«

»

Feb 04

Hello, Balikpapan!

Sebulan lalu saya ke Balikpapan. Bukan untuk liburan, ini mah business trip. Ciyeeeeeeh, gaya banget sih.. timbang diongkosin kantor doang! Waktunya juga gak lama, cuma empat hari. Itupun pulangnya pakai pesawat yang pagi.

Awalnya agak ngerasa syerem terbang di atas pulau Kalimantan. Kabarnya banyak hampa udara. Belum lagi menjelang saya berangkat, hampir setiap hari hujan. Awww, deg-deg plas, deh!

Tapi kematian bisa di mana aja, toh? Mau di pesawat, atau di atas ranjang, kalo mati ya mati aja. Ntar juga bisa dinyalain lagi… apa seeeeehhhhh…

Begitu tahu saya bakal dikirim ke Balikpapan selama empat hari, saya langsung googling. Soalnya ini kali pertama saya mampir ke Balikpapan. Saya kan belum pernah menginjakkan kaki di kota manapun di pulau Kalimantan, yang kalau di peta sih guedenya berlipat-lipat dibandingkan dengan pulau Jawa. Makanya saya perlu cari info tempat mana yang kira-kira menarik dan wajib dikunjungi dalam waktu mepet seperti itu. Istilah epentje sih: kejar tayang.

Kesan pertama begitu sampai di Balikpapan, panas ooooyyy… Dekat pantai sih, ya… makanya hawanya langsung kerasa panas nas nas banget. Di perjalanan menuju hotel, saya ngobrol-ngobrol dikit dengan Pak Pengemudi. Dia orang Samarinda, dan belum pernah ke Jakarta! Jangankan ke Jakarta, ternyata ya, dia sama sekali belum pernah keluar dari Pulau Kalimantan!

Hmm… boleh heran, gak?

Tapi kenapa harus heran, para tetangga mertua saya di Jawa sana juga banyak tuh, yang belum pernah ke Jakarta, ibukota negaranya sendiri, padahal masih satu pulau. Apalagi mereka yang dipisahkan laut dan samudra.

Lanjut, ya..

Ternyata di Kota Balikpapan gak ada museum. Menurut Pak Pengemudi, museum yang  paling dekat ada di Tenggarong, Museum Mulawarman, tapi jaraknya sekitar 150 km dari Balikpapan. Yahhh… mana sempat…

Main ke Bukit Bangkirai juga gak mungkin, jarak dan waktunya gak keburu. Padahal saya kepingin banget tuh cobain canopy bridge-nya. Gak kebayang pasti ngeri ngeri sedap, berjalan dari satu pohon ke pohon lain. Wah, main ke sini harus seharian, sekalian bersihin paru-paru dari kejamnya polusi udara.

Jadinya main ke mana, dong? Ke sini, lho…

Peternakan Buaya – Teritip

Hihihi, iseng banget, ya. Peternakan buaya yang pertama kali saya kunjungi ada di Medan, di daerah Asam Kubang. Itu juga karena gak sengaja lihat papan penunjuk arahnya. Jadilah main ke sana. Di sana ada seekor buaya gendut yang super duper gede. Saking besarnya, kulitnya bisa jadi koper haji, deh. Makanya sewaktu tahu di Balikpapan juga ada peternakan buaya, saya minta di antar ke sana. Yahhh… selama ini saya sering ketemu ‘buaya darat’, sekali-kali boleh, dong, lihat buaya betulan, hehehe.

Ternyata peternakan buayanya agak mengecewakan. No offense, yah. Soalnya begitu masuk saya harus bayar sepuluh ribu per orang. Tanpa bukti karcis masuk. Jadinya si sepuluh ribu itu gak jelas masuk kantong siapa, dan apa betul harga karcisnya segitu, atau hanya asal njeplak aja?

Trus, kandang buayanya bau banget. Katanya sih, kebetulan sedang dibersihkan. Tapi kok gak ada orang yang sedang bersih-bersih.

Buayanya juga gitu-gitu aja. Maksudnya?

Gini lho… peternakan buaya yang di Medan itu buayanya dikelompokkan berdasar umur  dan ukuran. Jadi di sebelah sini bak-bak semen yang isinya anak buaya seukuran teh botol, disebelahnya berjejer bak semen untuk anak buaya yang lebih besar, sebelah sana untuk remaja buaya sebesar papan skateboard, nah di satu kolam rawa super besar, berkumpul buaya-buaya gede banget, gitu. Asik, kan, kita bisa lihat buaya dalam berbagai ukuran.

 

Sedangkan di peternakan buaya di Balikpapan ini, rata-rata ukuran buayanya sama aja. Lah, kalo misalnya dari sepuluh kandang isinya buaya yang kelihatan kembar semua, mana seru? Belum lagi di kolam rawa buayanya hanya ngintip-ngintip curiga aja, beda dengan buaya Medan yang kecipak-kecipuk banyak gaya.

Karena gak datang di hari libur, gak bisa nyicip sate buaya. Lagian, emangnya halal? Iya, ada segala macam bagian buaya yang dijual. Batal makan sate buaya, teman saya borong abon buaya, kerupuk buaya (bentuknya mirip kerupuk kulit, tapi terbuat dari daging buaya, bukan kulitnya), dan empedu buaya yang katanya bisa jadi obat asma. Selain itu dijual juga tangkur buaya yang dikemas di botol kecil, lembaran kulit buaya yang sudah diwarna, dan dompet kulit buaya asli yang dibandrol 300rebu saja. Kesan saya, ihhhhh, ternyata tangkur buaya tuh ukurannya segitu aja???

Pantai Manggar Segarasari

My first thought: The beach is soooo beautiful! Tapi saya gak berani telanjang kaki di pasirnya yang putih dan halus, gara-gara lihat ada seekor kucing yang pup di pasir. Ewwwww…

Kok bisa ada kucing main ke pantai?

Soalnya di pinggir pantai berjejer tempat makan. Dari ujung ke ujung penuh dengan warung makan. Sewaktu saya ke sana sih hampir semua warungnya kosong gak ada pembeli, tapi saya  yakin kalau akhir minggu pasti tempat ini penuh kayak cendol. Buktinya, warung makan bisa eksis di situ. Malah ada tempat penyewaan ban segala.

Tapi suwer, deh. Pantainya cantik!

 

Pantai Melawai

Sebetulnya ke sini karena kebetulan sedang cari tempat makan malam. Itu juga gak jadi turun karena tempatnya gelap banget. Bisa-bisa salah masuk, nyocol makanan malah ke masuk mata, bukan ke mulut..  Gaya srimulat itu, lho…

Kilang Minyak

Katanya sih gak afdol ke Balikpapan kalau belum lihat kilang minyaknya. Disinilah minyak mentah diolah. Duh, dengan puluhan kilang segede rumah di Pondok Indah, mestinya negara kita sudah semakmur Brunei, ya…

Tadinya saya mau berfoto dengan latar si kilang itu, tapi takut diusir, hihihi…  Jadi saya ngalah, deh. Kilangnya aja yang difoto.

Taman Bakapai

Taman ini gak jauh dari hotel saya. Sebetulnya saya gak pernah main ke sini, tapi dalam sehari bisa lebih dari dua kali lewat taman ini.  Setiap lewat saya bingung kok banyak sekali pasangan yang nongkrong di sini sambil bawa laptop. Belakangan saya baru tahu kalau di taman ini free Wi Fi, bo’

%d bloggers like this: