Posts Tagged kenangan

Same old song…

Posted by on Monday, 13 July, 2015

Am not a big fan of Katy Perry. But then stumbled into this song and..

Protected: dream #10

Posted by on Friday, 10 July, 2015

This post is password protected. To view it please enter your password below:


Protected: first call after all these years…

Posted by on Friday, 10 July, 2015

This post is password protected. To view it please enter your password below:


Dysthymic Disorder

Posted by on Thursday, 9 July, 2015

The Circle

Posted by on Wednesday, 17 June, 2015

“We aren’t who we want to be. We are what society demands. We are what our parents choose. We don’t want to disappoint anyone; We have a great need to be loved. So we smother the best in us. Gradually, the light of our dreams turns into the monster of our nightmares. They become things not done, possibilities not lived…” by Paulo Coelho.

I was young and stupid. I didn’t know where to go or what to do. I spent my days without thinking first. I just want everyone to be happy, but I was forgetting me.  And days gone by and by and by. And here I am, regretting this and that. And here I am, promising myself not to let my daughter to relive the circle.

Protected: thank YOU

Posted by on Tuesday, 16 June, 2015

This post is password protected. To view it please enter your password below:


Antara P(e)luit dan Siul..

Posted by on Tuesday, 18 March, 2014

Seorang kawan dekat saya dulu, sebut aja namanya Bunga, eh.. jangan.. sebut aja namanya HH , pernah bilang kalau dia punya sodara tinggal di Jakarta. Saya lupa dulu itu kenapa tiba-tiba dia ngomongin Jakarta, dan kenapa juga dia teringat ama sodaranya itu.

Yang jelas, dia bilang sodaranya tinggal di daerah yang namanya Siul, Jakarta.

Saya yang udah beberapa kali ke Jakarta, yakin 80% kalo di Jakarta gak ada daerah yang namanya Siul.

Ada! *Si HH ini ngotot banget.

Gak Ada! Kata Saya dengan kadar keyakinan yang kok ya malah turun jadi 75%, soalnya agak keder ama HH yang keukeuh sureukeuh.

Adaaa!

Kalo mau ngedebat si HH ini emang kudu nyiapin argumen yang kuat. Saya mikir pelan-pelan *kayak kura-kura aja dan tetiba entah kenapa saya kepikiran nyambungin suara siulan dengan suara peluit, dan peluit agak-agak nyerempet nama daerah Pluit yang emang ada di Jakarta toh…?

Bukan Siul kali.. Pluit ya? Tanya saya curiga.

Trus ekspresi HH berubah jadi agak-agak tengsin gitu, bercampur gengsi.  Iyalah. Selama ini dia selalu bisa ngebantai abis argumen saya yang menurutnya jarang logis. Sedangkan saya? Hihihihi… kapan lagi bisa bersuka ria pesta pora ngeledekin HH, gegara dia lebih inget Siul dari pada Pluit cobak.. Hahahaha..

Hari itu saya puas banget bisa ngetawain HH…

~ Hei HH.. Miss your expression on that day! 

Saudade…

Posted by on Thursday, 6 March, 2014

Happy Birthday, Precious…

Posted by on Thursday, 30 January, 2014

Hari ini pukul sembilan tepat, tiga tahun yang lalu, kamu lahir, sayang…

Ibun sudah masuk rumah sakit sejak pukul 10 malam, karena pecah ketuban duluan. Kamu diperkirakan baru akan lahir dua minggu lagi. Makanya saat itu Ibun masih nyantai jalan-jalan di BIP, sekalian cari kado untuk acara akekah sepupuu, Kilau.

Eh, ternyata di perjalanan pulang ketuban ibun pecah. Maklumlah, jalan menuju rumah NinA memang rarenjul. Waktu itu kan walikotanya bukan Ridwan Kamil. Setiba di rumah sakit Ibun segera ditangani, dan dicek bukaan. Ternyata baru bukaan satu. Ibun diberi suntikan untuk mematangkan paru-paru kamu. Kata suster, kontraksi akan muncul makin sering dan makin kuat. Jadi sementara ini bunda harus istirahat dulu.

Sepanjang malam hingga pagi Ibun merasa mulas yang amat sangat. Bolak-balik ke kamar kecil sambil dituntun Ayah. Lalu mencoba pernapasan yang kelas senam hamilnya baru Ibun ikuti satu kali saja. Saat subuh bukaan baru tiga. Dan dokter Djoko menyatakan kalau sampai jam tujuh pagi masih belum nambah juga, Ibun harus diinduksi. Hasilnya? 

Induksi.

Dan mulasnya makin menjadi-jadi. Dan akhirnya sampai juga ke bukaan delapan. Sayangnya ibun sudah terlalu lelah menahan kontraksi sejak semalam. Hampir saja gak kuat. Namun Suster Imas dengan sigap naik ke atas kasur, meletakkan kepala ibun di pangkuannya, lalu membantu mendorong perut ibun dari atas.

Hari ini pukul sembilan tepat, tiga tahun yang lalu, kamu lahir, sayang…

Ibun love you to the moon and back. Semoga kamu diberi-Nya kesempurnaan nikmat dunia akhirat. Dijaga dan dijauhkan dari segala marabahaya, kejahatan, dan kekejaman makhluk-Nya. Menjadi anak sholehah yang jujur, amanah, dan menjadi kebanggaan keluarga. Memberi manfaat bagi sesama, dan memiliki integritas tinggi. Aamiin.

Pulang by Leila S. Chudori

Posted by on Thursday, 23 January, 2014

Buku ini resmi jadi buku pertama yang selesai saya baca dalam rangka memenuhi target baca tahun ini :) Akhirnya saya kebut semaleman, dan berakhir dengan tidur jam 4 pagi. Soalnya kalau bacanya pagi atau siang pas si Kunyil bangun, palingan saya cuma berhasil baca satu atau dua halaman aja. Lah, dia suka main rebut aja sambil berisik mau baca! mau baca!

Saya udah jelasin kalau ini buku orang besar. Gak ada gambarnya. Huruf semua. Buku anak-anak itu kayak A Very Hungry Caterpillar, atau Goodnight Moon. Atau seri Franklin. Jadi jangan gangguin Ibun baca dooong. Tapi ya tetep aja kalau saya nekat baca di depan dia, berakhir dengan rebut-rebutan buku dan lengkingan si Ibun yang takut bukunya rusak :D

Jadi saya ngalah deh, bacanya pas dia udah tidur aja. Yang mana ngeloninnya lamaaaaa banget karena si Kunyil gak tidur-tidur dan ngomooooong terus. Haisssshhh…

Reviewnya ada di goodreads saya sih, tapi saya kopi aja ya di sini. Biar sekalian :P Sekalian ngasih tau isi bukunya..

Mata saya berkaca-kaca saat membaca saat-saat terakhir Hananto harus berpisah dengan Kenanga. Bagaimana seorang gadis muda dipisahkan dengan begitu keji dengan ayahnya?

Membaca ‘Pulang’ seperti belajar sejarah dari sudut yang berbeda. Sudah pasti saya termasuk generasi yang dicekoki dengan stigma Komunis. Persentuhan dengan hiruk pikuk aksi 1998 yang mungkin ‘menyelamatkan’ saya dari cuci otak ala orde baru, dan sedikit banyak saya bersyukur tidak tercetak menjadi Rininta, dan semoga keluarga saya kelak tidak seperti Keluarga Pri.

Saya klik empat bintang untuk buku ini. Kenapa gak lima? Karena saya sedikit terganggu dengan karakter Lintang Utara pada saat dia sedang di Indonesia. Kenapa dia mendadak jadi cengeng? Saya pikir Miss Sorbonne itu telah ditempa dengan banyak kepahitan hidup dan mestinya jauh lebih kuat, bukannya menye-menye mellow gak jelas saat menghadapi Alam.

Typo yang agak mengganggu saat Rama ditulis sebagai putri Aji (lupa halaman berapa) padahal kan putra.

Satu lagi pertanyaan gak penting, emangnya tahun 65-an Led Zeppelin heitss banget ya??