«

»

Jan 07

Kisah Negeri Impian*

Beberapa hari lalu ibu saya ketemuan dengan seorang teman lamanya. Sudah bisa dipastikan mereka ngerumpi berjam-jam sambil ngopi-ngopi cantik. Saling tukeran informasi. Pertemuannya sudah pasti seru, karena ibu saya baru pulang berjam-jam kemudian. Setelah di rumah giliran saya yang ngerumpi dengan beliau, bertanya tentang orang-orang yang sama-sama kami kenal, dan sekarang kami tahu kabar terbarunya lewat teman lama beliau itu.

Ternyata… niscaya orang-orang berubah, ya.

Sebut saja si A. Dulu, belasan tahun lalu, dia adalah mahasiswa militan yang berjuang untuk kemerdekaan negaranya. Sempat berulang kali masuk tahanan Polda karena aktivitasnya yang tak pernah jauh dari demonstrasi, pengorganisiran mahasiswa, hingga aksi lompat pagar kedutaan. Bukan satu dua kali ia harus berpindah-pindah tempat karena kejaran intel. Bukan satu dua kali pula ia tertangkap dan mengalami siksaan. Sungguh sangat heroik. Ketika pada akhirnya ia menjadi salah satu pejabat penting di negaranya, saya sangat senang mendengarnya, karena saya percaya ia akan membawa perubahan penting bagi negaranya. Akan membela rakyat negaranya seperti yang selalu ia lakukan sejak masih mahasiswa.

Apa kabar terbaru A sekarang? Oh, dia berselingkuh dengan sekretarisnya. Bercerai dengan istri pertama yang sudah memberinya anak. Menikahi sang sekretaris. Lalu terakhir saya dengar, sang istri kedua ini sempat ditangkap di perbatasan negara tetangga karena kedapatan membawa uang ribuan dolar. Tunai. Wow. Banyak betul uangnya. Darimana? Lalu, si A sendiri bagaimana? Oh, kalau sekarang sudah cerai dari istri kedua, tidak lagi menjadi pejabat penting di pemerintahan karena ditengarai memiliki kasus…… KORUPSI. Belum lagi berseteru karena rebutan tanah yang dulunya dijadikan safe house, dan kini memiliki aset dimana-mana, bahkan apartemen di negara tetangga. Pantas saja dulu dengan enteng dia pernah mengajak saya untuk pesiar ke Malaysia. Atas biayanya, katanya. Pfffffftttttt….

Saya hanya bisa geleng kepala.

Bagaimana dengan B? Sebagai istri salah satu pejabat paling berpengaruh, kekuasaannya hampir tanpa batas. Bahkan sempat mem-persona non grata-kan seorang aktivis yang sudah sangat sangat sangat lama bahu membahu ikut membantu perjuangan negara kecil ini. Sang aktivis dituding membantu human trafficking. Lalu dipecat dari tempat kerjanya, dan dilarang memasuki negara kecil itu lagi. Tapi setelah bercerai dari suaminya, sang suami akhirnya memanggil kembali sang aktivis, dan mengakui bahwa tuduhan itu diluncurkan tanpa bukti. D’oh… Gaya menuduh tanpa bukti ini masih terus dilakukan hingga sekarang, teman ibu saya tidak bisa lagi bekerja di negaranya, karena namanya sudah di-black list oleh Nyonya B. Lalu bagaimana dia bisa bertahan? Masih ada tangan-tangan yang mengulurkan bantuan, membuka rezeki dari pintu yang lain…

Gong-nya adalah saat saya dengar kabar C. Salah satu pejabat tinggi paling berpengaruh yang saya kenal saat ia masih di penjara Jakarta. He’s changed a lot. Itu komentar seorang kenalan saya beberapa tahun silam.  Lalu beberapa minggu lalu di fesbuk seorang teman lain memposting video saat dia sedang pesta dansa-dansi dengan seorang wanita seksi. It was loathsome. Bagaimana seseorang yang pernah begitu militan, berkarisma, dihormati banyak pihak di seluruh dunia, berubah menjadi ‘aneh’ seperti itu?  Post power syndrome? Apakah kekuasaan begitu memabukkan sehingga bisa mengubah seseorang, atau justru malah menunjukkan keasliannya? Sesungguhnya C adalah orang yang ‘kadar’nya seperti itu?

Bagaimana bisa Negara kecil yang blue print-nya sangat menakjubkan dan saat saya baca begitu indah dan menjanjikan untuk menjadi negara impian, ternyata berubah menjadi Little Indonesia:  Korupsi dimana-mana, pembangunan terpusat hanya di ibu kota saja. Pejabat sepertinya berlomba-lomba menyenangkan dirinya sendiri saja.

Dan saya sedih sekali mendengarnya…

14 comments

Skip to comment form

  1. sondangrp

    Keluarganya pada berantakan ya, Pit? Maksudku, aku masih percaya kalo keluarga berantakan maka kehidupan pekerjaan dll juga akan berantakan, ibaratnya meski di luar terlihat besar tapi di dalam rapuh. Aku melihatnya dr salah satu orang terdekat, kami kira nggak akan bisa digoncangkan keadaan pekerjaannya (dia hebat bgt di kerjaannya udah keliling dunia krn kerjaannya, dan dia suka sama kerjaannya, bener bener menikmati) eh bercerai sama istrinya dan semua langsung berantakan.
    Kalo orang orang tsb power syndrom tapi ada keluarga dan org org terkasih mendukungnya, seharusnya nggak begitu ya. Kelihatan mereka menempatkan kebahagiaan di tempat yang salah. Hiks.Semoga kita bisa waspada soal beginian juga ya, buat para suami dan buat kita sendiri *ya bisa aja kan sementang udah punya bawahan nanti giliran pensiun suka sukanya nyuruh orang yg ketemu di arisan*

    1. pipitta

      kalau yang post power syndrome itu, mungkin karena selama ini dipuja-puja dan selalu di-iya-in jadinya pada akhirnya agak ‘aneh’ ya.. kalau yang satunya lagi, entah deh.. sewaktu diuji dengan kesulitan, kesusahan, kurang uang, dia bisa lolos.. tapi waktu semua kemudahan ada ditangannya.. malah jadi gak bisa kontrol dirinya.. 🙁

  2. Molly

    Basicly manusia memang mudah berubah ya mba, apalagi dilatarbelakangi keadaan tertentu. Mudah-mudahan siy berubah jadi semakin baik… Aamiin ;).

    1. pipitta

      aamiin.. moga-moga saya juga gitu.. kalaupun berubah, menjadi lebih baik dari yang sekarang 🙂

  3. @danirachmat

    Saya rasa perubahannya gak drastis Mbak Pipit. Mereka perlahan berubah menjadi seperti kabar terakhirnya karena yang mereka alami. Terlihat drastis karena njenengan tahunya di awal dan sekarang. Ngeri ya kekuasaan. Negaranya ini negara apa Mbak?

    1. pipitta

      iya kali ya begitu.. 🙁 emang terakhir ketemuan secara fisik pas seremonial perayaan kemerdekaan di tahun 2000-an awal.. lah itu tuhhhhh negara sebelah yang paling deket 🙂 sekitar sejam aja dari Pulau Para Dewa 🙂

  4. iphiet

    ya ampun…ikut sedih + miris bacanya…kekuasaan memang bener-bener bisa merubah tabiat seseorang ya

    1. pipitta

      kekuasaan itu memabukkan ya… syerem..

  5. arman

    well, people do change ya…

    1. pipitta

      iya… tapi kalo berubahnya drastis banget jadi terkaget-kaget sendiri.. masa iya sih bisa begitu :(((

  6. Ila Rizky

    post power syndrome itu berbahaya lho, mba. makanya untuk orang apalagi yang berkuasa lama biasanya kaget. nggak hanya di kalangan aktivis ata pejabat aja, tapi juga di kalangan kepala sekolah pun gitu kalo yang kena MA. diturunkan jadi guru sebelum pensiun rasanya jleb bgt. jadi memang harus hati2 dengan kekuasaan. terlalu manis soalnya.

    1. pipitta

      apalagi selain berkuasa, dipuja-puja dimana-mana.. dan dianggap selalu benar.. 🙁

  7. Lidya

    waktu bis amengubah seseorang ya, ada yang lebih baik ada juga sebaliknya

    1. pipitta

      alhamdulillah kalau lebih baik ya mak.. kalau ternyata ‘keluar aslinya’ yang lebih menyeramnkan.. wuihhhh :(((

Comments have been disabled.

%d bloggers like this: