Amsterdam, New York, Las Vegas, wait for me!
And no matter what, I’ll visit Kashmir, Cairo, and Darien Gap as well!
![]() |
|||
Your travel type: Culture Buff
|
![]() |
||
top destinations: |
stay away from: |
||
Amsterdam, New York, Las Vegas, wait for me!
And no matter what, I’ll visit Kashmir, Cairo, and Darien Gap as well!
![]() |
|||
Your travel type: Culture Buff
|
![]() |
||
top destinations: |
stay away from: |
||
Nerusin cerita kemarin, intinya saya hanya mau pamer bilang banyaaaaaak banget kenangan berkereta dengan si Kereta Api Parahyangan. Antara lain:
Well.. berhubung si kereta api parahyangan gak akan beroperasi lagi, mungkin karena banyak penumpang gelap yang gak beli karcis, sepertinya gak mungkin deh kenangan itu diulang lagi. Masa iya mau gelar koran di gerbong eksekutif?? Gak tau ya, kalau masalah ngaretnya, itu sih mungkin bisa banget diulangi.
Siapa yang gak hapal lagu kanak-kanak ini,
naik kereta api, tut tut tuut
siapa hendak turut
ke bandung surabaya
bolehlah naik dengan percuma
ayo kawanku lekas naik
k’retaku tak berhenti lama
Seingat saya, sejak masih taman kanak-kanak dulu setiap kali akan ke Jakarta dari Bandung, ibu saya pasti lebih memilih naik kereta api parahyangan daripada bis antar kota. Setiap kali diajak ibu ke Jakarta, pasti saya naik kereta api. Gak ingat lagi, sih, apa rasanya pertama kali naik kereta. Masih kecil banget, buuuu….Tapi yang paling berkesan adalah perasaan ngeri-campur-senang-sekaligus-takut-dan-merinding setiap kali kereta yang saya tumpang melewati jembatan panjaaaaaaaang melewati lembah yang sangat sangat sangat dalam. Yang pernah naik kereta Jakarta – Bandung pasti tahu.
Melewati hutan, gunung, sawah, yang semuanya dilihat dari balik jendela kereta juga menyenangkan. Saya gak tahu apakah sejak dulu sudah ada gerbong eksekutif, karena yang ibu dan saya naiki pasti selalu gerbong kelas bisnis aka ekonomi. Di sini pun saya menemukan banyak hal menakjubkan. Misalnya jendela yang berfungsi juga sebagai ventilasi, yang bisa dinaikturunkan dengan memutar engkolnya, dan kursi yang bisa berputar arah ‘hanya’ dengan menarik sandarannya.
Ada lagi model jendela yang hanya bisa dinaikturunkan dengan cara mengangkat tepi bawah jendela untuk dikaitkan di bagian dalam. Pengait ini gak kelihatan. Makanya sewaktu saya melihat seorang bapak kerepotan membuka jendela model begini, saya langsung turun tangan. Sambil menyombong dalam hati, cih, buka jendela beginian aja gak bisa.. pasti dulunya jarang naik kereta!
Kebiasaan naik kereta ini berlanjut terus sampai akhirnya saya bekerja di Jakarta. Kalau awalnya saya hanya berkereta dalam rangka liburan, kali ini saya jadi penumpang PJKA, pulang jum’at kembali ahad. Maksudnya, setiap hari jum’at selepas jam kantor saya pasti pontang-panting naik ojeg atau metromini ke Gambir untuk naik kereta jam tujuhan. Hari minggunya diantar ibu saya berangkat ke jalan kebon kawung untuk naik kereta yang nantinya tiba di Gambir sekitar jam enam sore.
Ibu saya yang lebih lama lagi jam terbang eh, jam berkeretanya, malah lebih lihai. Dari beliau saya tahu kursi nomor berapa yang biasanya kosong. Jadi kalau kehabisan karcis resmi, duduk saja di kursi nomor cantik ini. Kalau ‘beruntung’ gak ada pemiliknya, bisa “bayar di atas”. Kalau ga beruntung? Tenaaaaang.. bisa tanya orang-orang tertentu, ada kursi kosong gak. Kalau ada, tinggal ngesuwel gocengan, dapat deh tempat duduknya.
Bandel, ya??
Tapi most of the time sih, saya jadi konsumen yang baik. Dalam arti beli karcis resmi. Malah pernah suatu kali saking ngototnya mau antri dan gak mau beli karcis di calo, saya berantem dengan mantan pacar. Calo berikut karcis yang sudah dicari susah payah sambil kasak-kusuk malah saya tolak mentah-mentah, padahal antrian di loket udah kayak ular naga. Termasuk bego gak, sih?
Nah, lama kelamaan akhirnya bisa juga saya nyicip gerbong eksekutif, yang tentunya harga karcisnya lebih mahal daripada karcis kelas bisnis. Kursinya lebih empuk. Jendelanya lebih lebar, dan gak bisa dibuka karena ada AC. Pernah suatu kali saya malah kedinginan gara-gara duduk di eksekutif. Biasanya kan di bisnis hanya pakai kipas angin, dan sliwir-sliwir angin dari jendela yang terbuka, plus sliwir bau toilet kalau lagi apes. Setiap kali lewat terowongan panjang, penumpang gerbong bisnis pasti langsung heboh nutup jendela, atau nutup hidung. Soalnya seisi gerbong langsung dipenuhi asap bau yang terperangkap di terowongan. Penumpang di gerbong eksekutif sih, tenang-tenang aja, kan jendelanya udah default gak bisa dibuka.
Mungkin sudah ratusan atau ribuan kali saya naik kereta api. Lebay mode on. Gak hanya sekali dua kali berantem dengan penumpang yang ngotot saya duduk di kursi punyanya. Huh, situ jarang naik kereta, ya? Pasti pusing baca karcisnya! Iya.. saking seringnya naik kereta saya jadi lihai baca karcis. Hoho, kalau jarang naik kereta pasti pusing. Dikiranya gerbong 1 selalu ada di belakang lokomotif, padahal belum cencuuuu.. Kalau gak salah kode gerbongnya ditandai dengan K1 atau K2 gitu. Jadi sering penumpang dengan karcis K1 nomor 15 C (misalnya) duduk manis di kursi gerbong K2 – 15 C, dan malah ogah-ogahan disuruh pindah ke gerbongnya sendiri.
Belum lagi penumpang yang gak bisa bedain mana kursi A, B, C, atau D. Kenyang deh, saya berdebat dengan penumpang yang semestinya duduk di bagian B malah ngedeprok di jendela. See.. seperti di pesawat, A dan D duduk di dekat jendela, sementara B dan C di dekat gang. CMIIW.
Masalahnya, saya selalu memilih kursi favorit saya, dekat jendela. Jadi dulu saat darah muda masih menggejolak, kalau sampai ada yang ngotot duduk dekat jendela, padahal karcisnya jelas-jelas duduk dekat gang, biasanya saya langsung sorongin tiket saya ke depan hidungnya, dan nyuruh dia pindah. Salah sendiri gak pesan minta duduk di dekat jendela!
Bertahun-tahun kemudian saat suhu di bumi makin lama makin panas, ternyata lebih enak duduk di dekat gang, pas di bawah semburan kipas angin. Walaupun beresiko masuk angin, dan kadang-kadang kena sikut penumpang yang lalu lalang.
(bersambung yaaa.. udah ditelponin nih, disuruh pulang… )
Sebentar lagi weekend! Hoooraaaayyy!
Akhir-akhir ini hal yang paling menyenangkan selain bisa bangun lebih siang pas wiken adalah… minum teh pociiiii!
…
…
Krik. Krik.
Haha. Memang tampak sama sekali gak menarik. But for me, it is.
Kenapa? Karena biasanya saya akan terbangun karena wangi teh poci. Sudah pernah kan, menghirup segarnya wangi daun teh yang diseduh air panas dalam poci tanah liat? Wanginya maknyusss, pemirsa. Buktinya, saya yang lagi asyik ngorok tidur biasanya langsung bangun.
Suwami baik hati memang tahu betul bagaimana membangunkan istri tanpa membuat moodnya rusak. Hehe. Jadi daripada saya menggerutu karena terpaksa bangun pagi padahal gak mesti ngantor, dia akan menyeduh teh ini tepat di bawah hidung saya dan tentunya gak lupa siapin gula batu.
Ya, ya, ya, saya tahu kalau gula gak bagus untuk kesehatan, apalagi kalau sudah dalam kondisi gembrot kayak saya, tapi teh seduh tanpa gula rasanya pahit banget tauuuuuuk.
Rasanya langsung fresh lho, minum teh poci sesaat begitu bangun. Tanpa gosok gigi? Hiiiyyyy… jorok!!
Gak percaya?
Coba deh sekali-kali.
Kepengen punya juga? Sayangnya saya gak tahu di mana bisa beli teh poci model beginian di Jakarta. Punya saya ini sih beli di Cirebon sewaktu acara kantor, harganya sekitar 40rebu. Oleh-oleh untuk suwami tertjintahhh, yang kemudian memakainya untuk menyenangkan hati istri tukang tidur. Tsaaaaaahhhhh…
Aiiihhhhh, gak sabar nih, nungguin wiken
PS : please forgive this oh-so-lebay post.. i’m bored and decided to write down ocehan gak penting ini..
PPS : then again ,why should I apologize? this is my blog and I can write whatever I want.. penting or gak penting, rite? Hohoho..
PPS : menurut Anggie, teman saya, ternyata poci model beginian bisa didapat di Kopitiam Oey. Sudah beberapa kali saya mampir ke sana (that’ll be another post about that) dan memang disanalah suwami fell in love dengan teh poci..
Bulan lalu saya ke Cirebon karena ada acara outing kantor. Lumayan juga, itung-itung liburan tiga hari di sana. Kalau gak dibayarin kantor kan gak jalan-jalan. Tapi saya diinapkan di sebuah hotel yang udah masuk ke wilayah Kuningan. Cukup jauh dari pusat keramaian Cirebon, gak bisalah ngabur untuk belanja batik yang ngetop itu. Berbeda dengan hawa Cirebon yang langsung terasa panas sewaktu saya turun dari kereta, Kuningan berhawa sejuk, karena letaknya dekat dengan pegunungan.
Acara inti outing kantor ini berupa makan-makan outbond. Jadi udah kebayang dong, ngapain aja. Yaaak.. mulai dari paint ball, high rope, panjat tebing, dan lainnya, sampai flying fox yang ditempatin terakhir. Seru? Udah pasti, dong..
Setelah outing ada bis yang disediakan untuk peserta, khusus menuju sentra batik. Tampaknya ini jadi acara yang paling ditunggu. Tapi badan saya yang udah luluh lantak setelah outing bikin nafsu belanja hilang. Lagi pula masih ada kesempatan wisata belanja besok paginya, jadi mendingan saya menikmati spa aquamedic dan body treatment.
Ini pertama kalinya saya nyoba spa aquamedic. Tekanan darah saya harus diukur terlebih dulu sebelum nyemplung ke kolam. Ternyata ini jenis spa dalam kolam air dengan panas tertentu, dan semprotan bertekanan tertentu juga. Kayaknya sih yang tekanan darahnya rendah atau tinggi, bakal pening-pening kalau kelamaan berendam di sini.
Pertama-tama posisinya harus tiduran kayak mau dikrimbat. Rasanya seperti telur yang mau direbus. Soalnya sambil tiduran airnya blebeb-blebeb terus sih. Sepanjang punggung dan betis juga kayak disemprot shower.
Entah berapa lama tidur-tiduran di sini. Soalnya ada mbak-mbak dan mas-mas penjaga yang mengawasi dan meminta saya pindah ke tempat berikutnya. Di tempat berikut yang disemprot adalah bagian telapak kaki. Jadi sambil berdiri, saya pegangan di handle bar yang tersedia, dan bengong aja di situ sampai disuruh pindah lagi ke tempat berikut.
Semprotannya ada yang untuk punggung, betis, paha, sampai kepala. Fotonya entah ada di mana. Yang ketemu hanya ini, yang setelah dilihat-lihat kok airnya ijo begini, ya?
Satu putaran spa aquamedic ini ngabisin waktu hampir sejam. Setelah selesai, saya disuguhi secangkir jahe panas yang rasanya maknyusssss, pemirsa.
Selesai?
Oh, tentu tidaaaaak… saya sudah pesan tempat untuk menikmati body treatment. Yaitu pijat seluruh badan dengan minyak yang wangi. Rasanya? Waaahhh… jangan ditanya… super duper enak, deh. Sambil dipijit saya ketiduran, dan setelah dipijit pun rasanya seperti pengen tidur lagi yang lama.
Well.. sebenarnya kalau hanya mau sekadar spa atau menikmati body treatment aja sih, gak perlu jauh-jauh datang ke sini. Saya yakin di sekitaran Jakarta atau Bandung juga ada. Ini mah hanya sekadar pelepas penat dan stress aja. Mumpung ada acara kantor.. ;p
Nah, minggu depan saya cuti cukup lama. Sepertinya acara spa ini bolehlah masuk ke To Do List saya. *wink*
Kok jadinya cerita jalan-jalan melulu, yah.. biarin deh.. emang lagi pengen pamer cerita jalan-jalan, kok. Emang sih, bukan jalan-jalan ke luar negeri dan semacamnya yang keren-keren gitu. Tapi ini pertama kalinya saya ‘menjelajah’ Jawa sampai ke pelosok desa. Sekalian test case nanti mudik pas lebaran bakal kayak apa.. Wuiiih, ini aja udah heboh banget apalagi kalau lebaran.. pastinya lebih rempong lagi, deh.
Awal mulanya gini, lho.. bulan November tahun lalu adik ipar saya akan melangsungkan ijab kabul. Sebagai kakak ipar yang baik, perhatian, jagoan, pintar, dan rajin menabung, tentunya saya datang. Kebetulan saya sama sekali belum pernah ke Boyolali, kampung suami saya. Wah.. senang banget deh, bisa berkunjung ke tempat baru!
Suami saya sih pergi lebih dulu, karena jadwal kerja dia mah lebih fleksibel bisa diatur-atur, sementara saya yang terbentur dengan aturan kantor mesti pinter-pinter cari alasan gak ngantor ngatur antara kerjaan dan jalan-jalan kewajiban sosial ini. Agak deg-degan juga karena harus berangkat sendirian ke daerah yang belum saya kenal. Hihi, kenapa ya rasanya lebih serem jalan di negeri sendiri daripada di negeri orang lain? Hayooo…. Untungnya koper saya yang segede kulkas sudah saya titipkan pada suami. Jadi saya tinggal melenggang. Gak ribet.
Saya gak langsung ke Boyolali. Di Semarang saya akan dijemput suami dan adik ipar, lalu sama-sama mampir ke Salatiga untuk belanja ini itu keperluan adik ipar saya, barulah ke Boyolali. Muter, ya? Biarin, saya malah senang kalau muter-muter. Makin banyak yang dilihat pasti makin seru.
Cerita tentang foto di atas, yah. Coba tebak apa maksud foto di ujung kiri atas? Well.. saya kan pakai flight Mandala, jadi berangkat lewat Terminal 3. Karena ini terminal masih baru, rupanya masih banyak space yang kosong. Petak dekat kaki saya itu kayaknya penanda ruang yang akan disewakan untuk dijadikan kios atau stall. Kenapa harus difoto? Ya kan namanya juga lagi iseng nunggu boarding karena saya datang kepagian :p
Foto di sebelah kanannya adalah tempat air minum haratis. Kayak di luar negeri gitu lhoooo, yang airnya mancur dan bisa diminum. Tapi saya masih ga percaya kalau itu airnya memang layak diminum :p gak berani nyoba, deh. Lanjut ke sebelahnya adalah menu sarapan saya, bener-bener gak penting!. Sebelahnya lagi adalah deretan kursi duduk di tempat boarding. Karena masih pagi, jadi masih banyak yang kosong.
Lanjut ke barisan di bawahnya. Paling kiri adalah pemandangan dari Terminal 3. Menurut saya sih itu Terminal 2, bener gak, sih?? Gambar di kanannya adalah cemilan yang dijual pedagang di Semarang, dalam perjalanan menuju Salatiga. Logonya persis banget ama tempat jualan burger itu, tapi tulisannya ‘Milk Donut’s’. Maksuuud??? Mbuh. Nah, gambar di sebelahnya adalah ruang merokok Terminal 3. Ruangan ini menurut saya lucu banget. Di pintunya ditulisi huruf besar warna merah ‘smoking kills’ tapi di dalamnya berjejal-jejal orang yang sedang merokok. Seolah melihat segerombolan orang yang berlomba-lomba meracuni paru-paru :p
Langsung ke foto di pojok kiri paling bawah tuh bawaan saya. Yang di tas hijau isinya lima kotak bolu kukus yang dikirim khusus dari Bandung untuk acara ini. Biasalah, hantaran tanda kasih antar besan, hehehe. Di sebelahnya adalah pemandangan yang pertama dilihat begitu saya naik ke lantai dua Terminal 3. Rupanya itu ruang boarding untuk semua gate. Jadi gak kayak di Terminal 1 dan 2, di mana penumpang boarding di gate masing-masing, di sini penumpang semuanya dijembreng. Apaan ya, padanan jembreng??
Tuh, gate saya kan gate 3, tapi dengan semena-mena saya duduk agak jauh dari situ, hehe. Terakhir adalah gambar paling kanan bawah, sewaktu sampai di Bandara Ahmad Yani, Semarang. Bandaranya kecil, dan hawa Semarang panas banget. Ada loket pemesanan taksi di luar bandara. Saya tinggal bilang tempat tujuan saya, dan bayar di loket itu juga, jadi gak bayar ke supir taksinya.
Sayang, di Semarang saya gak sempat mampir ke tempat-tempat wisata. Adik ipar saya sudah gak sabar ingin cepat-cepat sampai di Salatiga, dan dia bisa langsung hunting barang-barang yang diperlukan. Owww… baiklah
Daaaan… ternyata Salatiga ini hawanya sejuk, dan kontur kotanya euh.. kayak lembang gitu, deh… info ga penting lainnya, saya lewat Ungaran juga, lho… ih, emang kenapa? Maksudnya pengen kasih tau aja ;p selama ini saya kira Ungaran tuh entah di mana.. ternyata, hebat juga ya.. punya flying fox tertinggi di Indonesia.
Tapi yang saya gak suka dari Salatiga, pas hujan gede ternyata banjirnya kemana-mana. Mungkin gorong-gorongnya kecil, ya? Jadi air hujan tumpah kemana-mana, sampai ke jalan juga.
Eniweeeeeeei… Gak sampai seminggu saya di kampung suami yang jauh di pelosok sana. Pegelnya jangan ditanya, sampai perlu panggil tukang pijat segala sehari sebelum pulang. Oh ya, satu lagi yang bikin senang, saya juga muter-muter di Solo.
Waktu itu lagi asik-asiknya liat meriam di alun-alun Solo, tiba-tiba ada tukang becak yang nawarin untuk jadi guide. Dia akan antar ke museum kraton, kebo bule, dan tempat batik, hanya untuk SEPULUH RIBU saja. Padahal saya bertiga dengan suami dan adik ipar. Iiiih, kok bisa murah banget, ya? Suami langsung nyolak-nyolek dan nyuruh saya nanti tambahin ongkos becaknya. Iyaaaaaa, tau kok, kalo saya yang paling berat!
Karena tawarannya museum, saya langsung setuju. Yang saya gak ngerti, tukang becak ini ngotot banget saya harus lihat juga sejumlah kerbau yang lagi berkubang. Karena ga mau tukang becaknya tersinggung, saya juga hayu aja. Dan nurut waktu tukang becak nyuruh fotoin kerbaunya. Tapi kok saya gak nemu ya, di mana foto kerbau-kerbau itu, hihi.
Eh, satu lagi nih.. yang paling mengesankan dari kunjungan ke Keraton Surakarta yang kebetulan lagi gak ditutup, selain karena saya harus nyeker gara-gara hanya pakai sandal, pemandu wisatanya dengan gegap gempita bilang:
Di sini tempat MANOHARA dianugerahi gelar Kanjeng Mas Ayu Tumenggung
Krik. krik.
Duh, kok bikin tulisan berseri melulu, nih.. pake part 1 lah, part 2 lah..
Bukan apa-apa, kadang pas nulis tiba-tiba aja gitu mentok gak tau mau cerita apa lagi, hihihi.. jadilah tulisannya kepotong dan nunggu ingat lagi sebetulnya mau cerita apa, hehehe. *buka rahasia*
Nah, kemarin kan sudah cerita tentang tempat-tempat yang saya datangi waktu trip ke Balikpapan. Sekarang saya mau cerita tentang makanannya.
Seperti biasa kalau main ke luar kota, pasti malah nemu makanan made in luar daerah. Misalnya aja sewaktu saya ke Solo, yang banyak dijual malah Mie Jakarta, Sate Madura, Baso Tahu Bandung.. halah, padahal kan maunya saya makan makanan khas daerah setempat.
Begitu juga sewaktu saya ke Balikpapan. Banyaknya malah nemu Coto Makassar. Lho, kan saya sedang di Balikpapan, kok malah ketemu makanan Sulawesi, nih??
Tadinya saya minta diantar ke tempat yang makanannya khas Balikpapan, apa kek gitu, Sate Balikpapan, Soto Balikpapan, atau apalah yang khas sini. Lalu saya dibawa ke tempat makan soto yang katanya sih enak banget, tapi menunya Soto Banjar. Katanya khas soto ini kuahnya bening, dan ada singkongnya. Hmm.. buat saya sih soto berkuah bening gak aneh, kan Soto Bandung kuahnya bening, ditambah kacang kedelai dan lobak. Rasanya? Buat saya sih masih lebih enak Soto Bandung, hehehe…
Yang menarik sewaktu nemu restoran dengan suasana khas Bali. Ada payung yang dililit kain kotak-kotak hitam putih, ornamen bernuansa Bali. malah musik yang diputar itu tuh, musik pengiring tari Bali!
Supaya lebih meyakinkan kalau pengunjung betul-betul ada di Bali, papan namanya dibuat ke-bali-bali-an..
Senangnya, tempatnya lumayan, lho. Pas banget di pinggir pantai. Kalau datang menjelang matahari terbenam, pasti asik banget. Sayang, saya datang di malam hari, hujan pula. Jadinya gak bisa ambil tempat di atas pasir.
Menu pilihan saya, udang bakar. Wah, gede banget! Rasanya juga enak, fresh. Saya juga cicip makan kepiting. Yah.. enak sih, yang gak enak pas acara bongkar kepitingnya. Sudah heboh dengan alat mirip tang untuk pecahin kulit kepitingnya, ternyata daging kepiting tuh sedikit banget dibandingkan dengan usaha “bongkar”nya.
Ah, males banget deh, makan kepiting lagi. Kecuali kalau dibukain, hehehe. Kalau mesti buka sendiri, kayaknya ogah :p
Itu sebabnya saya gak ikut-ikutan pesan kepiting yang konon paling enak di Balikpapan: Kepiting Dandito.
Jadinya selama di Balikpapan saya makan ikan, ikan, ikan, atau ikan. Seperti waktu main ke Pasar Kebun Sayur, menu makan siang saya lagi-lagi ikan bakar.
Rasanya gimana? Menurut saya lebih enak kakap bakar, daripada trakulu bakar pesanan saya ini.
Tapi yah, makanan yang paling juara di Balikpapan adalah…. mantau goreng! Wuiiihhhh, enak banget! Mantau ini walau digoreng tapi ga ada jejak minyaknya sama sekali. Kulit luarnya crunchy krenyes-krenyes saat digigit, tapi dalamnya empuk dan gurih. Mantau yang saya beli di Depot Miki. Harganya 2500 saja per potong.
Wisata kuliner ala saya ini ditutup dengan… ngebaso di sebelah Depot Miki. Kabarnya juga mie di sini paling top markotop di Balikpapan. Karena saya gak terlalu suka baso bulat seperti bola pingpong akhirnya saya pesan yamin pangsit rebus. Betul juga, enak! Bisa diadu deh, dengan mie di Warung Lela dekat rumah
Jus alpukatnya juga top markotop, deh! Biasanya kan jus tuh sering lebih banyak air daripada buah, nah yang ini alpukatnya kerasa banget di lidah. Thick and yummy as well…
Nah… untuk oleh-oleh, jangan lupa beli amplang…
Belinya ga perlu sebanyak ini
Tersedia dalam berbagai ukuran kemasan, mulai dari kemasan kecil seharga 5000 sampai 30.000 rupiah. Paket oleh-oleh juga ada, isinya berbagai macam, dihargai 85.000 saja.
Okeeehhh… see you next time, Balikpapan!
Sebulan lalu saya ke Balikpapan. Bukan untuk liburan, ini mah business trip. Ciyeeeeeeh, gaya banget sih.. timbang diongkosin kantor doang! Waktunya juga gak lama, cuma empat hari. Itupun pulangnya pakai pesawat yang pagi.
Awalnya agak ngerasa syerem terbang di atas pulau Kalimantan. Kabarnya banyak hampa udara. Belum lagi menjelang saya berangkat, hampir setiap hari hujan. Awww, deg-deg plas, deh!
Tapi kematian bisa di mana aja, toh? Mau di pesawat, atau di atas ranjang, kalo mati ya mati aja. Ntar juga bisa dinyalain lagi… apa seeeeehhhhh…
Begitu tahu saya bakal dikirim ke Balikpapan selama empat hari, saya langsung googling. Soalnya ini kali pertama saya mampir ke Balikpapan. Saya kan belum pernah menginjakkan kaki di kota manapun di pulau Kalimantan, yang kalau di peta sih guedenya berlipat-lipat dibandingkan dengan pulau Jawa. Makanya saya perlu cari info tempat mana yang kira-kira menarik dan wajib dikunjungi dalam waktu mepet seperti itu. Istilah epentje sih: kejar tayang.
Kesan pertama begitu sampai di Balikpapan, panas ooooyyy… Dekat pantai sih, ya… makanya hawanya langsung kerasa panas nas nas banget. Di perjalanan menuju hotel, saya ngobrol-ngobrol dikit dengan Pak Pengemudi. Dia orang Samarinda, dan belum pernah ke Jakarta! Jangankan ke Jakarta, ternyata ya, dia sama sekali belum pernah keluar dari Pulau Kalimantan!
Hmm… boleh heran, gak?
Tapi kenapa harus heran, para tetangga mertua saya di Jawa sana juga banyak tuh, yang belum pernah ke Jakarta, ibukota negaranya sendiri, padahal masih satu pulau. Apalagi mereka yang dipisahkan laut dan samudra.
Lanjut, ya..
Ternyata di Kota Balikpapan gak ada museum. Menurut Pak Pengemudi, museum yang paling dekat ada di Tenggarong, Museum Mulawarman, tapi jaraknya sekitar 150 km dari Balikpapan. Yahhh… mana sempat…
Main ke Bukit Bangkirai juga gak mungkin, jarak dan waktunya gak keburu. Padahal saya kepingin banget tuh cobain canopy bridge-nya. Gak kebayang pasti ngeri ngeri sedap, berjalan dari satu pohon ke pohon lain. Wah, main ke sini harus seharian, sekalian bersihin paru-paru dari kejamnya polusi udara.
Jadinya main ke mana, dong? Ke sini, lho…
Peternakan Buaya – Teritip
Hihihi, iseng banget, ya. Peternakan buaya yang pertama kali saya kunjungi ada di Medan, di daerah Asam Kubang. Itu juga karena gak sengaja lihat papan penunjuk arahnya. Jadilah main ke sana. Di sana ada seekor buaya gendut yang super duper gede. Saking besarnya, kulitnya bisa jadi koper haji, deh. Makanya sewaktu tahu di Balikpapan juga ada peternakan buaya, saya minta di antar ke sana. Yahhh… selama ini saya sering ketemu ‘buaya darat’, sekali-kali boleh, dong, lihat buaya betulan, hehehe.
Ternyata peternakan buayanya agak mengecewakan. No offense, yah. Soalnya begitu masuk saya harus bayar sepuluh ribu per orang. Tanpa bukti karcis masuk. Jadinya si sepuluh ribu itu gak jelas masuk kantong siapa, dan apa betul harga karcisnya segitu, atau hanya asal njeplak aja?
Trus, kandang buayanya bau banget. Katanya sih, kebetulan sedang dibersihkan. Tapi kok gak ada orang yang sedang bersih-bersih.
Buayanya juga gitu-gitu aja. Maksudnya?
Gini lho… peternakan buaya yang di Medan itu buayanya dikelompokkan berdasar umur dan ukuran. Jadi di sebelah sini bak-bak semen yang isinya anak buaya seukuran teh botol, disebelahnya berjejer bak semen untuk anak buaya yang lebih besar, sebelah sana untuk remaja buaya sebesar papan skateboard, nah di satu kolam rawa super besar, berkumpul buaya-buaya gede banget, gitu. Asik, kan, kita bisa lihat buaya dalam berbagai ukuran.
Sedangkan di peternakan buaya di Balikpapan ini, rata-rata ukuran buayanya sama aja. Lah, kalo misalnya dari sepuluh kandang isinya buaya yang kelihatan kembar semua, mana seru? Belum lagi di kolam rawa buayanya hanya ngintip-ngintip curiga aja, beda dengan buaya Medan yang kecipak-kecipuk banyak gaya.
Karena gak datang di hari libur, gak bisa nyicip sate buaya. Lagian, emangnya halal? Iya, ada segala macam bagian buaya yang dijual. Batal makan sate buaya, teman saya borong abon buaya, kerupuk buaya (bentuknya mirip kerupuk kulit, tapi terbuat dari daging buaya, bukan kulitnya), dan empedu buaya yang katanya bisa jadi obat asma. Selain itu dijual juga tangkur buaya yang dikemas di botol kecil, lembaran kulit buaya yang sudah diwarna, dan dompet kulit buaya asli yang dibandrol 300rebu saja. Kesan saya, ihhhhh, ternyata tangkur buaya tuh ukurannya segitu aja???
Pantai Manggar Segarasari
My first thought: The beach is soooo beautiful! Tapi saya gak berani telanjang kaki di pasirnya yang putih dan halus, gara-gara lihat ada seekor kucing yang pup di pasir. Ewwwww…
Kok bisa ada kucing main ke pantai?
Soalnya di pinggir pantai berjejer tempat makan. Dari ujung ke ujung penuh dengan warung makan. Sewaktu saya ke sana sih hampir semua warungnya kosong gak ada pembeli, tapi saya yakin kalau akhir minggu pasti tempat ini penuh kayak cendol. Buktinya, warung makan bisa eksis di situ. Malah ada tempat penyewaan ban segala.
Tapi suwer, deh. Pantainya cantik!
Pantai Melawai
Sebetulnya ke sini karena kebetulan sedang cari tempat makan malam. Itu juga gak jadi turun karena tempatnya gelap banget. Bisa-bisa salah masuk, nyocol makanan malah ke masuk mata, bukan ke mulut.. Gaya srimulat itu, lho…
Kilang Minyak
Katanya sih gak afdol ke Balikpapan kalau belum lihat kilang minyaknya. Disinilah minyak mentah diolah. Duh, dengan puluhan kilang segede rumah di Pondok Indah, mestinya negara kita sudah semakmur Brunei, ya…
Tadinya saya mau berfoto dengan latar si kilang itu, tapi takut diusir, hihihi… Jadi saya ngalah, deh. Kilangnya aja yang difoto.
Taman Bakapai
Taman ini gak jauh dari hotel saya. Sebetulnya saya gak pernah main ke sini, tapi dalam sehari bisa lebih dari dua kali lewat taman ini. Setiap lewat saya bingung kok banyak sekali pasangan yang nongkrong di sini sambil bawa laptop. Belakangan saya baru tahu kalau di taman ini free Wi Fi, bo’
Setelah berpuas-puas di National Museum of Singapore, eh.. masih belum puas sih, tapi waktu saya untuk keliling museum hanya tinggal satu jam lagi, sedangkan masih ada dua target museum yang ingin saya kunjungi. Saya tanya sama abang satpam letak museum peranakan. Katanya gak jauh, tinggal belok kanan aja.
Okelah kalau begitu.
Masalahnya saya sering hilang orientasi arah dan jarak. Semestinya begitu keluar saya langsung ke arah kanan, tapi saya lurus dulu, nyebrang, lalu belok kanan, lalu bingung ada di mana.
Arrrgghhh…
Supaya ga keliatan bego keluyuran di daerah sini, saya foto gedung ini, dan langsung balik kanan. Setelah lihat papan penunjuk arah, ternyata belokannya kelewat! *sigh… mengapa ini terjadi saat lagi buru-buru*
Saya langsung kecewa karena gedungnya tutup. Loket penjual tiket aja tutup. Ga ada orang, deh. Lah, gimana sih ini, kalaupun penjaga tiketnya mau istirahat makan siang, kenapa pintunya ditutup semua? Masa pengunjung museum mesti nunggu yang jaga selesai makan dulu?
Karena capek, saya istirahat aja dulu sebentar. Mengatur napas. Minum air dulu sambil lihat-lihat poster dan flyers yang ditempel di dinding.
Lho.. lho.. lho???
Kok posternya tentang kursus menari dan sebagainya? Ini gedung apa, sih?
Ya ampuuuuuun… saya salah masuk gedung!!!
Buru-buru saya ngacir, sebelum ketahuan nyasar masuk ke situ. Ternyata Museum Peranakan hanya sekitar lima meter dari situ. Haiyyyaaaahhh… Bego bangeeeeeeet…
Dan oh… museumnya lucu banget kayak kue tart… trus di balkon ada beberapa patung yang lagi dadah-dadah, sayang gak sempat saya foto karena buru-buru.
Pas di depan museum ada pangkalan taksi, dan kebetulan ada seorang supir taksi yang lagi ngelap-ngelap mobilnya. Langsung aja saya bajak untuk fotoin saya, hehehehe…
Btw, patung si anak kecil tuh nunjuk ke patung ibu-ibu yang ada di balkon lantai dua, sayang gak kefoto..
Museum Peranakan ternyata museum yang children-friendly. Sangat menyenangkan untuk pengunjung kanak-kanak. Di berbagai sudutnya ada mesin embossed bentuk kupu-kupu, dan lainnya. Kertasnya harus kertas khusus, dan bisa diminta di bagian penjualan tiket. See.. kapan coba museum di Endonesah kepikiran kayak beginian?
Saya yakin sih, koleksi budaya Indonesia yang lebih beragam bisa eksis kalau dikemas dengan serius seperti koleksi museum ini. Gak jauh beda, kok. Misalnya aja pakaian yang dipakai bayi jaman baheula kayak gini:
Setting kamar dan ranjang pengantinnya persis dengan yang sering saya lihat di film-film silat klasik. Lutunaaaa…
Di ruangan ini ada perkembangan alat dari masa ke masa. Telepon dari jaman dulu sampai sekarang. Lucunya, kalau saya angkat telponnya ada suara di sana yang seolah-olah lagi ngobrol dengan saya, dalam bahasa Mandarin.
Ini ruang apa ya, namanya? Buat persembahan ke dewa gitu kali, ya.. Sorry lho kalau salah..
Ini juga contoh settingan ruang yang keren banget! Ini ruang makan yang umum ada di keluarga-keluarga Singapore dahulu kala. Perabot, jendela, dan detil lainnya cantik-cantik banget! Sayang deh, dikacain.. kalau nggak saya pasti masuk dan ikutan duduk di dalam. Nah, kursi yang ada di kanan bawah foto boleh diduduki, jadi seolah-olah kita ikutan duduk di acara makan, karena dipasang rekaman suara dan kegiatan seolah-olah memang sedang ada acara makan.. Eh, kalo malam-malam sih kayaknya horror ya, ada suara doang tapi orangnya gak ada, hehehe..
Kucing ini ada namanya, tapi saya lupa. Dia kucing yang selalu nongkrong di museum ini. Setelah kucingnya wafat, dibuatkan patungnya untuk mengenang kecintaan si kucing atas museum. So sweeeeeeett…
Ini kakek yang gandeng cucunya tadi.. karena gak ada orang yang bisa diminta tolong fotoin, akhirnya saya foto sendiri dengan hasil seadanya.
Sebetulnya saya masih kepingin mampir ke Singapore Philatelic Museum yang gak jauh dari situ. Sayang saya hanya punya 15 menit untuk pulang ke hotel, dan bareng rombongan langsung ke Changi.
Maka dengan berat hati saya nyetop taksi. Selesai sudah ‘petualangan’ menyenangkan di museum-museum Singapore ini.
Lain kali saya pasti ke sini lagi! dan PASTI mampir ke museum lagi!
Saya selalu kagum dengan orang-orang yang punya bakat seni. Kagum sekaligus iri, tepatnya. Kok bisa-bisanya mereka menghasilkan karya menakjubkan. Entah itu enak didengar, enak dibaca, atau enak dilihat. Pokonya karyanya enak dinikmati, deh.
Seperti
ibu satu ini. Ya, sudah ibu-ibu karena sudah punya anak lelaki ganteng dan kyuuuuut banget. Ini jenis ibu-ibu top markotop bertangan hebat. Ya, hebat! I bet she has magic hands..
Bayangin aja, tangannya udah menciptakan berbagai jenis barang yang sangat cantik dan menakjubkan.
Gak percaya? Coba lihat di sini. Pasti ngiler…
Pasti!!!
*seandainya saya bisa jait… but I hate sewing machine ;p*