tentang mobil..

Suatu hari suami saya pulang dengan mata berbinar-binar. Lalu ia bercerita dengan penuh semangat. Katanya, dalam perjalanan pulang ia melihat mobil jaguar TEPAT DI DEPAN MATA.

Eh. Memangnya kenapa dengan mobil jaguar?

Panjang lebar suami saya berusaha menjelaskan ARTI PENTING sebuah jaguar.

jaguar

Lah. Memangnya jaguar itu keren, ya? Saya ini buta mobil. Buat saya mobil hanya ada dua jenis, kijang dan sedan. Apapun merk mobilnya. Mobil yang ada moncong satu di depan adalah kijang. Mobil dengan moncong dan buntut adalah sedan. Sebetulnya ada satu jenis mobil lagi, tapi karena sudah lama sekali gak lihat mobil sejenis itu, jadinya gak penting untuk disebut :p itu lho.. mobil tanpa moncong. Yang ini buat saya namanya mobil roti. Tapi khusus mobil Mr. Bean ada namanya sendiri, ya.. yaitu mobil kutu.

Kesimpulannya, semua mobil bermoncong satu adalah kijang. Semua mobil dengan moncong dan buntut adalah sedan. Jadi walaupun suami sampai hampir putus asa menjelaskan bahwa jaguar mobil paling keren yang pernah dia lihat, buat saya it’s just another sedan.. apa bedanya dengan mobil lain??

Eh, koreksi, ding.. ada satu jenis mobil lagi. Mobil favorit saya, jip. Yaaaa… semua mobil bermoncong pendek model begini adalah Jip!

gambar diambil dengan semena-mena dari sini karena saya masih gak ngeh jaguar model apa yang dilihat suami..

Tags: , ,

  • Twitter
  • RSS

finally, themes 2010

Kemarin kan untuk sementara saya pakai themes ‘cadangan’ yang ini:

lonelytreeSesuai judulnya, lonelytree, themes ini makin lama dilihat kok ya malah bikin depresi. Gak cerah ceria, gitu. Padahal inginnya 2010 ini saya lalui dengan happy happy joy joy.

Setelah ngutak-ngutek kemana-mini gak jelas sampai pusing dan keriting, akhirnya saya nemu juga themes yang sesuai dan disuka. Masih jauh dari sempurna, sih. Ada beberapa bagian yang pengen saya betulin, pindahin, hapus, dan sebagainya. Apa daya karena mengidap gaptek akut, renovasi themes terpaksa ditunda dulu.

Sementara ini saya ngandelin sok tau lihat-lihat cpanel-nya. Ntar kalau ternyata malah jadi berantakan dan menyerah, ya apa boleh buat. :p

Enjoy my new themes!

PS:

update jam 13.00 sejauh ini saya baru berhasil ngerubah set tanggal, dari month/date/year jadi date/month/year  trus ngehapus kolom about us dan contact. FAQ-nya tetap dipasang, karena pas saya hapus semua, malah aneh hanya ada kolom home aja. Masalahnya, mau ngedit kolom FAQ ini di mana??? bantuin dooooong…

Tags: , , ,

  • Twitter
  • RSS

ganti themes (hiks)

Saya sebenernya udah seneng banget dengan themes baru di 2010 ini

themes nature

Tapi setelah “dihajar” komen posting panjang lebar epentje baru deh ketahuan ada error di tempat komennya. Jelaslah saya gak bisa pakai themes ini lagi, kecuali kalau tega bikin pembaca nyureng dan ga bisa komen, atau kalau mendadak simsalabim saya mahir modifikasi css dan tablenya.

Dua pilihan yang gak bisa saya lakukan.

Jadi, terpaksa themes cerah ceria ini harus pensiun dini. Hiks.. padahal umurnya baru berapa bulan aja.

Sementara saya pakai themes pohon ini dulu.. sebelum saya nemu lagi themes cerah ceria yang cocok di hati. Pleh.

Tags: , ,

  • Twitter
  • RSS

Hello, Balikpapan!

Sebulan lalu saya ke Balikpapan. Bukan untuk liburan, ini mah business trip. Ciyeeeeeeh, gaya banget sih.. timbang diongkosin kantor doang! Waktunya juga gak lama, cuma empat hari. Itupun pulangnya pakai pesawat yang pagi.

Awalnya agak ngerasa syerem terbang di atas pulau Kalimantan. Kabarnya banyak hampa udara. Belum lagi menjelang saya berangkat, hampir setiap hari hujan. Awww, deg-deg plas, deh!

Tapi kematian bisa di mana aja, toh? Mau di pesawat, atau di atas ranjang, kalo mati ya mati aja. Ntar juga bisa dinyalain lagi… apa seeeeehhhhh…

Begitu tahu saya bakal dikirim ke Balikpapan selama empat hari, saya langsung googling. Soalnya ini kali pertama saya mampir ke Balikpapan. Saya kan belum pernah menginjakkan kaki di kota manapun di pulau Kalimantan, yang kalau di peta sih guedenya berlipat-lipat dibandingkan dengan pulau Jawa. Makanya saya perlu cari info tempat mana yang kira-kira menarik dan wajib dikunjungi dalam waktu mepet seperti itu. Istilah epentje sih: kejar tayang.

bandara sepingganKesan pertama begitu sampai di Balikpapan, panas ooooyyy… Dekat pantai sih, ya… makanya hawanya langsung kerasa panas nas nas banget. Di perjalanan menuju hotel, saya ngobrol-ngobrol dikit dengan Pak Pengemudi. Dia orang Samarinda, dan belum pernah ke Jakarta! Jangankan ke Jakarta, ternyata ya, dia sama sekali belum pernah keluar dari Pulau Kalimantan!

Hmm… boleh heran, gak?

Tapi kenapa harus heran, para tetangga mertua saya di Jawa sana juga banyak tuh, yang belum pernah ke Jakarta, ibukota negaranya sendiri, padahal masih satu pulau. Apalagi mereka yang dipisahkan laut dan samudra.

Lanjut, ya..

Ternyata di Kota Balikpapan gak ada museum. Menurut Pak Pengemudi, museum yang  paling dekat ada di Tenggarong, Museum Mulawarman, tapi jaraknya sekitar 150 km dari Balikpapan. Yahhh… mana sempat…

Main ke Bukit Bangkirai juga gak mungkin, jarak dan waktunya gak keburu. Padahal saya kepingin banget tuh cobain canopy bridge-nya. Gak kebayang pasti ngeri ngeri sedap, berjalan dari satu pohon ke pohon lain. Wah, main ke sini harus seharian, sekalian bersihin paru-paru dari kejamnya polusi udara.

Jadinya main ke mana, dong? Ke sini, lho…

Peternakan Buaya - Teritip

Hihihi, iseng banget, ya. Peternakan buaya yang pertama kali saya kunjungi ada di Medan, di daerah Asam Kubang. Itu juga karena gak sengaja lihat papan penunjuk arahnya. Jadilah main ke sana. Di sana ada seekor buaya gendut yang super duper gede. Saking besarnya, kulitnya bisa jadi koper haji, deh. Makanya sewaktu tahu di Balikpapan juga ada peternakan buaya, saya minta di antar ke sana. Yahhh… selama ini saya sering ketemu ‘buaya darat’, sekali-kali boleh, dong, lihat buaya betulan, hehehe.

Ternyata peternakan buayanya agak mengecewakan. No offense, yah. Soalnya begitu masuk saya harus bayar sepuluh ribu per orang. Tanpa bukti karcis masuk. Jadinya si sepuluh ribu itu gak jelas masuk kantong siapa, dan apa betul harga karcisnya segitu, atau hanya asal njeplak aja?

Trus, kandang buayanya bau banget. Katanya sih, kebetulan sedang dibersihkan. Tapi kok gak ada orang yang sedang bersih-bersih.

Buayanya juga gitu-gitu aja. Maksudnya?

Gini lho… peternakan buaya yang di Medan itu buayanya dikelompokkan berdasar umur  dan ukuran. Jadi di sebelah sini bak-bak semen yang isinya anak buaya seukuran teh botol, disebelahnya berjejer bak semen untuk anak buaya yang lebih besar, sebelah sana untuk remaja buaya sebesar papan skateboard, nah di satu kolam rawa super besar, berkumpul buaya-buaya gede banget, gitu. Asik, kan, kita bisa lihat buaya dalam berbagai ukuran.

ini buaya medan, bung!

Sedangkan di peternakan buaya di Balikpapan ini, rata-rata ukuran buayanya sama aja. Lah, kalo misalnya dari sepuluh kandang isinya buaya yang kelihatan kembar semua, mana seru? Belum lagi di kolam rawa buayanya hanya ngintip-ngintip curiga aja, beda dengan buaya Medan yang kecipak-kecipuk banyak gaya.

buaya curigaan

Karena gak datang di hari libur, gak bisa nyicip sate buaya. Lagian, emangnya halal? Iya, ada segala macam bagian buaya yang dijual. Batal makan sate buaya, teman saya borong abon buaya, kerupuk buaya (bentuknya mirip kerupuk kulit, tapi terbuat dari daging buaya, bukan kulitnya), dan empedu buaya yang katanya bisa jadi obat asma. Selain itu dijual juga tangkur buaya yang dikemas di botol kecil, lembaran kulit buaya yang sudah diwarna, dan dompet kulit buaya asli yang dibandrol 300rebu saja. Kesan saya, ihhhhh, ternyata tangkur buaya tuh ukurannya segitu aja???

Pantai Manggar Segarasari

My first thought: The beach is soooo beautiful! Tapi saya gak berani telanjang kaki di pasirnya yang putih dan halus, gara-gara lihat ada seekor kucing yang pup di pasir. Ewwwww…

Kok bisa ada kucing main ke pantai?

Soalnya di pinggir pantai berjejer tempat makan. Dari ujung ke ujung penuh dengan warung makan. Sewaktu saya ke sana sih hampir semua warungnya kosong gak ada pembeli, tapi saya  yakin kalau akhir minggu pasti tempat ini penuh kayak cendol. Buktinya, warung makan bisa eksis di situ. Malah ada tempat penyewaan ban segala.

Tapi suwer, deh. Pantainya cantik!

pantai manggar

Pantai Melawai

Sebetulnya ke sini karena kebetulan sedang cari tempat makan malam. Itu juga gak jadi turun karena tempatnya gelap banget. Bisa-bisa salah masuk, nyocol makanan malah ke masuk mata, bukan ke mulut..  Gaya srimulat itu, lho…

Kilang Minyak

Katanya sih gak afdol ke Balikpapan kalau belum lihat kilang minyaknya. Disinilah minyak mentah diolah. Duh, dengan puluhan kilang segede rumah di Pondok Indah, mestinya negara kita sudah semakmur Brunei, ya…

Tadinya saya mau berfoto dengan latar si kilang itu, tapi takut diusir, hihihi…  Jadi saya ngalah, deh. Kilangnya aja yang difoto.

kilang minyak balikpapan

Taman Bakapai

Taman ini gak jauh dari hotel saya. Sebetulnya saya gak pernah main ke sini, tapi dalam sehari bisa lebih dari dua kali lewat taman ini.  Setiap lewat saya bingung kok banyak sekali pasangan yang nongkrong di sini sambil bawa laptop. Belakangan saya baru tahu kalau di taman ini free Wi Fi, bo’

Tags: , , ,

  • Twitter
  • RSS

blogoversary

Ceritanya mau genit-genitan pasang banner blogoversary. Supaya blog ini ketauan kapan ulang tahunnya, udah berapa umurnya, bakal bikin perayaan apa aja, dan sebagainya, dan sebagainya.

Tapi kok ngaco, nih bannernya?

Saya udah masukin tanggal ulang tahun blog ini, tapi yang nongol malah

Get your own free Blogoversary button!

Laaaaaah, masa 237 hari lagi??

Ulang tahun blog saya kan sebentar lagi!!! Tanggal 10 Februari.

Trus saya coba untuk masukin tanggal dan bulan yang salah. Tapi tetap aja tuh blogoversarynya in 237 days. Grrrr…

Hwadooooh, gimana sih? Ada yang bisa bantuin, gak??

Tags: , ,

  • Twitter
  • RSS

books I want to read… eh, have

Bulan kemarin saya sudah terlalu boros, beli ini itu yang gak penting. Biasalah, namanya juga ibu-ibu, dan lapar mata. *ngeles* Nah, penggabungan ibu-ibu dan lapar mata sudah pasti hasilnya ya, luar biasa bangkrut. Haha, maaf deh, saya menggeneralisir. Gak semua ibu-ibu suka lapar mata, dong. Maaf buat para ibu yang jagoan mengatur keuangan keluarga. Angkat jempol!
library.cmich.eduMasalahnya, saya pikir saya sedikit terobsesi untuk ngumpulin buku supaya jadi satu seri yang utuh. Saya kan pecinta buku sejak SD. Sebetulnya kumpulan buku saya sudah pasti lengkap, kalau aja gak ada PARA PEMINJAM GAK BERTANGGUNG JAWAB, yang taunya hanya pinjam tapi gak pernah ngembaliin bukunya. Huh!
Jadilah koleksi buku saya yang berseri, bolong-bolong. Misalnya seri si Kembar St Clare. Buku pertamanya entah dipinjam siapa. Seri Malory Towers kalau gak salah gak ada buku kelas dua, dan kelas empat. Seri Sapta Siaga juga gak lengkap. Seri Lima Sekawan, masih gak lengkap. Seri STOP juga sama, padahal saya ngefans banget sama Sporty dan Bello, *ih, ga nyambung*. Di luar dugaan, seri Laura Ingalls saya juga gak lengkap, padahal sepertinya saya sudah baca semua, tapi sudah lama saya gak lihat yang judulnya Di Tepi Danau Perak. Untung seri Gadis Badung masih komplit, tapi kan itu hanya tiga buku aja, keterlaluan kalau gak komplit :p
Paling menyebalkan kejadian bulan lalu, sewaktu saya beres-beres rak buku, buku Harry Potter dan Orde Phoenix saya kok gak ada? Siapa yang pinjam? Versi Bahasa Inggrisnya sih, lengkap. Tapi kok yang versi Indonesia malah ngilang?
Sebal! Sebal! Sebal!
Untuk menghibur hati, *alasan!!* saya bikin daftar buku apa aja yang ingin saya beli dan baca ulang. Yah, walaupun sedang dilanda bangkrut, merencanakan keuangan masa depan boleh, dooong.. *maksa*

Nah, berhubung saya sudah punya Anne of Green Gables, saya pengen banget beli buku lainnya:
  1. Anne of Windy Poplars
  2. Anne of The Island
  3. Anne of Avonlea
Terus yah, kan saya suka dengan buku Paulo Coelho, jadi kurang afdol kalau saya masih belum baca dan belum punya:
  1. The Winner Stands Alone
  2. The Witch of Portobello
  3. Sebelas Menit
  4. Iblis dan Miss Prym
  5. Gunung Kelima
Lalu saya pengen beli baca:
  1. Perahu Kertas-nya Dee
  2. Heidi yang diterbitin Atria karena covernya lucu
  3. Eat, Pray, Love karena sudah syuting di Bali
Ehm, saya tahu alasannya dangkal, hehe. Tapi inilah wishlist saya hari ini. Semoga kelak saya punya cukup uang untuk melengkapi koleksi saya.
Oh ya, para peminjam buku tak bertanggung jawab di luar sana: BERTOBATLAH…
Hapus kebiasaan buruk itu, karena it sucks!!!

Tags: , , , ,

  • Twitter
  • RSS

trip ke museum Singapore - part 3

Setelah berpuas-puas di National Museum of Singapore, eh.. masih belum puas sih, tapi waktu saya untuk keliling museum hanya tinggal satu jam lagi, sedangkan masih ada dua target museum yang ingin saya kunjungi. Saya tanya sama abang satpam letak museum peranakan. Katanya gak jauh, tinggal belok kanan aja.

Okelah kalau begitu.

Masalahnya saya sering hilang orientasi arah dan jarak. Semestinya begitu keluar saya langsung ke arah kanan, tapi saya lurus dulu, nyebrang, lalu belok kanan, lalu bingung ada di mana.

Arrrgghhh…

gedung apa taukSupaya ga keliatan bego keluyuran di daerah sini, saya foto gedung ini, dan langsung balik kanan. Setelah lihat papan penunjuk arah, ternyata belokannya kelewat! *sigh… mengapa ini terjadi saat lagi buru-buru*

Saya langsung kecewa karena gedungnya tutup. Loket penjual tiket aja tutup. Ga ada orang, deh. Lah, gimana sih ini, kalaupun penjaga tiketnya mau istirahat makan siang, kenapa pintunya ditutup semua? Masa pengunjung museum mesti nunggu yang jaga selesai makan dulu?

Karena capek, saya istirahat aja dulu sebentar. Mengatur napas. Minum air dulu sambil lihat-lihat poster dan flyers yang ditempel di dinding.

Lho.. lho.. lho???

Kok posternya tentang kursus menari dan sebagainya? Ini gedung apa, sih?

Ya ampuuuuuun… saya salah masuk gedung!!!

Buru-buru saya ngacir, sebelum ketahuan nyasar masuk ke situ. Ternyata Museum Peranakan hanya sekitar lima meter dari situ. Haiyyyaaaahhh… Bego bangeeeeeeet…

yang kiri museumnya, saya malah masuk ke gedung yang kanan

yang kiri museumnya, saya malah masuk ke gedung yang kanan

Dan oh… museumnya lucu banget kayak kue tart… trus di balkon ada beberapa patung yang lagi dadah-dadah, sayang gak sempat saya foto karena buru-buru.

museum peranakan

jam buka museum

Pas di depan museum ada pangkalan taksi, dan kebetulan ada seorang supir taksi yang lagi ngelap-ngelap mobilnya. Langsung aja saya bajak untuk fotoin saya, hehehehe…

ada patung kakek dan cucu di depan museum, bagus ya!Btw, patung si anak kecil tuh nunjuk ke patung ibu-ibu yang ada di balkon lantai dua, sayang gak kefoto..

Museum Peranakan ternyata museum yang children-friendly. Sangat menyenangkan untuk pengunjung kanak-kanak. Di berbagai sudutnya ada mesin embossed bentuk kupu-kupu, dan lainnya. Kertasnya harus kertas khusus, dan bisa diminta di bagian penjualan tiket. See.. kapan coba museum di Endonesah kepikiran kayak beginian?

Saya yakin sih, koleksi budaya Indonesia yang lebih beragam bisa eksis kalau dikemas dengan serius seperti koleksi museum ini. Gak jauh beda, kok. Misalnya aja pakaian yang dipakai bayi jaman baheula kayak gini:

baju bayi

popok dan bedong

ranjang pengantin

Setting kamar dan ranjang pengantinnya persis dengan yang sering saya lihat di film-film silat klasik. Lutunaaaa…

ruang telepon dari masa ke masaDi ruangan ini ada perkembangan alat dari masa ke masa. Telepon dari jaman dulu sampai sekarang. Lucunya, kalau saya angkat telponnya ada suara di sana yang seolah-olah lagi ngobrol dengan saya, dalam bahasa Mandarin.

ruang persembahan??

Ini ruang apa ya, namanya? Buat persembahan ke dewa gitu kali, ya.. Sorry lho kalau salah..

ruang makanIni juga contoh settingan ruang yang keren banget! Ini ruang makan yang umum ada di keluarga-keluarga Singapore dahulu kala. Perabot, jendela, dan detil lainnya cantik-cantik banget! Sayang deh, dikacain.. kalau nggak saya pasti masuk dan ikutan duduk di dalam. Nah, kursi yang ada di kanan bawah foto boleh diduduki, jadi seolah-olah kita ikutan duduk di acara makan, karena dipasang rekaman suara dan kegiatan seolah-olah memang sedang ada acara makan.. Eh, kalo malam-malam sih kayaknya horror ya, ada suara doang tapi orangnya gak ada, hehehe..

kucing museumKucing ini ada namanya, tapi saya lupa. Dia kucing yang selalu nongkrong di museum ini. Setelah kucingnya wafat, dibuatkan patungnya untuk mengenang kecintaan si kucing atas museum. So sweeeeeeett…

with grandpa.. ;pIni kakek yang gandeng cucunya tadi.. karena gak ada orang yang bisa diminta tolong fotoin, akhirnya saya foto sendiri dengan hasil seadanya.

Sebetulnya saya masih kepingin mampir ke Singapore Philatelic Museum yang gak jauh dari situ. Sayang saya hanya punya 15 menit untuk pulang ke hotel, dan bareng rombongan langsung ke Changi.

Maka dengan berat hati saya nyetop taksi. Selesai sudah ‘petualangan’ menyenangkan di museum-museum Singapore ini.

Lain kali saya pasti ke sini lagi! dan PASTI mampir ke museum lagi!

Tags: , , , , ,

  • Twitter
  • RSS

stupendous hands

Saya selalu kagum dengan orang-orang yang punya bakat seni. Kagum sekaligus iri, tepatnya. Kok bisa-bisanya mereka menghasilkan karya menakjubkan. Entah itu enak didengar, enak dibaca, atau enak dilihat. Pokonya karyanya enak dinikmati, deh.

Sepertihttp://verypurpleperson.com ibu satu ini. Ya, sudah ibu-ibu karena sudah punya anak lelaki ganteng dan kyuuuuut banget. Ini jenis ibu-ibu top markotop bertangan hebat. Ya, hebat! I bet she has magic hands..

Bayangin aja, tangannya udah menciptakan berbagai jenis barang yang sangat cantik dan menakjubkan.

Gak percaya? Coba lihat di sini. Pasti ngiler…

Pasti!!!

*seandainya saya bisa jait… but I hate sewing machine ;p*

Tags: ,

  • Twitter
  • RSS

(gak) janji gak akan belanja buku lagi

Tahun 2008 saya pernah borong buku sampai kalap. Luar biasa senangnya, dan bingungnya. Iya, bingung. Waktu itu saya agak bingung gimana baca semua buku yang sudah dibeli. Jadilah saya harus bagi-bagi waktu antara ngantor, nge-mall, beres-beres di kos, istirahat, hang out bareng teman, dan baca buku.

Ternyata saya perlu hampir setahun membaca semua belanjaan saya itu!

Itu juga ternyata masih ada yang belum dibaca sampai sekarang. Sinting!

Makanya sewaktu ada lagi pameran buku di tahun berikut, saya agak-agak menahan diri supaya gak kebanyakan belanja buku lagi.

Saya juga jarang banget mampir ke toko buku. Takut ngiler lihat jejeran buku baru. Kalaupun saya harus ke toko buku, setiap kali pegang buku yang ingin dibeli, saya selalu mengucapkan mantra:

Jangan beli di sini, mahal! Beli online aja supaya dapat diskonan ;p

Tapi setiap kali duduk di depan komputer, saya melarang diri sendiri untuk mampir ke website toko buku online yang sudah jadi langganan. Takuuuuuut…

Saya takut kalap lagi. Buat saya buku lebih menggiurkan daripada berlian. *ih, bohong banget* Maksudnya kalau disuruh pilih beli buku atau berlian, pasti saya beli buku karena uangnya gak cukup untuk beli berlian, hehehehe. Tapi saya juga sadar kalau belanja buku tanpa ada waktu untuk baca, buku itu akan teronggok begitu aja. Berdebu. Terlupakan. Sementara saya akan terus beli, beli, beli, dan beli buku. Itu kan namanya pemborosan. Kasihan bukunya. Dan kasihan saya juga, dong. Kalau memang bukunya gak sempat dibaca, mestinya uang untuk beli buku itu kan bisa dipakai untuk hal lain yang lebih berguna.

Saya gak ingin belanja buku hanya karena lapar mata.

Saya juga ingin belajar gak boros lagi saat belanja buku.

Walau sekarang ini makin banyak aja buku bagus yang ingin dibeli, tapi harganya muahhhalllll.*Duh, seandainya ada penerbit yang rela mengirimi saya semua buku terbitan mereka, gratissss!!!* Yahhhh, segala yang berlebihan itu kan gak baik. Meskipun katanya buku itu gudang ilmu.

Intinya, saya janji ke diri sendiri untuk gak belanja buku.. selain di pameran buku.

Belanja buku cukup setahun sekali, di pameran buku aja.

… …

… …

… …

Euhh… ternyata susah juga nepatin janji semacam itu, yah.

Beberapa minggu lalu ada tawaran dari Okke Sepatu Merah untuk pesan novel terbarunya yang udah dikasih tanda tangan. Hwadoooh. Ngiler, kaaaaan. Ngileeeeer…

Kapan lagi saya bisa dapat tanda tangan si Sepatu Merah?

Bisa ditebak dong, saya pesan bukunya. Cukup satu aja, karena novelnya yang lain sudah punya. *pamer*
heartblock
Hari ini bukunya datang! Aiiih, senangnya… Thanks ya, Okke! Btw, itu jempol saya, bukan bagian dari cover bukunya, lho…
Janji gak beli buku itu, apa kabar?
Errrr… siang hari ini ternyata janji itu saya langgar (lagi).
Kebetulan tadi siang saya main ke toko buku dekat kantor. Iseng aja. Mau lihat-lihat aja. Itu niat awal sewaktu masuk ke toko buku. Tapi tau gak, ternyata lagi ada sale buku murah!. Saya berhasil lewat begitu aja di rak buku diskon 30%. Nah, pas lewat rak buku all item 10.000 - 15.000, baru deh saya ngejogrog di situ.
Hasilnya?

Tadinya saya mau beli buku resep yang diobral 10ribuan. Tapi kalau saya sibuk masak, kapan bacanya dong?

Cukuplah empat buku ini aja. Uhh, betapa mudahnya ibu-ibu terjebak sale dan diskon, yah… :(

belanja buku lagi

Lihat struk belanja.

Nengok isi dompet.

Ingat-ingat tumpukan buku yang masih belum sempat dibaca.

Iya deh, iyaaaaa… Ini terakhir kalinya saya belanja buku. Gak akan belanja lagi… sampai semua buku sudah saya baca!

Tags: , , , ,

  • Twitter
  • RSS

trip ke museum Singapore - part 2

Okeh, terusin cerita jalan-jalan ke museum Singapore, ya!

Masih di National Museum of Singapore. Bosan lihat-lihat pameran pakaian, asesoris, dan make up gadis-gadis Singapore jaman baheula, saya tertarik menuju ke bagian belakang museum, melalui jalur yang mirip jembatan batu, dan diatasnya tergantung lampu-lampu warna merah.

lampu pendulum

Ternyata ini bukan sembarang lampu, tapi salah satu karya seni yang dipamerkan. Jadi ada sejumlah lampu warna merah yang digantung sejajar, lalu selang-seling berayun ke kanan dan kiri, seperti pendulum. Keren banget!

Pasti saya kelihatan banget noraknya baru lihat museum canggih kayak begini. Soalnya seorang security nyamperin dan menyarankan saya melihat-lihat Singapore History Gallery terlebih dulu sebelum main-main ke bagian lain. Okelah kalau begitu. Saya sempat pikir nanti bakal ada guide yang ngotot nemenin, yah.. kayak guide di tempat wisata Indonesia gitu, hehe. Tapi ternyata salah besar saudara-saudara!

Saat akan masuk History Gallery, saya dibekali alat aneh. Bentuknya mirip ipod ukuran jumbo yang bisa digantung di leher, dan dilengkapi earphone. Namanya The Companion. Ada empat pilihan bahasa, Jepang, Mandarin, Melayu, dan Inggris. Bahasa Jepang dan Mandarin sudah pasti gak ngerti. Bahasa Melayu kok malah puyeng dengar cengkoknya,  akhirnya saya pilih yang bahasa Inggris. *hihihi, belagu banget ;p*.

The Companion

Companion saya mengenalkan diri dengan nama Brendon. Dia cas-cis-cus terus pakai bahasa Inggris *yaeyalaaaah*, sementara saya malah asyik ngutak-atik alat ini. Saya pindahin ke bahasa melayu, bahasa mandarin, dan balik lagi ke bahasa Inggris. Jadi saya ga terlalu ngeh dia ngomong apaan di awal-awal lorong yang membawa saya ke galeri sejarah.

Cara kerja Companion:

Pengunjung jalan aja terus menyusuri lorong sambil dengar si Brendon endesway-endeswey, lalu di lantai akan ada angka berukuran besar. Bisa tiga, tujuh, dua sembilan, pokonya angka. Nah, begitu ketemu angka di lantai, ada pilihan angka di Companion yang harus dipijit, jangan dipijat. Harus sesuai angka di lantai, lho.

ketemu angka 07, ya pijit 7 dehhh

Makin jauh lorongnya, makin seru. Ada sejumlah lorong yang bercabang, ke kiri dan ke kanan. Kamu harus memilih mau masuk lorong yang mana. Mau menikmati sejarah dari urutan terjadi tahun per tahun, atau melihatnya dari kaca mata penduduk Singapore saat itu. Wuiihh, rasanya kayak mengalami Pilih Sendiri Petualanganmu! Seruuuuu!!!

Saya memilih menjalani sejarah Singapore dari apa yang dialami rakyatnya saat itu. Oooowwww… it’s sooooooo fun… trust me!

rumah canduDi Singapore pernah marak dibangun rumah candu. Pokoknya begitu masuk ke sini, gak bakal deh keluar lagi hidup-hidup. Langsung terbelit dan tak terpisahkan dengan candu.. Kasihan, deh..

pecandu canduBegitu kena candu, ya udah. Hanya itu aja yang dikonsumsi. Ga pengen makan, atau ngapa-ngapain lagi selain golek-golek aja sambil ngisep pipa candu. Hiiiiyyy….

mojang Singapore

Waaah.. vintage banget tuh bajunya *komen ga penting*

rapot anak sekolahNah, yang ini rapot jaman baheula. Jadi anak perempuan masuk sekolah kebanyakan untuk belajar hal-hal yang ada hubungannya dengan tugas wanita saat itu. Misalnya merajut, menjahit, gitu-gitu lah. Kayak sekolah persiapan untuk jadi ibu rumah tangga, kali ya? Menulis dan berhitung sih, belajar juga.. Tapi yang diutamakan adalah “keterampilan wanita” - whatever that means..

kamar bedindeIni kamar Amah, atau pembantu rumah tangga di sebuah keluarga. Kerjaannya sih lebih kayak nanny gitu. Biasanya mereka berasal dari Cina, dan sangat setia pada keluarga majikan. Kalau jadi Amah, gak married, deh. Saya nemu cerita tentang Amah, di sini.

swimsuitBedanya jaman dulu ama sekarang, dulu berenang mesti bawa payung.. ;p

kartu ransumBegitu masuk perang dunia kedua, penduduk Singapore mulai dijatah konsumsinya. Bisa punya gula, beras, dan sebagainya karena ada ransum.

uang segede kertas a4Sampai di bagian sini saya udah mengalami halusinasi karena si Brendon nyerocos melulu. Kepala saya kepenuhan kata-kata bahasa Inggris dan udah gak mudeng lagi dengan apa yang dia omongin. Trus saya lihat uang warna hijau di kanan bawah itu. Ukurannya gede banget! Kayaknya segede kertas A4 deh.. Bingung aja gimana bawa jalan-jalannya… Mau ditaruh di dompet, gimana ngelipatnya?

lagu kebangsaanPerjalanan saya yang sangat sangat sangat luar biasa menarik berakhir di bagian ini, di mana lagu kebangsaan Singapore berkumandang. Ih, kalau saya warga Singapore pasti udah berurai air mata saking bangganya, setelah melalui sejarah perjuangan yang berat dan penderitaan rakyat begitu rupa, akhirnya menjadi negara merdeka.

Tapi karena saya warga Indonesia, air mata saya menetes karena iri pleus sirik, kok negara saya gak bisa punya museum kayak begini… padahal perjuangan rakyat dan para pahlawan di Indonesia udah sampai taraf gak bisa digantikan dengan uang, kecuali penghargaan dan penghormatan setinggi-tingginya atas pengorbanan mereka, misalnya dengan membangun museum yang canggih dan keren, yang bikin pengunjungnya betah berlama-lama dan selalu kepingin datang lagi dan lagi. Hiks…

(to be continued)

Tags: , , , , ,

  • Twitter
  • RSS
 Page 1 of 9  1  2  3  4  5 » ...  Last »