Thinking Out Loud

Saat Isolasi Mandiri

Let’s see.. udah berapa bulan berdiam diri di rumah gegara pandemi Corona ini? Untuk anak-anak sih sekitar 10 bulan, ya. Saya sendiri kan masih ngantor, selang-seling dengan jadwal work from home. Pak suwami juga masih ngurusin kerjaan, sekitar seminggu dua kali pasti keluar. Sekarang keluar rumah tanpa masker udah kayak ketinggalan HP, ya. Pasti balik lagi. Bukan karena takut ditilang, tapi udah ngerasa a-must-wear aja.

Terus terang, sejak sebelum PSBB diberlakukan, baru minggu kemarin saya “berani” ke mall deket rumah untuk beli sepatu dan sandal anak-anak. Secara, selama berbulan-bulan ga pernah lagi nginjekin kaki di emol, dan ternyata anak-anak diam di rumah pun tumbuh, ya, hehehe… kakinya makin membesar. Kasian juga kalau pas PJJ olahraga atau main sepeda mereka pakai alas kaki kekecilan.

Gimana caranya beli sepatu tanpa bawa anak-anak? Yah… kakinya “dicetak” di atas kertas, trus digunting. Guntingannya ini yang dibawa keliling emol. Haha, kumaha we carana. 

Daaan… ternyata di emol lumayan sepi. Kayanya lebih banyak penjaga tokonya deh, daripada pengunjung. Tapinya, pengunjung lain udah PD lho, bawa anak-anaknya main ke mall. Luarrrrr biasa…

Rumah Sakit gimana?

Saya baru “berani” ke Rumah Sakit sekitar bulan Oktober kemarin. Rasanya beneran parno deh, mau ke rumah sakit. Cuma kemarin itu saya udah gak tahan lagi sakit gigi, akhirnya pergi ke rumah sakit, dan ngalamin screening dan berbagai protokol kesehatan lain, seperti jarak 1 meter pas ngobrol ama dokternya, trus dikit-dikit rajin bersihin tangan pakai hand sanitizer. 

Waktu bulan-bulan awal muncul Corona, parnonya gak ketulungan. Ini ada ceritanya, lho, kenapa sampai parno berat…

Jadi ceritanya, ada tetangga yang abis berkunjung ke Bogor, itu lho… yang acara seminar atau apa gitu, yang walikotanya akhirnya positif sehabis datang ke acara itu… nah.. beberapa hari setelah seminar itu pak tetangga ngerasa badannya ga enak, dan panggil tukang pijit langganan komplek untuk mijit. Di hari yang sama, setelah pijit pak tetangga, mak pijit datang ke rumah saya untuk mijit saya dan si sulung. Tumben banget waktu itu si bungsu ga mau ikutan dipijit. Lalu dua hari kemudian mak pijit datang lagi untuk mijit ibu saya dan tetangga pas depan rumah.

Hampir seminggu kemudian, makjegagig, tersiarlah kabar kalo pak tetangga dan istrinya dirawat di rumah sakit provinsi, dicurigai positif covid, walau hasil tesnya belum keluar. Hebohlah kami sekomplek. Terutama di rumah saya, mengingat mak pijit datang ke rumah setelah berkunjung ke rumah pak tetangga.

Pak suwami selaku ketua RT langsung koordinasi dengan pusat koordinasi di wilayah kami. Telpon sana-sini, dan juga berusaha tracing dengan pengetahuan seadanya, karena saat itu belum ada kasus covid sama sekali di kota kami. So, kami serumah berusaha isolasi mandiri dan saling ngecek kondisi masing-masing. Apakah ada gejala? Apakah aman kalau beli sayur? Apakah aman kalau keluar rumah?

Saya yang saat itu kebagian jadwal ngantor langsung minta tukar shift, karena gak mau kemana-mana dulu. Belanja apapun dilakukan dengan online. Pokoknya ga ada yang namanya keluar rumah, atau kontak dengan siapapun!

Beneran deh, saat itu jadi 16 hari paling menegangkan yang pernah saya alami. Setiap hari rasanya was-was takut kalau-kalau ada yang demam, atau batuk. Semua orang di rumah dicekokin vitamin C, D, dan Zinc. Ini bukan hasil konsultasi dokter, hahahaha… tapi hasil dari mantengin timeline twitternya Bang @veritasardentur.

Nyetok bahan makanan, nyetok vitamin, nyetok masker, nyetok beras, wah… dah macam pengungsi ajalah segala rupa distok supaya ga perlu keluar-keluar rumah.

Long story short, alhamdulillah semuanya sehat. Termasuk mak pijit dan keluarganya. Sayangnya, pak tetangga dan istrinya wafat, dan dimakamkan dengan protokol covid. Penderita lain yang positif adalah ART pak tetangga. Tapi beliau bisa melalui isolasi dengan baik, dan akhirnya dinyatakan negatif setelah dua kali berturut-turut diswab.

So, hampir setahun nih gonjang-ganjing pandemi corona, dan belum berakhir, lho… negara lain ada yang udah sampai third wave segala, saya gak tau di Indonesia ini first wave-nya sebenernya udah selesai apa belum. Tapi yang bisa lakukan apa sih? Ya “palingan” jaga kesehatan, rajin cuci tangan, jaga jarak, dan pakai masker kemanapun…

Tetap sehat ya, manteman semwaaaa :*

 

About Ibun

Careful, cautious and organized. Likes to criticize. Stubborn. Quiet but able to talk well. Calm and cool. Kind and sympathetic. Concerned and detailed. Sensitive. Thinking generous. Tends to bottle up feelings. Hardly shows emotions. Systematic.
View all posts by Ibun →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *