Uncategorized

Kenapa Ingin Anak Kedua

Saya anak tunggal.

Saat tahu fakta itu, semua orang di sekeliling saya biasanya responnya: Waahh, enak banget jadi anak tunggal. Pasti semuanya abis buat sendiri.

Saat masih kecil pun seingat saya, saya udah mikir, iya bagian itunya sih enak. I didn’t have to share everything. Makanan, mainan, bisa puas saya nikmati sendiri. Nah, ketemu kan keywordnya.

Sen.di.ri

Apalagi ibu saya kerja. Seingat saya, di rumah selalu ada ART hanya sampai saya sekitar kelas 5 SD. Setelah itu gak ada lagi ART di rumah. Sejak kelas 1 SMP saya sudah dibekali kunci rumah, dan jaman saya saat itu seluruh kelas 1 kebagian jatah sekolah siang. Jadi pagi-pagi ibu saya berangkat duluan. Saya keluyuran aja di rumah sampai waktunya berangkat sekolah. Nanti jam pulang sekolah, ibu saya sudah di rumah.

Terlatih sendirian, saya jadi mahir menciptakan aneka ragam kegiatan untuk melewatkan waktu. Makanya saya suka banget baca buku. Bahkan satu buku yang sama bisa saya baca sampai sepuluh kali. Sebetulnya ini antara suka baca, dan kehabisan bahan bacaan, sih. Malah pernah saya rajin baca kamus, saking ga ada lagi buku baru yang bisa dibaca.

Kalau bosan baca, saya main sekolah-sekolahan. Yang jadi murid, semua koleksi boneka saya. Mereka semua punya nama yang keren-keren. Misalnya Roberta, Timmy, Susi, Benjamin, dan sebagainya. Saya sampai beli buku absen betulan untuk bisa ngabsen semua boneka, apa mereka rajin sekolah atau nggak. Semua boneka saya malah punya tanggal ulang tahunnya sendiri, jadi pas mereka ulang tahun, saya bungkusin barang apa aja yang ada di rumah, pakai kertas koran, dan bikin acara ulang tahun kecil-kecilan yang dihadiri semua boneka. (Sedih gak sih, ini?)

Bosan main sekolah-sekolahan, saya bikin permen mainan dari busa kecil-kecil yang dibungkus kain warna-warni. Dijahit pakai jarum kecos, dan ditempel di vitrage jendela. Then my mom boasted that craft to other relatives. Yahh… banyaklah yang dulu saya lakukan sendirian, supaya waktu cepat berlalu.

Karena terlatih sendirian itulah, saya tahu pasti, gak punya saudara itu NGGAK ENAK. Walau jadi anak tunggal banyak juga keuntungannya, tapi yang pasti, saya merasa sepi.

Berdasarkan pengalaman pribadi inilah, waktu si Kunyil udah umur 3 taunan, saya sempet ngoyo pengen punya anak kedua. Beuh… manalah sempet susah dapetnya, sampai bela-belain terapi ke obgyn segala. Obgyn mengharuskan yang kudu diperiksa itu dua-duanya, gak bisa cuma istri doang. Pak suwami diperiksa, saya pun diperiksa, lalu keduanya diterapi. Manalah lagi kalo terapi hormon tuh gak dicover sama asuransi kesehatan kantor T.T sampai segitunya pengen kasih adik buat si Kunyil.

Ada sekitar tiga bulan bolak-balik ke Obgyn, akhirnya di bulan keempat mau istirahat dulu. Sekalian nabung buat ongkos terapi lagi. Soalnya bawaannya kok ya malahan stres, dan baru tau kalo obat terapi hormon itu mihilllll. Obgyn cuma pesan, selama masa libur terapi usahakan saya dan pak suwami banyak makan makanan tinggi protein. Salah satu diantaranya adalah telur angsa.

Ada yang lucu soal telur angsa ini. Jadi kan cari telur angsa di pasar itu susaaaaaaaaah banget. Untunglah di kampung pak suwami nun jauh di Jawa Tengah sana, masih ada penjual telur angsa. Belinya di peternak angsa. Uniknya, harga telur angsa busuk harganya bisa 2x lipat lebih mahal. Kenapa? Percaya gak percaya, telur angsa busuk sering dipakai sebagai salah satu properti santet! Lah wong penjualnya sempat anggap bapak mertua salah beli: kalau mau manjur pakai telur angsa yang busuk, pak! Dan sebetulnya kalau si penjual jual telur angsa segar dia kan malah rugi, kalau dibikin busuk harganya malah jauh lebih mahal. Untunglah berkat hubungan baik bapak mertua dengan pak peternak, bisa dapat sekitar 8-10 butir telur angsa.

Alhamdulillah, dengan ikhtiar makanin dadar dan ceplok telur angsa selama beberapa hari, atas kuasa Allah gak lama saya hamil anak kedua 😀 dan cerita telur angsa ini langsung menyebar di keluarga besar, terutama untuk beberapa saudara yang ingin cepat hamil.

The greatest gift you can give your child is another sibling.

Pope John Paul II
Photo by Luizmedeirosph from Pexels

Anyway, sekarang kalau di rumah dengar si Kunyil dan adiknya bertengkar, rebutan siapa yang mau mandi duluan, main sepeda sama-sama, cekikikan berdua pas main among us, saya mensyukuri keputusan saya. Saya berharap mereka berdua bisa selalu saling menyayangi, saling mendukung satu sama lain, dan menjadi teman baik. Saya berharap tidak ada dari mereka yang merasa kesepian seperti saya dulu, karena mereka saling memiliki.

About Ibun

Careful, cautious and organized. Likes to criticize. Stubborn. Quiet but able to talk well. Calm and cool. Kind and sympathetic. Concerned and detailed. Sensitive. Thinking generous. Tends to bottle up feelings. Hardly shows emotions. Systematic.
View all posts by Ibun →

3 thoughts on “Kenapa Ingin Anak Kedua

    1. Hehe, semoga kalau kamu nanti beristri lancar jaya yah, gak perlu terapi / makanin telur angsa segala, soalnya nyarinya susah :)))

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *