personal thoughts / Sabtu Beberes

Menyimpan (Benda) Kenangan

Seberapa penting sebuah kenangan, sehingga orang bersedia menyimpannya selama puluhan tahun?

Seberapa berarti sebuah kenangan, sehingga orang bersedia menyimpan benda-benda yang dianggap terlalu penting untuk dibuang?

Apakah memang kenangan tersebut sangat berharga, atau pemiliknya yang enggan beranjak dari masa lalu?

Tumpukan pertanyaan ini muncul di kepala saya, sewaktu melihat beberapa teman memamerkan sejumlah benda yang masih dimiliki sejak masih SMA, yang berarti sejak puluhan tahun yang lalu. Yes, I am THAT old. Tapi soal old ini gak usah dibahas lah ya, hahahaha.

Ada lho yang bilang bahwa masa terindah dalam hidup terjadi adalah saat SMA, di mana tampaknya semua peraturan hanya berlaku untuk orang lain, secara anak muda mah bebas. Itu, ditambah darah muda yang membuncah dan keberanian tanpa batas. Wah, dunia jadi tampak sangat menarik untuk ditaklukan. Gak heran, kan, kenapa masa-masa SMA itu tak terlupakan dan jadi indah? Rebel!

Beberapa orang mungkin butuh benda-benda sebagai pengingat akan kenangan masa muda itu. Beberapa yang lain merasa cukup hanya dengan mengandalkan ingatannya.

Saat ini sih saya termasuk kelompok yang kedua. Dulu, pernah kok jadi kelompok yang pertama. Saya mengumpulkan banyak benda untuk dijadikan pengingat kenangan. Mulai dari kartu ucapan ulang tahun, kartu telepon aneka seri (yang dulu pakai kartu model begini, ngacung!), kartu lebaran, surat-surat dari sahabat pena jaman SMP, surat cinta dari mantan pacar (uhuk), sampai seragam sekolah yang pernah dipakai dan dipenuhi tanda tangan teman-teman. Itu, dan masih banyaaaaaaak sekali benda-benda lain yang disimpan dengan alasan: kenang-kenangan.

Sekarang gak lagi. Malu sama umur. 

Masalahnya adalah dengan makin bertambahnya umur, pastinya makin bertambah juga tumpukan barang yang dijadikan kenangan. Terpaksa harus disimpan di dalam kardus yang makin lama makin banyak dan menumpuk. Akhirnya tumpukan ini makin malas saya bongkar ulang, akhirnya menumpuk makin banyak dan makin banyak dan malah dipenuhi debu, jadinya lebih malas lagi untuk dibongkar. Saya masih ingat, ternyata ada berkarung-karung barang yang ternyata sudah ikut menghuni rumah selama puluhan tahun. Pantas aja saya sering merasa rumah kok rasanya sempit banget. Ternyata saya banyak menyimpan “barang kenangan” yang jadi “sampah” karena toh hanya disimpan begitu aja.

Makanya di suatu waktu pada akhirnya saya memutuskan untuk membuang saja tumpukan “sampah” yang disimpan atas nama kenangan itu. Termasuk juga tumpukan buku harian yang jumlahnya ternyata sampai puluhan, dan berakhir dengan cara dibakar, supaya gak dibaca-baca ama tukang sampah, hahahaha.  (Gak kok, saya gak merasa sedih atau menyesal sudah bakar buku harian yang bisa jadi catatan sejarah.) Saya memilih untuk menyimpan saja kenangan di dalam kepala. Kalaupun ternyata pada akhirnya saya gak bisa mengingat semuanya, dan lupa akan berbagai momen, mungkin kenangan itu memang tidak terlalu berarti untuk diingat.

Sampai sekarang di dalam kepala masih tersimpan beberapa kenangan indah, dan sejumlah kenangan buruk. Beda dengan benda kenangan yang bisa dilupakan dengan cara dibakar atau dibuang, kenangan dalam kepala ini gak bisa dienyahkan begitu saja, malah sering muncul sendiri tanpa diundang. Kalau sedang mellow begini, ya sudah sih, dinikmati aja rasa mellow itu sebentar.  Setelah itu ya sudah, kembali “melanjutkan” hidup.

Sampai sekarang sih saya masih belajar untuk bisa memahami dan memaklumi ke-mellow-an setiap kali teringat kenangan buruk. Toh itu juga bagian dari perjalanan hidup yang sudah membentuk saya hingga hari ini. Semoga aja kepingan kenangan itu bisa membuat saya menjadi lebih baik lagi merespon berbagai kejadian yang harus dilalui setiap harinya.

Kamu, menyimpan kenangan dengan cara apa?

 

 

 

 

 

Please drop a line to say hi :)

%d bloggers like this: