«

»

Apr 14

naik unta, dan lainnya…

Yang pernah umrah pasti tahu, saat ziarah ke Jabal Rahmah begitu turun dari bis kita akan diserbu mamang-mamang Arab dan untanya. Persis seperti kalau kita main ke bonbin di Bandung. Belum apa-apa udah dibombardir dengan tawaran naik kuda keliling Masjid Salman. Hayooo, siapa yang pernah naik kuda di sekitaran Salman – ITB?

Seperti begitu juga di Jabal Rahmah. Bedanya mamang-mamangnya ngomong arab, hehe. Untanya? Gak tahu, soalnya mulutnya diberangus. Apa untanya suka gigit, ya? Atau suka ngomong jorok? Oh ya, untanya juga heboh banget. Dihias bunga-bunga plastik segal macem di sana-sini. Pantesan unta-unta di sana pasang ekspresi bete semua. Saya juga pastinya bakal bete banget kalau di siang hari bolong pas matahari terik, digantungin bunga-bunga plastik norak, eh.. disuruh gendong orang pulak!

Eniweeeeeeei… difoto bareng unta, bayar 10 riyal. Foto pake kamera sendiri sih cukup 5 riyal. Duduk di unta yang duduk, bayar 10 riyal. Untanya berdiri sama aja, bayar 10 riyal. Tapi kalau ingin duduk, dan untanya jalan, harus bayar 15 riyal. Untanya lari? Sama kok, 15 riyal juga. Pinter-pinter nawar ajalah. Pakai bahasa isyarat juga ngerti, kok. Mamangnya, bukan untanya.

Saya mencoba segala gaya di setiap kunjungan. Umrah pertama masih takut-takut, jadi hanya berani berfoto di sebelah unta yang sedang duduk. Lalu kunjungan berikut saya coba duduk di atas unta yang juga duduk. Di kunjungan lain,  untanya berdiri. Kali berikutnya saya coba untanya jalan, lalu lari-lari kecil.

Dari situ saya tahu hal paling menyenangkan dari naik unta adalah saat si unta berubah posisi dari duduk sampai berdiri.

Jadi ya, kalau unta mau berdiri, yang pertama dilakukan adalah (maaf) nungging. Kedua kaki belakang diluruskan sedangkan kaki depan tetep terlipat manis. Kebayang dong, kalau saat itu kita duduk di atasnya! Otomatis posisi kita juga ikut doyong ke depan 45 derajat. Wah, kalau gak pegangan kenceng-kenceng pasti deh langsung ngegelundung ke depan dan bisa-bisa mendarat di kepala si unta.

Setelah nungging dan meluruskan kaki belakang, baru deh giliran kaki depan yang berdiri. Pada saat ini gantian kita doyong ke belakang. Duh, prosesi ini seru banget pokoknya. Pasti bikin histeris jerit-jerit kecanduan. Sayang saya lupa tanya mamang-mamangnya, harus bayar berapa supaya untanya bolak-balik duduk dan berdiri, hehe.

Unta jalan juga bisa bikin jerit-jerit. Entah karena pinggulnya besar atau kita pas duduk di sendinya, setiap langkah unta bikin kita doyong kiri dan kanan. Berasa hampir jatuh, deh. Cukup bikin jantung empot-empotan. Tapi yakin, deh. Seru banget!

Yang gak begitu seru malah unta lari. Posisi kita malah lebih mantap daripada naik kuda. Maksudnya, kita gak bakal terlalu keguncang-guncang. Saya malah takut untanya ngibrit terlalu cepat sampai mamang-mamangnya ketinggalan, gimana coba caranya nyuruh si unta berhenti lari? Saya gak bisa bahasa arab. Jangan-jangan saya dibawa lari sampai Madinah. Kan jauh banget, tuh.

Tapi yah, setelah saya pikir-pikir gak ada yang lebih mengerikan daripada pengalaman naik gajah, trus pas lagi asik jalan-jalan gajahnya marah-marah, ngambek ama gajah lain yang lagi papasan sambil bawa ‘penumpang’ juga! Hiyyy… serem gak tuh, nyaris disambit langsung pake belalai! Itu sebabnya saya gak sampai 5x aja naik gajah di Bonbin Bandung. Takut kebagian gajah yang pundungan lagi.

Sedangkan naik unta, waaaaahh… selama saya masih dikasih kesempatan untuk umrah dan dan ziarah ke Jabal Rahmah, saya pasti naik unta lagi! Gayanya yang gimana lagi, ya?

2 comments

  1. online

    Terima kasih atas informasi menarik

    1. pipitta

      sama-sama.. 🙂

Comments have been disabled.

%d bloggers like this: