personal thoughts

mulutmu harimaumu

When you have nothing nice to say, please just shut up.

Kalimat itu tampak cocok buat saya. Tiap hari Seringkali saya bicara tanpa berpikir lebih dulu apakah kata-kata saya pantas didengar, menyakiti hati atau tidak. Saya tidak terlalu peduli. Apa yang ada di pikiran, itu yang saya ucapkan. Biasanya sih cukup tajam dan sinis. Sorry, I couldn’t help it, I just have to say it. Outloud.

Belakangan saya pikir ini akan jadi kebiasaan buruk. Sangat sangat buruk. Saya jadi terbiasa mengucapkan kalimat-kalimat pedas  dan tak peduli apa dampaknya pada kehidupan sosial atau karir saya. Saya tak peduli apakah yang saya katakan menyakiti kuping hati orang lain atau tidak, terlepas apa yang saya katakan itu benar. Well, there are quite a lot of fools around us, so sh*t happens once in a while.

So, sepertinya ini waktu yang tepat untuk belajar menyimpan cercaan komentar atau pendapat saya untuk konsumsi pribadi. Setidaknya saya  mulai belajar untuk tidak ngomong langsung di depan muka teman saya bahwa dia kegatelan banget mondar-mandir di kubik anak magang dan berlama-lama nongkrong di situ, setelah berminggu-minggu sebelumnya kegatelan nongkrongin jomblowan di ruang ujung sana, untuk tidak teriak di depan mukanya bahwa sebaiknya kamu inget dua anakmu di rumah, or at least bapaknya anak-anak itu, daripada berisik gak jelas setiap kali she looks and sounds horny of certain men. Pleh.

I can keep my mouth shut today, I hope tomorrow I’ll do the same.

Comments are closed.