«

»

Oct 02

gempa, oh gempa…

Gempa. Lagi-lagi gempa. Sekali lagi kita dihajar gempa.

Setelah gempa dan tsunami di Aceh tahun 2004 lalu, gempa di Tasikmalaya yang getarannya terasa sampai di kantor saya di Jakarta, tampaknya gempa Padang ini juga sangat dahsyat. Ngeri sekali melihat dampaknya, sejauh yang bisa saya pantau melalui televisi.

Doa saya bersama mereka. Untuk keluarga yang kehilangan suami, istri, anak, saudara, kerabat, harta, dan nyawa. Juga untuk mereka yang terpaksa mengungsi, dan yang terluka, semoga dikuatkan Allah SWT. Digantikan yang lebih baik, dan selalu ada dalam lindungan-Nya.

Nah, bicara soal gempa, jadi sebetulnya kita harus gimana sih, saat terjadi gempa? Sewaktu gempa Tasik yang terasa sampai Jakarta itu, saya sampai kalang kabut dan pusing kepala. Memang sih, gak sampai histeris, cukup sigap membawa HP dan tas saya. Bahkan kepikiran untuk mengganti sendal dengan sepatu di kolong meja. Setelah itu ikut berduyun-duyun dengan yang lain turun tangga darurat. Yang ada di kepala saat itu hanyalah gimana caranya saya cepet-cepet keluar dari gedung. Jalannya hanya lewat tangga darurat karena lift langsung mati. Dan saya pernah baca entah di mana jangan pakai lift saat sedang gempa atau kebakaran. Sepertinya banyak orang yang berpikir sama, karena di  tangga darurat orang-orang berebut turun menuju luar gedung. Berisiknya jangan ditanya: ada yang bertakbir, ada yang aduh-aduhan, ada juga yang marah-marah karena barisan orang didepan turunya ‘lelet’. Huh, ga mikirin apa, kali aja ada ibu hamil yang mesti hati-hati turun tangga?

Saya coba googling dan nemu artikel tentang Segitiga Kehidupan, yang berisi panduan apa yang harus kita lakukan jika terjadi gempa. Tapi ternyata panduan itu dibantah kebenarannya. Itu hanya hoax belaka! Buseeeettt.. untung aja gak saya praktekin kemarin ini. Salah dapat informasi akibatnya bisa fatal, dong.

Jadi mesti gimana??

Well.. saya nemu link dari American Red Cross. Masih dalam bahasa Inggris. Tapi intinya, menurut PMA (Palang Merah Amerika) ini, kalau terjadi gempa teknik penyelamatan diri yang dilakukan adalah: Drop, Cover, and Hold On, dengan catatan:

The American Red Cross, being a U.S.-based organization, does not extend its recommendations to apply in other countries. What works here may not work elsewhere, so there is no dispute that the “void identification method” or the “Triangle of Life” may indeed be the best thing to teach in other countries where the risk of building collapse, even in moderate earthquakes, is great.

Blah. Makin puyeng aja, dong. APA YANG HARUS DILAKUKAN?? Sementara saya harus cukup puas dengan membaca ini:

TINDAKAN KITA SAAT TERJADI GEMPA BUMI

Jika gempabumi menguncang secara tiba-tiba, berikut ini 10 petunjuk yang dapat dijadikan pegangan dimanapun anda berada.

DIDALAM RUMAH
Getaran akan terasa beberapa saat. Selama jangka waktu itu, anda harus mengupayakan keselamatan diri anda dan keluarga anda. Masuklah ke bawah meja untuk melindungi tubuh anda dari jatuhan benda-benda. Jika anda tidak memiliki meja, lindungi kepala anda dengan bantal. Jika anda sedang menyalakan kompor maka matikan segera untuk mencegah terjadinya kebakaran.
DI LUAR RUMAH
Lindungi kepala anda dan hindari benda-benda berbahaya. Di daerah perkantoran atau kawasan industri, bahaya bisa muncul dari jatuhnya kaca-kaca dan papan-papan reklame. Lindungi kepala anda dengan menggunakan tangan, tas atau apapun yang anda bawa.
DI MALL, BIOSKOP, DAN LANTAI DASAR MALL
Jangan menyebabkan kepanikan atau korban dari kepanikan. Ikuti semua petunjuk dari pegawai atau satpam.
DI DALAM LIFT
Jangan menggunakan lift saat terjadi gempabumi atau kebakaran. Jika anda merasakan getaran gempabumi saat berada di dalam lift, maka tekanlah semua tombol. Ketika lift berhenti, keluarlah, lihat keamanannya dan mengungsilah. Jika anda terjebak dalam lift, hubungi manajer gedung dengan menggunakan interphone jika tersedia.
DI DALAM KERETA API
Berpeganganlah dengan erat pada tiang sehingga anda tidak akan terjatuh seandainya kereta dihentikan secara mendadak. Bersikap tenanglah mengikuti penjelasan dari petugas kereta. Salah mengerti terhadap informasi petugas kereta atau stasiun akan mengakibatkan kepanikan.
DI DALAM MOBIL
Saat terjadi gempabumi besar, anda akan merasa seakan-akan roda mobil anda gundul. Anda akan kehilangan kontrol terhadap mobil dan susah mengendalikannya. Jauhi persimpangan, pinggirkan mobil anda di kiri jalan dan berhentilah. Ikuti instruksi dari radio mobil. Jika harus mengungsi maka keluarlah dari mobil, biarkan mobil tak terkunci.
DI GUNUNG/PANTAI
Ada kemungkinan lonsor terjadi dari atas gunung. Menjauhlah langsung ke tempat aman. Di pesisir pantai, bahayanya datang dari tsunami. Jika anda merasakan getaran dan tanda-tanda tsunami tampak, cepatlah mengungsi ke dataran yang tinggi.
BERI PERTOLONGAN
Sudah dapat diramalkan bahwa banyak orang akan cedera saat terjadi gempabumi besar. Karena petugas kesehatan dari rumah-rumah sakit akan mengalami kesulitan datang ke tempat kejadian maka bersiaplah memberikan pertolongan pertama kepada orang-orang berada di sekitar anda.
EVAKUASI
Tempat-tempat pengungsian biasanya telah diatur oleh pemerintah daerah. Pengungsian perlu dilakukan jika kebakaran meluas akibat gempabumi. Pada prinsipnya, evakuasi dilakukan dengan berjalan kaki dibawah kawalan petugas polisi atau instansi pemerintah. Bawalah barang-barang secukupnya.
DENGARKAN INFORMASI
Saat gempabumi besar terjadi, masyarakat terpukul kejiwaannya. Untuk mencegah kepanikan, penting sekali setiap orang bersikap tenang dan bertindaklah sesuai dengan informasi yang benar. Anda dapat memperoleh informasi yang benar dari pihak berwenang, polisi, atau petugas PMK. Jangan bertindak karena informasi orang yang tidak jelas.Source dari sini


 

Well.. ada yang mau nambahin??

2 comments

  1. pipit

    Thanks for sharing the info, yen.. di sini mah yang ada panik aja.. sampe tas dan bawaan ini itu ketinggalan..

    Gak pernah ada simulasi gimana menghadapi gempa sihh 🙁

  2. yendoel

    kalo sempat kabur keluar rumah/kantor, yah cepat kabur. bener2 dalam hitungan detik soalnya. kalo di china, berhubung rata2 tinggal di apartemen, dianjurkan untuk menyelamatkan diri ke toilet, karena ruangan sempit, dg 4 tiang di pojokan. jadi kalo pun ambruk, gak akan separah kalo yg ambruk langit2 ruangan besar. dianjurkan selalu menyiapkan ‘tas-darurat-gempa” (isinya senter, barang yg bisa menghasilkan bunyi2an kenceng, pluit, makanan kering, minuman secukupnya, obat2an darurat, plester) taroh di tempat yg paling gampang diraih.

Comments have been disabled.

%d bloggers like this: