«

»

Jan 25

trip ke museum Singapore – part 2

Okeh, terusin cerita jalan-jalan ke museum Singapore, ya!

Masih di National Museum of Singapore. Bosan lihat-lihat pameran pakaian, asesoris, dan make up gadis-gadis Singapore jaman baheula, saya tertarik menuju ke bagian belakang museum, melalui jalur yang mirip jembatan batu, dan diatasnya tergantung lampu-lampu warna merah.

Ternyata ini bukan sembarang lampu, tapi salah satu karya seni yang dipamerkan. Jadi ada sejumlah lampu warna merah yang digantung sejajar, lalu selang-seling berayun ke kanan dan kiri, seperti pendulum. Keren banget!

Pasti saya kelihatan banget noraknya baru lihat museum canggih kayak begini. Soalnya seorang security nyamperin dan menyarankan saya melihat-lihat Singapore History Gallery terlebih dulu sebelum main-main ke bagian lain. Okelah kalau begitu. Saya sempat pikir nanti bakal ada guide yang ngotot nemenin, yah.. kayak guide di tempat wisata Indonesia gitu, hehe. Tapi ternyata salah besar saudara-saudara!

Saat akan masuk History Gallery, saya dibekali alat aneh. Bentuknya mirip ipod ukuran jumbo yang bisa digantung di leher, dan dilengkapi earphone. Namanya The Companion. Ada empat pilihan bahasa, Jepang, Mandarin, Melayu, dan Inggris. Bahasa Jepang dan Mandarin sudah pasti gak ngerti. Bahasa Melayu kok malah puyeng dengar cengkoknya,  akhirnya saya pilih yang bahasa Inggris. *hihihi, belagu banget ;p*.

Companion saya mengenalkan diri dengan nama Brendon. Dia cas-cis-cus terus pakai bahasa Inggris *yaeyalaaaah*, sementara saya malah asyik ngutak-atik alat ini. Saya pindahin ke bahasa melayu, bahasa mandarin, dan balik lagi ke bahasa Inggris. Jadi saya ga terlalu ngeh dia ngomong apaan di awal-awal lorong yang membawa saya ke galeri sejarah.

Cara kerja Companion:

Pengunjung jalan aja terus menyusuri lorong sambil dengar si Brendon endesway-endeswey, lalu di lantai akan ada angka berukuran besar. Bisa tiga, tujuh, dua sembilan, pokonya angka. Nah, begitu ketemu angka di lantai, ada pilihan angka di Companion yang harus dipijit, jangan dipijat. Harus sesuai angka di lantai, lho.

Makin jauh lorongnya, makin seru. Ada sejumlah lorong yang bercabang, ke kiri dan ke kanan. Kamu harus memilih mau masuk lorong yang mana. Mau menikmati sejarah dari urutan terjadi tahun per tahun, atau melihatnya dari kaca mata penduduk Singapore saat itu. Wuiihh, rasanya kayak mengalami Pilih Sendiri Petualanganmu! Seruuuuu!!!

Saya memilih menjalani sejarah Singapore dari apa yang dialami rakyatnya saat itu. Oooowwww… it’s sooooooo fun… trust me!

Di Singapore pernah marak dibangun rumah candu. Pokoknya begitu masuk ke sini, gak bakal deh keluar lagi hidup-hidup. Langsung terbelit dan tak terpisahkan dengan candu.. Kasihan, deh..

Begitu kena candu, ya udah. Hanya itu aja yang dikonsumsi. Ga pengen makan, atau ngapa-ngapain lagi selain golek-golek aja sambil ngisep pipa candu. Hiiiiyyy….

Nah, yang ini rapot jaman baheula. Jadi anak perempuan masuk sekolah kebanyakan untuk belajar hal-hal yang ada hubungannya dengan tugas wanita saat itu. Misalnya merajut, menjahit, gitu-gitu lah. Kayak sekolah persiapan untuk jadi ibu rumah tangga, kali ya? Menulis dan berhitung sih, belajar juga.. Tapi yang diutamakan adalah “keterampilan wanita” – whatever that means..

Ada replika kamar Amah, atau pembantu rumah tangga di sebuah keluarga. Kerjaannya sih lebih kayak nanny gitu. Biasanya mereka berasal dari Cina, dan sangat setia pada keluarga majikan. Kalau jadi Amah, gak married, deh. Saya nemu cerita tentang Amah, di sini.

Bedanya jaman dulu ama sekarang, dulu berenang mesti bawa payung.. ;p

Begitu masuk perang dunia kedua, penduduk Singapore mulai dijatah konsumsinya. Bisa punya gula, beras, dan sebagainya karena ada ransum.

Sampai di bagian sini saya udah mengalami halusinasi karena si Brendon nyerocos melulu. Kepala saya kepenuhan kata-kata bahasa Inggris dan udah gak mudeng lagi dengan apa yang dia omongin. Trus saya lihat uang warna hijau di kanan bawah itu. Ukurannya gede banget! Kayaknya segede kertas A4 deh.. Bingung aja gimana bawa jalan-jalannya… Mau ditaruh di dompet, gimana ngelipatnya?

Perjalanan saya yang sangat sangat sangat luar biasa menarik berakhir di bagian ini, di mana lagu kebangsaan Singapore berkumandang. Ih, kalau saya warga Singapore pasti udah berurai air mata saking bangganya, setelah melalui sejarah perjuangan yang berat dan penderitaan rakyat begitu rupa, akhirnya menjadi negara merdeka.

Tapi karena saya warga Indonesia, air mata saya menetes karena iri pleus sirik, kok negara saya gak bisa punya museum kayak begini… padahal perjuangan rakyat dan para pahlawan di Indonesia udah sampai taraf gak bisa digantikan dengan uang, kecuali penghargaan dan penghormatan setinggi-tingginya atas pengorbanan mereka, misalnya dengan membangun museum yang canggih dan keren, yang bikin pengunjungnya betah berlama-lama dan selalu kepingin datang lagi dan lagi. Hiks…

(to be continued)

2 comments

  1. adrian

    menarik banget kaka review nya ! jadi nyesel terakhir ke Singapur gak sempet jalan2 ke museum2 itu .. next visit ke sana, aku harus bisa sempetin datengin ke sana ah .. thx udah sharing pengalamannya ka !

    1. pipitta

      sekali lagi, thanks juga, adrian.. 😀 kalo ga ada kamu kan tulisannya ga jadi 😛
      next visit silakan mampir ke museum.. siapa tahu dapat tiket terusan juga, jadi bisa menghemat biaya masuk museumnya.

      pengalaman saya kemarin sih, dengan SGD 20 bisa berkunjung ke 8 museum:
      – Asian Civilisations Museum
      – Memories at Old Ford Factory
      – National Museum of Singapore
      – Peranakan Museum
      – Reflections at Bukit Chandu
      – Singapore Art Museum
      – 8Q sam
      – Singapore Philatelic Museum

      tiket terusan bisa dibeli di museum mana pun di atas, dan asiknya lagi berlaku untuk tiga hari, bisa sampai puas, kaaaan… 😀
      kalo kamu perginya rame-rame, tersedia karcis terusan seharga SGD 50 yang bisa dipakai sampai 5 orang, jatuhnya lebih murah lagi, tuhhh…

      have fun at the museum, yaaaa

Comments have been disabled.

%d bloggers like this: