«

»

Apr 02

menikah tamasya

No offense, I hate wedding reception 🙂

Dari ribuan ratusan undangan perkawinan yang saya hadiri sejak masih pitik *biasalah, ditenteng-tenteng nemenin nyokap* sampai umur puluhan tahun ini, polanya gak pernah berubah, deh. Begituuuuu terus.

In other word, M-E-M-B-O-S-A-N-K-A-N.

Sekali lagi, no offense. lho.. itu kan buat saya. Satu-satunya penghiburan saat menghadiri undangan perkawinan ya cuma kesempatan makannya. Hihihi.

Kalau makanannya enak, tentunya saya akan berlama-lama di situ. Mencicipi satu demi satu makanan di gubug-gubug yang tersedia. Kalau bisa malah nambah, hehe. Tapi kalau makanannya gak enak, saya hanya tes makanan favorit aja. Sambil ngedumel dan nyela-nyela kok bisa sih makanannya gak enak. Duh, jahat banget, ya?

Biasanya sih saya gak pernah perhatiin gimana pengantinnya. Warna baju, make up, model kebaya, panggung, bunga, whatever, terserahlah. Gak ngaruh buat saya, hehe. Terkadang kalau antrian untuk salaman terlalu panjang, saya pundung gak mau ikutan antri dan memilih untuk keliling stand-stand makanan.

Dasar barbar!

Well, mungkin itu salah satu sebab saya memutuskan untuk menikah tamasya daripada menggelar pesta resepsi. Ibu saya setuju, calon suami dan keluarganya setuju, so be it.

Saya tidak peduli dengan pendapat orang lain yang menganggap ide ini aneh. Menganggap sebagai anak tunggal sudah seharusnya saya menggelar pesta besar. Kalau bisa mengundang ribuan orang, dengan panggung dan bunga-bunga. Berkonde dan pakai kebaya berkilau-kilau. Lalu berdiri berjam-jam memamerkan gigi menyalami orang-orang yang belum tentu saya kenal semua.

Errrr…. sorry, that’s not me.

So, menikah tamasya jadi pilihan. Tepatnya, umrah sekaligus menikah di Masjidil Haram.

Trip yang saya ambil delapan hari. Rutenya Jakarta-Mekkah-Madinah-Jakarta. Karena Mekkah lebih dulu, berarti miqat di Jeddah, dan begitu tiba di Mekkah langsung melakukan ibadah umrah.

Sekitar dua setengah jam setelah umrah selesai, akad nikah langsung dilaksanakan di lantai dua Masjidil Haram. Disusul berfoto berlatar Ka’bah, tentunya sambil celingak-celinguk takut ketahuan asykar.

Sensasinya? A-W-E-S-O-M-E.

Jadi ocehan rekan-rekan kerja yang terheran-heran *atau mungkin menistakan, duuhhh bahasanya…* karena sama sekali tidak ada wedding reception *yang diartikan sebagai pernikahan tanpa kesan* masuk kuping kiri keluar kuping kanan, deh.

Terserah mereka mau bilang apa. Saya senang dengan gaya menikah seperti ini. Haha.

PS: buat teman-teman yang akan menikah, jangan phobia ngundang saya, ya.. hihihihihi

%d bloggers like this: