Posts Tagged berpikir

Balada Kontraktor

Posted by on Monday, 20 January, 2014

Sejak saya masih piyik, alias kecil banget, seingat saya kami sering kali berpindah-pindah rumah. Ya, ibu saya memang kontraktor sejati, alias pengontrak rumah :) Maklumlah, penghasilannya setelah dikurangi ini itu hanyalah cukup untuk mengontrak rumah kecil. Pernah sih, ibu saya membeli rumah KPR, tapi entah kenapa kreditnya dioper ke orang lain, dan batal deh kami punya rumah sendiri.

Seringnya berpindah-pindah pada akhirnya membuat saya dewasa sepertinya gak punya sense of belonging pada suatu tempat tertentu. Sepertinya saya sudah setting jiwa dan raga saya halah bahwa suatu saat saya akan pindah dari tempat itu, so what’s the point of being attached to one particular house.

Itu juga mungkin sebabnya saya gak berminat menjalin pertemanan akrab dengan para tetangga. Ya kalau ketemu atau papasan sih cukuplah dengan tersenyum dan berbasa-basi sepatah dua patah kata. Tapi ya udah, itu aja. Lagi-lagi sepertinya tanpa sadar settingan diri saya, gak usahlah berakrab-akrab terlalu jauh karena toh somehow someday saya akan meninggalkan lingkungan lama dan harus beradaptasi dengan lingkungan baru.

I think that made me a bit cold person. Kasian, ya. :( Ah gak juga, biasa aja.

Coba aja ya, udah berapa kali saya pindah-pindah seumur hidup ini… perhatian… ini bakal jadi postingan yang panjaaaaang kali lebar. Jadi siap-siap cemilan ya!

  • Pasir Kaliki, awal tahun 1980-an

Seingat saya waktu itu saya TK, dan masih pulang pergi dari sekolah naik becak ke rumah kakek di daerah Pasir Kaliki. Tepatnya di jalan Garunggang. Waktu itu saya dan ibu dapat jatah satu kamar. Bibi saya dan anaknya tinggal di kamar sebelah. Rumah itu cukup besar, dan secara penghuninya amat sangat banyak, pastinya selalu ramai.

  • Linggawastu, awal tahun 1980-an

Ini di daerah Wastukencana. Rumah saya waktu itu ada di sebuah gang di jalan Linggawastu. Saya ingat ada Hotel Trocadero pas di belokan jalan. Ibu saya dulu sering nebeng nelpon di sana, karena masih belum ada wartel atau telepon umum pinggir jalan. Saya juga ingat beberapa kali karena gak ada pembantu, saya dikunci dari luar selama ibu saya pergi kerja. Di rumah ini pertama kalinya saya kesetrum karena mainin kabel, dan sejak itu saya kapok mainin kabel sembarangan. Yang paling saya suka dari rumah ini adalah bak mandinya gedeee… atau ukuran saya waktu itu emang mini ya?? Bisa banget buat saya nyemplung dan pura-pura berenang dari ujung ke ujung bak mandi :D

  • Saninten, masih sekitar awal tahun 1980-an

Ini di daerah sekitaran jalan Riau. Seingat saya, dulu di depan rumah saya ada 2 anak perempuan Cina yang pintar sekali main piano. Namanya Maureen dan Fani. Tapi mereka jarang main ke luar rumah. Lalu mereka pindah entah ke mana. Oh ya, daerah saya ini juga banyak orang Ambonnya. Suatu kali ada perayaan Natal dan Om Ambon ini jadi Piet Hitam bawa-bawa karung dan sapu lidi. Katanya mau cari anak nakal untuk dimasukkan ke dalam karung. Ini pertama kali saya tahu ada karakter Piet Hitam di acara Natal. Setahu saya cuma Sinterklas aja. Ini rumah kontrakan favorit saya, karena lingkungannya adem, banyak pohon, dan sepertinya saya banyak mempraktekkan ilmu detektif ala lima sekawan dan trio detektif di rumah ini. Misalnya aja, jendelanya kan berteralis, tapi saya bisa nyelusup di antara teralis untuk bisa masuk ke rumah, dan itu rasanya heroik banget. Apa sih..  Yang saya gak suka dari rumah ini adalah adanya sumur mati di kamar mandi. Sumur itu serem banget. Untung saat itu belum ada filmnya Sadako, kalau ada mungkin saya gak mau tinggal di sana karena ketakutan. Walaupun sebetulnya saya terhitung pemberani, lho. 

  • Budi Raya, pertengahan tahun 1980-an

Ini dia.. si rumah KPR pertama. Rumah ini ada di daerah Gunung Batu. Dekat pintu masuk Tol Pasteur sekarang. Tapi dulu, wuiihh… akses ke sini sungguh sulit luar biasa. Pulang sekolah saya harus naik angkot ke stasiun hall. Dari sana naik lagi angkot yang arah Cimahi. Turun di leuwigajah yang sejak dulu pun udah macet luar biasa, disambung dengan naik… delman! Saya sih seneng-seneng aja bisa naik kuda setiap hari, masalahnya adalah si delman ini akan melewati turunan yang menikung tajam dan berbatu-batu. Mengerikan. Sebaliknya kalau pergi sekolah, turunan ini akan jadi tanjakan berbatu-batu yang menyebabkan si kuda biasanya dipecut habis-habisan supaya gak berhenti di tengah jalan. Kasihan si kuda. Kalaupun ibu saya jemput ke sekolah naik motor, biasanya di tengah jalan saya bakal ketiduran saking jauh dan panasnya. Ibu saya sering banget ditegur sesama pemotor yang khawatir dengan keselamatan saya. Trus, saya dicubit dong, supaya bangun… -_-’

  • Batik Ayu, akhir tahun 1980-an

Di sini ibu saya nyewa 1 kamar. Bentuknya rumah biasa. Jadi agak aneh dong ya, saya seolah-olah tinggal dengan satu keluarga lain. Kamar itu hanya bisa nampung satu kasur besar untuk saya dan ibu saya, satu lemari, satu meja belajar, meja rias, dan beberapa rak untuk simpan barang. Kamar mandi ada tepat di luar kamar saya. Di kontrakan ini saya pernah dimarahi ibu saya gara-gara saya dan cucu pemilik rumah main-main ke dalam kamar anak pemilik rumah yang belum nikah. Gak lama si tante yang saya lupa namanya itu bilang kalau dia kehilangan uang 10ribu di kamarnya itu. Dan saya jadi tertuduh utama. Ih, kenapa juga dia gak nuduh keponakannya sendiri coba! Waktu itu saya jengkel dan kesal luar biasa karena jadi tertuduh, dan sepertinya orang-orang, bahkan ibu saya gak percaya kalau saya sama sekali gak ambil uang itu. Saya udah pengen mewek aja, tapi saya pura-pura cool. Saya tetap pasang ekspresi tenang dan tanpa emosi.  Karena menurut pikiran saya saat itu kalau saya sampe nangis, berarti saya ‘kalah’. Whatever that means. Hahaha, sepertinya defense mechanism saya waktu itu udah mulai terasah. Belakangan si tante itu bilang kalo uangnya ketemu di kolong tempat tidurnya. Tapi saya udah ogah kalau diajak masuk lagi ke kamarnya, dan gak mau lagi bermanis-manis dengan si tante itu.

  • Saninten lagi, akhir tahun 1980-an

Kembali ke rumah favorit. Entah gimana ceritanya kok bisa, pokoknya saya senaaaaaaaang… :) dari sini jarak ke sekolah saya di jalan Sumatera gak terlalu jauh. Kalau gak kebagian angkot, saya seriiiiiing banget jalan kaki dari sekolah ke rumah, atau dari rumah ke sekolah. Biasanya saya akan ambil rute yang berbeda-beda biar gak bosen. Lalu sambil jalan kaki saya mengkhayal sedang jadi George yang lagi mencari jejak di Lima Sekawan, lengkap dengan anjing khayalan, si Timmy. Trus kalau bosan dengan rute jalan raya, saya sok-sok menyelidiki jalan pintas berupa selokan-selokan yang tembus antar jalan. It was fun! Padahal kalo dipikir-pikir sekarang mah gak mungkin deh saya bakal ngebiarin anak saya untuk begitu juga :P Takut diculik euy…. 

  • Cikutra Barat, awal tahun 1990-an

Saya sedih bukan main karena harus meninggalkan Saninten. Tapi apa daya, rumah itu rupanya sudah dibeli oleh ipar ibu saya, dan akan dijadikan kantor. Jadi kami gak bisa tinggal di situ lagi. Dari rumah yang menyenangkan di Saninten, kami kembali menyewa separuh rumah di kawasan ini. Kenapa separuh? Karena si pemilik rumah, yang diwakili adik pemilik rumah, berkuasa atas ruang tamu, dua kamar tidur, dan ruang makan. Sementara separuh lagi yaitu dua kamar tidur tambahan berukuran super mini, ruang duduk yang berhadapan langsung dengan garasi mobil, jadi ‘hak’ kami. Sementara dapur, kamar mandi, ruang setrika, jadi milik bersama walau aksesnya harus melewati ruang duduk kami. Awalnya saat yang mendiami rumah utama hanya adik pemilik rumah, situasinya cukup menyenangkan. Tapi beberapa tahun kemudian, setelah ibu saya merenovasi salah satu kamar mandinya yang jadul jadi kamar mandi yang lebih acceptable, pemilik rumah yang baru saja pensiun memutuskan tinggal di rumahnya itu. Lengkap dengan nyonya rumah, dan tiga anaknya. Mendadak rumah itu jadi penuh sesak. Walau anak lelaki si pemilik rumah lumayan ganteng di mata saya saat itu, hehehehe… Saya sempat mengalami momen romantis dengan si ganteng yang mengajari saya main layangan di atas genteng :P  

  • Gang Mama Gandawiria, awal tahun 1990-an

Rumah ini ada di daerah Cihampelas. Jarak ke sekolah saya sangat dekat. Hanya tinggal nyebrang. Bahkan bel masuk sekolah pun kedengeran dari rumah. Pemandangan dari tempat jemuran langsung mengarah ke kerimbunan pepohonan Kebun Binatang Bandung. Kalau angin sedang senyap, kadang-kadang saya bisa dengar suara monyet dan orangutan yang sibuk aa-uu-aa-uu di kandangnya di sana. Karena dekat dengan sekolah, rumah ini seriiiiiiiiiiing banget jadi tempat nongkrong geng saya di sekolah. Isi gengnya hampir separuh kelas, jadi bisa kebayang dong gimana ramenya. Ibu saya beberapa kali ngomel dan komplen gara-gara makanan di rumah langsung habis karena saya pakai menjamu mereka. Lagian ngapain juga pake dijamu, ya? Kan bukan tamu, hehehehe. Bahkan saking deketnya, beberapa kali rumah saya juga dipake buat presentasi temen saya yang ikutan MLM Amway. Saking terobsesinya dengan Amway, halaman belakang kalender di ruang tamu saya yang dia corat-coret untuk ngejelasin Amway-nya itu gak boleh disobek. Saya mau aja rumah saya dipake presentasi teman saya itu, dengan syarat dia gak boleh nawarin atau maksa saya join Amway-nya itu. Hahahaha…. Oh well.. pada akhirnya ibu saya memutuskan untuk pindah dari rumah ini karena tiap tahun sewanya selalu naik. Dan kalau telat bayar walau telatnya hanya satu hari, si ibu pemilik rumah bakal langsung datang gedor-gedor. Ishh… sebel banget deh ama ibu itu :(

  • Cipayung, pertengahan tahun 1990-an

Sekali lagi kami nyewa separuh rumah. Bentuknya seperti paviliun, tapi sebetulnya hanya ruang tamu dan kamar ibu saya saja yang sifatnya ‘privat’. Kamar saya, ruang makan, dapur dan kamar mandi hanya dipisahkan triplek saja dengan rumah utama. Pemilik rumah adalah janda dengan 4-5 anak. Di rumah ini saya pertama kalinya pulang malam, alias midnight gara-gara mulai jaman demo. Bahkan pernah saya pulang tengah malam dan gak dibukain pintu sama ibu saya. Terpaksa saya balik lagi ke rumah teman tempat rapat demo sebelumnya diadakan. Lama-lama mungkin si pemilik rumah begah ya, liat saya pulang malem terus, dikiranya saya mejeng di jalan kali..   akhirnya dia beralasan anaknya yang sudah menikah mau tinggal di paviliun, jadi kami gak bisa perpanjang kontrak. So, terpaksa kami hunting rumah baru. 

  • Terusan Pahlawan, akhir tahun 1990-an

Rumah ini agak menyebalkan karena di rumah ini saya sempet kemalingan sampe 3x. Compo stereo, TV, abis dehh.. Waktu itu udah curiga sama tetangga sebelah karena loteng tempat jemur baju kami walau dipisah tembok, tapi kalo nekat jalan meniti genteng bisa aja tuh trespassing. Saya pernah praktekkin soalnya. Haha… lulusan sekolah khayalan trio detektif nih.. :P Tapi ga ada yang percaya omongan saya. Termasuk Pak RT-nya. Dia malah pake ngancem secara halus, katanya kalo urusannya dibawa ke polisi, dia lepas tangan. Iiiihhh maksudnya apa coba?? Gak lama rumah tetangga saya itu digerebek polisi karena dicurigai sebagai tempat penadah alat komputer kalo gak salah. Tuuuhh kaaaaan, saya bilang juga apa! Eniwe, rumah ini pada akhirnya juga ga bisa diperpanjang kontraknya. Si pemilik bilang sih rumahnya mau dipake. Tapi gosipnya sih tetangga sebelah saya yang satunya udah lama banget ngincer rumah ini untuk perluasan usaha pijatnya. Iya, tetangga saya yang satunya buka usaha panti pijat tuna netra yang makin lama makin laris. Dia butuh kamar lebih banyak untuk pasien yang datang. Termasuk untuk rumah tinggal. Jadi dia berani bayar kontrakan lebih mahal daripada ibu saya. 

  • RM, awal tahun 2000-an

Rumah ini ada di sebuah jalan buntu, di daerah dekat Taman Makam Pahlawan Cikutra. Dekat dengan kantor ibu saya, dan ga jauh juga dari kantor saya saat itu. Bisa dibilang lokasinya sangat strategis. Belum lagi jaraknya ke rumah ipar ibu saya hanya 5 menit jalan kaki. Ada di belakang masjid. Perfecto deh. Ibu saya betah banget di rumah ini. Malah kalo dijual, ibu saya mau lho beli. Sayangnya menurut pengurus rumah, rumah ini adalah aset pemilik rumah. Di jalan itu saja ada sekitar 8 rumah yang disewakan, dan semuanya itu adalah aset usaha yang gak mungkin dijual karena untuk ngurusin rumah-rumah yang disewain aja sampe ada kantor dan pegawai sendiri. Keuntungan lain rumah ini, karena ibu saya dianggap ‘pengontrak lama’, harga sewa pun masih harga lama :)  

  • Kost Guru Mughni – Jakarta, pertengahan tahun 2000-an

Karena saya ditempatkan di Jakarta, saya meninggalkan rumah di jalan RM dan menyewa satu kamar di jalan Guru Mughni. Tapi di tempat ini saya hanya bertahan dua minggu saja. Gak betah, karena saya sendiri di lantai bawah, lalu lantai atas dihuni sejumlah laki-laki. Uh, syerem!

  • Kost Tante Tina – Jakarta, pertengahan tahun 2000-an 

Akhirnya saya dapat kost dekat kantor. Hanya tinggal jalan kaki aja. Kamarnya keciiiil sekali dengan kamar mandi dalam. Kecil-kecil begitu harga sewanya muahhhaaall. Yahhh, anggap saja sebagai pengganti biaya transport. Kost-an ini lebih mirip rumah burung saking kecil, banyak, dan kecilnya. Di akhir tahun 2000-an bahkan saya pernah harus mengungsi karena kebanjiran. Kost saya kebanjiran sampai ke pinggang. Tapi setelah kebanjiran saya gak pindah kost. Tetep aja di situ. Habis lokasinya strategis banget. Deket kemana-mana. 

  • Petakan Gang Aren – Jakarta, awal tahun 2011-an

Beruntung banget bisa dapet rumah petakan di sini. Pertama, jaraknya tetap dekat dengan kantor, walau gak sedekat Kost Tante Tina. Kost Tante Tina mah unbeatable untuk masalah dekat dengan kantor. Kedua, letaknya ada di gang buntu, paling ujung. Hanya penghuni yang keluar masuk. Jadi anak saya cukup aman kalau dia main-main di depan rumah. Ketiga, lokasi yang dekat kemana-mana. Apalagi ke mall. Ambassador, Kuncit, Plangi, PP, FX, PS, Sency, GI, PI, apalagi Lotte Avenue, semua ada dalam jangkauan. Keempat, bebas banjir. Kekurangannya, seiring waktu anak saya tambah besar dan makin geratakan, rumah petakan ini gak lagi sesuai. Terlalu sempit. Makanya belakangan anak saya makin sering main di luar rumah supaya lebih bebas main. Kekurangan yang lain apalagi kalau bukan harga sewanya yang mahal. Lebih mahal daripada cicilan KPR saya. Beuh…

  • Back to RM – Bandung, akhir tahun 2013-an

Karena saya mengajukan mutasi, akhirnya saya kembali ke Bandung. Kembali ke RM. Kali ini berbagi rumah dengan ibu saya. Kami sama-sama beradaptasi karena selama di Jakarta saya punya aturan rumah sendiri, dan selama saya di Jakarta pun ibu saya mengatur rumah sekehendaknya sendiri. Apakah saya rindu rumah di Gang Aren? Tidak. Seperti saya bilang  di atas, saya tidak lagi merasa attached dengan tempat tertentu. Tapi rupanya anak saya agak homesick. Dia masih sering berucap ingin ke Jakarta. Ingin main dengan cucu pemilik rumah di depan rumah. Ingin ke Lotte. Ingin ke Ambassador. Kasihan… malah pernah suatu malam dia mengigau, katanya besok dia ingin ke Jakarta dengan saya…

Saya pernah baca entah di mana, katanya anak-anak rentan stres saat menghadapi perubahan besar dalam hidupnya. Perubahan apa saja? Misalnya bergantinya pengasuh, potty training, pindah rumah, munculnya adik baru, serta masuk sekolah. Saya tidak ingin anak saya mengalami perasaan terasing seperti yang pernah saya hadapi dulu saat saya kecil. Makanya, saya ingin dia beradaptasi dengan masalah pindah rumah ini dulu, sebelum potty training dan masuk sekolah. Rencana untuk pindah rumah (lagi!) ke daerah Bandung Barat pun terpaksa ditunda entah sampai kapan. Dan setelah itu, semoga saya tidak lagi menjadi kontraktor… Sudah capek!

Petisi Yang Membuat Perubahan

Posted by on Monday, 13 January, 2014

Pernah dikirimi ajakan untuk menandatangani sebuah petisi?

Saya sering. Mulai dari ajakan untuk menolak menyantap daging hiu, menolak bullying di sekolah, hingga ajakan menolak diskriminasi bank pada tuna netra.

Kebanyakan petisi yang menyangkut hidup masyarakat luas, ataupun yang berhubungan dengan kemanusiaan, biasanya saya tandatangani dan sebarkan. Tapi ada juga sih petisi yang ‘rasanya’ gak sreg di hati saya, gak saya apa-apakan :P Boleh dong, milih petisi mana yang mau kita sign atau kita tolak?

Memutuskan untuk turut serta dalam satu petisi, dan kemudian menyebarkannya menurut saya memang tergantung kata hati. Ya kalau kita gak merasa “klik” dengan isi petisinya, bagaimana mau mempertanggungjawabkan ‘suara’kita dalam petisi itu, belum lagi menyebarkannya pada lingkaran pertemanan.

Saat awal menandatangani petisi, terkadang ada perasaan “ah, masa sih suara saya bisa memberi pengaruh?” atau muncul perasaan pesimis “ah, bikin kayak beginian doang apa iya bakal didengar? Apa iya ada imbasnya? Apa iya bakal ada perubahan?”.

Ternyata… ada! Wooowww… Mejik!

Dari sekian banyak petisi yang turut saya tandatangani dan sebarkan sepanjang tahun 2013 lalu ternyata cukup banyak petisi yang berhasil membuat perubahan besar!

Berikut saya kutipkan laporan dari change.org :

1.       www.change.org/Daming
Ini petisi yang menolak mendukung  calon hakim agung yang membuat candaan soal korban perkosaan.
Petisi ini menolak diskriminasi salah satu layanan airlines pada pengguna kursi roda. Hasilnya? Airlines tersebut mengubah pelayanannya pada penyandang disabilitas.
Petisi ini berhasil mengubah kebijakan salah satu bank terbesar di Indonesia atas pelayanan terhadap penyandang tuna netra.
Petisi ini berhasil membuat walikota saat itu—Dada Rosada menarik kembali ijin pendirian bangunan komersial di hutan kota Babakan Siliwangi Bandung.
Petisi ini berhasil membuat Walikota Depok batal menggusur sekolah Masjid Terminal di Depok.
Petisi yang berhasil membatalkan ijin Gubernur Bali untuk komersialisasi Taman Hutan Raya di Bali selama 75 tahun ke depan.
Pendirian Pabrik baja di Trowulan,  dulu pernah menjadi ibukota Majapahit, berhasil dibatalkan karena petisi ini.
Pengerukan ikan dengan bom laut yang merusak terumbu karang di Kepulauan Mentawai makin meraja lela, dan petisi ini berhasil menarik perhatian hingga tingkat internasional. Akhirnya, nelayan luar yang mencoba melakukannya lagi ditangkap dan diadili.
9.       www.change.org/SOSharks
Untuk menyelamatkan populasi hiu yang kerap dibunuh hanya untuk diambil siripnya, akhirnya Garuda Indonesia pun ikut menghentikan 36 ton kargo produk hiu per tahun.

Wow… ternyata mamak-mamak macam saya bisa ikut bersuara dan membuat perubahan! Ciyeeeehhh… gaya kali pun… Semoga di tahun 2014 ini makin banyak suara yang bersatu, dan bisa membuat perubahan yang lebih baik!

Ingin ikut menandatangani petisi? Klik saja http://www.change.org/id

Yuk mareeeeeeee… kita buat perubahan :)

Wishlist 2014

Posted by on Thursday, 9 January, 2014

Gak kok, gak bakalan bikin resolusi ina inu. Males. Soalnya biasanya juga ga bakal dikerjain. Jadi cukuplah dengan bikin wishlist apa aja yang pengen dilakuin di tahun 2014 ini. Lho, apa bedanya? Mmm… coba deh, temukan 5 perbedaannya, ntar kalo ketemu jangan lupa lapor saya :P ada hadiahnya lho! Ciyus!

  • Pengen ngerayain ultah si Kunyil

Selama ini sih kalo dia ultah cukuplah dengan beli kue kesukaan saya, bungkus beberapa kado, voila! Jadi deh acara ultahnya :P tinggal nyanyi keras-keras sambil tepuk tangan, si Kunyil udah hepi berat tuh tampaknya. Tapi sekarang dia udah tau tuh namanya Birthday Party. Malah sejak bulan lalu hampir tiap hari ngomong “Mau birthday party, Ibun… mau presents..” trus disambung dengan nyanyi Happy Birthday To You buat dirinya sendiri -_-”

  • Pengen ikutan kelas Pilates

Secara yah badan ini makin melebar ke pinggir dan bikin saya makin kerepotan nyari baju, yang kalaupun muat kok ya saya malah mirip banget ama ongol-ongol saking lebarnya, jadi saya pengen olahraga biar langsing. Iya, olahraganya biar langsing, kalo jadi sehat itu mah bonusnya :P *tampak ada kesalahan cara berpikir nih. Tapi mau olahraga apa? Saya benci lari, jadi walo lagi heittss banget tapi kalo mesti lari-lari mah hoream pisan. Nge-gym kayak dulu, ah tempatnya rada jauh. Mau ikutan senam ala ibu-ibu komplek, jadwalnya gak ada yang cocok. Yoga juga sami mawon. Masa jadwal yang bisa cuma sekali seminggu :P Yes, I am good at making excuses… Tapi pas lewat jalan Bengawan, ada Studio Pilates di situ, dan entah kenapa saya tertarik banget pengen ikutan kelasnya. Masalah harga, jadwal, dan sebagainya belum tau nih. Udah saya email studionya masih belum ada respon.

  • Pengen sekolah lagi

Iya nih. Saya mesti nge-charge diri sendiri. Persaingan makin kuat nih. Kalo saya gak tambah pinter, bisa kalah ama yang mudaan. Akuh ga mau kalaaaaah…. Jadi saya pengeeen banget bisa sekolah lagi. Yang deket aja dari rumah, jadi ga usah ninggalin si Kunyil kelamaan. Nah, ini berarti saya mesti pinter-pinter ngatur anggaran, jangan sampe ganggu Dana Pendidikan si Kunyil. Masa iya saya sekolah lagi tapi malah ngorbanin sekolah dia? Pan gak mungkin… So far sih saya agak lega karena DaPend si Kunyil buat masuk PG/TK udah siap. Tinggal mikirin DaPend level berikutnya. Termasuk DaPend saya sendiri.. *sibuk ngintip NAB Reksadana

Sementara wishlistnya dibatasin ampe tiga aja nih. Nanti kalo salah satunya terwujud, baru deh nambah wishlist yang baru :)

Doakan semoga berhasil yaaaaa… Aamiin…

Goodbye 2013

Posted by on Tuesday, 31 December, 2013

Yaaakk… tutup buku niiihhh… siap-siap buang kalender lama dan pasang yang baru. Betewe, di sini kok gak kebagian kalender kantor yah? Hiks… padahal di kantor lama bisa kebagian paling nggak 5 biji lho… pan lumayan buat dibagi-bagi di kampung.

Hal paling pertama yang saya inget… gagal deh target saya untuk baca 50 buku dalam setahun ini :P padahal jumlahnya udah didiskon setengahnya tuh, karena pas awalnya ambisi banget mau baca 100 buku dalam setahun. Nyatanya… hihiiiiiyyy hanya tercapai 82% saja alias kurang sembilan buku lagi buuu…

Dan hal yang kurang menyenangkan lainnya adalah di akhir tahun ini kami sekeluarga sakit bergiliran dan karenanya gak bisa hang out di Car Free Night Dago… Huaaaaaaa… Sedih sekali :( (((( Lagian kata dsa-nya si Kunyil, semua yang pindah ke Bandung pasti awalnya sakit dulu.. heyeuuhhh, mungkin maksudnya karena proses adaptasi dari kondisi di Jakarta yang puanas membara dengan Bandung yang anginnya dingin ngahiliwir, pleus airnya yang kayak air kulkas.

Well… lupakan saja segala kemalangan yang terjadi di 2013. Sekarang mari kita syukuri semua kegembiraan dan kebahagiaan yang sudah Allah berikan.. :)

Misalnya sewaktu jadi Finalis Srikandi Blogger. Wuiiiihhh seneng banget! Emang sih, gak lolos ke 10 Besar. Tapi, jadi finalisnya pun udah bikin jejingkrakan… Sayangnya saya masih aja tuh males apdet blog di sini ataupun di blog emak :P

Trus, waktu di-acc untuk ikutan Kelas Financial Planner yang bayarnya mahal banget itu :P Waaahhh… akuh senang luar biasa! Dapet ilmu canggih, dan gak perlu bayar itu kan sesuatu banget! Yaelah, ini istilah oldies masih dipake aja…  Sekarang saya resmi punya sertifikat Para Planner :) Hihihi, emang sih belum punya sertifikat RFC, nantilah saya ikutan lagi kelas Intermediatenya… nabung dulu! Secara kalo sekarang saya gak yakin bakal dibayarin lagi ama kantor :P

Trus, lainnya yang menyenangkan adalah waktu diminta bikin artikel tentang online shopping. Kenapa menyenangkan? Ya karena selain ada rewardnya yang kepake banget, juga karena ini emang pengalaman yang saya alamin, kok. Gak ngayal, gak mengada-ada, bukan sekadar iklan basa-basi demi dapetin ini itu.

Trusssssss, apalagi ya? Oh iyaaaa… di tahun ini juga saya bersyukuuuuuur banget bisa mewujudkan cita-cita ngajak trip keluarga ke Bali. It was fun! Dan semoga di tahun depan gak ada halangan untuk keluarga mertua ikutan seperti di tahun ini.

Ah, intinya sih… Alhamdulillah untuk hidup saya di tahun ini, ya Allah… :)

Besok pasti deh saya bakal bikin daftar gak penting tentang apa yang saya pengenin di tahun 2014. Hihi… macam anak abegeh aja ya… :P well.. old habits never die! 

Sooo… selamat menikmati malam tahun baruan, ya!

Rest in Peace : Nelson Mandela

Posted by on Friday, 6 December, 2013

I learned that courage was not the absence of fear, but the triumph over it…. The brave man is not he who does not feel afraid, but he who conquers that fear.

Ada saat di mana saya tidak suka Nelson Mandela. Pertama kali saya mendengar namanya adalah ketika muncul berita bahwa ia bercerai dengan Winnie Mandela, istrinya, setelah ia keluar dari penjara. Dalam pikiran saya saat itu: ih, kok tega banget sih cerai dengan istri yang tetap setia menemani saat Mandela menghabiskan 27 tahun di penjara. Dasar cowok!

Yeahh… itu sebelum saya baca kalo Winnie Mandela ternyata terlibat kasus aneh-aneh…

Dan kemudian saya terkejut saat baca Nelson Mandela melakukan rekonsiliasi demi membangun Afrika Selatan yang lebih baik.. *lho, kok kayak kampanyenya siapa ini ya?*

Yang pertama kepikiran, ihhhh kok mau-maunya sih rekonsiliasi sama pihak yang udah menjarain dia puluhan tahun? Ama sipir-sipir penjara yang dulunya nyiksa dia? Kok bisaaaaaaa???

Yang kedua kepikiran, wuiiihhh… berarti Nelson Mandela ini punya hati seluas samudra ya, untuk bisa melakukan rekonsiliasi dengan konsisten. Mulia sekali hatinya!

Makanya saya terkagum-kagum banget ama kebesaran hatinya. Memaafkan mereka yang merampas kemerdekaannya, memaafkan mereka yang menyiksanya. Hadeeeuhhh saya mah ga bisa.. masih suka gondok dan cari celah kalo misalnya dicela orang, masih suka pundungan kalau apa yang direncanakan ‘dirusak’ sama orang lain… *eh, ini kenapa jadi curcol ya?* Pokoknya mah luar biasa bangetlah Pak Nelson! *Ciyeeeeh… sok ikrib bingit..*

Dan pola rekonsiliasi juga telah ditiru Timor Leste. Mereka memilih untuk tidak memperpanjang soal masa lalu, melainkan membangun diri dan bangsa mereka, untuk menjadi negara yang maju dan berdaulat. Seperti yang pernah dikatakan Xanana Gusmao pada saya suatu hari: “Indonesia adalah tetangga terdekat kami, maka yang harus kami lakukan adalah rekonsiliasi.”

Ah well, di mata saya Nelson Mandela telah menaklukan dirinya sendiri, dan karenanya ia telah mewariskan hal yang rasanya sudah hampir punah: Keberanian dan Pengampunan.

Selamat jalan, Madiba!

Move On

Posted by on Tuesday, 22 October, 2013

Sebelumnya tidak pernah terpikir sama sekali untuk kembali ke kota kelahiran saya. Dengan senang hati saya mulai melupakan kota itu. Tidak terlalu sering mengunjunginya lagi, karena saya tidak ingin diusik rasa sakit.

Ya, Kota Kembang menyisakan banyak kenangan yang ingin saya lupakan. Jika saya harus kembali ke sana, akan sangat sangat sangat sulit bagi saya.  Di hampir di setiap sudutnya pernah ada kisah yang tidak ingin saya ingat.

Tapi sekali lagi karena ada tanggung jawab yang harus dilakukan, saya harus beranikan diri untuk melupakan semua cerita pahit dan terus bergerak maju. I must move on. 

Ini akan menjadi pertarungan saya melawan diri sendiri. Melawan masa lalu.

Bismillah…

2013 Reading Challenge

Posted by on Wednesday, 14 August, 2013

Awal tahun ini saya menantang diri sendiri untuk tetep rajin baca buku. Soalnya makin lama saya makin jarang baca buku. It’s a bad thing, isn’t it?

Salah satu cita-cita saya kan pengen punya anak yang rajin baca karena konon kabarnya buku itu jendela dunia. Nah, gimana mau punya anak rajin baca kalau saya gak ngasih contoh? Ya kan? Ya kan? Ya kaaaaannnn??

So saya bikin target baca dengan jumlah yang ternyata cukup ambisius. 100 buku dalam setahun!

Pas netapin angka segitu sih, dalam pikiran kebayangnya: ah… CUMA 100 mah gampil banget.. dan ternyata sampai menjelang akhir tahun saya masih belum nyampe setengah dari target!

Ihiy… jadi setelah melakukan introspeksi pada hari raya, saya memutuskan untuk menurunkan target ambisius itu tadi.

Targetnya jadi 50 aja mamiiiihhhh…. :D

Secara ART pun malah gak balik lagi, dan si kunyil makin aktif aja, yang mana mengakibatkan saya makin kelimpungan nyuri waktu untuk baca buku.. kecuali bacain buku Goodnight Moon kesukaan si kecil menjelang dia bobok malem-malem.

Semoga diskon target 50% ini bisa dipenuhi, ya… hehehe… soalnya kan kalau targetnya tercapai saya akan menghadiahi diri sendiri dengan sesuatu yang saya sukai… halah, ini mah modus banget!

Oh ya, thanks banget buat Sondang yang udah ngasih tau ada buku keren berjudul Goodnight Moon :) Si Kunyil sukaaaaaaa banget ama bukunya!

 

Protected: He passed away… and no one tell me…

Posted by on Thursday, 16 May, 2013

This post is password protected. To view it please enter your password below:


Nobody Knows (Pink)

Posted by on Wednesday, 8 May, 2013

Yep. Saya suka deh dengan penyanyi satu ini. Pertama kali liat Pink tuh waktu dia nongol di Emtivi dengan lagu Most Girl. Dueeengggg… buat yang udah liat klip musiknya, tau dong, gagak perkakas banget dia ya :D suka deh, dengan gayanya. Kayaknya pesan bahwa cewek tuh harus kuat dan gak menye-menye tuh nampol banget di kepala saya yang saat itu masih sekolah dan kinyis-kinyis :) ..and when was that, about 20 years ago?? 

Tapi walo sekarang saya udah gak kinyis-kinyis lagi, tetep kok saya suka ama Pink. Banyak banget lagu-lagunya yang bikin saya ngerasa “gue banget, nih!”. I feel connected. She understood me so well.

Salah satunya yang satu ini. Mau mewek aja pas liat klipnya di sini.

Yang mau ikutan nyanyi, ini contekannya :)

Nobody knows
Nobody knows but me
That I sometimes cry
If I could pretend that I’m asleep
When my tears start to fall
I peek out from behind these walls
I think nobody knows
Nobody knows noNobody likes
Nobody likes to lose their inner voice
The one I used to hear before my life
Made a choice
But I think nobody knows
No no
Nobody knows
No

Baby
Oh the secret’s safe with me
There’s nowhere else in the world that I could ever be
And baby don’t it feel like I’m all alone
Who’s gonna be there after the last angel has flown
And I’ve lost my way back home
I think nobody knows no
I said nobody knows
Nobody cares

It’s win or lose not how you play the game
And the road to darkness has a way
Of always knowing my name
But I think nobody knows
No no
Nobody knows no no no no

Baby
Oh the secret’s safe with me
There’s nowhere else in the world that I could ever be
And baby don’t it feel like I’m all alone
Who’s gonna be there after the last angel has flown
And I’ve lost my way back home
And oh no no no no
Nobody knows
No no no no no no

Tomorrow I’ll be there my friend
I’ll wake up and start all over again
When everybody else is gone
No no no

Nobody knows
Nobody knows the rhythm of my heart
The way I do when I’m lying in the dark
And the world is asleep
I think nobody knows
Nobody knows
Nobody knows but me
Me

Ehtapi ga usah ikutan mewek lho :) Just like she sang in her other song,  just because it burns doesn’t mean you’re gonna die. You’ve gotta get up and try, and try, and try…

Wish..

Posted by on Wednesday, 24 April, 2013