«

»

Sep 16

ratu di dapur?? wwwekk!!

kokijakirjaSaya ga terlalu bisa masak. Apalagi kalau bumbunya ribet, dalam arti mesti pakai bumbu selain bawang merah, bawang putih, cabe, gula, garam, dan merica. Saya hanya mau bisa masakan model tumis-tumisan yang simpel. Payahnya, saya gak suka nyicip hasil masakan yang sedang dimasak. Jadi bumbu dicemplungkan halah, bahasa apa juga nih, cemplungkan?? begitu aja dengan takaran sesuka saya. So, masakan keasinan atau ga ada rasa sih hanya bisa diketahui setelah masakannya jadi, hehehe.

Di awal pernikahan, suwami bersikap baik dengan memakan SEMUA masakan saya. Mau keasinan, kepedesan, ataupun gak ada rasa setiap saya tanya: “Enak, ga??” jawabannya pasti: “Enaaaak… Semua masakan kamu gak ada yang gak enak, kok…”

Jadilah saya makin pede masak tumis yang itu-itu lagi. Hihi.

Mungkin karena hampir setiap hari dicekoki masakan yang itu-itu juga, suwami mulai komentar sok polos: “Aku gak akan keracunan, kan, makan ini??”

Tentunya setelah istri baik hati yang sudah mengorbankan waktu leyeh-leyehnya untuk masak manyun karena dituduh meracuni, hasil masakannya toh ludes juga.

Hingga tibalah saat suwami habis kesabaran dan MOGOK makan tumis-tumisan. Caranya licik halus sih, pulang dengan membawa makanan jadi. Katanya: “supaya kamu gak capek-capek masak, aku beliin ini…” dan setiap kali saya berniat masak, dengan tegas dia akan bilang: “Gak usah masak! Nanti kamu capek!”

Singkat cerita, akhirnya saya tahu yang sebenarnya. Suwami bosan disuguhi tumisan yang itu-itu juga dengan rasa hancur-hancuran yang gak bisa ditebak kapan tawar dan kapan enaknya.

Well, dalam pernikahan konon komunikasi dan kompromi jadi kunci penting. Tsah. Jadilah akhirnya saya berkompromi. Suwami akan makan masakan saya dengan syarat:

  1. Masakan dicicipi saat MASIH DI ATAS KOMPOR, bukan setelah disimpan DI PIRING, supaya ketahuan kalau kurang bumbu atau keasinan.
  2. Tidak memasak tumisan yang itu-itu saja. Selain bokcoy, brokoli dan baby corn, kira-kira apa yang bisa ditumis, sih?
  3. Tidak nyambel dengan hasil ulekan yang TERLALU lembut, harus  kelihatan sedikit rajangan cabenya. Lho, selama ini saya kira kalo berhasil ngulek sambel dengan lembut seperti habis diblender, itu tandanya hebat..
  4. Dilarang meracuni suwami. Kalau hasil masakan saya rasanya adul-amburadul, harus saya habiskan sendiri.

Saya terima dengan catatan besar: Saya hanya akan masak makanan yang saya suka, yaitu kangkung, bayam, bokchoy, kacang polong, baby corn, brokoli, dan sayuran jenis dedaunan hijau lainnya. Kesukaan suwami yang BUKAN kesukaan saya seperti kacang panjang, toge, buncis, waluh, terong, dan berbagai jenis sayuran aneh lainnya, BISA DIBELI DI WARUNG TERDEKAT.

Sekian.

PS: Sore ini saya hunting resep dengan bahan dasar tempe. So far, saya udah save tempe penyet, tempe orek, tempe goreng bumbu bali, dan berniat membeli kemiri dan serai untuk variasi bumbu. Tampaknya suwami bakal mati bosan kalau saya terus-terusan masak tumis dengan saus tiram atau tauco.

2 comments

  1. nadZ

    mbak pipiiiittt, kalo aku malah sukanya masak makanan lauk-pauk gitu, tapi nggak suka bikin kue, hahaha. Bikin kue itu lebih ribet lagi daripada masak (menurutku…)

    tapi sampai sekarang jg kalo masak ga pernah ada takaran khusus untuk resepnya, berdasarkan insting aja dan alhamdullillah sejauh ini sukses dan layak dimakan 😀

    semoga sukses memasak resep yang lainnya :))

    1. pipitta

      duuhh.. kamu mah pasti jago top-markotop deh masaknya… 🙂
      emang sih kalo nanya emak, bibi atau siapa gitu pasti semuanya pake takeran berdasarkan insting, nahhh saya juga begituhhh tapi suka gak pas…
      hihihihihi ;p

      ayo dong, bagi-bagi resepnya..

Comments have been disabled.

%d bloggers like this: