Teman saya, seorang ibu dengan asi melimpah ruah, sudah dua kali empat kali mendonorkan asinya. Entah berapa botol. Mungkin belasan, atau bisa jadi juga puluhan.
Wow.
Buat saya dia hebat. Asi adalah makanan utama bayi agar bisa tumbuh dan berkembang. Tak ada yang bisa mengalahkan asi sebagai sumber kehidupan bayi. Jadi berbagi asi hingga puluhan botol berarti juga mengupayakan seorang bayi untuk tumbuh sehat dan mendapat suplai makanan penuh gizi yang diperlukan.
Saya ingin menirunya. Saya juga ingin berbagi asi. Menjadi donor asi. Tapi apa bisa? Asi saya sepertinya tidak terlalu banyak. Malah pernah drop sewaktu saya mengonsumsi pil kb, dan malas memompa. Apalagi saya masih ragu dengan hukum mendonorkan asi. Apakah langsung menjadi saudara sesusu dengan seluruh keluarganya?
Begitulah, ada sejumlah pertimbangan yang menyebabkan saya menunda-nunda mendonorkan asi yang tak seberapa banyaknya yang ada di kulkas.
Sampai saya membaca tweet di timeline saya:
Dicari #donorASI utk bayi perempuan(muslim)usia 2h. Kondisi bayi dgn celah bibir & langit2 mulut.
Entah kenapa saat itu hati saya tergerak. This is it. I must do something for this baby girl.
Tapi saya harus memastikan dulu bagaimana hukumnya menurut Islam. Ada sejumlah pendapat yang berbeda. Saya bertanya dulu pada uwak saya. Turns out menurut beliau, yang menjadi saudara sesusu hanyalah si bayi penerima asi. Saudara-saudaranya tidak. Yah, walau penerimanya bayi perempuan saya sih merasa perlu mendata identitasnya. ‘Cos she shares the same milk as my daughter.
Jadilah kalau begitu! Saya hitung persediaan asip di kulkas. Rasanya kalau saya donasikan 900 ml, tidak akan jadi masalah. So, langsung saya hubungi contact person yang menyiarkan kebutuhan asi tersebut. Saya katakan saya bersedia mendonorkan 10 plastik asip.
Tapi oh, ternyata tidak semudah itu menjadi donor asi. Saya pikir tinggal bilang ya, asi akan diambil, dan.. selesai. Ternyata tidak. Contact person yang saya hubungi baru menjawab besok harinya, setelah jam makan siang, itupun tidak yakin akan ada yang bisa mengambil ke tempat saya.
Well, these asi must go away!
Kalau tidak ada yang bisa mengambil, kenapa tidak diantar saja sekalian? Toh sudah ada layanan jasa pengantaran asi yang bisa dihubungi segera via sms. Dua jempol untuk layanan ini. Begitu saya sms, dengan cepat saya sudah dapat info jam berapa asi bisa diambil berikut biaya pengantaran.
Saya malah agak sedikit kecewa dengan pihak penerima asi. Saya sudah sampaikan bahwa asi akan diantar sore itu juga, ternyata saat kurir asi tiba di tujuan, contact person yang sedari awal saya hubungi sudah pulang ‘kantor’! Tanpa berpesan apa-apa pada saya. Untunglah saya masih menyimpan satu nama lain yang bisa menerima asi tersebut, dan berkat koordinasi yang baik pada pihak layanan kurir asi, kiriman berharga itu akhirnya bisa diterima yang membutuhkan.
Yah, kekecewaan saya tidak berarti dibanding berharganya asi tersebut untuk bayi penerima. Jadi biarkan saja. Tidak perlu saya ambil pusing, walau masih juga belum ada konfirmasi identitas bayi penerima asi. Ini penting buat saya, karena bayi ini akan jadi saudara sesusu anak saya.
Sedikit kekecewaan tidak akan menyurutkan keinginan saya untuk berbagi (lagi) air kehidupan ini. Berikutnya, mungkin untuk putri sepupu saya dulu, setelah itu barulah saya cari penerima lainnya
Nah, buat para ibu yang punya asi berlebih, boleh lho follow @aimi_asi di twitter supaya update terus dengan kabar baby mana aja yang butuh asi..









