Thinking Out Loud

How to Work Happily

Untuk yang bekerja, gimana rasanya work from home? Lebih enak kah? Lebih produktif? Lebih hemat ongkos transport? Atau lebih boros bayar tagihan internet gegara seringan nonton netplik daripada kerja?

Atau malah ada yang sama sekali gak dikasih kesempatan work from home? Asli mesti ngantor aja tiap hari gitu kayak jaman biasa sebelum ada pandemi. Ada? Tetap produktif kah? Gak pernah kuatir gitu, bakal kena virus covid dalam perjalanan dari dan ke tempat kerja, misalnya aja gegara desak-desakan di kereta commuter atau di transportasi umum lainnya?

Saya sih, alhamdulillah, kebagian jatah work from home dan work at office. Pas awal pandemi jadwal gantian shift per sepuluh hari. Lalu berubah jadi seminggu sewang. Trus mungkin karena dirasa masih kurang kondusif untuk urusan kerjaan, akhirnya kebijakannya berganti jadi selang-seling sehari.

Yahhh… lumayan lah ada kebijakan seperti ini, jadi gak terlalu setres gegara terkurung berbulan-bulan di rumah dengan dua bocah yang sering iseng nguji kesabaran dan emosi emaknya, hahahaha… jadilah pergi ke kantor semacam me-time 😛

Emang emak-emak bekerja lain gimana sih, tips en triknya supaya SELALU bisa kerja dengan energi yang positif dan bikin happy?

Ehm.. pertama, lupakan kata “selalu”. Yakali, sama sekali ga mau menyisakan ruang untuk situasi terburuk, gak mungkin banget 😀 Seperti kata bapaknya Seo Dal Mi: Gurun akan menutupi seluruh dunia jika hari cerah setiap hari… jadi ya tips pertama tentunya menyadari there’s no such thing as SELALU 🙂

Next.

Kalau mau by textbook, kayakna harus baca-baca dulu soal Teori Kebahagiaan. Saya pernah dengar dari Ibu S. Evangeline Imelda, seorang psikolog, kebahagiaan itu tergantung sama tiga hal yang mendasarinya.

  1. Hedonis: Bahagia dengan mengejar kesenangan.
  2. Eudaimonia / Makna Hidup: Kebahagiaan dengan adanya aktualisasi diri.
  3. Keadaan Afektif: Bahagia sangat tergantung pada kondisi emosi.

Hidup bahagia niscaya melibatkan ketiga hal tersebut di atas. Wise man said, bahagia itu diciptakan, gak perlu dicari-cari ke ujung dunia. Malah konon kabarnya Aristotle bilang, Happiness depends upon ourselves. Jadi? Ya jadi kebahagiaan itu kita sendiri yang ciptakan, kita sendiri yang tentukan, kita sendiri yang pilih, semuanya berdasarkan keputusan dan pilihan kita sendiri: mau bahagia, atau sebaliknya? Itu trik yang kedua.

Trik ketiga, ucapkan Alhamdulillah. Untuk segala hal yang terjadi pada kita saat ini, hari ini, detik ini, selalu bersyukur. Entah itu menurut kita emejing, wow, atau bahkan kondisi yang gak banget, tetap harus disyukuri.

Susah? Ya emang.

Tapi yakinlah bahwa ga ada sesuatu pun yang terjadi pada kita ada di luar ijin-Nya. Kalau berdasarkan keyakinan saya, nih, Allah pasti memberi hanya yang terbaik untuk kita. Kita hanya perlu mensyukuri apapun yang telah Ia berikan. A.P.A.P.U.N.

Gak perlu bersyukur kita mengalami kondisi X, karena orang lain mungkin mengalami Y. Gak perlu membandingkan kita menderita di Y, karena orang lain menderitanya sampai Z. Jangan. Stop kompetisi siapa-yang-paling-menderita. Berhenti membandingkan diri dengan orang lain. Kalaupun gak tahan untuk kompetisi, gak tahan untuk banding-bandingin, coba deh bandingkan diri kita dengan diri kita sendiri lima menit yang lalu, satu jam yang lalu, kemarin, empat tahun lalu, and so on. Ini trik keempat.

Trik terakhir adalah trik pamungkas untuk bahagia, jika trik-trik sebelumnya gak berhasil. Apa itu? Fake it until you make it! Berpura-pura saja bahagia, sampai akhirnya bisa bahagia betulan 😀

Kembali ke pertanyaan awal: gimana sih caranya bisa kerja dengan gembira?

Maka jawabannya, mungkin kita gak bisa setiap hari bekerja dengan gembira. Akan ada hari di mana kita gak gembira, dan itu gak apa-apa, pilihan kok. Kalau kamu memilih hari ini ingin merasa gembira, bisa kamu tentukan sendiri bagaimana. Saya mungkin akan memulai hari dengan minum kopi supaya hati terasa lebih riang. Kalau ternyata segelas kopi tidak juga membuat saya riang, ya sudah, saya tinggal mengucapkan Alhamdulillah. Berterima kasih untuk hari ini, yang masih bisa saya lalui. Masih merasa belum bahagia juga? Baiklah, maka di hari itu saya akan pura-pura senang sambil tersenyum lebar, sedikit bersenandung juga sepertinya, lalu melanjutkan kegiatan.

Pastinya, besok saya akan mencoba lagi untuk bekerja dengan gembira!

Disclaimer: postingan ini berdasarkan pendapat dan pengalaman pribadi. Untuk pembaca yang membutuhkan informasi lebih tentang kesehatan jiwa, agar menghubungi pihak profesional atau tenaga medis.

About Ibun

Careful, cautious and organized. Likes to criticize. Stubborn. Quiet but able to talk well. Calm and cool. Kind and sympathetic. Concerned and detailed. Sensitive. Thinking generous. Tends to bottle up feelings. Hardly shows emotions. Systematic.
View all posts by Ibun →

2 thoughts on “How to Work Happily

    1. terima kasih mayuf, sudah mampir ke sini 🙂 postingan tutorial internet kamu juga bantu banget, lho…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *