Si Kunyil dan Brokoli

Suatu hari, si Kunyil diajak Bunda pergi ke supermarket. Di sana Bunda membeli daging, sirih, seledri, paprika, buah pir, baby corn, diapers, dan brokoli.

Rupanya si Kunyil senang sekali pada brokoli. Si brokoli teruuuuus dipegang-pegang. Sewaktu Bunda mau memasukkan brokoli ke dalam keranjang belanja, si Kunyil marah. Marrrrraaaaaah besar!

Si Kunyil menangis berlinang air mata. Menjerit-jerit sampai terdengar ke ujung supermarket. Bunda sih pura-pura cool aja. Coba menukar si brokoli dengan jagung, eh ditolak. Ditukar dengan paprika, si Kunyil makin kencang meweknya. Ditukar dengan sebungkus buah pir, dilempar seplastik-plastiknya.

Hidiiiiihhhhhhh…

Bukannya si Kunyil gak boleh mainin brokoli. Tapi itu bungkus plastik brokolinya ditusuk-tusuk sampai bocel gitu, trus bonggolnya digigitin… Kan takutnya kotor… -_-”

Tapi demi pencitraan ketenangan dan kenyamanan para pengunjung supermarket, akhirnya Bunda biarin deh si Kunyil pegang brokolinya. Walau sempat terjadi tragedi nangis-nangis lagi sewaktu si brokoli di-scan di kasir.

Ngok!

Baiklah, Bunda mengalah. Sambil tersenyum Bunda berkata:

Anak pinter, brokolinya pegang terus sampai ke rumah, ya.. Kalau dibuang kan sayang.. harganya mahal…

Dan ternyata si Anak Pintar itu betul-betul pegang brokolinya dengan selamat sampai ke rumah.Tapi masih tetap gak boleh dipinjam siapapun. Diminta Ayah, gak boleh. Diminta NinA juga gak boleh.

Akhirnya Bunda membawa si Kunyil berikut brokolinya ke depan kulkas. Pintu kulkas dibuka, dan Bunda berkata:

Nak, brokolinya kita simpan sama-sama di dalam kulkas, ya.. Supaya gak rusak dan bisa dimakan besok.

Selamatlah si brokoli di dalam kulkas. Si Kunyil udah mau mewek sih, tapi karena dibujuk dengan cuci tangan, yang berarti juga main air, akhirnya ia lupa pada brokolinya.

Demikian dongeng tentang si Kunyil dan Brokoli.

Tamat.

dongeng kehidupan antah berantah

Alkisah di negeri antah berantah, seorang gadis diperlakukan bagai pajangan kristal luar biasa berharga. Kemana-mana selalu didampingi salah satu anggota keluarga. Bahkan ditetapkan tak boleh pacaran hingga usia 17.

Mungkin si gadis lama-lama begah. Hari gini gak bisa pacaran??? GAK BANGET. Dia tinggal di kota metropolitan di mana gadis bawah umur bisa berlaku sesuka hati. Orang tua yang biasa mengekang dilaporkan saja ke Komnas Perlindungan Anak, demi ijin pacaran bisa keluar segera.

Begitulah.

Si gadis lompat dari jendela kamar dan kabur dari rumah. Mengadu pada Komnas Perlindungan Anak bahwa ia telah diperbudak dan jadi tulang punggung keluarga di usia masih begitu muda. Tak hanya itu, bahkan ia sering dipukuli ibunya sendiri. Maka selamatkanlah anak malang ini, wahai KPA. Mungkin begitu kira-kira inti permohonan si gadis.

Para pendengar setia laporan “investigasi kasus dan masalah orang lain” di televisi tentu terhenyak. Kok ternyata sebegitu malang hidup si gadis berwajah boros imut-imut ini.

Apakah ia kabur karena dipaksa seseorang yang katanya pacarnya? Gadis itu menolak mati-matian. Ia keukeuh kabur karena kerasnya perlakuan dari orang tua. Apakah betul ia sering dipukuli orang tua? Giliran orang tua yang menyanggah kabar itu. Jadi berita mana yang benar dan mana yang bualan?

Setelah si gadis berhasil dijemput paksa keluarga, belakangan si gadis mulai bicara. Menyebut-nyebut nama seorang pemuda yang dituduhnya telah mempengaruhi cara berpikirnya, sampai ia berani lompat jendela, kabur dari rumah, hanya pamit pada anjing kesayangan, dan sempat tidur di kantor polisi sebelum ditampung di rumah penampungan sosial.

Hmm.. memangnya si gadis tak punya cukup kecerdasan otak untuk menyadari apa yang telah ia lakukan dan apa resikonya kelak, sehingga perlu menyalahkan orang lain untuk disalahkan?

Tidak hanya itu, bahkan surat cinta sang pemuda dibeberkan pula di media.

Sampai di sini cibiran saya pada drama si gadis yang tadinya tiga cm bertambah menjadi sembilan cm. Well, can you imagine how long is that?

Menurut saya sangat sangat sangat tidak sopan membeberkan surat yang bersifat pribadi pada khalayak ramai. Kalau pun si pemuda telah sangat bersalah pada si gadis, apa perlu dibalas dengan cara norak dan kampungan ini? Sampai-sampai isi surat cinta bisa dikutip dan dibaca seluruh dunia?

Sebelum si gadis mengarahkan telunjuknya untuk menyalahkan orang lain, saya ingin sekali menyodorkan cermin padanya. Lalu berkata: Inilah penjahat sesungguhnya…

*Kisah ini fiktif belaka. Kesamaan cerita, nama dan tempat hanya kebetulan.