«

»

Aug 24

trip yogya (cerita basi nih ;p) – part 5

Nah, kita jumpa lagi di cerita basi trip yogya 😀

Jangan kuatir, sepertinya ini akan jadi episode terakhir trip yogya saya, heehee..

Okeh. Seperti kata saya kemarin, saya disarankan naik Trans Yogya kalau mau ke Museum Affandi. Caranya? Well.. saya dan guide saya naik becak ke jalan KH Ahmad Dahlan. Guide saya sih turun di Kauman. Kenapa dia ikut naik becak juga? Jadi dia wanti-wanti ke tukang becaknya gitu pakai bahasa jawa, ngasih instruksi supaya nurunin saya di halte Trans Yogya terdekat. Sebagai ganti kebaikan hatinya udah nitipin saya ke tukang becak, dia nunut sampai kauman. Begonoh..

Untuk ke Museum Affandi, saya harus ganti ke rute nomor 1B di halte berikutnya. Tau darimana? Yahh.. namanya di kampung orang lain, modal saya ya cuma senyam-senyum pleus gak malu tanya-tanya gimana caranya supaya saya sampai di tujuan. Bener, kok. Hanya dengan dua modal itu saya gak nyasar, padahal buta banget tentang Yogya, walau puluhan tahun lalu sering liburan di Yogya, bahkan seriiiiiing deh, nangkring di Mesjid Kauman. Tapi itu kan puluhan tahun lalu. Mana saya ingat..

Pertama, saya tebar senyum sama guide saya *walau hati sempat kesal karena nge-guide-nya buru-buru banget*, lalu saya senyam-senyum sama tukang becak. Say thank you karena sudah mengantar dengan tepat dan selamat ke halte. BTW, tukang becak ini ternyata abdi dalem yang lagi off kerja! Trus saya senyam-senyum ke petugas di halte KH. Ahmad Dahlan, dan tanya harus naik bis yang mana. Turun di halte berikut, saya juga gak lupa senyam-senyum ke petugas di sana, minta diingatkan supaya jangan sampai salah naik bis. Nah, di bis saya juga senyam-senyum ama kondekturnya, minta diturunkan di halte yang paling dekat dengan Museum Affandi.

Voilà, berkat pamer senyam-senyum itulah akhirnya saya sampai dengan selamat tanpa nyasar ke tujuan saya: Museum Affandi.

Ternyata, di antara semua museum yang saya kunjungi di Yogya, museum inilah yang tiket masuknya paling mahal, 20.000 rupiah sudah termasuk welcome drink dan souvenir. Minumannya boleh pilih, mau teh botol atau minuman bersoda. Yah, mungkin karena museum ini dikelola secara pribadi, jadi harga tiketnya lebih mahal dari museum yang lain. Sayangnya di dalam galeri gak boleh foto-foto. Hwaaaa… sedihnya 🙁

Di galeri yang pertama isinya lukisan Affandi semua. Tau dong, ciri khas lukisannya? Itu tuuuhhh.. yang catnya langsung diprocotin dari tube-nya itu… Apa ya, nama kerennya gaya melukis kayak begitu?

Di galeri yang kedua dan ketiga dipamerin lukisan dari pelukis yang berbeda-beda. Beberapa diantaranya dilukis cucu Affandi. Gayanya sih sama, diprocotin gitu. Bedanya adalah… kalau Affandi mrocotinnya gak banyak-banyak, kalau lukisan cucunya itu procotannya itu buanyaaaaaaaaaaakkkkk banget.. mana kanvasnya ukuran jumbo..

Yang ada di pikiran saya saat itu.. Wah, Affandi pas ngelukis gaya procot itu mungkin masih susah, yah. Kanvasnya gak gede, procotannya sedikit, karena beli cat kan mahal :P. Sedangkan pas cucunya itu kan secara ekonomi mungkin lebih baik, beli cat gak usah mikir kali, ya.. jadi di kanvas ukuran jumbo aja pocrotannya kemana-mana…

Wkwkwkw… dasar nih, saya emang gagap seni. Ini aja iseng banget pake acara main ke museum/galeri lukisan segala. Kayak waktu dulu main-main ke Singapore Art Museum. Padahal ngerti juga nggak 😛 Jadi kesannya malah kayak begitu.. Maafkan yaaaaa… 😀 Judulnya juga supaya diri ini makin berbudaya :p

Oh ya, satu lagi kelakuan norak waktu saya lihat lukisan karya Kartika Affandi yang kebetulan sedang dijual. Waktu itu saya iseng lihat tag harganya, dasar mulut gak bisa direm, langsung aja saya nyeplos: Kok murah? Soalnya saya lihat angkanya hanya enam digit. Kalau gak salah sih, sekitar 125,000 gitu deh.. Di otak saya kan langsung kepikiran: hwaaa.. kalo murah gini sih, saya juga mau beli!

Sambil senyum dan ngelihat saya dengan ekspresi mengasihani, guide museum ngebuka tagnya lebih lebar, dan terlihatlah simbol dolar sebelum angka itu.

Krik. Krik. Krik.

 

Jam dua siang saya harus sudah ada di hotel karena sorenya dijadwalkan pulang ke Jakarta. So, di tengah hari bolong yang terik itu saya tersaruk-saruk jalan kaki pulang ke hotel. Mau naik ojeg atau becak, gak ada yang nongol. Naik trans yogya lagi, haltenya naik dan turunnya jauh dari hotel saya. Jadilah jalan kaki pulang ke hotel.

Sekian petualangan dan cerita basinya. Sampai jumpa! Merdeka!

2 comments

  1. mama damian

    dulu pas kuliah di jogja, gw nebeng hidup di rumah budhe gw yang letaknya cuma sekitar 5 menit dari situ….tapi gw ga pernah ke situ, hihihihi….(bukan pecinta seni, wkwkwkwk)

    1. pipitta

      gw juga baru kali ini kok ke museum atau galeri lukisan.. ini beneran iseng aja karena pas gw liat tempatnya ga terlalu jauh dari hotel. wkwkwkw.. yahh siapa tau setelah datang ke galeri gw jadi bisa mengapresiasi karya seni *halah*

Comments have been disabled.

%d bloggers like this: