«

»

Nov 04

orang-orang bermulut jahat

Seringkali tanpa disadari (atau malah justru sepenuhnya sadar) mulut kita gatal mengomentari, mencela, menuduh, bahkan mengejek orang lain. Misalkan saat tayangan reality show yang gak banget, sinetron sepanjang ular naga, serta infotainment. Duuuh.. habis deh semua orang kita “silet-silet”.

Saya termasuk penyilet juga, sih, hehe. Ngaku sendiri. Kalau lihat tayangan infotainment dengan kabar artis anu cerai, artis itu selingkuh, artis manalagi berkasus, waaaah… mulut saya sering gatal kalau gak ikut komentar.

Padahal, saya gak tahu pasti penyebabnya. Saya juga gak kenal secara pribadi dengan mereka. Saya hanya tahu sepintas saja. Tapi sudah koar-koar menilai negatif orang lain.

Kebiasaan buruk, ya.

Seandainya orang yang saya komentari dengar, pasti sakit hati dengan segala macam ucapan orang lain. Hal ini sering luput dari pikiran saya. Lagipula kalau saya komentari tayangan tv, gak mungkin orangnya dengar doooong…

Toh saat ini saya bisa berkomentar lewat internet, twitter, wall FB, dan segala macam media lainnya. Coba perhatikan, pasti banyak ocehan-ocehan yang menyakitkan hati. Seolah-olah ucapan tersebut memang pantas dan harus diterima begitu saja.

Padahal saya gak tahu pasti, apa betul yang saya ucapkan memang pantas untuk diungkapkan. Memangnya saya siapa sih? Memangnya saya gak pernah berbuat kesalahan? Memangnya saya orang paling bersih dan jujur sedunia?

Well.. seperti saya bilang sebelumnya, semua itu sering luput dari pemikiran saya. Saya SERING LUPA kalau komentar saya bisa saja menyakiti orang lain.

Mungkin itu sebabnya ketika mendapat musibah saya langsung mendapat teguran dari-Nya berupa komentar seorang sepupu. Katanya kurang lebih seperti ini:

Kalau hilang barang itu berarti kurang amal. Jadi anggap aja uang yang hilang sebagai pengganti beramal…

Krik. Krik. Krik

(Kalau di komik muka saya akan tergambar cengo dengan butiran keringat segede jagung).

Saat menuliskan kesedihan saya kehilangan uang berjuta-juta, belasan orang tak tidak saya kenal bahkan mendukung dengan tulisan-tulisan menyejukkan hati. Serta doa untuk saya. Demikian juga dengan sejumlah teman dekat yang bahkan berinisiatif menanyakan hal tersebut pada temannya yang bekerja di bank.

Lalu kerabat saya sendiri berkomentar seperti itu?

Tidakkah dia tahu komentarnya menyakiti hati saya? Memangnya dia tahu berapa yang saya keluarkan untuk amal, berapa yang saya berikan pada kerabat, berapa yang saya sumbangkan ke lembaga zakat?

Saya mencoba berbesar hati, mungkin memang saya kurang beramal.

Jadi sudahlah.

Sekarang saya bertekad untuk tidak menghakimi orang lain lewat pendapat saya. Saya belajar, bahwa ucapan yang walaupun mungkin maksudnya hanya bergurau bila dilontarkan pada saat yang salah, berpotensi menyakiti hati.

%d bloggers like this: