Posts Tagged akademi berbagi

Kejutan Kedua

Posted by on Wednesday, 24 April, 2013

Ahooyyy.. Saya di sini untuk menuntaskan janji :) Deuuuhhh, janji melulu siiiih… 

Iyahhhh, sekarang saya mau kasih tau surprise kedua di Minggu Penuh Kejutan. Apakah ituuuu? Bukaaaann… bukan tentang Srikandi Blogger :) I didn’t make it. Saya gak lolos ke 10 Besar Srikandi Blogger 2013. Yang masuk 10 Besar jaaaaaauuuuuhhhhhh lebih canggih dan punya program jelas sebagai Srikandi Blogger. Saya mah tim hore aja :) Trus gimana? Lho, emang mesti gimana? Ya saya terus ngeblog aja :D

Jadi yak.. ternyata bujukan saya pada Boss supaya bisa ikut kelas Basic Financial Planning dengan biaya kantor disetujui! Yeaaaayyy… *pirouette* Kenapa sih gitu aja senang banget? Yaiyalah, ikut kelas ini kan gak murah. Emang bisa banget sih, daftar dan bayar pakai uang pribadi. Tapi sebagai mak irit nan pelit penuh perhitungan, manalah sudi dana buat jajan di midnight sale investasi dipakai bayar kelas Basic FinPlan? Kalau ada yang bisa bayarin, kan lebih asoy geboy :P

Apa sih pentingnya ikut kelas beginian sampe dibela-belain “ngemis” minta dibayarin kantor coba? Ohohoooo… Buat saya mah penting banget! Dulu saya pernah ikut pelatihan singkat yang lagi-lagi gratisan, mental gratisan banget. Lalu saya juga sering browsing dan blogwalking untuk cari info sebanyak mungkin tentang Financial Planning. Misalnya aja website yang ini dan yang ini. Sudah pasti saya juga follow akun twitter macam @mrshananto dan @aidilakbar. Mumpung gratis lah ya, segala macam cara ditempuh demi dapet tips-tips mengatur keuangan yang sahih dan manjur…

Tapi saya gak merasa cukup. Somehow tetep aja tuh, ngerasa rencana keuangan saya gak jalan dengan semestinya. Sering banget saya menyabotase dana untuk investasi gegara mesti bayar tagihan kartu kredit. Dan tagihannya pun untuk belanja konsumtif yang gak penting :(

Makanya keikutsertaan saya di kelas ini tujuan utamanya ya supaya saya bisa memanage keuangan diri sendiri, lah. Kenapa gak hire aja sekalian seorang Financial Planner? Kan enak. tinggal ongkang-ongkang kaki, ga perlu ribet mikirin tentang gimana caranya ngatur kondisi keuangan. Hmm… Saya pengen tau banget ilmunya juga, sih. Itulah kenapa niat banget minta dibayarin kantor supaya bisa ikut kelas Basic Financial Planning. Efek samping yang diharapkan tentunya siapa tau kelak saya bisa juga  jadi seorang Financial Planner, kan bisa buka lapangan pekerjaan :P

Ah, well.. semoga gak sia-sia deh, apa yang bakal saya pelajari ini :)

check up akhir tahun

Posted by on Friday, 31 December, 2010

Ya… saya memang sudah terlalu lama ‘hilang’ dari sini. Padahal hosting dan domainnya baru aja diperpanjang, eh.. malah dicuekin :P

Maklumlah, kalo akhir tahun saya kerjaan saya numpuk..puk..puk.. Beneran! Baru pulang kantor jam 8 malem aja dong.. hampir tiap hari, tuh.. kebayang kan, capeknya?

Tapi saya punya hutang satu postingan buat si soulmate tertjintah.. huhuhu…. maap ya, neng, baru sempet bikin sekarang nih..

Postingan apakah ituuuuuuu???

Yaaaakkk.. tak lain dan tak bukan: postingan yang nyerempet-nyerempet masalah duit sodara-sodara! Hihihihii… sebagai sesama ibu bekerja dengan penghasilan pas-pasan, eh, itu mah saya yah… :p, penting banget buat nge-review keuangan di tahun 2010. Buat apa?? Ya supaya bisa lebih baik di tahun 2011, dooooong… Supaya impian mewujudkan daftar belanja yang panjang itu bisa segera terwujud.. :D

So, what to do?

FINANCIAL CHECK UP

Jadi sebelum memutuskan mau beli ini itu, investasi ini itu, atau ngutang sana sini, yang mesti dilakukan adalah cek kondisi keuangan.  Coba ambil kertas  buat corat-coret, yah.. dan mari lakukan secara bertahap:

Financial Check Up #1 – Hutang

Prinsipnya, kurangi hutang konsumtif dan hutang non produktif. Contoh hutang konsumtif misalnya hutang kartu kredit yang bayarnya ga langsung lunas pas tagihannya datang. Hayo ngaku.. siapa tuh yang masih suka begitu? Hutang non produktif itu hutang untuk sesuatu yang nilainya ga bertambah. Misalnya aja hutang untuk beli smartphone. Kalau smartphone-nya cuma dipakai untuk sms-an, FB-an, atau main game doang, tentunya ini termasuk hutang non produktif. Lain cerita kalo smartphone-nya dipakai untuk bikin sesuatu yang menunjang atau malah menghasilkan pendapatan tambahan :p

Oh ya, hutang gak sama ya ama cicilan. Hutang gak boleh lebih dari 50% kekayaan, sedangkan cicilan gak boleh lebih dari 30% dari penghasilan pokok bulanan. See the difference?

Financial Check Up #2 – Nilai Kekayaan Bersih

Kalau pengen tau berapa kekayaan kita, tulis aja tuh di kertas apa aja harta benda di rumah yang bisa ditukar dengan uang, alias dijual. Coba bikin listnya.. Nah kira-kira segitulah jumlah kekayaan kita..

Trus.. kurangin deh nilai aset itu dengan hutang yang dimiliki, hasilnya harus positif lho.. Kalau negatif kan berarti kebanyakan hutang tuuuh..

Financial Check Up #3 – Cash Flow

Bikinnya gimana? Kata teorinya sih, yang harus dibuat pertama kali adalah bikin daftar pengeluaran rutin dalam sebulan. Pos pertama yang paling penting adalah pengeluaran utama, biasanya untuk sandang, pangan, papan, transport, dan komunikasi. Pos kedua adalah kewajiban berupa hutang, zakat, pajak, dan cicilan. Pos ketiga untuk tabungan dan investasi. Pos terakhir baru deh untuk life style.

Setelah itu coba kurangi penghasilan per bulan dengan total jumlah pengeluaran rutin ini. Harus positif lho, hasilnya. Kalau negatif mah pasti aja ujung-ujungnya bakal jebol tabungan di bank :p

Financial Check Up #4 – Dana Darurat

Apaan sih Dana Darurat atau DD ini? Teorinya sih DD tuh dana yang dialokasikan terpisah untuk kebutuhan darurat. So, kata kuncinya adalah DARURAT yah.. jadi midnight sale tentunya gak termasuk kebutuhan darurat :P

Umumnya yang masuk kategori darurat tuh sakit, kecelakaan, kematian, PHK, dan… ada juga lho yang masukin nikah! :p

DD ini harus liquid alias mudah diakses. Jangan nyimpen DD dalam bentuk tanah. Jualnya lama, bo! Taruh aja dalam bentuk emas batangan, atau deposito.

Berapa sih jumlah DD yang harus dimiliki? Tergantung masing-masing, tuh. Untuk para lajang, siapin aja 3x pengeluaran bulanan. Buat yang udah married dengan 1-2 tanggungan harus sedia minimal 6x pengeluaran bulanan. Nah, kalau tanggungannya lebih dari dua, siapin lebih banyak lagi, ya, 12x pengeluaran bulanan.

Truuuuusssss… kalau belum punya DD 1-3x pengeluaran bulanan, JANGAN DULU INVEST tuuuhhh… Kerjain dulu pe-er bikin DD-nya. Setelah punya paling nggak 1-3x pengeluaran bulanan sebagai DD, baru dehhh boleh investasi. Saya sendiri ternyata masih punya pe-er bikin DD 3 bulan lagi, tapi udah boleh invest kok.

Financial Check Up #5 – Asuransi

Yang penting mah Asuransi Kesehatan dulu, trus boleh ditambah Asuransi Jiwa kalau kita merupakan tulang punggung keluarga, alias punya penghasilan terbesar dalam keluarga.

Financial Check Up #6 – Investasi

Ini mah tergantung selera masing-masing kali, ya? Ada yang invest dalam bentuk tanah, logam mulia, saham, reksadana, whatever.. tapi ingat, mesti udah punya DD dulu yaaaa…

Well.. dari hasil check up keuangan saya sendiri untuk 2010:

- Gak punya hutang

- Gak punya cicilan, kecuali cicilan kartu kredit tiap bulan gara-gara mata ijo pengen belanja, tapi ini pun selalu saya bayar lunas nas nas nas nas setiap kali tagihan datang

- DD baru kebentuk 3 bulan aja, mesti punya 3 bulan lagi

- Sudah invest, malah sempat divonis kebanyakan invest :p mestinya saya lebih konsen dengan ngebentuk DD

Gitu deh, analisa ngawur ala saya :P

Gimana dengan hasil check up kamu?

tanpa agunan?? kata siapa..

Posted by on Thursday, 11 November, 2010

Ini hutang saya untuk si partner in crime :)

Memang sih, saya ga datang di kelasnya. Tapi saya udah janji untuk tetep kasih info soal materi apa aja yang dibahas di kelas financial fund-nya akademi berbagi.

Karena dua kelas terakhir materinya tentang hutang kartu kredit (ini lanjutan minggu sebelumnya, deh) dan profil resiko, saya gak ikut daftar :P hehe, bukannya congkak bukannya sombong, tapi yang paling saya tunggu tuh materi tentang investasi, hihihi.. murid gak tau diri nih, milih-milih materi :P

Nah, tentang hutang kartu kredit ini sebetulnya udah dibuat tulisannya di sini. Silakan dibaca dan dihayati. Cukup jelas, kok. Tapi ada satu statement yang bikin saya penasaran:

Apabila kalian punya hutang tanpa agunan,watch out secara undang2 kalian mengagunkan seluruh harta yg kalian miliki.

Saya sempet nyureng karena gak ngerti maksudnya apa. Memang saat ini saya gak punya hutang tanpa agunan, tapi pernah lho suatu kali saya dibombardir sms dari nomor gak dikenal yang sibuk nawarin kredit tanpa agunan. Tawarannya lumayan bikin mupeng, tapi saya agak anti dengan yang namanya kridit-kriditan, jadi masih bisa cuek.

Balik lagi soal undang-undang tadi, bang aidil secara khusus nyebutin sejumlah pasal: pasal 1131, 1320, dan 1338 KUHPerdata. Lah, emang apa katanya?

Berkat Om Google, sampailah saya di sini dan…. tetep ga ngerti! LOL… astaga… kenapa sih bahasa hukum itu kalau dibaca rasanya kayak pengen jedotin kepala di tembok?

Setelah baca 273 kali, saya nangkepnya gini nih: walaupun judulnya keren, Kredit Tanpa Agunan, tapi secara hukum buat bisa dapetin kredit dari bank biasanya mesti bikin perjanjian kredit, yang nantinya bakal dilanjut dengan perjanjian jaminan/agunan. Di pasal 1131 itu bunyinya kayak gini:

”Segala barang-barang bergerak dan tak bergerak milik debitur, baik yang sudah ada maupun yang akan ada, menjadi jaminan untuk perikatan-perikatan perorangan debitur itu”.

Cmiiw dong buat yang ngerti hukum, berarti judul bombastis Kredit Tanpa Agunan itu maksudnya gimana dong?? Permainan kata-kata belaka, ya??

Pasal 1320 KUHPerdata sih ‘cuma’ menyoal syarat sahnya perjanjian. Saya kutip dari sini:

…perjanjian harus memenuhi 4 syarat agar dapat memiliki kekuatan hukum dan mengikat para pihak yang membuatnya. Hal tersebut adalah:

1) Kesepakatan para pihak;
2) Kecakapan untuk membuat perikatan (misal: cukup umur, tidak dibawah pengampuan dll;
3) menyangkut hal tertentu;
4) adanya causa yang halal
Kalimat-kalimat ini juga masih bikin saya pengen jedotin kepala.. kali ini ke aspal!
Menurut ilmu kanuragan saya yang masih terbatas: ngerti atau nggak, ngeh atau gak, nyadar atau butuh kepaksa, begitu setuju ngambil kredit tanpa agunan ya berarti perjanjiannya udah sah. Gitu, kan? Lahh.. malah gak yakin, hihihii.
Masih menurut  sumber yang sama, pasal 1338 KUHPerdata makin memperkuat pasal 1320 tadi. Bunyinya:

Akibat timbulnya perjanjian tersebut, maka para pihak terikat didalamnya dituntut untuk melaksanakannya dengan baik layaknya undang-undang bagi mereka. Hal ini dinyatakan Pasal 1338 KUHPerdata, yaitu:

(1) perjanjian yang dibuat oleh para pihak secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi
mereka yang membuatnya.
(2) perjanjian yang telah dibuat tidak dapat ditarik kembali kecuali adanya kesepakatan dari
para pihak atau karena adanya alasan yang dibenarkan oleh undang-undang.
(3) Perjanjian harus dilaksanakan dengan iktikat baik.
Hadoooohhh… ini sih gak bisa ngeles, yah? Seandainya yang ngambil kredit tanpa agunan itu ga sanggup bayar cicilan, tetap aja diikat ama pasal-pasal itu, dong. Ditutup dengan sadis ama si pasal 1131 itu tadi. Barang yang sudah ada atau akan ada dijadikan agunan buat ngelunasin cicilan! Hiiiiyyyyy ngeriiiii…
Gak bakalan deh, saya ngambil Kredit Tanpa Agunan kalau begini ceritanya… beneran!
Selanjutnya tentang profil resiko. Saya rangkum aja livetweetnya dari sini, ya!
  • Ada 3 profil resiko: konservatif,moderate dan agresif
  • Setiap produk keuangan pasti tidak ada yang bebas dari resiko
  • Menabung saja ada resiko inflasi
  • Resiko tidak dapat dihindari akan tetapi dpt dikelola. Key : diversifikasi
  • Risiko ada 2 yaitu : spesific risk (internal) dan general/systematic market risk (global)
  • Resiko investasi : Resiko gagal (default), resiko kredit, dan resiko pajak
  • Resiko investasi : resiko inflasi konsumtif (diri kita), resiko bunga, dan resiko mata uang (currency)
  • Resiko investasi : Resiko politic, resiko pasar dan resiko karna suatu hal (bencana,dll)
  • Resiko investasi : Resiko politic, resiko pasar dan resiko karna suatu hal (bencana,dll)
  • Faktor profil resiko: urutan dlm keluarga (anak pertama biasanya safety player dgn toleransi tinggi terhdp kenyamanan)
  • Faktor profil resiko: urutan dlm keluarga (anak bungsu, lebih agresif biasanya ..anak tengah biasanya suka2,agresif ok konservatif jg ok)
  • Profil resiko berdasarkan urutan dlm keluarga hanya pada Umumnya saja. Tetap ada faktor2 lain yg mempengaruhi
  • Faktor profil resiko : Hobby (semakin berbahaya hobby nya dpt kita lihat org tersebut agresif)
  • Apabila hobbynya hanya melibatkan diri sendiri tanpa orang lain,biasanya profil resikonya konservatif
  • Faktor profil resiko:salesmen n businessmen (agresif), planners,architect (agresif wth calculated risk),karyawan dg gaji fixed (konservatif)
  • Faktor profil resiko : durasi investasi (short period – konservatif, long period – agresif)
  • Faktor profil resiko : dana darurat (terlalu byk aset liquid = konservatif)

Sebelum memutuskan untuk investasi, baiknya sih kenali dulu profil resiko diri sendiri. Jangan sampai merasa profilnya agresif, terus beli saham segepok.. ehhhh tiap malam malah gak bisa tidur karena jantung empot-empotan mikirin harga saham yang turun :P *eh, ini bukan curcol yahh.. cateeeeettt… Postingan tentang profil resiko yang ini bisa dibaca supaya makin makin makin makin jelas :)

Kalau lagi iseng dan ada waktu sebentar, coba-coba aja isi kuesioner ini. Saya gak tau sih, apa dengan ngisi delapan pertanyaan doang udah cukup untuk menilai kayak gimana profil resiko kita. Tapi kan judulnya juga iseng dan coba-coba :P

Saya baru aja coba. Hasilnya? Balanced.

Halah… maksud loooooo?

bolos kelas financial, hiks…

Posted by on Thursday, 21 October, 2010

Boooooohooooooo… dua kali sudah saya bolos gak bisa datang di kelas financial yang diadain Akademi Berbagi, kerja sama dengan bung Aidil Akbar *ciyeeeehhh, bung..* rugiiiii ay merasa rugiiiiiii.. tapi apa daya nasi udah jadi bubur, tinggal ditambah suwiran ayam, kacang kedelai, kecap ama kerupuk deh.. :P

Materi yang gak saya ikutin adalah tentang cash flow dan hutang. Untuk materi hutang jujur aja rasanya saya ga terlalu rugi gak ikutan, toh saya cukup mahir di bidang hutang-berhutang :P Maksudnya, sampai sekarang sih alhamdulillah saya gak punya hutang. Hutang koperasi kantor gak ada, hutang ke bank gak ada, hutang ke mertua juga gak ada. Paling yang ada hutang kartu kredit, yang selalu saya bayar lunas tagihannya setiap bulan. Sayangnya, bulan ini lunas, bulan depan kalau saya iseng gesek kartu kredit lagi ya berarti hutang lagi, ya.. Hihihi.. ini emang penyakit saya, dan obatnya gampang aja, kok: titip aja kartu kreditnya ke suami, dijamin saya bakal susah banget gesek kartu itu, dan bulan depannya tagihan kartu saya bisa nol. Ha!

Tapi kalau materi cash flow, saya burik butek sih. Gak ngerti. Itu maksudnya apaan ya? Wahh.. padahal saya udah janji sama partner in crime untuk selalu update kabar berita tentang kelas financial ini. Kan kami berdua sukanya yang gratisan :P

Makanya, biar kami sama-sama belajar tentang materi yang ketinggalan itu, saya coba rangkumin deh.. minimal buat bacaan saya sendiri biar tambah ngerti.

Jadi kalau boleh disimpulkan, cash flow tuh berkaitan dengan gimana caranya membelanjakan pendapatan per bulan. Saya nemu blog keren yang salah satu postingannya ngebahas personal cash flow. Daripada saya jelasin muter-muter dan malah bikin pusing, mending baca itu aja :)

So far sih selama ini tiap terima gaji saya langsung masuk-masukin ke amplop hadiah buku manajemen by amplop dan persentasenya disesuaikan dengan mood kebutuhan saya. Ngukurnya gimana? Ya dikira-kira aja dari kebiasaan atau kebutuhan bulan-bulan lalu. Hihi, tauk deh cara ngukur model begini betul atau salah :P

Memang sih, kadang bocor juga.. hiks.. dan biasanya bocornya karena pengeluaran tak terduga yang  gak penting, atau diada-adain.. Duh.. kebiasaan buruk banget, deh.. Kayak begini mah kuncinya cuma satu, mesti bisa tega ama diri sendiri :( *waaaa… mana bisaaaaa*

Pleeeeh… kalau begitu mari kita hayati tweet penting ini tentang cash flow:

  • Apabila kita tidak dapat memaintan isi dompet,bagaimana mungkin kita dapat menabung
  • Sisi buruk atm = anda selalu tau kalau anda memiliki duit yg dpt diambil kpn saja sehingga anda srg overbudget
  • Susun daftar pengeluaran rutin,dimulai dr pengeluaran utama (sandang,pgn,papan,komunikasi & transportasi) kmdian byar hutang
  • Tidak hny hutang,tetapi juga kewajiban lainnya spt cicilan, menafkahi orgtua (apabila mnjd tulang punggung) dll
  • Pengeluaran rutin berikutnya adalah tabungan dan investasi plus pendukung
  • Kunci dari pengaturan cashflow adalah lifestyle masing2 orang
  • Bocor halus yg tdk disadari – kasih tips ke tukang potong rambut,ksh pengamen,beli cemilan,bayar parkiran dll
  • Jgn jadi pegawai mental manager – punya penghasilan pegawai tp pengeluaran sama spt manager dgn gaji byk

Kalau masih kurang, nih saya rangkum juga laporan pandangan mata kelas financial dari tweet yang ini:

  • Dlm memakai CC, aturan utamanya setiap kali dipakai, dilunasi. Kalau terpaksa, maka cicilan per bulan maks. 30% gaji, tdk boleh lebih
  • Inget yaaa.. Kondisi idealnya adalah: Penerimaan-Pemasukan=positif!
  • Gimana cara antisipasi pengeluaran yg berlebih? CATAT! :D
  • Susun daftar pengeluaran rutin yuk! 1. Pengeluaran utama – yg terpenting. Msg2 profesi bisa punya pengeluaran utama yg beda
  • Dftr pengeluaran rutin : 2. Kewajiban – tmasuk pajak, bayar utang, bayar zakat. Anggota kelg yg kita biayai bs tmsk kewajiban
  • Daftar pengeluaran rutin: 3. Tabungan & investasi – bs jangka pendek, jangka panjang. Stlh itu baru 4. Pendukung – have fun!
  • Kunci dari pengaturan cashflow adalah: lifestyle. Hati2, kadang lifestyle tidak sesuai dengan pemasukan lhoo…

Nah.. gimana? Bisa ngambil moral story-nya, kan? Semboyan saya sih:

  1. Hutang gak boleh lebih dari 30% penghasilan (baik penghasilan pribadi atau gabungan)
  2. Jangan beli apa pun kalau ga ada duitnya!!

Sekian.

PS: kelas yang paling saya tunggu sih yang materinya INVESTASI. Semogaaaaa bisa dapet tempat paling depan!

kelas financial planning di akademi berbagi

Posted by on Tuesday, 5 October, 2010

Saya gak bakal ngeh kalau akademi berbagi buka kelas financial kalau my partner in crime gak halo-halo di twitter.  Semula saya agak males-malesan nanggepinnya, karena saya pikir kelasnya dibuka hari Jum’at. Dan macet di hari jum’at sore adalah hal yang paling saya hindari, sebisa mungkin gak ada di jalan sampai sekitar jam 9 malam :P

Eiihhh, ternyata nasib baik.. kelasnya dibuka hari Senin. Langsung aja deh, saya daftar ke kepala sekolah akademi berbagi dengan harap-harap cemas, agak kuatir kalau kuota 30 orang udah keburu penuh dan saya gak bisa ikutan.

Emang kenapa sih,  pengen banget ikutan kelas ini?

Yah.. terutama karena saya pengen banget punya perencanaan keuangan yang parfait… apalagi kalau gratis! Hihihihi… dimana-mana yang gratisan emang mengundang banget, yah!

Terus, kenapa juga mesti punya perencanaan keuangan yang sempurna?

Duuuhhhhh, gini lho.. saya nih kerja dari senin sampai jum’at. Mulai jam delapan sampai jam lima. Penghasilan yang dibawa pulang jujur aja gak terlalu banyak. Padahal seperti kita semua juga tau, kebutuhan hidup tuh makin lama makin meningkat. Belum lagi kalau sudah punya anak. Coba aja baca di koran berapa biaya melahirkan, berapa biaya sekolah anak, berapa biaya kesehatan. Jangan dulu mikirin uang kuliah, bisa pingsan! Mikir uang pangkal masuk SD aja saya udah sakit gigi. Dan tau gak, uang kalau udah di tangan tuh, kayak air! Iya, ngalir kemana-mana gak jelas. Tiba-tiba aja tengah bulan kebingungan karena mesti ngebobol tabungan. Huuu.. mau mati gak, sih?

Makanya saya tau diri. Udah nyadar uang pas-pasan, ngelolanya juga mesti betul-betul. Supaya masa depan saya dan keluarga bisa berjalan dengan baik. Maunya sih gak  pernah punya utang. Terus yah, kalau bisa punya semua benda yang dibutuhkan, dan sewaktu mesti bayar ini itu uangnya ada. Itulah kenapa belakangan ini saya keranjingan cari tau ilmu merencanakan keuangan ini. Segala twitter financial planner saya follow, trus tweet mereka yang kira-kira wajib saya inget, langsung saya klik favorite. Saya juga gak lupa rajin baca blog mereka. Salah satu referensi bacaan saya ya blog pemateri kelas financial ini.

Waktu antene tv saya masih belum goyang, dan saya bisa nonton saluran tv O Channel, saya juga rajin ngikutin pembahasan tentang investasi emas, masih dari bapak ini. Gak cuma itu aja lho, saya bahkan beli bukunya! Wkwkwkw.. ini bukan stalking lho… tapi saya emang ngerasa perlu beli buku yang ini:

Kenapa?

Karena… yang nulisnya Indra Herlambang lhoooo ada bonus amplopnya!!!

Hihihihihi… jadi tujuan saya beli bukunya supaya dapet amplopnya itu :P alasan yang bodoh yah.. tapi sampai sekarang amplop-amplop itu masih saya pakai, lho.. Walaupun errr… nganu.. kalau lagi kepepet kadang-kadang saya suka ngambilin uang dari pos yang bukan untuk peruntukannya :P *huhuhuu, masih bandel niiihhhhh*

Tapi menurut saya belajar serabutan dan otodidak ini masih belum cukup. Saya butuh ‘pembenaran’ bahwa apa yang udah saya lakukan itu right on track. Jangan-jangan selama ini saya sok tahu, sok udah bisa,  sok punya ilmunya. Makanya, hadir di kelas ini jadi agenda wajib saya.

Well, karena si partner in crime itu minta saya share ilmu yang udah didapat, saya coba rangkum deh, kheuseus buat dia seorang :D

Here we go..

  • Yang paling penting dalam perencanaan keuangan adalah TUJUAN. Tujuan ini bisa macam-macam sesuai ama kebutuhan kita. Misalnya aja pengen naik haji, pengen punya rumah, pengen sekolahin anak sampai universitas, and so on.
  • Setelah punya tujuan, coba pisahin menurut jangka waktunya. Untuk tujuan kurang dari setahun dianggap sebagai tujuan JANGKA PENDEK. Tujuan yang kira-kira perlu 1-5 tahun lagi, dianggap sebagai tujuan JANGKA MENENGAH. Sedangkan tujuan JANGKA PANJANG waktunya di atas 5 tahun.
  • Notes: Ukuran waktu selama itu umumnya dipakai di Indonesia. Menurut Pak Aidil orang bule malah lebih lama lagi. Jangka menengahnya bisa sampai 10 tahun. Jadi tujuan jangka panjang versi mereka adalah di atas 10 tahun.
  • Kenapa tujuan itu harus dipisah, supaya gak salah mengelola uang. Gak salah menempatkan investasi. Gak mungkin banget untuk tujuan naik haji 15 tahun lagi, misalnya, tapi yang kita lakukan adalah ngambil deposito selama setahun.
  • Why?
  • Karena gak akan kekejar uangnya. Misalnya aja inflasi per tahun 12%, berapa sih bunga deposito setahun? Kayaknya gak mungkin banget di atas itu. Jadi boro-boro bisa ngejar biaya naik haji 15 tahun mendatang, ama inflasinya aja udah kalah duluan
  • Malah ribet baca contoh saya? Hhihihihih… maap.. makanya mending ikutan kelas financial planningnya aja, biar bisa lebih jelas :P atau sekalian konsultasi ama para pakarnya di sana…

Yang saya catet sih, dalam sebuah keluarga tuh idealnya mesti punya perencanaan keuangan untuk hal-hal berikut ini:

  • manajemen arus kas
  • manajemen resiko
  • perencanaan pajak
  • investasi
  • perencanaan pendidikan
  • perencanaan warisan, termasuk didalamnya adalah untuk nikah dan estate, maksudnya properti kali ya??
  • perencanaan pensiun
  • dll

Hayohh… panjang banget daftarnya. Saya sih langsung nyureng. Saya kurang paham dengan manajemen arus kas, gak ngerti ama manajemen resiko, gak pernah bikin perencanaan pajak karena itu urusan kantor, kan?? investasi udah sih, tapi bener gak yang udah saya pilih? perencanaan pendidikan dan pensiun baru mulai, dan sama sekali belum mikirin tentang perencanaan warisan. Ampuuuunnnnn… tolonglah hamba-Mu ini…

Untunglah kelas ini diisi juga dengan hahahihi yang lumayan mengurangi stress gara-gara ngeliat angka-angka setelah inflasi. Beneran, lho, saya sempat stres juga mendengar ‘kenyataan hidup’ termasuk semua biaya yang kira-kira harus dikeluarkan untuk itu.  Duuuhhh, semoga aja setelah ikut kelas ini saya bisa dapet dan paham ilmunya, biar cepat kaya, jadi gak stres dengan angka-angka inflasi ituhh :P

Nah!

Hal pertama yang harus dilakukan adalah: bikin Emergency Fund alias Dana Darurat.

Untuk saya pribadi, perlu dana darurat sebesar 9 x gaji per bulan. Tapi kalau keuangan mepet, dapet dispensasi :P dihitungnya bukan dari gaji, tapi 9 x pengeluaran per bulan. Saya harus punya minimum 2 x pengeluaran per bulan itu dalam bentuk liquid, sebelum saya investasi. Setelah punya jumlah minimum, bulan selanjutnya dananya dipisah. Sebagian masuk dana darurat, sebagian lagi diinvestasikan ke produk yang bisa mengalahkan si inflasi 12% itu.

Itu teorinya. Yang tidak saya lakukan karena baru tau kemarin malam :P

Weewww…

Jadi tujuan saya nomor satu:

  • Bikin dana darurat!

*bersambung ya minggu depan! semoga saya masih bisa ikut kelasnya :D