«

»

Apr 09

ocehan panjang lebar di hari nyontreng se-Indonesia

Saya ikut serta dalam euphoria Pemilu 2009. Ingin nyontreng! Makanya saya bela-belain mudik untuk nyontreng hari ini. Niat mudik pakai travel batal karena gak dapat tempat duduk, saya pun berniat pakai kereta api jam enam pagi. Bangun jam empat, berangkat sekitar jam lima subuh, sampai di Stasiun Gambir sekitar jam enam kurang, eh.. eh.. eh.. loket sudah tutup karena tempat duduk habis! Gimana sih? Beuh, niat banget yah, pengen nyontreng…

Pleh. Terpaksa antri untuk keberangkatan berikut, jam 8.30. Hiyaaaa, memangnya saya patung Pancoran, tahan ngantri dua jam? Bodohnya, kok saya gak kepikiran untuk pesan tiket kereta api online. Padahal caranya gak susah, dan pastinya saya gak perlu ngantri kayak orang gila begini. Duhhhh, gaptek kok masih dipiara!


Kalau mau coba, begini caranya:

  • Telpon ke 13897 dari GSM (CDMA belum bisa)
  • Ngobrol Pesan ke operator info kepulangan kamu, nanti dia akan konfirmasi nama kereta yang digunakan, tanggal dan jam keberangkatan, jumlah penumpang yang akan berangkat, kelas dan nomor tempat duduk, harga tiket, biaya administrasi pemesanan, total biaya, dan kode booking
  • Kode booking digunakan saat proses pembayaran via ATM Mandiri, internet, atau SMS banking
  • Pembayaran harus dilakukan maksimal 3 jam setelah pesan, atau dianggap batal
  • Bukti bayar berupa struk (via ATM), print out komputer (via internet), atau SMS (via SMS banking) harus dibawa ke loket stasiun kereta untuk ditukar dengan voucher menginap di Bali tiket kereta sesuai pesanan
  • Jangan lupa bawa fotokopi identitas, dilampirkan bersama bukti bayar
  • Voilà, kamu siap berangkat dengan tiket di tangan tanpa harus capek-capek antri kayak saya

Sumber: dari sini


Setelah ngantri panjang kayak ular naga, tiket eksekutif sudah habis. Hanya ada tiket bisnis. Terbayanglah gerbong bisnis yang jelek, jorok, dan bau. Yahhh, what do you expect dong, dengan harga 30rebu? To my surprise, ternyata  PT. KAI sudah bebenah. Gerbong bisnisnya gak sejelek dulu. Saya sampai takjub. Kursinya sudah direnovasi. Lebih empuk dan kulit joknya masih utuh, gak bocel-bocel. Kipas nyala semua, senangnya, secara saya pakai “kostum bepergian jam enam pagi”, dan semriwing bau dari toilet gak nempel di hidung. Wuiiihhh.. hebat!

Kostum pramugara keretanya juga ganti. Kemeja warna biru atau hijau, ya? yang sejuk di mata. Hilir mudik bawa baki isi nasi goreng, mie, dan minuman dingin.

However, ada ciri khas yang masih tetap dipertahankan sih, yaitu: lelet alias ngaret. Dengan pengalaman bertahun-tahun naik kereta, saya sudah hapal betul pasti bakal hujan badai kalau on time kereta api gak pernah sampai sesuai jadwal. Jadi gak terlalu kaget sewaktu turun di Stasiun Bandung jam 12 siang. Padahal di tiket tertera jadwal kedatangan adalah jam 11.20 huuuuu…. tipuuuuuuu….

Sialnya saat ibu saya konfirmasi rencana nyontreng saya ke salah satu panitia tempat saya terdaftar, TPS 038, katanya saya gak bisa nyontreng karena sudah tutup. Sudah jam setengah satu. Gak bisa, pokoknya gak bisa. Loh kok??? Suara saya kan berharga, masak disia-siakan. Kan saya udah bangun pagi banget, tauk!

Sia-sia pengorbanan saya bangun subuh, berangkat pagi-pagi sekali, ngantri tiket kereta berjam-jam, huhuhuhu sedihnya… Lalu saya nangis gerung-gerung di lantai.

Tiba-tiba sepupu saya bilang, yang tutup tuh pendaftarannya!

Ibu saya          : Anak saya yang cantik ini kamu udah didaftarin  jam sebelas!

Sepupu saya  : Kalau udah daftar, ya mestinya bisa nyontreng doooong…

Nah, saya kan sudah terdaftar, kenapa saya ditolak dooooong??? Ah, panitianya payah nih! Langsung deh, ibu saya konfirmasi lagi lewat telepon, komplen-komplen, daaaaaaan ternyata diputuskan saya masih bisa nyontreng!!! Cihuy! Ogah rugi karena sudah bangun subuh.

Saya harus sampai dalam lima menit di TPS 038 itu. Idiiiihhhh, padahal saya dalam perjalanan ke salah satu toserba untuk makan siang. Buru-buru deh, naik angkot menuju TPS. Ocehan gak penting: Ternyata naik angkot dari depan Griya Pahlawan ke Toko Laris, bayarnya seribu yah? Kok jadi mahal? Dulu kan cuma limaratus!


Sampai di TPS 038, sebagian kertas suara sudah dihitung. Saya diberi empat kertas suara dengan empat warna berbeda, lalu dipasangkan penghalang dari kaleng yang mirip kaleng kerupuk bertuliskan KPU.

Duh, kertasnya kok gede banget, kayak mau baca koran aja. Lah, kok saya sama sekali gak kenal gambar orang-orang di kertas suara itu? Daerah pemilihan Jabar, Jabar 1, Bandung 1 dan Bandung 2, saya betul-betul blank mau pilih siapa. Mukanya gak familiar, namanya apalagi. Siapa sih mereka?

Sempat terpikir untuk golput dan mencontreng tiga atau lima partai sekaligus, tapi sayang, ah. Mending saya pilih partainya Dita Indah Sari. Dia kan pemberani. Udah saatnya kita punya wakil rakyat yang pemberani, ya toh? Kabarnya dia berkoalisi dengan partai… partai…. partai… eh, partai apa, ya? Kok saya lupa nama partainya? Hihihi.. dasar bebal!

Gak jadi deh saya contreng partainya Dita Indah Sari. Ada yang tau, dia koalisi dengan partai apa sih?

Lalu saya sempat membaca nama caleg yang posternya tersebar luas seantero Bandung. Contreng gak, ya? Tapi kan suaminya juga caleg nomor satu. Kalau gara-gara contrengan saya pasangan suami istri ini menang, kasihan dong anak-anaknya di rumah gak ada yang urus. *Sigh* Apa jadinya ya, kalau dalam satu keluarga ayah, ibu, anak, paman, bibi, nenek, sepupu, keponakan, semuanya jadi caleg? Trus, menang semua! Ya nimbun kekayaan, dong. Bisa hemat bensin kali, ya.. kan ngantornya barengan..

Halaaaaah, daripada pusing mending pilih yang mukanya kelihatan jujur tapi kok gak ada, ya? Atau yang namanya unik. Sesukanya ajalah, namanya juga penggembira.

Contrengnya gak pakai pikir lagi. Contreng, treng, treng, treng! Caleg dari empat partai berbeda di empat kertas suara berbeda, dan ngelipatnya bikin bingung, saya contreng namamu… awas yah, kalo ternyata kalian musang berbulu domba! Dikutuk jadi dungu, lho!

Saya masukkan ke kotak suara, sesuai warna, lalu mencelupkan kelingking ke dalam tinta. Selesai! Duh, senangnya nyontreng.

%d bloggers like this: