«

»

Jan 20

Balada Kontraktor

Sejak saya masih piyik, alias kecil banget, seingat saya kami sering kali berpindah-pindah rumah. Ya, ibu saya memang kontraktor sejati, alias pengontrak rumah 🙂 Maklumlah, penghasilannya setelah dikurangi ini itu hanyalah cukup untuk mengontrak rumah kecil. Pernah sih, ibu saya membeli rumah KPR, tapi entah kenapa kreditnya dioper ke orang lain, dan batal deh kami punya rumah sendiri.

Seringnya berpindah-pindah pada akhirnya membuat saya dewasa sepertinya gak punya sense of belonging pada suatu tempat tertentu. Sepertinya saya sudah setting jiwa dan raga saya halah bahwa suatu saat saya akan pindah dari tempat itu, so what’s the point of being attached to one particular house.

Itu juga mungkin sebabnya saya gak berminat menjalin pertemanan akrab dengan para tetangga. Ya kalau ketemu atau papasan sih cukuplah dengan tersenyum dan berbasa-basi sepatah dua patah kata. Tapi ya udah, itu aja. Lagi-lagi sepertinya tanpa sadar settingan diri saya, gak usahlah berakrab-akrab terlalu jauh karena toh somehow someday saya akan meninggalkan lingkungan lama dan harus beradaptasi dengan lingkungan baru.

I think that made me a bit cold person. Kasian, ya. 🙁 Ah gak juga, biasa aja.

Coba aja ya, udah berapa kali saya pindah-pindah seumur hidup ini… perhatian… ini bakal jadi postingan yang panjaaaaang kali lebar. Jadi siap-siap cemilan ya!

  • Pasir Kaliki, awal tahun 1980-an

Seingat saya waktu itu saya TK, dan masih pulang pergi dari sekolah naik becak ke rumah kakek di daerah Pasir Kaliki. Tepatnya di jalan Garunggang. Waktu itu saya dan ibu dapat jatah satu kamar. Bibi saya dan anaknya tinggal di kamar sebelah. Rumah itu cukup besar, dan secara penghuninya amat sangat banyak, pastinya selalu ramai.

  • Linggawastu, awal tahun 1980-an

Ini di daerah Wastukencana. Rumah saya waktu itu ada di sebuah gang di jalan Linggawastu. Saya ingat ada Hotel Trocadero pas di belokan jalan. Ibu saya dulu sering nebeng nelpon di sana, karena masih belum ada wartel atau telepon umum pinggir jalan. Saya juga ingat beberapa kali karena gak ada pembantu, saya dikunci dari luar selama ibu saya pergi kerja. Di rumah ini pertama kalinya saya kesetrum karena mainin kabel, dan sejak itu saya kapok mainin kabel sembarangan. Yang paling saya suka dari rumah ini adalah bak mandinya gedeee… atau ukuran saya waktu itu emang mini ya?? Bisa banget buat saya nyemplung dan pura-pura berenang dari ujung ke ujung bak mandi 😀

  • Saninten, masih sekitar awal tahun 1980-an

Ini di daerah sekitaran jalan Riau. Seingat saya, dulu di depan rumah saya ada 2 anak perempuan Cina yang pintar sekali main piano. Namanya Maureen dan Fani. Tapi mereka jarang main ke luar rumah. Lalu mereka pindah entah ke mana. Oh ya, daerah saya ini juga banyak orang Ambonnya. Suatu kali ada perayaan Natal dan Om Ambon ini jadi Piet Hitam bawa-bawa karung dan sapu lidi. Katanya mau cari anak nakal untuk dimasukkan ke dalam karung. Ini pertama kali saya tahu ada karakter Piet Hitam di acara Natal. Setahu saya cuma Sinterklas aja. Ini rumah kontrakan favorit saya, karena lingkungannya adem, banyak pohon, dan sepertinya saya banyak mempraktekkan ilmu detektif ala lima sekawan dan trio detektif di rumah ini. Misalnya aja, jendelanya kan berteralis, tapi saya bisa nyelusup di antara teralis untuk bisa masuk ke rumah, dan itu rasanya heroik banget. Apa sih..  Yang saya gak suka dari rumah ini adalah adanya sumur mati di kamar mandi. Sumur itu serem banget. Untung saat itu belum ada filmnya Sadako, kalau ada mungkin saya gak mau tinggal di sana karena ketakutan. Walaupun sebetulnya saya terhitung pemberani, lho. 

  • Budi Raya, pertengahan tahun 1980-an

Ini dia.. si rumah KPR pertama. Rumah ini ada di daerah Gunung Batu. Dekat pintu masuk Tol Pasteur sekarang. Tapi dulu, wuiihh… akses ke sini sungguh sulit luar biasa. Pulang sekolah saya harus naik angkot ke stasiun hall. Dari sana naik lagi angkot yang arah Cimahi. Turun di leuwigajah yang sejak dulu pun udah macet luar biasa, disambung dengan naik… delman! Saya sih seneng-seneng aja bisa naik kuda setiap hari, masalahnya adalah si delman ini akan melewati turunan yang menikung tajam dan berbatu-batu. Mengerikan. Sebaliknya kalau pergi sekolah, turunan ini akan jadi tanjakan berbatu-batu yang menyebabkan si kuda biasanya dipecut habis-habisan supaya gak berhenti di tengah jalan. Kasihan si kuda. Kalaupun ibu saya jemput ke sekolah naik motor, biasanya di tengah jalan saya bakal ketiduran saking jauh dan panasnya. Ibu saya sering banget ditegur sesama pemotor yang khawatir dengan keselamatan saya. Trus, saya dicubit dong, supaya bangun… -_-‘

  • Batik Ayu, akhir tahun 1980-an

Di sini ibu saya nyewa 1 kamar. Bentuknya rumah biasa. Jadi agak aneh dong ya, saya seolah-olah tinggal dengan satu keluarga lain. Kamar itu hanya bisa nampung satu kasur besar untuk saya dan ibu saya, satu lemari, satu meja belajar, meja rias, dan beberapa rak untuk simpan barang. Kamar mandi ada tepat di luar kamar saya. Di kontrakan ini saya pernah dimarahi ibu saya gara-gara saya dan cucu pemilik rumah main-main ke dalam kamar anak pemilik rumah yang belum nikah. Gak lama si tante yang saya lupa namanya itu bilang kalau dia kehilangan uang 10ribu di kamarnya itu. Dan saya jadi tertuduh utama. Ih, kenapa juga dia gak nuduh keponakannya sendiri coba! Waktu itu saya jengkel dan kesal luar biasa karena jadi tertuduh, dan sepertinya orang-orang, bahkan ibu saya gak percaya kalau saya sama sekali gak ambil uang itu. Saya udah pengen mewek aja, tapi saya pura-pura cool. Saya tetap pasang ekspresi tenang dan tanpa emosi.  Karena menurut pikiran saya saat itu kalau saya sampe nangis, berarti saya ‘kalah’. Whatever that means. Hahaha, sepertinya defense mechanism saya waktu itu udah mulai terasah. Belakangan si tante itu bilang kalo uangnya ketemu di kolong tempat tidurnya. Tapi saya udah ogah kalau diajak masuk lagi ke kamarnya, dan gak mau lagi bermanis-manis dengan si tante itu.

  • Saninten lagi, akhir tahun 1980-an

Kembali ke rumah favorit. Entah gimana ceritanya kok bisa, pokoknya saya senaaaaaaaang… 🙂 dari sini jarak ke sekolah saya di jalan Sumatera gak terlalu jauh. Kalau gak kebagian angkot, saya seriiiiiing banget jalan kaki dari sekolah ke rumah, atau dari rumah ke sekolah. Biasanya saya akan ambil rute yang berbeda-beda biar gak bosen. Lalu sambil jalan kaki saya mengkhayal sedang jadi George yang lagi mencari jejak di Lima Sekawan, lengkap dengan anjing khayalan, si Timmy. Trus kalau bosan dengan rute jalan raya, saya sok-sok menyelidiki jalan pintas berupa selokan-selokan yang tembus antar jalan. It was fun! Padahal kalo dipikir-pikir sekarang mah gak mungkin deh saya bakal ngebiarin anak saya untuk begitu juga 😛 Takut diculik euy…. 

  • Cikutra Barat, awal tahun 1990-an

Saya sedih bukan main karena harus meninggalkan Saninten. Tapi apa daya, rumah itu rupanya sudah dibeli oleh ipar ibu saya, dan akan dijadikan kantor. Jadi kami gak bisa tinggal di situ lagi. Dari rumah yang menyenangkan di Saninten, kami kembali menyewa separuh rumah di kawasan ini. Kenapa separuh? Karena si pemilik rumah, yang diwakili adik pemilik rumah, berkuasa atas ruang tamu, dua kamar tidur, dan ruang makan. Sementara separuh lagi yaitu dua kamar tidur tambahan berukuran super mini, ruang duduk yang berhadapan langsung dengan garasi mobil, jadi ‘hak’ kami. Sementara dapur, kamar mandi, ruang setrika, jadi milik bersama walau aksesnya harus melewati ruang duduk kami. Awalnya saat yang mendiami rumah utama hanya adik pemilik rumah, situasinya cukup menyenangkan. Tapi beberapa tahun kemudian, setelah ibu saya merenovasi salah satu kamar mandinya yang jadul jadi kamar mandi yang lebih acceptable, pemilik rumah yang baru saja pensiun memutuskan tinggal di rumahnya itu. Lengkap dengan nyonya rumah, dan tiga anaknya. Mendadak rumah itu jadi penuh sesak. Walau anak lelaki si pemilik rumah lumayan ganteng di mata saya saat itu, hehehehe… Saya sempat mengalami momen romantis dengan si ganteng yang mengajari saya main layangan di atas genteng 😛 

  • Gang Mama Gandawiria, awal tahun 1990-an

Rumah ini ada di daerah Cihampelas. Jarak ke sekolah saya sangat dekat. Hanya tinggal nyebrang. Bahkan bel masuk sekolah pun kedengeran dari rumah. Pemandangan dari tempat jemuran langsung mengarah ke kerimbunan pepohonan Kebun Binatang Bandung. Kalau angin sedang senyap, kadang-kadang saya bisa dengar suara monyet dan orangutan yang sibuk aa-uu-aa-uu di kandangnya di sana. Karena dekat dengan sekolah, rumah ini seriiiiiiiiiiing banget jadi tempat nongkrong geng saya di sekolah. Isi gengnya hampir separuh kelas, jadi bisa kebayang dong gimana ramenya. Ibu saya beberapa kali ngomel dan komplen gara-gara makanan di rumah langsung habis karena saya pakai menjamu mereka. Lagian ngapain juga pake dijamu, ya? Kan bukan tamu, hehehehe. Bahkan saking deketnya, beberapa kali rumah saya juga dipake buat presentasi temen saya yang ikutan MLM Amway. Saking terobsesinya dengan Amway, halaman belakang kalender di ruang tamu saya yang dia corat-coret untuk ngejelasin Amway-nya itu gak boleh disobek. Saya mau aja rumah saya dipake presentasi teman saya itu, dengan syarat dia gak boleh nawarin atau maksa saya join Amway-nya itu. Hahahaha…. Oh well.. pada akhirnya ibu saya memutuskan untuk pindah dari rumah ini karena tiap tahun sewanya selalu naik. Dan kalau telat bayar walau telatnya hanya satu hari, si ibu pemilik rumah bakal langsung datang gedor-gedor. Ishh… sebel banget deh ama ibu itu 🙁

  • Cipayung, pertengahan tahun 1990-an

Sekali lagi kami nyewa separuh rumah. Bentuknya seperti paviliun, tapi sebetulnya hanya ruang tamu dan kamar ibu saya saja yang sifatnya ‘privat’. Kamar saya, ruang makan, dapur dan kamar mandi hanya dipisahkan triplek saja dengan rumah utama. Pemilik rumah adalah janda dengan 4-5 anak. Di rumah ini saya pertama kalinya pulang malam, alias midnight gara-gara mulai jaman demo. Bahkan pernah saya pulang tengah malam dan gak dibukain pintu sama ibu saya. Terpaksa saya balik lagi ke rumah teman tempat rapat demo sebelumnya diadakan. Lama-lama mungkin si pemilik rumah begah ya, liat saya pulang malem terus, dikiranya saya mejeng di jalan kali..   akhirnya dia beralasan anaknya yang sudah menikah mau tinggal di paviliun, jadi kami gak bisa perpanjang kontrak. So, terpaksa kami hunting rumah baru. 

  • Terusan Pahlawan, akhir tahun 1990-an

Rumah ini agak menyebalkan karena di rumah ini saya sempet kemalingan sampe 3x. Compo stereo, TV, abis dehh.. Waktu itu udah curiga sama tetangga sebelah karena loteng tempat jemur baju kami walau dipisah tembok, tapi kalo nekat jalan meniti genteng bisa aja tuh trespassing. Saya pernah praktekkin soalnya. Haha… lulusan sekolah khayalan trio detektif nih.. 😛 Tapi ga ada yang percaya omongan saya. Termasuk Pak RT-nya. Dia malah pake ngancem secara halus, katanya kalo urusannya dibawa ke polisi, dia lepas tangan. Iiiihhh maksudnya apa coba?? Gak lama rumah tetangga saya itu digerebek polisi karena dicurigai sebagai tempat penadah alat komputer kalo gak salah. Tuuuhh kaaaaan, saya bilang juga apa! Eniwe, rumah ini pada akhirnya juga ga bisa diperpanjang kontraknya. Si pemilik bilang sih rumahnya mau dipake. Tapi gosipnya sih tetangga sebelah saya yang satunya udah lama banget ngincer rumah ini untuk perluasan usaha pijatnya. Iya, tetangga saya yang satunya buka usaha panti pijat tuna netra yang makin lama makin laris. Dia butuh kamar lebih banyak untuk pasien yang datang. Termasuk untuk rumah tinggal. Jadi dia berani bayar kontrakan lebih mahal daripada ibu saya. 

  • RM, awal tahun 2000-an

Rumah ini ada di sebuah jalan buntu, di daerah dekat Taman Makam Pahlawan Cikutra. Dekat dengan kantor ibu saya, dan ga jauh juga dari kantor saya saat itu. Bisa dibilang lokasinya sangat strategis. Belum lagi jaraknya ke rumah ipar ibu saya hanya 5 menit jalan kaki. Ada di belakang masjid. Perfecto deh. Ibu saya betah banget di rumah ini. Malah kalo dijual, ibu saya mau lho beli. Sayangnya menurut pengurus rumah, rumah ini adalah aset pemilik rumah. Di jalan itu saja ada sekitar 8 rumah yang disewakan, dan semuanya itu adalah aset usaha yang gak mungkin dijual karena untuk ngurusin rumah-rumah yang disewain aja sampe ada kantor dan pegawai sendiri. Keuntungan lain rumah ini, karena ibu saya dianggap ‘pengontrak lama’, harga sewa pun masih harga lama 🙂 

  • Kost Guru Mughni – Jakarta, pertengahan tahun 2000-an

Karena saya ditempatkan di Jakarta, saya meninggalkan rumah di jalan RM dan menyewa satu kamar di jalan Guru Mughni. Tapi di tempat ini saya hanya bertahan dua minggu saja. Gak betah, karena saya sendiri di lantai bawah, lalu lantai atas dihuni sejumlah laki-laki. Uh, syerem!

  • Kost Tante Tina – Jakarta, pertengahan tahun 2000-an 

Akhirnya saya dapat kost dekat kantor. Hanya tinggal jalan kaki aja. Kamarnya keciiiil sekali dengan kamar mandi dalam. Kecil-kecil begitu harga sewanya muahhhaaall. Yahhh, anggap saja sebagai pengganti biaya transport. Kost-an ini lebih mirip rumah burung saking kecil, banyak, dan kecilnya. Di akhir tahun 2000-an bahkan saya pernah harus mengungsi karena kebanjiran. Kost saya kebanjiran sampai ke pinggang. Tapi setelah kebanjiran saya gak pindah kost. Tetep aja di situ. Habis lokasinya strategis banget. Deket kemana-mana. 

  • Petakan Gang Aren – Jakarta, awal tahun 2011-an

Beruntung banget bisa dapet rumah petakan di sini. Pertama, jaraknya tetap dekat dengan kantor, walau gak sedekat Kost Tante Tina. Kost Tante Tina mah unbeatable untuk masalah dekat dengan kantor. Kedua, letaknya ada di gang buntu, paling ujung. Hanya penghuni yang keluar masuk. Jadi anak saya cukup aman kalau dia main-main di depan rumah. Ketiga, lokasi yang dekat kemana-mana. Apalagi ke mall. Ambassador, Kuncit, Plangi, PP, FX, PS, Sency, GI, PI, apalagi Lotte Avenue, semua ada dalam jangkauan. Keempat, bebas banjir. Kekurangannya, seiring waktu anak saya tambah besar dan makin geratakan, rumah petakan ini gak lagi sesuai. Terlalu sempit. Makanya belakangan anak saya makin sering main di luar rumah supaya lebih bebas main. Kekurangan yang lain apalagi kalau bukan harga sewanya yang mahal. Lebih mahal daripada cicilan KPR saya. Beuh…

  • Back to RM – Bandung, akhir tahun 2013-an

Karena saya mengajukan mutasi, akhirnya saya kembali ke Bandung. Kembali ke RM. Kali ini berbagi rumah dengan ibu saya. Kami sama-sama beradaptasi karena selama di Jakarta saya punya aturan rumah sendiri, dan selama saya di Jakarta pun ibu saya mengatur rumah sekehendaknya sendiri. Apakah saya rindu rumah di Gang Aren? Tidak. Seperti saya bilang  di atas, saya tidak lagi merasa attached dengan tempat tertentu. Tapi rupanya anak saya agak homesick. Dia masih sering berucap ingin ke Jakarta. Ingin main dengan cucu pemilik rumah di depan rumah. Ingin ke Lotte. Ingin ke Ambassador. Kasihan… malah pernah suatu malam dia mengigau, katanya besok dia ingin ke Jakarta dengan saya…

Saya pernah baca entah di mana, katanya anak-anak rentan stres saat menghadapi perubahan besar dalam hidupnya. Perubahan apa saja? Misalnya bergantinya pengasuh, potty training, pindah rumah, munculnya adik baru, serta masuk sekolah. Saya tidak ingin anak saya mengalami perasaan terasing seperti yang pernah saya hadapi dulu saat saya kecil. Makanya, saya ingin dia beradaptasi dengan masalah pindah rumah ini dulu, sebelum potty training dan masuk sekolah. Rencana untuk pindah rumah (lagi!) ke daerah Bandung Barat pun terpaksa ditunda entah sampai kapan. Dan setelah itu, semoga saya tidak lagi menjadi kontraktor… Sudah capek!

12 comments

Skip to comment form

  1. felicity

    Wesss…sering banget pindah2xnya ya….. BTW, ternyata dirimu suka Lima Sekawan sama Trio Detektif ya, sama dong…. dulu gw sering ngebayangin jadi si George (karena gw rada tomboy kayak dia), tapi nggak mau sama Timmy ah, ngeri sama anjing soalnya hehe 😀

    Sejak lulus SMA gw juga pindah2x dan hidup sendiri, mulai dari pindah ke Malang, trus ke Jakarta, ke Den Haag, ke Jakarta lagi, ke Aceh, ke Sri Lanka, ke Oslo, ke Aceh lagi, ke Jakarta lagi baru deh ke Oslo lagi sampe sekarang…. Karena sering pindah2x gw jadi orang yang fleksibel, jago packing dan unpacking 😀 Biasanya gw kasih waktu ke diri sendiri 6 bulan buat beradaptasi dan mendapat kawan2x baru, kalo lebih dari 6 bulan belum ada temen gaul berarti nggak cocok sama tempatnya…

    1. pipitta

      eh seriusan fel, dari SMA udah pindah-pindah dan hidup sendiri? wooow hebaaat…
      udah pernah posting ceritanya belum?

  2. nisamama

    Hahahaha. Maaakk! Ternyata kita berbeda angkatan! Jauuuh. 😀 Eke masih kepala 2 dong ah tahun ini. *kibas jilbab* 😀
    betewe, postingannya beneran panjang yak. untung udah siap cemilan. 😀

    1. pipitta

      hahaha.. iya nih, curahan hati yang tertunda-tunda terus.. 😀
      saya juga masih kepala 2 koook… about 10 years ago wahahahahahaa…

      iya emang lebih enak blogwalking sambil makan cemilan 😛
      *nyruput kopi*

  3. estu

    Wow.. Hebatt .. Banyak pengalamannya doong .. Pasti sekarang jago banget ngepak barang 🙂 Yang di depan sekolah kita itu yg mantap 🙂 sy sempet nginep kan semalam abis nonton Rick Price dan Michael W smith itu ..:)) semoga ini yang terakhir jadi kontraktor ya ..:))

    1. pipitta

      Wahahahaha… kamuh saksi rumah di Gang Mama Gandawiria itu yaaahhh 😀 Tempat latihan sandiwara pelajaran sejarah (eh, atau PSPB sih??), pulang malem abis nonton Rick Price, ai kamuh ikutan nginep ga karena besokannya mau dirias buat kelulusan? Salonnya pas di depan gang, dengan hasil mek-up emblog-emblogan siga tante-tante.. LOL…

  4. Indah Sulistyowati

    Wuuaaa seru banget ceritanya!!! semoga cepet-cepet pensiun jadi kontraktor nya ya

    1. pipitta

      aamiin…aamiin… aduh makasih banget nih doanya mak indah 🙂 mau banget cepet-cepet pensiun jadi kontraktor… 😀

  5. Riski Fitriasari

    wuih… nomaden sejati nih.. keren ah banyak pengalaman… 🙂

    1. pipitta

      yahh.. disyukuri saja, anggap nambah pengalaman 😀

  6. Heni Puspita

    Saya sedang merasakan jadi kontraktor karena tugas suami nun jauhnya dari kampung halaman. Biasanya ada mutasi tiap 5 tahun, tapi ada rasa ingin tinggal di rumah sendiri, dekat dengan keluarga. Semoga anak saya kelak tidak mengalami kesulitan saat harus berpindah-pindah tempat tinggal.

    1. pipitta

      tapi kenapa mak heni… 🙂
      tapi tugasnya diperpanjang?? Disyukuri aja kali ya, jadi tambah banyak kenalan hehehe…

Comments have been disabled.

%d bloggers like this: