Thinking Out Loud

Orang yang Berhenti Belajar

Hari ini menyempatkan diri untuk dengerin ceramah dari Pak Guru. Iya, menyempatkan diri, soalnya biasanya kelewat terus dengan alasan sibuk kerja, sibuk meeting, sibuk ina inu, pokoknya saking sibuknya sampe gak bisa dengerin rekaman ceramah pagi, let alone ikut live zoomnya setiap habis subuh. Padahal kalo dengerin spotify sempet, lho. Jadi ini mah emang dasar sayanya aja yang pemales.

Ish.. jadi teringat joke @orang_bunian di Twitterland…

Perempuan Sunda itu pemales. Lelaki Sunda itu males.

So, it’s a fact yah… 😛

Anyway, sampai mana tadi? Ah, ya… dengerin Spotify aja anteng, eh… giliran denger ceramah pagi lha kok ya banyak alasan. Kenapa? Ehm, soalnya kalau dengerin ceramah suka ketampar bolak-balik sama isi ceramahnya. Yang mana itu bikin nyes dan ego ini langsung ketoel. Ahiiik… T.T

Buktinya, ya barusan itu pas denger ceramah. Overall inti ceramahnya tentang gimana kita belajar dari guru/sumber yang terpercaya, yang tersambung sanadnya pada Rasulullah, sehingga kita bisa mengambil syafaat dari apa yang diajarkan. Masalahnya, ada aja orang yang merasa sudah pinter, misalnya saya, akhirnya memutuskan untuk berhenti belajar, dan ujung-ujungnya merasa paling benar.

Sadar gak sadar, saya sering merasa gini, nih. Karena sudah pernah belajar, ngapain sih belajar lagi? Kan saya sudah bisa, ngapain sih didengerin? I knew it, can we hear something new? Ada tema lain, gak, yang itu saya mah sudah tau dari dulu. Jangan diulang-ulang, please, bosan.

Self keplak gak, sih?

Tapi ya untung aja, diingetin terus soal begini. Jadinya rasa paling benar, dan rasa udah pinter banget ini bisa dipangkas, kas, kas, kas. Dikerdilkan, supaya gak menjulang. Supaya sadar kalo yang udah dipelajari itu masih semenel banget. Gak ada apa-apanya. Pernah dengar dong peribahasa Zimbabwe:

Makin banyak yang diketahui, berarti makin banyak juga yang tidak diketahui.

Makanya, jangan sok pinter. Noyor diri sendiri. Jangan pernah merasa diri sebagai pemilik tunggal kebenaran. Coba renungkan dan resapi peribahasa Fanayama:

Seperti padi, kian berisi kian merunduk.

Hayo, yang belum tau Fanayama ada dimana, boleh banget digoogling, lho.

Terima kasih tak terkira untuk pengingatnya hari ini, Pak Guru. Sungguh diri ini masih harus banyaaaaaaaakkkk sekali belajar.

Tagged ,

About Ibun

Careful, cautious and organized. Likes to criticize. Stubborn. Quiet but able to talk well. Calm and cool. Kind and sympathetic. Concerned and detailed. Sensitive. Thinking generous. Tends to bottle up feelings. Hardly shows emotions. Systematic.
View all posts by Ibun →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *