Posts Tagged Singapore

winking merlion??

Posted by on Thursday, 3 June, 2010

Katanya merlion sekarang bisa ngedip. Iya gituh?? Coba liat ini:

Source dari sini

trip ke museum Singapore – part 3

Posted by on Friday, 29 January, 2010

Setelah berpuas-puas di National Museum of Singapore, eh.. masih belum puas sih, tapi waktu saya untuk keliling museum hanya tinggal satu jam lagi, sedangkan masih ada dua target museum yang ingin saya kunjungi. Saya tanya sama abang satpam letak museum peranakan. Katanya gak jauh, tinggal belok kanan aja.

Okelah kalau begitu.

Masalahnya saya sering hilang orientasi arah dan jarak. Semestinya begitu keluar saya langsung ke arah kanan, tapi saya lurus dulu, nyebrang, lalu belok kanan, lalu bingung ada di mana.

Arrrgghhh…

gedung apa taukSupaya ga keliatan bego keluyuran di daerah sini, saya foto gedung ini, dan langsung balik kanan. Setelah lihat papan penunjuk arah, ternyata belokannya kelewat! *sigh… mengapa ini terjadi saat lagi buru-buru*

Saya langsung kecewa karena gedungnya tutup. Loket penjual tiket aja tutup. Ga ada orang, deh. Lah, gimana sih ini, kalaupun penjaga tiketnya mau istirahat makan siang, kenapa pintunya ditutup semua? Masa pengunjung museum mesti nunggu yang jaga selesai makan dulu?

Karena capek, saya istirahat aja dulu sebentar. Mengatur napas. Minum air dulu sambil lihat-lihat poster dan flyers yang ditempel di dinding.

Lho.. lho.. lho???

Kok posternya tentang kursus menari dan sebagainya? Ini gedung apa, sih?

Ya ampuuuuuun… saya salah masuk gedung!!!

Buru-buru saya ngacir, sebelum ketahuan nyasar masuk ke situ. Ternyata Museum Peranakan hanya sekitar lima meter dari situ. Haiyyyaaaahhh… Bego bangeeeeeeet…

yang kiri museumnya, saya malah masuk ke gedung yang kanan

yang kiri museumnya, saya malah masuk ke gedung yang kanan

Dan oh… museumnya lucu banget kayak kue tart… trus di balkon ada beberapa patung yang lagi dadah-dadah, sayang gak sempat saya foto karena buru-buru.

museum peranakan

jam buka museum

Pas di depan museum ada pangkalan taksi, dan kebetulan ada seorang supir taksi yang lagi ngelap-ngelap mobilnya. Langsung aja saya bajak untuk fotoin saya, hehehehe…

ada patung kakek dan cucu di depan museum, bagus ya!Btw, patung si anak kecil tuh nunjuk ke patung ibu-ibu yang ada di balkon lantai dua, sayang gak kefoto..

Museum Peranakan ternyata museum yang children-friendly. Sangat menyenangkan untuk pengunjung kanak-kanak. Di berbagai sudutnya ada mesin embossed bentuk kupu-kupu, dan lainnya. Kertasnya harus kertas khusus, dan bisa diminta di bagian penjualan tiket. See.. kapan coba museum di Endonesah kepikiran kayak beginian?

Saya yakin sih, koleksi budaya Indonesia yang lebih beragam bisa eksis kalau dikemas dengan serius seperti koleksi museum ini. Gak jauh beda, kok. Misalnya aja pakaian yang dipakai bayi jaman baheula kayak gini:

baju bayi

popok dan bedong

ranjang pengantin

Setting kamar dan ranjang pengantinnya persis dengan yang sering saya lihat di film-film silat klasik. Lutunaaaa…

ruang telepon dari masa ke masaDi ruangan ini ada perkembangan alat dari masa ke masa. Telepon dari jaman dulu sampai sekarang. Lucunya, kalau saya angkat telponnya ada suara di sana yang seolah-olah lagi ngobrol dengan saya, dalam bahasa Mandarin.

ruang persembahan??

Ini ruang apa ya, namanya? Buat persembahan ke dewa gitu kali, ya.. Sorry lho kalau salah..

ruang makanIni juga contoh settingan ruang yang keren banget! Ini ruang makan yang umum ada di keluarga-keluarga Singapore dahulu kala. Perabot, jendela, dan detil lainnya cantik-cantik banget! Sayang deh, dikacain.. kalau nggak saya pasti masuk dan ikutan duduk di dalam. Nah, kursi yang ada di kanan bawah foto boleh diduduki, jadi seolah-olah kita ikutan duduk di acara makan, karena dipasang rekaman suara dan kegiatan seolah-olah memang sedang ada acara makan.. Eh, kalo malam-malam sih kayaknya horror ya, ada suara doang tapi orangnya gak ada, hehehe..

kucing museumKucing ini ada namanya, tapi saya lupa. Dia kucing yang selalu nongkrong di museum ini. Setelah kucingnya wafat, dibuatkan patungnya untuk mengenang kecintaan si kucing atas museum. So sweeeeeeett…

with grandpa.. ;pIni kakek yang gandeng cucunya tadi.. karena gak ada orang yang bisa diminta tolong fotoin, akhirnya saya foto sendiri dengan hasil seadanya.

Sebetulnya saya masih kepingin mampir ke Singapore Philatelic Museum yang gak jauh dari situ. Sayang saya hanya punya 15 menit untuk pulang ke hotel, dan bareng rombongan langsung ke Changi.

Maka dengan berat hati saya nyetop taksi. Selesai sudah ‘petualangan’ menyenangkan di museum-museum Singapore ini.

Lain kali saya pasti ke sini lagi! dan PASTI mampir ke museum lagi!

trip ke museum Singapore – part 2

Posted by on Monday, 25 January, 2010

Okeh, terusin cerita jalan-jalan ke museum Singapore, ya!

Masih di National Museum of Singapore. Bosan lihat-lihat pameran pakaian, asesoris, dan make up gadis-gadis Singapore jaman baheula, saya tertarik menuju ke bagian belakang museum, melalui jalur yang mirip jembatan batu, dan diatasnya tergantung lampu-lampu warna merah.

lampu pendulum

Ternyata ini bukan sembarang lampu, tapi salah satu karya seni yang dipamerkan. Jadi ada sejumlah lampu warna merah yang digantung sejajar, lalu selang-seling berayun ke kanan dan kiri, seperti pendulum. Keren banget!

Pasti saya kelihatan banget noraknya baru lihat museum canggih kayak begini. Soalnya seorang security nyamperin dan menyarankan saya melihat-lihat Singapore History Gallery terlebih dulu sebelum main-main ke bagian lain. Okelah kalau begitu. Saya sempat pikir nanti bakal ada guide yang ngotot nemenin, yah.. kayak guide di tempat wisata Indonesia gitu, hehe. Tapi ternyata salah besar saudara-saudara!

Saat akan masuk History Gallery, saya dibekali alat aneh. Bentuknya mirip ipod ukuran jumbo yang bisa digantung di leher, dan dilengkapi earphone. Namanya The Companion. Ada empat pilihan bahasa, Jepang, Mandarin, Melayu, dan Inggris. Bahasa Jepang dan Mandarin sudah pasti gak ngerti. Bahasa Melayu kok malah puyeng dengar cengkoknya,  akhirnya saya pilih yang bahasa Inggris. *hihihi, belagu banget ;p*.

The Companion

Companion saya mengenalkan diri dengan nama Brendon. Dia cas-cis-cus terus pakai bahasa Inggris *yaeyalaaaah*, sementara saya malah asyik ngutak-atik alat ini. Saya pindahin ke bahasa melayu, bahasa mandarin, dan balik lagi ke bahasa Inggris. Jadi saya ga terlalu ngeh dia ngomong apaan di awal-awal lorong yang membawa saya ke galeri sejarah.

Cara kerja Companion:

Pengunjung jalan aja terus menyusuri lorong sambil dengar si Brendon endesway-endeswey, lalu di lantai akan ada angka berukuran besar. Bisa tiga, tujuh, dua sembilan, pokonya angka. Nah, begitu ketemu angka di lantai, ada pilihan angka di Companion yang harus dipijit, jangan dipijat. Harus sesuai angka di lantai, lho.

ketemu angka 07, ya pijit 7 dehhh

Makin jauh lorongnya, makin seru. Ada sejumlah lorong yang bercabang, ke kiri dan ke kanan. Kamu harus memilih mau masuk lorong yang mana. Mau menikmati sejarah dari urutan terjadi tahun per tahun, atau melihatnya dari kaca mata penduduk Singapore saat itu. Wuiihh, rasanya kayak mengalami Pilih Sendiri Petualanganmu! Seruuuuu!!!

Saya memilih menjalani sejarah Singapore dari apa yang dialami rakyatnya saat itu. Oooowwww… it’s sooooooo fun… trust me!

rumah canduDi Singapore pernah marak dibangun rumah candu. Pokoknya begitu masuk ke sini, gak bakal deh keluar lagi hidup-hidup. Langsung terbelit dan tak terpisahkan dengan candu.. Kasihan, deh..

pecandu canduBegitu kena candu, ya udah. Hanya itu aja yang dikonsumsi. Ga pengen makan, atau ngapa-ngapain lagi selain golek-golek aja sambil ngisep pipa candu. Hiiiiyyy….

mojang Singapore

Waaah.. vintage banget tuh bajunya *komen ga penting*

rapot anak sekolahNah, yang ini rapot jaman baheula. Jadi anak perempuan masuk sekolah kebanyakan untuk belajar hal-hal yang ada hubungannya dengan tugas wanita saat itu. Misalnya merajut, menjahit, gitu-gitu lah. Kayak sekolah persiapan untuk jadi ibu rumah tangga, kali ya? Menulis dan berhitung sih, belajar juga.. Tapi yang diutamakan adalah “keterampilan wanita” - whatever that means..

kamar bedindeIni kamar Amah, atau pembantu rumah tangga di sebuah keluarga. Kerjaannya sih lebih kayak nanny gitu. Biasanya mereka berasal dari Cina, dan sangat setia pada keluarga majikan. Kalau jadi Amah, gak married, deh. Saya nemu cerita tentang Amah, di sini.

swimsuitBedanya jaman dulu ama sekarang, dulu berenang mesti bawa payung.. ;p

kartu ransumBegitu masuk perang dunia kedua, penduduk Singapore mulai dijatah konsumsinya. Bisa punya gula, beras, dan sebagainya karena ada ransum.

uang segede kertas a4Sampai di bagian sini saya udah mengalami halusinasi karena si Brendon nyerocos melulu. Kepala saya kepenuhan kata-kata bahasa Inggris dan udah gak mudeng lagi dengan apa yang dia omongin. Trus saya lihat uang warna hijau di kanan bawah itu. Ukurannya gede banget! Kayaknya segede kertas A4 deh.. Bingung aja gimana bawa jalan-jalannya… Mau ditaruh di dompet, gimana ngelipatnya?

lagu kebangsaanPerjalanan saya yang sangat sangat sangat luar biasa menarik berakhir di bagian ini, di mana lagu kebangsaan Singapore berkumandang. Ih, kalau saya warga Singapore pasti udah berurai air mata saking bangganya, setelah melalui sejarah perjuangan yang berat dan penderitaan rakyat begitu rupa, akhirnya menjadi negara merdeka.

Tapi karena saya warga Indonesia, air mata saya menetes karena iri pleus sirik, kok negara saya gak bisa punya museum kayak begini… padahal perjuangan rakyat dan para pahlawan di Indonesia udah sampai taraf gak bisa digantikan dengan uang, kecuali penghargaan dan penghormatan setinggi-tingginya atas pengorbanan mereka, misalnya dengan membangun museum yang canggih dan keren, yang bikin pengunjungnya betah berlama-lama dan selalu kepingin datang lagi dan lagi. Hiks…

(to be continued)

Love Tank

Posted by on Monday, 25 January, 2010

Masih ingat cerita saya kemarin tentang tumpukan tank pink? Seorang teman bilang, tank pink itu buatan seniman Indonesia asal Yogyakarta, S. Teddy D.

Hebat, ya!!!

Love Tank (The Temple)

Tanknya kan dipamerkan di tempat yang strategis banget. Semua orang yang keluar masuk museum pasti lihat. Karya seni ini dipamerkan hanya sampai bulan Oktober tahun lalu, jadi saya luar biasa senang sudah pernah melihatnya.

Berita lengkapnya ada di sini, berikut penjelasan darimana inspirasi si perupa berasal.

update 26.01:

Ada yang protes…

Andreas Ambar Purwanto

Si Teddy itu setahuku kuliahnya aja di Yogya, tapi dia aslinya asal Semarang. Gwa nggak seberapa kenal dia, cuma cukup akrab ama abangnya.

8 hours ago

Owwww… baiklah, maaf kalau salah. Lalu saya tanya Mbah Google lagi, menurut http://www.sinsinfineart.com sih sebagai berikut:

Born in 1970 in Padang, West Sumatera, Indonesia. Currently lives and works in Yogyakarta, Indonesia. The works of S.Teddy, be they drawings, paintings and installations, always shows formal as well as technical simplicity. He seems to be ever suspicious of, or keeping from, making works of “high art” pretension, in other words, he is an artist ceaselessly inquiring about the meaning of art to himself. With such a stance, S. Teddy never gets entrapped in given limited techniques, media and themes. The simple techniques and forms of his works convey from personal issue through socio-political criticism full of humor.

Jadi entah dari Semarang, Padang, atau Yogya, saya hanya mau bilang kalau saya suka sekali dengan Love Tank, dan ikut bangga karena karya S. Teddy D. itu dipajang berbulan-bulan di National Museum of Singapore.

trip ke museum Singapore

Posted by on Friday, 22 January, 2010

Demi memenuhi janji resolusi dan permintaan khalayak ramai *mulai ngayal*, akhirnya saya curi-curi waktu untuk cerita trip ke museum Singapore errr.. 20 Juli setahun lalu. Hehehe, iya sih, udah lewat momennya. Kelamaan! Tapi bener deh, trip ke Singapore kemarin itu yang paling berkesan buat saya, ya kunjungan ke museum ini.

Hotel tempat saya menginap ada di the famous Orchard Road. Jadi berdasarkan peta gratis yang saya ambil di Changi, saya tinggal jalan lurus aja untuk bisa nemuin museum pertama yang akan saya kunjungi: Singapore Art Museum.

Asal tau aja, saya ga bisa baca peta! Buat saya peta tuh bikin pusing. Kayaknya dekat padahal jauh. Belum lagi kalau ternyata jalannya gak lurus seperti di peta, tapi agak belok-belok gitu, pusing deh. Bisa dipastikan saya akan kehilangan orientasi arah. Mendingan saya tanya-tanya aja. Yeah, dan saya lupa kalau ini bukan Indonesia, yang bisa dengan gampang tanya ke tukang becak atau warung rokok saat nyasar.

So, berbekal peta, air minum botolan, dan kamera, saya berangkat jam sembilan lewat, karena museum baru buka jam sepuluh pagi. Tapi saya gak hitung langkah saya tuh Indonesia banget. Kecepatannya kalah jauh dengan penduduk  negara sini. Berkali-kali saya disusul orang. Padahal kayaknya udah jalan cepat, kok. Andai ini lomba jalan cepat, kayaknya saya udah didiskualifikasi karena lelet. Habisnya gimana mau jalan cepat kalau cuaca panas banget, dan ga bawa payung? *ngeles*. Sepuluh menit jalan kaki saya langsung mandi keringat, dan hampir meleleh. Panas bo…

Dengan langkah yang makin lama makin melambat, saya lewat satu bangunan yang sebetulnya biasa aja, tapi kok ada papan info di depan bangunannya. Mampir dulu, kan turis… ..tempat ini dibom oleh warga Indonesia, blablabla...

Oh.. ini MacDonald House. Tapi gak jualan burger. Ini gedung bank yang dibangun tahun 1949, dan termasuk 100 bangunan bersejarah di Singapore. Kenapa? Mungkin karena Indonesia pernah ngebom bangunan ini di tahun 1965, sewaktu masa konfrontasi dengan Malaysia.  Btw, konfrontasi dengan Malaysia kok ngebomnya di Singapore, ya? Nah, peristiwa pengeboman ini dikenal dengan nama MacDonald House Bombing. MacDonald House tampak dari trotoar

Setelah ketemu dua cewek jepang hippie yang lagi ngegeret-geret koper segede kulkas, saya kebingungan di salah satu pertigaan. Kayaknya saya udah jalan jauh banget, tapi kok gak ketemu-ketemu juga museumnya? Kebetulan ada orang lewat, saya langsung cegat dan tanya, dan dengan entengnya dia nunjuk ke sebelah gedung tempat saya berdiri. D’oh!

Kerugian jalan sendirian adalah.. gak ada yang bisa disuruh fotoin! Tepatnya, fotoin kita dengan latar belakang obyek wisata. Gimana mau pamer mendokumentasikan perjalanan? Blah. Untungnya setelah celingak-celinguk nyari mangsa bala bantuan, ada seorang nona manis bertampang baik hati yang rela fotoin saya. Singapore Art Museum

Untuk masuk ke SAM ini, saya harus bayar tiket seharga SGD 8. Tapi petugas nyaranin saya untuk beli tiket terusan yang berlaku selama tiga hari, dan bisa mengunjungi DELAPAN museum bolak-balik sampai bosan. Harga tiket terusan ini SGD 20 saja, atau sekitar seratus empat puluh ribu rupiah. Duuuuh, tawaran yang sangat menarik!

Saya tahu, gak akan mungkin mengunjungi delapan museum itu semuanya. Jadwal pulang saya hanya tinggal beberapa jam lagi. Saya hanya punya waktu sekitar empat jam untuk jalan-jalan ke museum. Duuuuh, nyesel banget, kok gak dari kemarin-kemarin saya mampir ke museum.

Akhirnya saya beli juga tiket terusannya, dengan target empat museum harus dikunjungi. Terutama yang jaraknya dekat:  SAM, National Museum of Singapore, Peranakan Museum, dan Singapore Philatelic Museum. Dari mana saya tahu museumnya dekat? Dari peta, dong. Hehehe, di peta kan kelihatan jaraknya dekat-dekat, cuma beberapa senti aja.

So here I am, di Singapore Art Museum atau SAM. Namanya  museum seni, sudah pasti isinya yang berhubungan dengan seni. Ada banyak lukisan, gerabah, seni instalasi yang sumpah deh, mostly I don’t understand at all!!!

Kayaknya saya kurang berbudaya, sampai ga ngerti apa gunanya nggenjot sepeda jadul untuk bisa muter film di proyektor mini, or something like that. Gak bisa menghayati di mana indahnya puluhan lampu digantung dengan tinggi yang berbeda-beda. Belum lagi gedung SAM yang luas bikin saya nyasar-nyasar nyari pintu keluar. Ketemunya kalau gak lukisan, ya lukisan lagi. Saya juga sempat nyasar ke bagian lukisan telanjang. Ada warningnya di pintu masuk, kalau benda seni di dalam mengandung ‘nudity‘. Ya.. pastinya saya masuk, dong!

Isinya seperti bisa diduga adalah lukisan wanita tak berbaju. Gak menarik buat saya, sih. Apa indahnya wanita tanpa busana? Sama aja jeruk makan jeruk. Gak seru.

Lalu saya nyasar ke tempat lukisan-lukisan yang ukurannya jumbo. Karena capek saya duduk di depan satu lukisan yang gedeeeeee banget menuhin satu bagian dinding, dan mencoba mengapresiasi lukisan itu. Dan gagal. Akhirnya saya numpang istirahat aja di situ. Kaki pegal!

Cukup lama saya menghabiskan waktu di SAM. Jadi setelah merasa cukup berbudaya, saya terburu-buru menuju destinasi selanjutnya: National Museum of Singapore. Di mana itu? Bodohnya saya gak nanya ke petugas di SAM. Saya malah sok bisa baca peta. Pas di depan SAM saya lihat ada bangunan megah, mirip gereja, bisa juga museum. Tapi saya harus tanya siapa? Dengan bodoh saya belok ke kiri, jalan terus, dan terus, dan gak nemuin apa-apa. Ah! Saya nyasar! Lalu  saya lihat ada bapak-bapak bule yang bergegas-gegas nyebrang.

Hmmm.. mari kita mencoba bermain logika bodoh..

Bule = Turis

Turis = Tempat Wisata

Museum = Tempat Wisata

Jangan-jangan bule itu mau ke museum juga!

Langsung deh,  saya ngekor si bapak bule. Ternyata dia menuju ke arah gereja mirip museum itu! Halah… kalau itu museumnya, mestinya dari SAM tadi saya ambil ke kanan dan langsung nyebrang! Aiiih… bodohnya, dan kenapa juga bapak bule itu jalannya cepat banget? Saya masih di ujung jalan, dia sih udah ngilang masuk ke dalam museum. kayaknya dekat, tapi kalau jalan kaki, ditanggung ngos-ngosan ;p

Gara-gara tergopoh-gopoh mau nyusul si bapak bule, sampai di National Museum saya ngos-ngosan. Muka juga udah merah banget kepanasan. Untung aja mata saya langsung dihibur dengan tumpukan tank warna pink. Kesannya war and love gitu, cantiknyeeeeuuuuu… tumpukan tank pinky

Karena punya tiket terusan, saya gak perlu bayar SGD 10 untuk tiket masuk. Dan, oh! Museum ini super super super keren! Gak cukup sehari untuk berkeliling di sini. Saya mengintip sedikit-sedikit ke beberapa bagian. Awwww… andai museum di Indonesia seperti ini! Canggih dan keren banget! Selain Smithsonian Institution, museum ini juga wajib dikunjungi!

Saya mampir sebentar di ruang bioskop mini. Ada tiga film jadul yang diputar sekaligus. Ada juga sejumlah gramofon tempat kita bisa dengar lagu-lagu tempo doeloe. poster film jadul, kenapa juga saya fotonya miring ya?

Lalu saya mampir ke ruangan yang memamerkan barang-barang yang dimiliki wanita Singapore jaman dulu. Duuuhhh, sebenarnya barangnya begitu aja, kayaknya di Indonesia lebih banyak dan lebih beragam, deh. Tapi penataannya bikin mata adem dan hati terkagum-kagum melihat pameran kebudayaan warga Singapore pada masanya itu. perabot lenong, eh.. peralatan make up maksudnya

See? Kayak ginian mah pastinya nenek saya pernah punya juga. Malah ditambah balsem gosok cap macan ompong, kali. Dan sisir serit buat nyari kutu.

(to be continued)

histeria swine flu

Posted by on Thursday, 16 July, 2009

Keberangkatan saya ke negeri Singa tinggal dua hari lagi. Tapi berita di tv tentang swine flu yang makin menjadi-jadi bikin ngeper juga, nih. Memang sih, sejak awal minggu ini saya udah mulai rutin minum multi vitamin  supaya kondisi badan gak drop. Sialnya, AC di kantor mendadak kerasa super duper dingin banget akhir-akhir ini. Saya mulai agak-agak meler, deh. Menyebalkan.

Pastinya ogah banget lah, nyampe Changi hanya untuk diseret ke rumah sakit dan kemudian diisolasi. Pbbbfffttt.

pig-flu

Jadi gimana, dong?

Well, saya mulai gencar browsing internet dan nyari info sebanyak-banyaknya demi kebaikan dan kesehatan saya sendiri. Terutama supaya acara jalan-jalan dan belanja nanti lancar jaya, xixi. Saya putuskan untuk  take a mental note tentang ini.

Gejala utama swine flu:

  • Demam, batuk, pilek, letih, sakit kepala. Dalam beberapa kasus bisa juga mual, muntah, dan diare. Umumnya sih gejalanya seperti kalo kena flu biasa (walau rasanya saya ga pernah tuh, pilek ampe muntah-muntah)

Pencegahan swine flu:

  • Cara paling ampuh dengan vaksinasi. Masalahnya vaksin swine flu ini belum ada sampai sekarang. Jadi gimana, dong?
  • Kurangi kontak dengan virus dengan cara cuci tangan setiap habis berkegiatan, jangan pegang-pegang muka terutama hidung dan mulut, dan hindari kontak dengan penderita
  • Cara lain pastinya ya hindari keramaian dan diem aja di rumah sampai histeria flu ini reda, tapi pan aye mau jalan-jalan, neeeeeeek… ga mungkin dong ngerem aje di kamar… :(
  • Pakai masker bengkuang, terutama di bandara dan di dalam pesawat. Maskernya juga bukan yang model selapis kain warna ijo itu. Itu mah gak ngaruh. Modelnya kayak yang sering dipakai pak polisi kalau lagi ngatur lalu lintas. Kebayang ga sih, saya keluyuran di Orchard sambil pakai masker?? Apa saya perlu lengkapi dengan topi fedora, sebelah sarung tangan putih manik-manik, dan payung hitam?? Hiiii..hiiiii.. then do the moonwalking.

Bagaimana mengobati swine flu:

  • Sampai sekarang yang dipercaya bisa mengobati swine flu ini adalah zanamivir (Relenza) dan oseltamivir (Tamiflu). Tapi penggunaannya harus dengan pengawasan dokter dan gak direkomendasikan untuk gejala flu yang muncul lebih dari 48 jam. Baiknya sih langsung aja ke rumah sakit untuk penanganan lebih lanjut.

So? Doakan sajalah, supaya rombongan sirkus ini sampai di tujuan dengan selamat, kembali ke rumah juga dengan sehat dan selamat. Amiiiiiin.

Referensi dari sini dan gambar dari sini