…un pied à terre…
January 25, 2010 by pipitta

Love Tank

Masih ingat cerita saya kemarin tentang tumpukan tank pink? Seorang teman bilang, tank pink itu buatan seniman Indonesia asal Yogyakarta, S. Teddy D.

Hebat, ya!!!

Love Tank (The Temple)

Tanknya kan dipamerkan di tempat yang strategis banget. Semua orang yang keluar masuk museum pasti lihat. Karya seni ini dipamerkan hanya sampai bulan Oktober tahun lalu, jadi saya luar biasa senang sudah pernah melihatnya.

Berita lengkapnya ada di sini, berikut penjelasan darimana inspirasi si perupa berasal.

update 26.01:

Ada yang protes…

Andreas Ambar Purwanto

Si Teddy itu setahuku kuliahnya aja di Yogya, tapi dia aslinya asal Semarang. Gwa nggak seberapa kenal dia, cuma cukup akrab ama abangnya.

8 hours ago

Owwww… baiklah, maaf kalau salah. Lalu saya tanya Mbah Google lagi, menurut http://www.sinsinfineart.com sih sebagai berikut:

Born in 1970 in Padang, West Sumatera, Indonesia. Currently lives and works in Yogyakarta, Indonesia. The works of S.Teddy, be they drawings, paintings and installations, always shows formal as well as technical simplicity. He seems to be ever suspicious of, or keeping from, making works of “high art” pretension, in other words, he is an artist ceaselessly inquiring about the meaning of art to himself. With such a stance, S. Teddy never gets entrapped in given limited techniques, media and themes. The simple techniques and forms of his works convey from personal issue through socio-political criticism full of humor.

Jadi entah dari Semarang, Padang, atau Yogya, saya hanya mau bilang kalau saya suka sekali dengan Love Tank, dan ikut bangga karena karya S. Teddy D. itu dipajang berbulan-bulan di National Museum of Singapore.

  •   •   •   •   •
January 22, 2010 by pipitta

trip ke museum Singapore

Demi memenuhi janji resolusi dan permintaan khalayak ramai *mulai ngayal*, akhirnya saya curi-curi waktu untuk cerita trip ke museum Singapore errr.. 20 Juli setahun lalu. Hehehe, iya sih, udah lewat momennya. Kelamaan! Tapi bener deh, trip ke Singapore kemarin itu yang paling berkesan buat saya, ya kunjungan ke museum ini.

Hotel tempat saya menginap ada di the famous Orchard Road. Jadi berdasarkan peta gratis yang saya ambil di Changi, saya tinggal jalan lurus aja untuk bisa nemuin museum pertama yang akan saya kunjungi: Singapore Art Museum.

Asal tau aja, saya ga bisa baca peta! Buat saya peta tuh bikin pusing. Kayaknya dekat padahal jauh. Belum lagi kalau ternyata jalannya gak lurus seperti di peta, tapi agak belok-belok gitu, pusing deh. Bisa dipastikan saya akan kehilangan orientasi arah. Mendingan saya tanya-tanya aja. Yeah, dan saya lupa kalau ini bukan Indonesia, yang bisa dengan gampang tanya ke tukang becak atau warung rokok saat nyasar.

So, berbekal peta, air minum botolan, dan kamera, saya berangkat jam sembilan lewat, karena museum baru buka jam sepuluh pagi. Tapi saya gak hitung langkah saya tuh Indonesia banget. Kecepatannya kalah jauh dengan penduduk  negara sini. Berkali-kali saya disusul orang. Padahal kayaknya udah jalan cepat, kok. Andai ini lomba jalan cepat, kayaknya saya udah didiskualifikasi karena lelet. Habisnya gimana mau jalan cepat kalau cuaca panas banget, dan ga bawa payung? *ngeles*. Sepuluh menit jalan kaki saya langsung mandi keringat, dan hampir meleleh. Panas bo…

Dengan langkah yang makin lama makin melambat, saya lewat satu bangunan yang sebetulnya biasa aja, tapi kok ada papan info di depan bangunannya. Mampir dulu, kan turis… ..tempat ini dibom oleh warga Indonesia, blablabla...

Oh.. ini MacDonald House. Tapi gak jualan burger. Ini gedung bank yang dibangun tahun 1949, dan termasuk 100 bangunan bersejarah di Singapore. Kenapa? Mungkin karena Indonesia pernah ngebom bangunan ini di tahun 1965, sewaktu masa konfrontasi dengan Malaysia.  Btw, konfrontasi dengan Malaysia kok ngebomnya di Singapore, ya? Nah, peristiwa pengeboman ini dikenal dengan nama MacDonald House Bombing. MacDonald House tampak dari trotoar

Setelah ketemu dua cewek jepang hippie yang lagi ngegeret-geret koper segede kulkas, saya kebingungan di salah satu pertigaan. Kayaknya saya udah jalan jauh banget, tapi kok gak ketemu-ketemu juga museumnya? Kebetulan ada orang lewat, saya langsung cegat dan tanya, dan dengan entengnya dia nunjuk ke sebelah gedung tempat saya berdiri. D’oh!

Kerugian jalan sendirian adalah.. gak ada yang bisa disuruh fotoin! Tepatnya, fotoin kita dengan latar belakang obyek wisata. Gimana mau pamer mendokumentasikan perjalanan? Blah. Untungnya setelah celingak-celinguk nyari mangsa bala bantuan, ada seorang nona manis bertampang baik hati yang rela fotoin saya. Singapore Art Museum

Untuk masuk ke SAM ini, saya harus bayar tiket seharga SGD 8. Tapi petugas nyaranin saya untuk beli tiket terusan yang berlaku selama tiga hari, dan bisa mengunjungi DELAPAN museum bolak-balik sampai bosan. Harga tiket terusan ini SGD 20 saja, atau sekitar seratus empat puluh ribu rupiah. Duuuuh, tawaran yang sangat menarik!

Saya tahu, gak akan mungkin mengunjungi delapan museum itu semuanya. Jadwal pulang saya hanya tinggal beberapa jam lagi. Saya hanya punya waktu sekitar empat jam untuk jalan-jalan ke museum. Duuuuh, nyesel banget, kok gak dari kemarin-kemarin saya mampir ke museum.

Akhirnya saya beli juga tiket terusannya, dengan target empat museum harus dikunjungi. Terutama yang jaraknya dekat:  SAM, National Museum of Singapore, Peranakan Museum, dan Singapore Philatelic Museum. Dari mana saya tahu museumnya dekat? Dari peta, dong. Hehehe, di peta kan kelihatan jaraknya dekat-dekat, cuma beberapa senti aja.

So here I am, di Singapore Art Museum atau SAM. Namanya  museum seni, sudah pasti isinya yang berhubungan dengan seni. Ada banyak lukisan, gerabah, seni instalasi yang sumpah deh, mostly I don’t understand at all!!!

Kayaknya saya kurang berbudaya, sampai ga ngerti apa gunanya nggenjot sepeda jadul untuk bisa muter film di proyektor mini, or something like that. Gak bisa menghayati di mana indahnya puluhan lampu digantung dengan tinggi yang berbeda-beda. Belum lagi gedung SAM yang luas bikin saya nyasar-nyasar nyari pintu keluar. Ketemunya kalau gak lukisan, ya lukisan lagi. Saya juga sempat nyasar ke bagian lukisan telanjang. Ada warningnya di pintu masuk, kalau benda seni di dalam mengandung ‘nudity‘. Ya.. pastinya saya masuk, dong!

Isinya seperti bisa diduga adalah lukisan wanita tak berbaju. Gak menarik buat saya, sih. Apa indahnya wanita tanpa busana? Sama aja jeruk makan jeruk. Gak seru.

Lalu saya nyasar ke tempat lukisan-lukisan yang ukurannya jumbo. Karena capek saya duduk di depan satu lukisan yang gedeeeeee banget menuhin satu bagian dinding, dan mencoba mengapresiasi lukisan itu. Dan gagal. Akhirnya saya numpang istirahat aja di situ. Kaki pegal!

Cukup lama saya menghabiskan waktu di SAM. Jadi setelah merasa cukup berbudaya, saya terburu-buru menuju destinasi selanjutnya: National Museum of Singapore. Di mana itu? Bodohnya saya gak nanya ke petugas di SAM. Saya malah sok bisa baca peta. Pas di depan SAM saya lihat ada bangunan megah, mirip gereja, bisa juga museum. Tapi saya harus tanya siapa? Dengan bodoh saya belok ke kiri, jalan terus, dan terus, dan gak nemuin apa-apa. Ah! Saya nyasar! Lalu  saya lihat ada bapak-bapak bule yang bergegas-gegas nyebrang.

Hmmm.. mari kita mencoba bermain logika bodoh..

Bule = Turis

Turis = Tempat Wisata

Museum = Tempat Wisata

Jangan-jangan bule itu mau ke museum juga!

Langsung deh,  saya ngekor si bapak bule. Ternyata dia menuju ke arah gereja mirip museum itu! Halah… kalau itu museumnya, mestinya dari SAM tadi saya ambil ke kanan dan langsung nyebrang! Aiiih… bodohnya, dan kenapa juga bapak bule itu jalannya cepat banget? Saya masih di ujung jalan, dia sih udah ngilang masuk ke dalam museum. kayaknya dekat, tapi kalau jalan kaki, ditanggung ngos-ngosan ;p

Gara-gara tergopoh-gopoh mau nyusul si bapak bule, sampai di National Museum saya ngos-ngosan. Muka juga udah merah banget kepanasan. Untung aja mata saya langsung dihibur dengan tumpukan tank warna pink. Kesannya war and love gitu, cantiknyeeeeuuuuu… tumpukan tank pinky

Karena punya tiket terusan, saya gak perlu bayar SGD 10 untuk tiket masuk. Dan, oh! Museum ini super super super keren! Gak cukup sehari untuk berkeliling di sini. Saya mengintip sedikit-sedikit ke beberapa bagian. Awwww… andai museum di Indonesia seperti ini! Canggih dan keren banget! Selain Smithsonian Institution, museum ini juga wajib dikunjungi!

Saya mampir sebentar di ruang bioskop mini. Ada tiga film jadul yang diputar sekaligus. Ada juga sejumlah gramofon tempat kita bisa dengar lagu-lagu tempo doeloe. poster film jadul, kenapa juga saya fotonya miring ya?

Lalu saya mampir ke ruangan yang memamerkan barang-barang yang dimiliki wanita Singapore jaman dulu. Duuuhhh, sebenarnya barangnya begitu aja, kayaknya di Indonesia lebih banyak dan lebih beragam, deh. Tapi penataannya bikin mata adem dan hati terkagum-kagum melihat pameran kebudayaan warga Singapore pada masanya itu. perabot lenong, eh.. peralatan make up maksudnya

See? Kayak ginian mah pastinya nenek saya pernah punya juga. Malah ditambah balsem gosok cap macan ompong, kali. Dan sisir serit buat nyari kutu.

(to be continued)

  •   •   •   •   •