Thinking Out Loud

Dia yang Pasang Status, Kamu yang Baper

Emang dia itu paling nyebelin sejagat raya!

Tiba-tiba aja kamu lihat kalimat seperti itu muncul di apdetan status teman sekantor. Kira-kira, kamu bakal ngapain?

a. Pasang status balasan yang intinya ngomentarin status itu

b. Langsung datangin si temen kantor untuk klarifikasi bahwa kamu gak semenyebalkan itu

c. Langsung cari sesama teman kantor untuk ghibah cari tau ada masalah apa dengan si pengunggah status

d. Bodo amaaaatttt

So, bisa dilihat dari pilihan jawaban kamu sih, sejauh mana tingkat ke-baper-an yang kamu miliki. Apa masih level basic, intermediate, atau malah udah advance! Tingkat mahir, bowwww… 😀

Saya nih, walaupun cenderung bodo amat, tapi adalah momen-momennya dikala seseorang mengunggah status yang bikin saya jleb: Ihhhh, jangan-jangan lagi ngomongin, nih! Trus dilanjut dengan memantau TKP untuk lebih menghayati memastikan, ini beneran ngomongin saya apa bukan, sih?

Hahahahahaha.

Padahal mah astekud, yah. Asa teu kudu!

Biarin aja sih, orang mau pasang status A, status B, C, D sampai XYZ, bebas! Orang kan beda-beda, yah. Ada yang lebih nyaman untuk memendam perasaannya sendiri, ada yang lebih suka curhat sama pasangan, atau curhat dengan sahabat terpercaya. Ada juga lho, yang memilih untuk koar-koar kemana-mana kayak toa, gak perlu pasang status segala, semua orang diceritain masalah dan perasaannya, dan kadang dibubuhi iklan: jangan bilang siapa-siapa, ya! Selain itu tentunya ada juga jenis orang yang merasa harus menuliskan opini atau perasaan, atau mungkin slip gaji? sebagai statusnya. Dunia harus tahu!

Oh well, kita kan gak bisa ngatur-ngatur orang lain harus gimana. Teorinya, itu hal yang di luar kendali kita, dan yang bisa dikendalikan hanyalah respon kita sendiri. Gitu deh kata teori entah baca di mana, dan gak tau juga beneran apa nggak 😛

Tapi mari kita ambil positifnya aja. Berdasarkan teori itu, jadi kan kita gak perlu baper dong, sama status orang lain? Memang sih, mau gak mau manusia itu sebetulnya egois, yang dipikirin cuma dirinya sendiri aja. Ihik, ini bukan teori, ini cuma opini saya aja. Lihat aja tuh contohnya, Nam Dosan kan karena egois makanya dia keukeuh gak mau lepasin Dal Mi. Hastagaaaaa, kenapa contohnya kayak gini, sih?

Bentar, bentar… maksudnya, pada dasarnya manusia akan mikirin dirinya sendiri dulu. Dunia berputar hanya di sekitar dirinya. Jadi kalau ada status yang jleb jleb, pemikiran awal yang muncul adalah: “eh, ini kok related banget sama gua yaaaa…” dan sedetik kemudian baru deh kepikiran, “ah.. dunia ini kan gak hanya tentang gua aja”.

Sekali lagi, itu bukan teori perilaku, atau teori canggih lainnya. Hihihihi… ini mah opini saya aja. Mungkin kamu punya opini lain? Boleh banget kalau mau share 😀

Intinya, janganlah langsung baper kalau lihat status yang menyinggung hati atau gengsimu. Siapa tau itu sebetulnya bukan tentang kamu. Kalaupun memang betul si pengunggah status sengaja pengen nyindir-nyindir kamu secara gak langsung, ya udah sih, pura-pura gak tahu aja, hahahahahahaha… ya kali, daripada kepikiran? Daripada kamu naik darah atau bete karena dijadikan status? Daripada balas bikin status juga, trus ujung-ujungnya berdebat pake status? Hayo lho, pilihannya gak enak semua, kan?

Memang pilihan yang udah paling bener, sih: bodo amat!

Tagged ,

About Ibun

Careful, cautious and organized. Likes to criticize. Stubborn. Quiet but able to talk well. Calm and cool. Kind and sympathetic. Concerned and detailed. Sensitive. Thinking generous. Tends to bottle up feelings. Hardly shows emotions. Systematic.
View all posts by Ibun →

2 thoughts on “Dia yang Pasang Status, Kamu yang Baper

  1. Bwhahahahahahahaha….udah banyak ambil hikmah dari kayak gini..bener sih harusnya bodo amaaat ..
    Tapi istiqomah untuk bodo amat nya inih masih belum khatam ?

Please drop a line to say hi :)