba rangkum deh, kheuseus buat dia seorang :D

Here we go..

  • Yang paling penting dalam perencanaan keuangan adalah TUJUAN. Tujuan ini bisa macam-macam sesuai ama kebutuhan kita. Misalnya aja pengen naik haji, pengen punya rumah, pengen sekolahin anak sampai universitas, and so on.
  • Setelah punya tujuan, coba pisahin menurut jangka waktunya. Untuk tujuan kurang dari setahun dianggap sebagai tujuan JANGKA PENDEK. Tujuan yang kira-kira perlu 1-5 tahun lagi, dianggap sebagai tujuan JANGKA MENENGAH. Sedangkan tujuan JANGKA PANJANG waktunya di atas 5 tahun.
  • Notes: Ukuran waktu selama itu umumnya dipakai di Indonesia. Menurut Pak Aidil orang bule malah lebih lama lagi. Jangka menengahnya bisa sampai 10 tahun. Jadi tujuan jangka panjang versi mereka adalah di atas 10 tahun.
  • Kenapa tujuan itu harus dipisah, supaya gak salah mengelola uang. Gak salah menempatkan investasi. Gak mungkin banget untuk tujuan naik haji 15 tahun lagi, misalnya, tapi yang kita lakukan adalah ngambil deposito selama setahun.
  • Why?
  • Karena gak akan kekejar uangnya. Misalnya aja inflasi per tahun 12%, berapa sih bunga deposito setahun? Kayaknya gak mungkin banget di atas itu. Jadi boro-boro bisa ngejar biaya naik haji 15 tahun mendatang, ama inflasinya aja udah kalah duluan
  • Malah ribet baca contoh saya? Hhihihihih… maap.. makanya mending ikutan kelas financial planningnya aja, biar bisa lebih jelas :P atau sekalian konsultasi ama para pakarnya di sana…

Yang saya catet sih, dalam sebuah keluarga tuh idealnya mesti punya perencanaan keuangan untuk hal-hal berikut ini:

  • manajemen arus kas
  • manajemen resiko
  • perencanaan pajak
  • investasi
  • perencanaan pendidikan
  • perencanaan warisan, termasuk didalamnya adalah untuk nikah dan estate, maksudnya properti kali ya??
  • perencanaan pensiun
  • dll

Hayohh… panjang banget daftarnya. Saya sih langsung nyureng. Saya kurang paham dengan manajemen arus kas, gak ngerti ama manajemen resiko, gak pernah bikin perencanaan pajak karena itu urusan kantor, kan?? investasi udah sih, tapi bener gak yang udah saya pilih? perencanaan pendidikan dan pensiun baru mulai, dan sama sekali belum mikirin tentang perencanaan warisan. Ampuuuunnnnn… tolonglah hamba-Mu ini…

Untunglah kelas ini diisi juga dengan hahahihi yang lumayan mengurangi stress gara-gara ngeliat angka-angka setelah inflasi. Beneran, lho, saya sempat stres juga mendengar ‘kenyataan hidup’ termasuk semua biaya yang kira-kira harus dikeluarkan untuk itu.  Duuuhhh, semoga aja setelah ikut kelas ini saya bisa dapet dan paham ilmunya, biar cepat kaya, jadi gak stres dengan angka-angka inflasi ituhh :P

Nah!

Hal pertama yang harus dilakukan adalah: bikin Emergency Fund alias Dana Darurat.

Untuk saya pribadi, perlu dana darurat sebesar 9 x gaji per bulan. Tapi kalau keuangan mepet, dapet dispensasi :P dihitungnya bukan dari gaji, tapi 9 x pengeluaran per bulan. Saya harus punya minimum 2 x pengeluaran per bulan itu dalam bentuk liquid, sebelum saya investasi. Setelah punya jumlah minimum, bulan selanjutnya dananya dipisah. Sebagian masuk dana darurat, sebagian lagi diinvestasikan ke produk yang bisa mengalahkan si inflasi 12% itu.

Itu teorinya. Yang tidak saya lakukan karena baru tau kemarin malam :P

Weewww…

Jadi tujuan saya nomor satu:

  • Bikin dana darurat!

*bersambung ya minggu depan! semoga saya masih bisa ikut kelasnya :D

Today!

Posted by on Monday, 27 September, 2010

childhood memories

Posted by on Friday, 3 September, 2010

Katanya masa kecil itu masa yang paling indah. Mungkin juga. Soalnya saya hanya ingat beberapa saja. Sisanya sudah banyak yang lupa. Hehe, maklum deh, namanya juga hese inget gancang poho . Terkadang saya memang sangat payah kalau disuruh mengingat-ingat sesuatu.

Tapi ada lho, kenangan masa kecil yang saya ingat betul. Mungkin karena saking berkesannya, ya. Jadi sampai sekarang pun kisah itu masih sering saya ceritakan ke siapa saja yang mau dengar.

Kali ini saya cerita di sini, deh.

  • Fashion Show

Ceritanya TK saya lagi bikin peringatan Hari Kartini di sekolah. Murid-murid perempuan didandani dengan kebaya dan rambut dicepol, karena ada lomba segala. Lombanya apa aja saya sudah lupa, yang jelas saat itu saya pakai kebaya merah, kain dan selendang batik, dan rambut dicepol yang dihias bunga anggrek. Cantik banget, deh! Iya, ibu saya dandanin saya habis-habisan karena saya dipaksa ikut lomba fashion show alias peragaan busana.

Beberapa hari sebelumnya peserta sudah dilatih gimana caranya berlenggak-lenggok di panggung. Jadi pas latihan lantai panggungnya ditandai dengan kapur putih dengan garis-garis pendek, arahnya lurus, melingkar, lalu lurus lagi ke seberang panggung. Sewaktu latihan sih, mantapppp banget. Saya jalan sesuai petunjuk kapur di lantai dengan aman sentosa sampai ke seberang panggung.

Nahhhhh… sewaktu Hari H, Jam J pada saat nomor saya dipanggil untuk maju dan bergaya, tiba-tiba saya mogok jalan! Kenapa, ya? Gak taulah, mungkin demam panggung, hihihihi. Pokoknya saya ingat tiba-tiba aja saya merasa gak pengen ikutan lomba. Dipanggil berulang kali saya diem aja. Gak mau maju. Didorong-dorong ibu, saya masih tetap mogok di pinggir panggung. *Memang pada dasarnya saya ini pemalu dan gak suka show off*

Mungkin karena kesal sudah capek-capek dandanin saya pakai bunga anggrek segala, akhirnya ibu mencubit  saya. Istilah sundanya sih, nyiwit!

Wahai para ibu muda di luar sana.. ini jangan dicontoh, ya… ini akan menjadi kenangan yang membekas seumur hidup! Buktinya, saya masih ingat sampai sekarang. Walau sekarang kalau cerita, pasti sambil ketawa ngakak :p

Yahhh.. ternyata cubitan ibu saya berhasil, saudara-saudara!

Dengan gagah berani saya melangkahkan kaki satu demi satu, berputar, lalu berjalan lagi sampai ke seberang panggung. Dan mogok lagi di situ, males deketin ibu saya karena takut dicubit lagi :p

Betul-betul peragaan busana yang mengesankan. Ini pertama dan terakhir kali saya ikut lomba fashion show. Mungkin karena sudah gak ada tukang cubit lagi, hihihih…

Ngomong-ngomong saya dapat juara 3 lho…

  • Belajar Sepeda

Saya lupa tepatnya kapan, mungkin sekitar kelas 1-2 SD. Saya belum bisa naik sepeda roda dua. Jadi kalau naik sepeda masih ada dua roda kecil yang dipasang di sisi roda belakang. Dulu kan cara mengajari anak kecil supaya bisa cepat bisa pakai sepeda roda dua, si roda kecil ini dinaikkan sedikit demi sedikit. Kalau sudah bisa mengayuh dengan stabil, barulah si roda kecil dibuka.

Suatu hari saya dan ibu main ke rumah teman ibu. Kebetulan temannya itu punya dua anak perempuan yang umurnya gak jauh dari saya. Si Kakak sudah bisa naik sepeda roda dua, dan dengan baik hati membolehkan saya pinjam sepedanya yang kecil banget, sampai-sampai kaki saya bisa menjejak tanah.

Nah, karena belum bisa seimbang, jadilah saya naik sepeda dengan mengayuh ke tanah pakai kaki. Pedal sepeda saya cuekin aja. Termasuk ibu yang melotot-melotot karena saya gak naik sepeda dengan cara yang “baik dan benar”. Yang penting hati senaaaaaang…

Namun kesenangan itu gak berlangsung lama. Ibu saya menyuruh semua masuk, KECUALI saya! Katanya saya harus mengayuh sepeda dengan kaki menjejak di pedal, bukan di tanah. Dan kalau saya belum bisa juga, saya TIDAK BOLEH masuk ke rumah SELAMANYA.

… …

… …

… …

So, kalau di antara kamu di tahun 80-an pernah lihat anak perempuan kecil sedang belajar naik sepeda kontet dengan wajah nelangsa, jangan-jangan kamu lihat saya.

Susah payah saya berusaha menjaga agar si sepeda bisa seimbang. Tapi setiap kali setelah kaki kanan mengayuh pedal, kaki kiri gemetaran dan gak bisa bergerak, demikian sebaliknya. Jadi sepedanya yang doyong ke kiri, ke kanan, ke kiri, ke kanan, gak pernah bisa lurus.

Walau saya udah coba pasang ekspresi memelas, tapi pintu rumah itu tetap tertutup. Jadilah saya sibuk sendiri penuh konsentrasi mikir dan mencoba gimana caranya bisa menaklukan si sepeda. Saya gak takut jatuh, karena toh kaki saya bisa menjejak ke tanah. Palingan sepedanya doyong-doyong aja.

Sampai akhirnya setelah berjam-jam berkeringat, akhirnya saya bisa juga mengayuh pedal sepeda tanpa perlu berhenti! Sepedanya jalan lurus! Sepedanya seimbang! Horeeeee… saya bisa naik sepeda!!!

Tiba-tiba ibu saya membuka pintu rumah dan berteriak: “Tuuuuuh, kan… bisa!”

Saya berteriak senang dan memandang ibu yang kini tersenyum. Dan sepedanya doyong-doyong lagi. Hmmmppppfffttt… ternyata saya harus diancam-ancam dulu yah, supaya mau belajar :P

(bersambung ya.. banyak banget kerjaan niiihhh…)

Pemalas! Pemalas!

Posted by on Thursday, 5 August, 2010

Yak, kamu! Dasar kamu pemalas! Cuti dua minggu bukannya ngapain gitu yang bermangpaat, eh.. kerjanya malah tidur aja! Dasar malas!

Mandi, malas. Jalan-jalan, malas. Ketemu orang, malas. Keluar rumah, malas. Update blog apalagi, malas banget.. Yang gak malas hanya makan dan tidur. Dasaaaaar!!!

Mestinya dihukum cambuk aja, nih, biar hilang malasnya..

Ayo kamu buruan update blognyaaaahhh…

Buruaaaaaaan… no excuse yaaaaah… prrrrrrrrrrrrtttttttttttttt…