«

»

Feb 19

mudik ke jawa: test case

Kok jadinya cerita jalan-jalan melulu, yah.. biarin deh.. emang lagi pengen pamer cerita jalan-jalan, kok. Emang sih, bukan jalan-jalan ke luar negeri dan semacamnya yang keren-keren gitu. Tapi ini pertama kalinya saya ‘menjelajah’ Jawa sampai ke pelosok desa. Sekalian test case nanti mudik pas lebaran bakal kayak apa.. Wuiiih, ini aja udah heboh banget apalagi kalau lebaran.. pastinya lebih rempong lagi, deh.

Awal mulanya gini, lho.. bulan November tahun lalu adik ipar saya akan melangsungkan ijab kabul. Sebagai kakak ipar yang baik, perhatian, jagoan, pintar, dan rajin menabung, tentunya saya datang. Kebetulan saya sama sekali belum pernah ke Boyolali, kampung suami saya. Wah.. senang banget deh, bisa berkunjung ke tempat baru!

Suami saya sih pergi lebih dulu, karena jadwal kerja dia mah lebih fleksibel bisa diatur-atur, sementara saya yang terbentur dengan aturan kantor mesti pinter-pinter cari alasan gak ngantor ngatur antara kerjaan dan jalan-jalan kewajiban sosial ini. Agak deg-degan juga karena harus berangkat sendirian ke daerah yang belum saya kenal. Hihi, kenapa ya rasanya lebih serem jalan di negeri sendiri daripada di negeri orang lain? Hayooo…. Untungnya koper saya yang segede kulkas sudah saya titipkan pada suami. Jadi saya tinggal melenggang. Gak ribet.

Saya gak langsung ke Boyolali. Di Semarang saya akan dijemput suami dan adik ipar, lalu sama-sama mampir ke Salatiga untuk belanja ini itu keperluan adik ipar saya, barulah ke Boyolali. Muter, ya? Biarin, saya malah senang kalau muter-muter. Makin banyak yang dilihat pasti makin seru.

Cerita tentang foto di atas, yah. Coba tebak  apa maksud foto di ujung kiri atas? Well.. saya kan pakai flight Mandala, jadi berangkat lewat Terminal 3. Karena ini terminal masih baru, rupanya masih banyak space yang kosong. Petak dekat kaki saya itu kayaknya penanda ruang yang akan disewakan untuk dijadikan kios atau stall. Kenapa harus difoto? Ya kan namanya juga lagi iseng nunggu boarding karena saya datang kepagian :p

Foto di sebelah kanannya adalah tempat air minum haratis. Kayak di luar negeri gitu lhoooo, yang airnya mancur dan bisa diminum. Tapi saya masih ga percaya kalau itu airnya memang layak diminum :p gak berani nyoba, deh. Lanjut ke sebelahnya adalah menu sarapan saya, bener-bener gak penting!. Sebelahnya lagi adalah deretan kursi duduk di tempat boarding. Karena masih pagi, jadi masih banyak yang kosong.

Lanjut ke barisan di bawahnya. Paling kiri adalah pemandangan dari Terminal 3. Menurut saya sih itu Terminal 2, bener gak, sih?? Gambar di kanannya adalah cemilan yang dijual pedagang di Semarang, dalam perjalanan menuju Salatiga. Logonya persis banget ama tempat jualan burger itu, tapi tulisannya ‘Milk Donut’s’. Maksuuud??? Mbuh. Nah, gambar di sebelahnya adalah ruang merokok Terminal 3. Ruangan ini menurut saya lucu banget. Di pintunya ditulisi huruf besar warna merah ‘smoking kills’ tapi di dalamnya berjejal-jejal orang yang sedang merokok. Seolah melihat segerombolan orang yang berlomba-lomba meracuni paru-paru :p

Langsung ke foto di pojok kiri paling bawah tuh bawaan saya. Yang di tas hijau isinya lima kotak bolu kukus yang dikirim khusus dari Bandung untuk acara ini. Biasalah, hantaran tanda kasih antar besan, hehehe. Di sebelahnya adalah pemandangan yang pertama dilihat begitu saya naik ke lantai dua Terminal 3. Rupanya itu ruang boarding untuk semua gate. Jadi gak kayak di Terminal 1 dan 2, di mana penumpang boarding di gate masing-masing, di sini penumpang semuanya dijembreng. Apaan ya, padanan jembreng??

Tuh, gate saya kan gate 3, tapi dengan semena-mena saya duduk agak jauh dari situ, hehe. Terakhir adalah gambar paling kanan bawah, sewaktu sampai di Bandara Ahmad Yani, Semarang. Bandaranya kecil, dan hawa Semarang panas banget. Ada loket pemesanan taksi di luar bandara. Saya tinggal bilang tempat tujuan saya, dan bayar di loket itu juga, jadi gak bayar ke supir taksinya.

Sayang, di Semarang saya gak sempat mampir ke tempat-tempat wisata. Adik ipar saya sudah gak sabar ingin cepat-cepat sampai di Salatiga, dan dia bisa langsung hunting barang-barang yang diperlukan. Owww… baiklah 🙁

Daaaan… ternyata Salatiga ini hawanya sejuk, dan kontur kotanya euh.. kayak lembang gitu, deh… info ga penting lainnya, saya lewat Ungaran juga, lho… ih, emang kenapa? Maksudnya pengen kasih tau aja ;p selama ini saya kira Ungaran tuh entah di mana.. ternyata, hebat juga ya.. punya flying fox tertinggi di Indonesia.

Tapi yang saya gak suka dari Salatiga, pas hujan gede ternyata banjirnya kemana-mana. Mungkin gorong-gorongnya kecil, ya? Jadi air hujan tumpah kemana-mana, sampai ke jalan juga.

Eniweeeeeeei… Gak sampai seminggu saya di kampung suami yang jauh di pelosok sana. Pegelnya jangan ditanya, sampai perlu panggil tukang pijat segala sehari sebelum pulang. Oh ya, satu lagi yang bikin senang, saya juga muter-muter di Solo.

Waktu itu lagi asik-asiknya liat meriam di alun-alun Solo, tiba-tiba ada tukang becak yang nawarin untuk jadi guide. Dia akan antar ke museum kraton, kebo bule, dan tempat batik, hanya untuk SEPULUH RIBU saja. Padahal saya bertiga dengan suami dan adik ipar. Iiiih, kok bisa murah banget, ya? Suami langsung nyolak-nyolek dan nyuruh saya nanti tambahin ongkos becaknya. Iyaaaaaa, tau kok, kalo saya yang paling berat!

Karena tawarannya museum, saya langsung setuju. Yang saya gak ngerti, tukang becak ini ngotot banget saya harus lihat juga sejumlah kerbau yang lagi berkubang. Karena ga mau tukang becaknya tersinggung, saya juga hayu aja. Dan nurut waktu tukang becak nyuruh fotoin kerbaunya. Tapi kok saya gak nemu ya, di mana foto kerbau-kerbau itu, hihi.

Eh, satu lagi nih.. yang paling mengesankan dari kunjungan ke Keraton Surakarta yang kebetulan lagi gak ditutup, selain karena saya harus nyeker gara-gara hanya pakai sandal, pemandu wisatanya dengan gegap gempita bilang:

Di sini tempat MANOHARA dianugerahi gelar Kanjeng Mas Ayu Tumenggung

Krik. krik.

2 comments

  1. yendoel

    yang jelas ini laporannya belum lengkap kan pit.
    kok tukang becak sampai nyuruh lo foto kebo2nya yah…

    1. pipitta

      Karena kerbau bule ini dianggap sebagai salah satu pusaka keraton yang sangat dihargai. Ini cuplikan beritanya:

      DI Keraton Kasunanan Surakarta, ada sekawanan kerbau (kebo) yang dipercaya keramat, yaitu Kebo Bule Kyai Slamet. Bukan sembarang kerbau, karena hewan ini termasuk pusaka penting milik keraton. Dalam buku Babad Solo karya Raden Mas (RM) Said, leluhur kebo bule adalah hewan klangenan atau kesayangan Paku Buwono II, sejak istananya masih di Kartasura, sekitar 10 kilometer arah barat keraton yang sekarang.

      Menurut seorang pujangga kenamaan Keraton Kasunanan Surakarta, Yosodipuro, leluhur kerbau dengan warna kulit yang khas, yaitu bule (putih agak kemerah-merahan) itu, merupakan hadiah dari Bupati Ponorogo kepada Paku Buwono II, yang diperuntukkan sebagai cucuk lampah (pengawal) dari sebuah pusaka keraton yang bernama Kyai Slamet. Sekadar catatan, sampai sekarang pihak keraton tidak pernah bersedia menjelaskan apa bentuk pusaka Kyai Slamet ini.

      “Karena bertugas menjaga dan mengawal pusaka Kyai Slamet, maka masyarakat menjadi salah kaprah menyebut kebo bule ini sebagai Kebo Kyai Slamet,’’ kata Wakil Pengageng Sasono Wilopo Keraton Surakarta, Kanjeng Raden Aryo (KRA) Winarno Kusumo,

      Konon, saat Paku Buwono II mencari lokasi untuk keraton yang baru, tahun 1725, leluhur kebo-kebo bule tersebut dilepas, dan perjalanannya diikuti para abdi dalem keraton, hingga akhirnya berhenti di tempat yang kini menjadi Keraton Kasunanan Surakarta –sekitar 500 meter arah selatan Kantor Balai Kota Solo.

      Bagi masyarakat Solo, dan kota-kota di sekitarnya, seperti Karanganyar, Sragen, Boyolali, Klaten, Sukoharjo, dan Wonogiri, Kebo Bule Kyai Slamet bukan lagi sebagai hewan yang asing. Setiap malam 1 Sura menurut pengganggalan Jawa, atau malam tanggal 1 Muharam menurut kalender Islam (Hijriah), sekawanan kebo keramat ini selalu dikirab, menjadi cucuk lampah sejumlah pusaka keraton.

      Ritual kirab malam 1 Sura itu sendiri sangat ditunggu-tunggu masyarakat. Ribuan orang tumpah ruah di sekitar istana, juga di jalan-jalan yang akan dilalui kirab. Masyarakat meyakini akan mendapat berkah dari keraton jika menyaksikan kirab.

      Kirab itu sendiri berlangsung tengah malam, biasanya tepat tengah malam, tergantung “kemauan” dari kebo Kyai Slamet. Sebab, adakalanya kebo keramat baru keluar dari kandang selepas pukul 01.00. Kirab puasaka ini sepenuhnya memang sangat tergantung pada kebo keramat Kyai Slamet. Jika saatnya tiba, biasanya tanpa harus digiring kawanan kebo bule akan berjalan dari kandangnya menuju halaman keraton. Maka, kirab pun dimulai. Kawanan keerbau keramat akan berada di barisan terdepan, mengawal pusaka keraton Kyai Slamet yang dibawa para abdi dalem keraton. Kerumunan orang pun menyemut dari keraton hingga di sepanjang perjalanan yang dilalui arak-arakan.

      Dan inilah yang menarik: orang-orang menyikapi kekeramatan kerbau Kyai Slamet sedemikian rupa, sehingga cenderung tidak masuk akal. Mereka berjalan mengikuti kirab, saling berebut berusaha menyentuh atau menjamah tubuh kebo bule. Tak cukup menyentuh tubuh kebo, orang-orang tersebut terus berjalan di belakang kerbau, menunggu sekawanan kebo bule buang kotoran. Begitu kotoran jatuh ke jalan, orang-orang pun saling berebut mendapatkannya. Tidak masuk akal memang. Tapi mereka meyakini bahwa kotoran sang kerbau akan memberikan berkah, keselamatan, dan rejeki berlimpah. Mereka menyebut berebut kotoran tersebut sebagai sebagai tradisi ngalap berkah atau mencari berkah Kyai Slamet.

Comments have been disabled.

%d bloggers like this: